Cara Praktis dan Benar Sambut Kehadiran Benur

Cara Praktis dan Benar Sambut Kehadiran Benur

Ibarat menyambut kehadiran balita ke rumah, penanganan perpindahan benur ke tambak juga harus diperhatikan. Salah perlakuan, benur bisa stress, tidak nafsu makan, jatuh sakit, dan mengalami kematian.

Disebabkan adanya perbedaan parameter kualitas air antara tempat pembenihan dan tambak pembesaran, proses penebaran benur perlu mendapat perhatian agar benur tidak mengalami stress. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan menurut Asiyah, pemilik CV Riz Samudera.

Persiapan tambak
“Persiapan tambak dilakukan 2 minggu sebelum jadwal penebaran benur. Persiapan diawali dengan pengisian air terlebih dulu. Setelah ketinggian air sesuai ukuran yang diinginkan,  perlakuan berikutnya berupa pemberian cupri sulfat (CuSO4), saponin, CaCO3, dan desinfektan. Masing-masing perlakuan tersebut dilakukan dengan jeda 1 hari,” terang Asiyah.

Tentu saja, persiapan tambak yang dimaksud terkait langsung dengan perlakuan air tambak sebagai media hidup udang. Belum menghitung durasi waktu pembuatan kolam dan tanggul yang tergantung dari luasan tambak.

Cupri sulfat biasa digunakan sebagai desinfektan untuk pengendalian infeksi parasit, bakteri, dan jamur pada budidaya perikanan. Adapun saponin biasa digunakan untuk mengendalikan keberadaan hama seperti ikan liar, yang dikhawatirkan menjadi hama pemangsa udang. Sementara CaCO3 adalah kapur yang digunakan untuk menstabilkan keasaman tanah dasar dan perairan tambak.

Setelah perlakuan pemberian desinfektan selesai dan didiamkan selama 2 hari, proses berikutnya adalah penumbuhan plankton. Penumbuhan plankton dilakukan dengan cara menebarkan dedak fermentasi (FeRB) secara rutin setiap sore hari selama 7 hari. Setelah itu, benur siap ditebar.

Untuk menjamin keamanan dan kenyamanan benur, penerapan biosekuriti di tambak juga perlu mendapat perhatian. Pengadaan kolam tandon inlet diperlukan untuk mengolah air dari perairan umum yang masuk ke dalam tambak. Perlakuan ini mencakup pengontrolan kualitas air, mencakup suhu, pH, DO, kandungan racun organik maupun nonorganik, serta keberadaan organisme penyebab dan pembawa penyakit (carrier). Sebelum masuk ke tambak pembesaran, kualitas air dipastikan aman bagi benur.

Salah satu upaya untuk mencegah biota lain masuk ke area tambak yaitu memasang crab protecting device (CPD). Selain membuat lubang yang bisa menyebabkan tanggul bocor, kepiting juga berpotensi menjadi agen pembawa bibit penyakit. Dengan begitu, keberadaan kepiting di dalam tambak pembesaran harus dicegah.

Penyesuaian lingkungan
“Sebelumnya, pastikan benur vaname yang digunakan berasal dari hatchery yang telah memiliki sertifikat SPF (spesific pathogen free) dan telah lolos uji WSSV, IMNV, EHP, dan AHPND/EMS,” terang Asiyah.

Setelah memastikan kualitas benur, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah jumlah padat tebar. Petambak perlu mengetahui dengan betul luasan tambak yang dikelola. Dengan begitu, petambak bisa menyesuaikan jumlah benur yang dibeli dengan luasan tambak yang ada. Padat tebar yang terlalu tinggi bisa mengakibatkan stress pada benur.

Padat tebar harus disesuaikan dengan sistem teknologi budidaya yang akan digunakan. Pada tambak tradisional (ekstensif), padat tebar maksimal 5 ekor/meter persegi. Pada tambak ekstensif plus, padat tebar 6—8 ekor/meter persegi. Pada tambak semi intensif, padat tebar maksimal 100 ekor/meter persegi. Pada tambak intensif, padat tebar 100—300 ekor/meter persegi. Sementara pada tambak supra intensif, padat tebar 300—1.000 ekor/meter persegi.

Selanjutnya, perhatikan waktu penebaran. Waktu penebaran di tambak sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Hal ini bertujuan menghindari stress akibat suhu air yang terlalu tinggi. Oleh sebab itu, waktu pengambilan benur di pembenihan (hatchery) dan lama waktu perjalanan perlu diperhitungkan agar benur tiba di lokasi tambak dan siap ditebar pada pagi atau sore hari.

Saat penebaran, perhatikan proses aklimatisasi benih. Proses aklimatisasi bertujuan untuk mengurangi risiko kematian benur dengan melakukan penyesuaian diri atau adaptasi terhadap suhu dan salinitas air tambak terlebih dulu.

Aklimatisasi dilakukan dengan cara meletakan kantong berisi benur ke permukaan air tambak selama 15—30 menit atau hingga kantong terlihat berembun. Setelah itu, kantong berisi benur dibuka dan dimasukan air budidaya sedikit demi sedikit hingga penuh. Jika sudah terlihat nyaman, selanjutnya benur ditebar secara perlahan.

Pengelolaan pakan dan kualitas air
Selama proses pemeliharaan, hal yang perlu diperhatikan yaitu manajemen pakan dan kualitas air, serta manajemen kesehatan udang. Pengelolaan ketiga hal tersebut penting diperhatikan untuk menunjang keberhasilan budidaya.

“Teknik pemberian pakan pada 30 hari pertama menggunakan metode blind feeding dengan frekuensi pemberian pakan yang semakin lama semakin ditingkatkan,” ujar Asiyah.

Setelah blind feeding, pemberian pakan ditentukan dengan perhitungan bobot udang berdasarkan feeding rate. Pengontrolan dilakukan dengan bantuan anco, sebagai alat bantu dalam mengestimasi tingkat konsumsi pakan harian untuk penyesuaian kebutuhan pakan.

Untuk menunjang pertumbuhan udang yang baik dan mencapai keberhasilan budidaya, pengelolaan kualitas air tambak mutlak diperlukan sesuai parameter kualitas air yang dibutuhkan udang vamame. Pengukuran kualitas air dilakukan secara periodik terhadap suhu perairan, DO, pH, salinitas, kecerahan, ammonia, nitrit, nitrat, dan alkalinitas. Selain itu, dilakukan identifikasi plankton, baik dari sisi jenis dan kelimpahannya di perairan.

Selanjutnya, dilakukan kegiatan pengelolaan kualitas air sesuai kebutuhan di lapangan. Pengelolaan kualitas air mencakup penggantian air, pengapuran, aplikasi probiotik, dan penyedotan kotoran (penyifonan). Penyedotan kotoran bertujuan untuk membuang bahan organik yang berada di dasar tambak.

Selain pengontrolan pakan dan kualitas air selama pemeliharaan hingga saat panen tiba, manajemen kesehatan udang dilakukan dengan mengontrol kondisi fisik dan keaktifan udang. Pengecekan dilakukan dengan menggunakan bantuan anco. Selain untuk mengetahui kebutuhan pakan, anco juga bisa digunakan untuk mengontrol kesehatan udang.

Dengan mengetahui cara praktis ini, diharapkan para petambak pemula memiliki gambaran tahapan penting kegiatan yang harus dilakukan dalam budidaya udang vaname. Dengan penanganan yang benar, sejak benur baru tiba hingga masa pemeliharaan selanjutnya, diharapkan petambak bisa meraih keberhasilan saat waktu panen tiba. Perlu diingat, udang juga merupakan makhluk hidup seperti manusia, yang memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi agar mampu memberikan produktivitas sesuai harapan. Benar perlakuannya, besar pula hasil yang diberikannya. (Rch)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *