Pendederan Patin Siam Tanpa Artemia dan Cacing Sutera di BPBAT Sungai Gelam

Pendederan Patin Siam Tanpa Artemia dan Cacing Sutera di BPBAT Sungai Gelam

Waktu pemeliharaan lebih singkat 20 hari, biaya produksi lebih murah Rp40,00/ekor!

Sebelum memasuki tahap pembesaran, ikan patin terlebih dulu melewati tahap pendederan awal. Pendederan awal ini dilakukan sejak ikan berupa larva sampai memasuki tahap pembesaran berikutnya. Pada tahap pendederan awal, larva ikan membutuhkan pakan alami yang sesuai dari sisi nutrisi, bukaan mulut, dan merangsang larva untuk memakannya. Umumnya, pembudidaya menggunakan naupli artemia hingga umur 5 hari. Selanjutnya, larva ikan diberi pakan cacing sutera (Tubifex sp) hingga umur 12 hari.

Saat ini, artemia belum bisa diproduksi di dalam negeri, masih mengandalkan impor, dan harganya cukup mahal. Saat artikel ini ditulis, harga sekaleng artemia dengan berat bersih 450 g sebesar Rp700.000,00—Rp900.000,00. Sementara cacing sutera masih sangat mengandalkan hasil tangkapan alam sehingga ketersediaannya tidak selalu kontinu, apalagi pada musim hujan. Selain itu, penggunaan cacing dari alam memiliki risiko membawa penyakit. Di Jambi, pada saat artikel ini ditulis, harga cacing sutera 1 canting (1 kaleng susu) sebesar Rp15.000,00—Rp25.000,00.

Menjawab tantangan tersebut, BPBAT Sungai Gelam, Jambi, mengembangkan teknik dan metode baru, yaitu pendederan ikan patin siam tanpa menggunakan artemia dan cacing sutera.

Kunci pendederan
Setidaknya, terdapat 3 kunci yang harus diperhatikan dalam metode pendederan ini. Pertama, larva ikan yang kuat sehingga bisa bertahan hidup di kolam. Kedua, penyediaan pakan alami yang cukup. Ketiga, pencegahan predator di kolam budidaya.

Larva yang digunakan adalah larva patin Pustina, varietas baru patin siam hasil pemuliaan BPBAT Sungai Gelam. Selain patin Pustina, pembudidaya juga bisa menggunakan benih patin siam biasa. Namun, tidak disarankan menggunakan benih patin hybrid dan patin Jambal karena daya tahannya kurang baik.

Berdasarkan penelitian, larva patin siam sudah bisa memanfaatkan pakan buatan pada umur 10—12 hari. Oleh sebab itu, ketersediaan pakan alami harus cukup untuk memuhi kebutuhan larva hingga berumur 8—10 hari. Pakan alami, terutama moina, harus tersedia dalam jumlah yang cukup dan ukurannya sesuai dengan umur larva.

Adapun predator yang sering ditemukan di kolam adalah notonekta dan larva capung. Salah satu cara untuk mengatasi notonekta dan larva capung yaitu pengeringan kolam dan mempersingkat jarak antara pengisian air kolam dengan penebaran larva ikan patin.

Pengolahan kolam
Pendederan ikan patin dilakukan di kolam terbuka, yang harus diolah terlebih dahulu selama 3 hari. Untuk memudahkan penjadwalan, kegiatan dihitung mundur hingga hari penebaran.

Pada H-3 sebelum sebelum penebaran larva, kegiatan pengolahan kolam dilakukan, sebaiknya dimulai pada pagi hari. Pengolahan kolam meliputi pengeringan kolam, pembuangan ikan liar, pembalikan tanah dasar kolam, kemudian pengapuran ke seluruh permukaan tanah kolam. Kapur yang digunakan adalah kapur tohor dengan dosis 80—100 g/m2 dan didiamkan seharian.

Pada H-2 sebelum penebaran larva, kolam mulai diisi air. Kualitas air disesuaikan kebutuhan larva patin dan terhindar dari hama. Oleh karena itu, pemasangan filter dengan mesh size 500 mikron diperlukan untuk menyaring predator yang masuk. Pengisian air dilakukan hingga ketinggian air 80—100 cm. Pengisian air diupayakan selesai—maksimal—dalam 24 jam untuk mencegah munculnya larva capung dan notonekta. Jika diperlukan, pasang jaring penutup untuk melindungi kolam dari hama.

Pada H-1 sebelum penebaran larva, pemupukan kolam dilakukan dengan bahan yang mengandung protein seperti tepung ikan BS (bawah standar), pelet, atau ampas kecap dengan dosis 10—15 g/m2. Selanjutnya tambahkan unsur karbon seperti molase, gula, atau dedak dengan dosis 10 ml atau 10 mg/m2. Di BPBAT Sungai Gelam, pemupukan dilakukan dengan pelet protein 30% sebanyak 15—20 g/m2 dan molase 10 ml/m2. Bahan protein dan molase tersebut dicampur dan ditambah air secukupnya, lalu disebar di permukaan air kolam secara merata.

Pada H-1 ini juga dilakukan penebaran pakan alami, sebagai pakan larva sebelum bisa memakan pakan buatan. Pakan alami yang digunakan di BPBAT Sungai Gelam adalah moina. Caranya, masukkan moina ke dalam kolam sebagai bibit (starter) secukupnya, yaitu 1—2 g/m2. Semakin banyak bibit moina ditebar, semakin banyak moina yang akan tumbuh. Hari berikutnya, larva patin siap ditebar ke kolam.

Tebar, Deder, Panen!
Setelah kolam siap, penebaran larva bisa dilakukan. Larva yang ditebar sebaiknya berumur 1—2 hari dengan padat tebar sebanyak 400—500 ekor/m2. Waktu penebaran sebaiknya pada pagi atau sore hari, yaitu saat suhu tidak terlalu panas. Saat penebaran, perlu dilakukan aklimatisasi terlebih dahulu agar larva tidak terkejut dengan lingkungan baru. Caranya, rendam kantong plastik kemasan larva di kolam sekira 30 menit. Setelah itu, larva siap dilepas ke kolam.

Tidak ada perlakuan pada hari ke-1 dan ke-2 setelah penebaran. Hal ini disebabkan larva masih memiliki cadangan makanan berupa kantong telur di tubuhnya. Pada hari ke-3, penebaran tepung pelet mulai dilakukan di kolam untuk memberi makan moina agar tumbuh dan berkembang biak, sekaligus mengenalkan pakan buatan pada larva. Penebaran tepung pelet dilakukan ke sekeliling kolam 2—3 kali setiap hari dengan dosis 0,25 g/m2 pada setiap penebaran. Perlakuan ini dilakukan setiap hari hingga hari ke-8 sejak penebaran larva.

Pada hari ke-9, penebaran tepung pelet berprotein 40% di sekeliling kolam dengan dosis 0,4 g/m2. Adapun frekuensi pemberian pakan 4 kali sehari dengan interval 3 jam. Adapun pada hari ke-15, biasanya larva sudah bisa mengonsumsi pakan buatan dengan baik. Untuk melatih larva atau benih berkumpul pada satu titik saat pemberian pakan, letakan pelet pada suatu wadah dan diletakkan di salah satu sudut kolam. Namun, penebaran pelet ke sekeliling kolam tetap dilakukan. Setelah benih bisa berkumpul pada satu titik, pemberian pelet dilakukan secara satiasi atau sampai kenyang. Ukuran pakan buatan disesuaikan dengan bukaan mulut benih dengan kandungan protein pakan minimal 40%.

Pada hari ke-16 hingga hari ke-40, pakan yang diberikan berupa pakan crumble 1 ( 0,4—0,7 mm) secukupnya, disesuaikan dengan kondisi ikan. Ukuran pelet disesuaikan dengan bukaan mulut ikan.

Waktu pemanenan disesuaikan dengan ukuran benih yang dibutuhkan pasar. Di BPBAT Sungai Gelam, panen bisa dilakukan mulai umur 40 hari dengan ukuran benih 1,5—2,5 inci dengan sintasan 30—60%. Pemanenan dilakukan secara parsial dengan cara menjaring benih yang telah berkumpul di salah satu sudut kolam. Dengan begitu, risiko benih lecet bisa dikurangi. Selanjutnya, benih dipindahkan ke bak pemberokan untuk sortasi maupun persiapan distribusi. (Rochim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *