Penampung dan Penyambung Aspirasi

Penampung dan Penyambung Aspirasi

Tantangan industri udang ke depan sangat besar, banyak negara competitor seperti Equador, India dan Vietnam yang terus mengembangkan industri udang. Kita di Indonesia harus berbenah untuk meningkatkan produksi dan efisiensi agar bisa kompetitif di pasar internasional dengan teknologi budidaya yang maju dan berkelanjutan.

Seluruh stakeholder budidaya udang harus ikut berperan, termasuk Shrimp Club Indonesia (SCI). Sejatinya, organisasi merupakan suatu wadah bagi beberapa orang yang memiliki tujuan yang sama. Organisasi juga dibuat sebagai wadah bagi orang-orang yang berkumpul dan bekerja sama secara rasional serta sistematis.

Dalam hal ini, Shrimp Club Indonesia (SCI) telah menjadi organisasi dan mengambil peran sebagai wadah untuk para pelaku usaha budidaya udang nasional. Peran yang tidak mudah tentunya, namun nyatanya sampai saat ini SCI menjadi organisasi yang membawa perubahan positif kemajuan budidaya udang nasional.

SCI memiliki struktur yang cukup baik dengan adanya ketua dan seksi-seksi pada masing-masing wilayah. Dengan lengkapnya susunan organisasi yang ada, sangat bisa mengakomodir seluruh dinamika dalam budidaya yang ada dan bila dikumpulkan dengan pertemuan nasional (Indonesia) maka pemetaan problem akan didapat.

Dengan mengkerucutnya pemetaan problem yang ada akan memudahkan penyelesaian tentu dengan melibatkan pihak-pihak yang berkompoten di bidangnya. Masalah yang sudah dapat diselesaiakan merupakan efek domino dengan meningkatnya produksi udang.

Sebagai organisasi, SCI wajib mempererat kekompakan semua stakeholder udang Indonesia dengan menjalin sistem komunikasi yang terbuka dengan berbagai pihak dalam peningkatan SDM, infrastruktur, modal usaha, teknologi budidaya dan pasar.

Mengayomi petambak dengan mengawal regulasi dan melindungi petambak terkait isu pencemaran lingkungan, serta dengan semakin cepatnya perkembangan penyakit di budidaya udang saat ini.

Berperan aktif dalam menyampaikan sosialisasi teknologi aplikatif yang mudah diterapkan oleh pembudidaya, dalam hal ini teknologi terkait pencegahan penyakit, peningkatan produksi baik kuantitatif maupun kualitatif melalui seminar, pelatihan dan bantuan teknis lain, bekerja sama dengan stakeholder perudangan seperti pabrik pakan, hatchery dan produsen saprotam.

Lakukan terus kerjasama dengan pemerintah membuat kawasan-kawasan budidaya udang terintegrasi dari hulu ke hilir untk menjamin keberlanjutan budidaya dengan memperhatikan kelestarian lingkungan. Selain itu, untuk menghasilkan kebijakan yang kondusif bagi industri udang. SCI dan KKP diharapkan bisa mengurangi kebijakan, peraturan dan perijinan yang menyulitkan petambak dalam berusaha.

Tidak hanya dengan pemerintah, kerja sama dengan kalangan akademisi juga penting karena dapat menarik perhatian generasi penerus perudangan nasional (misalnya penyelenggaraan kegiatan lokasinya mendekat dengan universitas yang memiliki fakultas perikanan).

Konsisten menyelenggarakan event yang lebih menarik dan meriah juga perlu dilakukan secara berkala, sebab di situ akan terjadi perputaran ekonomi dan informasi terbaru seputar budidaya udang.

Kita semua tahu sepak terjang SCI untuk kemajuan udang nasional, harapan-harapan besarpun kita sandarkan kepada mereka sebagai penampung dan penyambung aspirasi para pembudidaya udang. Namun, SCI tidak bisa bekerja sendiri, kita semua harus berperan aktif untuk bersama mewujudkan cita-cita menjadikan Indonesia raja udang dunia.

You’ll never walk alone, SCI! (Adit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *