Peran Generasi Muda dalam Implementasi Blue Ekonomi

Peran Generasi Muda dalam Implementasi Blue Ekonomi

Oleh: Wa Ode Zidaini & Angkasa Putra

Indonesia memiliki kondisi yang patut dibanggakan. Negara kepulauan ini berada pada urutan kedua sebagai negara penghasil ikan terbesar dunia setelah China. Laut Indonesia adalah bagian terbesar Segitiga Terumbu Karang yang menjadi habitat 76% dari seluruh spesies terumbu karang dan 37% dari seluruh spesies ikan terumbu karang dunia.

Perikanan sebagai kegiatan ekonomi memiliki peranan yang sangat penting dalam kemajuan negara dan kesejahteraan masyarakat. Sebagai suatu kegiatan ekonomi, perikanan seharusnya terus dimajukan dan dikembangkan serta menjadi prioritas agar mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang positif. Hal ini menuntut adanya inovasi dan kreativitas serta optimalisasi peran dari berbagai pemangku kepentingan, dalam hal ini pemerintah, agar kegiatan perikanan tetap eksis dan dapat berkontribusi untuk kesejahteraan negara.

Selain itu perikanan yang saat ini mengarah ke proses industrialisasi harus mampu menjaga keberlanjutan usaha dengan tetap memerhatikan keseimbangan dan kelestarian perairan. Berdasarkan teori-teori tersebut di atas, maka muncul konsep Ekonomi Biru atau Blue Economy.

Blue Economy merupakan optimalisasi sumber daya perairan yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui berbagai kegiatan yang inovatif dan kreatif dengan tetap menjamin keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungan. Konsep ini mengedepankan pada efisiensi. Efisiensi mendorong adanya pengembangan investasi dan bisnis perikanan dengan menjaga lingkungan agar tetap lestari.

Inti utama dari Blue Economy ini adalah pro ekosistem. Segala limbah keluaran dari kegiatan perikanan harus berada dalam kondisi yang tidak mencemari tanah maupun perairan umum (Sukarniati & Khoirudin, 2017). Pada referensi yang lain, menurut Affandi & Rizki (2012), Blue Economy adalah sebuah konsep pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan, tidak hanya untuk kepentingan ekonomi, tapi juga sosial dan lingkungan.

Konsep ini sudah dicetuskan semenjak tahun 2014, melihat potensi laut Indonesia yang sangat kaya. Namun sangat disayangkan, konsep yang begitu esensial ini masih belum terlalu popular di kalangan masyarakat Indonesia.

Adanya konsep ini dapat mengurangi kerusakan ekosistem, mengurangi kelangkaan ekologi, meningkatkan inklusi sosial, meningkatkan lapangan pekerjaan yang berkualitas, ketahanan pangan, dan investasi pada bidang maritim.

Pendekatan pembangunan berbasis ekonomi biru akan bersinergi dengan pelaksanaan triple track strategy, yaitu program pro-poor (pengentasan kemiskinan), pro-growth (pertumbuhan), pro-job (penyerapan tenaga kerja) dan pro-environtment (melestarikan lingkungan).

Prinsip-prinsip yang terkandung dalam Blue Economy dapat menjadi kunci emas dalam Perencanaan Pembangunan Nasional. Langkah-langkah konkret dari penerapannya terbagi menjadi tiga, yaitu: Pertama, adalah soal pemahaman yang lebih jelas tentang nilai dari ekosistem laut. Kedua, dengan lebih efektif mengaitkan ekosistem laut dengan ketahanan pangan, ini terkait dengan kesinambungan bahan pangan dengan strategi ekonomi serta sosial pembangunan, sementara pendekatan ketiga adalah dengan transisi ekonomi dalam potensi ekonomi menyangkut pasar, industri, dan komunitas terhadap pola pembangunan yang lebih berkeadilan.

Prinsip Blue Economy dinilai tepat dalam membantu dunia dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, ekosistem laut yang kian rentan terhadap dampak perubahan iklim, dan pengasaman laut. Dalam konsep ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan pada Era Menteri Sharif Cicip Sutardjo, fokus pada tiga faktor, yaitu, ekologi, sosial, dan ekonomi.

Lebih lanjut, terdapat kendala yang dihadapi dalam mengimplementasikan konsep Blue Economy ini. Generasi muda memiliki peran yang cukup besar dalam upaya mengenalkan dan menerapkan ekonomi biru dimulai dari lingkungan sekitarnya. Generasi muda sangat penting untuk ikut terlibat dalam karena salah satu tanggung jawab generasi muda adalah meningkatkan daya saing dan kemandirian ekonomi bangsa.

Perlu adanya gerakan anak muda untuk mengampanyekan implementasi Blue Economy, yaitu dengan cara: (1) Generasi muda harus mengetahui dan mempelajari secara umum apa yang dimaksud dengan Blue Economy dan dampaknya bagi Indonesia; (2) Dengan membuat suatu organisasi milenial untuk membantu bersama sama mewujudkan konsep Blue Economy; (3) Membuat narasi singkat, infografis, video singkat ataupun poster yang menarik untuk dibaca dan diunggah ke media sosial tentang Blue Economy; (4) Membantu berkontribusi, rehabilitasi, serta pengelolaan terumbu karang, restorasi mangrove, dan lamun; (5) Generasi muda dapat menyosialisasikan penggunaan stainless steel untuk mengurangi penggunaan sampah plastik; serta (6) Anak perikanan harus mempunyai rasa kepedulian terhadap kerusakan mangrove, dengan bersama-sama melakukan restorasi mangrove untuk karbon yang tersimpan dalam biomasa dan tanah dari hutan mangrove yang luas.

Sebagai simpulan, dengan peran besar dari Generasi Muda Indonesia dalam Implementasi Blue Economy, Indonesia mampu menuai manfaat ekonomi dan memanfaatkan sumber daya laut secara berkelanjutan guna mendukung pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan, dan melestarikan ekosistem laut. (Ed: Resti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.