Peluang Pasar Industri Hilir Udang Vaname

Peluang Pasar Industri Hilir Udang Vaname

Pengolahan udang lebih banyak memanfaatkan bagian daging yang dikonsumsi, hanya berkisar 70—75% dari total berat udang. Sementara sisanya menjadi limbah, yaitu bagian kepala, kulit, kaki, dan ekor udang; yang persentasenya mencapai 25—30% dari bobot udang utuh. Bisakah hasilnya lebih dioptimalkan?

“Produktivitas udang vaname yang tinggi dan terus meningkat setiap tahunnya menjadi potensi sekaligus peluang untuk menguasai pasar permintaan udang, baik pasar domestik maupun pasar ekspor. Berdasarkan volume ekspor, Indonesia merupakan negara eksportir terbesar ketiga saat ini, setelah India dan Ekuador,” terang Ir. Liza Derni, MM, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung.

Berdasarkan survei penduduk antarsensus (Supas) 2015, jumlah penduduk Indonesia pada 2021 diproyeksikan mencapai 276,91 juta jiwa. Menurut jenis kelamin, jumlah tersebut terdiri dari 144 juta laki-laki dan 142,89 juta perempuan. Saat ini, Indonesia sedang menikmati masa bonus demografi di mana jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dari tidak produktif, yakni lebih dari 68% dari total populasi. Pada 2020, penduduk perkotaan diproyeksikan sebanyak 154,2 juta jiwa atau 56,4% dari jumlah total penduduk Indonesia sebesar 273,5 juta jiwa. Angka tersebut meningkat pada 2025 hingga mencapai 170,4 juta jiwa atau 59,3% dari jumlah total penduduk Indonesia sebesar 287 juta jiwa.

Pasar domestik tetap menjadi pasar penting produk sektor kelautan dan perikanan, termasuk produk udang vaname. Sebagian besar permintaan datang dari unit pengolahan ikan (UPI), horeka (hotel, restauran, dan katering), dan konsumen rumah tangga. Pemasaran produk udang sendiri dilakukan secara langsung oleh pembudidaya, pedagang, melalui pasar tradisional, dan melalui supermarket.

Dengan semakin berkembangnya teknologi dan inovasi industri pengolahan, produk olahan yang dihasilkan menjadi beragam dengan harga bersaing. Beragam segmentasi pasar, kepraktisan, dan kandungan gizi yang baik memberikan beragam pilihan kepada masyarakat dari berbagai usia dan lapisan sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.

Pada Tahun 2020, volume ekspor udang Indonesia sebesar 239,28 juta kilogram, dengan nilai USD 2,04 Milyar. Pada tahun tersebut, udang menyumbang 18,95% dari jumlah total volume ekspor produk perikanan Indonesia sebesar 1,26 milyar kilogram. Pada Tahun 2021, udang memberikan kontribusi sebesar 38,98% terhadap total ekspor perikanan Indonesia dengan nilai USD 2,23 milyar atau meningkat 9,25% dibanding tahun sebelumnya, yang mencapai USD 2,04 Milyar.

Blue economy industri hilir udang
Inovasi dan penggunaan teknologi pengolahan udang saat ini sudah sangat maju. Semua bagian tubuh udang, mulai kepala, daging, kulit, kaki, sampai ekor dapat diolah dan dimanfaatkan. Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga kebutuhan nonpangan. Nilai jual produk turunan (derivasi) ini pun tinggi. Dengan begitu, pendapatan dari produk turunan tersebut diharapkan dapat memberikan hasil jauh lebih besar dari produk utama. Diversifikasi produk ini termasuk sistem produksi, pemanfaatan teknologi, financial engineering, dan pengembangan pasar baru bagi produk-produk yang dihasilkan.

Diversifikasi produk udang yang ada saat ini tidak hanya terbatas pada udang beku. Namun, banyak ragam produk olahan (valueadded) yang sudah dihasilkan, misalnya dalam bentuk bakso, tempura, shrimp roll, dan produk olahan lainnya. Sementara bagian selain daging yang selama ini dianggap limbah—seperti kepala, kulit, kaki, dan ekor—dapat dikonversi menjadi bahan dasar pembuatan chitinchitosan.  Aplikasi chitin-chitosan dalam kehidupan manusia sudah banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang pangan maupun nonpangan, di antaranya untuk fat blocker, kosmetik, farmasi, dan pupuk.

Pada usaha industri hilir udang, konsep blue economy dapat diterapkan sebagai sebuah model bisnis yang mampu melipatgandakan pendapatan, diikuti dengan dampak penyerapan tenaga kerja dan peningkatkan nilai tambah. Dengan konsep blue economy, peluang usaha dan investasi pengolahan udang vaname dapat menyinergikan kebijakan ekonomi, infrastruktur, sistem investasi, bisnis, serta menciptakan nilai tambah dan produktivitas.

Pendekatan integratif dari hulu sampai hilir dengan berbasis blue economy memberikan keuntungan bagi pelaku usaha secara ekonomi. Konsep ini mengoptimalkan kegiatan usaha yang ramah lingkungan, zero waste (tanpa limbah), pemanfaatan sumber daya alam yang lebih efisien melalui kreasi dan inovasi teknologi adaptif, terciptanya produk turunan dengan nilai ekonomi yang tinggi dan pendapatan yang berlipat, tersedianya lapangan kerja, serta memberikan peluang dan manfaat kepada berbagai pihak secara adil.

Lantas, bagaimana dukungan dari para pelaku di lingkaran industri udang ini?

“Dukungan pemerintah, khususnya Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, berupa kebijakan penguatan daya saing dan sistem logistik produk kelautan dan perikanan dan peningkatan keberlanjutan usaha kelautan dan perikanan. Upaya- upaya yang telah dilakukan pada kebijakan tersebut di antaranya melakukan pembinaan mutu dan diversifikasi produk  serta penguatan promosi produk kelautan dan perikanan,” terang Liza.

Adapun dari kalangan pembudidaya juga memiliki pandangan yang senada. Industri hilir mempunyai prospek yang sangat bagus. Apalagi dengan pertambahan penduduk serta permintaan untuk pasar ekspor ke depan, industri hilir khususnya olahan udang akan sangat diminati pasar, dan pihak swasta seharusnya bisa menangkap peluang tersebut. Demikian ungkap Rudy Kusharyanto, Ketua Harian Forum Komunikasi Praktisi Aquakultur (FKPA).

“Respon pembudidaya terhadap upaya memajukan industri hilir udang ini sangat baik, di mana maju dan mundurnya industri hilir akan sangat berpengaruh terhadap suplai komoditas bahan baku dari pembudidaya di lapangan,” ujar Rudy.

Sayangnya, menurut Liza, industri hilir udang sangat ini masih sangat kekurangan bahan baku (raw material). Oleh karena itu, permintaan ekspor masih belum dapat dipenuhi terutama ke USA, Jepang, China, dan Eropa. Sementara bahan baku sangat tergantung dengan rantai pasok dari hulu, yaitu budidaya.

Padahal, potensi lahan di Indonesia sangat besar, bahkan hampir 40% tambak yang tidak beroperasi. Sebagai contoh, eks Dipasena atau Bratasena yang hanya mampu berproduksi antara 50—60% dari kapasitas produksi yang seharusnya.

Tentu saja, kesiapan pembudidaya sangat tergantung kerjasama lintas sektor untuk masalah yang ada di budidaya  seperti ketersediaan benih unggul, ketersediaan pakan berkualitas dan murah, sarana dan prasarana budidaya, serta cara budidaya yang ramah lingkungan.

“Saya yakin, dengan peran serta semua pihak kedepannya, komoditas udang akan terus menjadi primadona budidaya di Indonesia,” pungkas Kadis KKP Provinsi Lampung ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *