Untuk Benih yang Berkualitas, Sertifikasi CPIB Perlu!

Merebaknya wabah TiLV di sejumlah negara membuat segmen pembenihan mendapatkan sorotan. Terlebih dalam urusan impor benih dan induk tilapia dari wilayah yang terkena wabah. Nama baik hatchery pun jadi pertaruhan.

Sejak dikeluarkannya Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor Kep. 02/MEN/2007 tentang Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB), sertifikasi—dalam hal ini CPIB—menjadi penentu kelas sebuah Unit Pembenihan (UP). Dengan menggunakan benih dari UP bersertifikat, jaminan keamanan pun lebih terjamin.

Pada prinsipnya, CBIB maupun CPIB mengatur cara pembudidayaan ikan yang baik dan pemilihan benih yang bermutu. “Benih ikan bermutu yang dimaksud adalah berasal dari Unit Pembenihan yang bersertifikat dan memenuhi persyarakatan mutu dan keamanan,” papar Lisa Ruliaty dari Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara.

Masih menurut Lisa, CPIB merupakan standar sistem mutu pembenihan paling sederhana, yang harus diterapkan pembenih ikan dalam memproduksi benih ikan bermutu. Penerapannya dilakukan dengan manajemen induk, pemijahan, penetasan telur, serta pemeliharaan larva/benih dalam lingkungan terkontrol, lewat teknologi yang memenuhi persyaratan SNI atau syarat teknis lainnya. Di samping itu, pembenihan harus memerhatikan aspek biosekuriti, ketelusuran (traceability), dan keamanan pangan (food safety).

Sertifikasi CPIB jelas akan meningkatkan daya saing unit pembenihan atau hatchery karena kepercayaan konsumen meningkat. Pasalnya, konsumen bisa mendapatkan jaminan konsistensi kualitas benih yang dihasilkan dan ketelusuran dokumen lebih teliti. Bagi hatchery sendiri, penerapan CPIB membuat struktur kerja lebih jelas dan transparan, lingkungan hatchery lebih rapi dan bersih, dan ketrampilan karyawan meningkat karena pembinaan SDM-nya terprogram.

“Pada akhirnya, efisiensi dan efektivitas kerja, juga produktivitas, akan meningkat,” terang Lisa.

Empat syarat

Dalam slide presentasinya yang berjudul “Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) dan Sertifikasi CPIB”, Lisa memaparkan empat syarat yang harus dipenuhi unit pembenihan. Dengan memenuhi keempat persyaratan tersebut, hasil keluarannya berupa benih yang sehat dan bermutu, bebas residu antibiotik dan logam berat, aman bagi kesehatan, dan ramah lingkungan.

Pertama adalah persyaratan teknis, meliputi kelayakan lokasi, kelayakan sarana dan prasarana, dan proses produksi. Lokasi yang dinilai layak untuk usaha pembenihan si antaranya bebas banjir. Selain itu, lokasi bebas dari pengikisan daerah pantai dan terhindar dari cemaran limbah, baik limbah industri, pertanian, maupun pemukiman.

Kelayakan sarana dan prasarana ditujukkan dengan ketersediaan dan kecukupan fasilitas produksi, di antaranya wadah/kolam, mesin/pompa, peralatan, gudang pakan, serta bangunan lainnya. Salah satu contohnya adalah sarana water treatment.

Adapun proses produksi yang diperhatikan mencakup manajemen induk, manajemen benih, manajemen air, serta pemanenan benih. Titik tekan manajemen induk adalah memastikan kelayakan umur dan ukuran induk, serta asal dan sertifikat kesehatan yang menunjukkan induk bebas dari virus.

Kedua, persyaratan manajemen. Persyaratan ini meliputi organisasi unit pembenihan, di mana personil yang ditempatkan sesuai fungsi dengan kompetensi berdasarkan pendidikan, pelatihan, keterampilan, serta pengalaman. Selain itu, dokumentasi dan rekaman juga masuk dalam kriteria uji. Adapun jenis dokumentasi CPIB yang dipersyaratkan adalah Standar OPerasional Prosedur (SPO)/IK, Formulir, dan Rekaman.

SPO adalah dokumen berisi petunjuk baku pengoperasian suatu proses kerja dari satu atau beberapa orang yang fungsi tugasnya bisa memengaruhi efektivitas produksi. Sementara formulir adalah sarana yang digunakan untuk merekam data penerapan CPIB. Adapun rekaman merupakan salah satu dokumen yang menjadi bukti obyektif dari Unit Pembenihan (UP) untuk menunjukkan efektivitas implementasi CPIB.

Ketiga, persyaratan keamanan pangan. Persyaratan ini meliputi sumber air, penggunaan obat-obatan, serta sarana dan prasarana biosekuriti. Sumber air hendaknya tersedia sepanjang tahun dan bebas dari logam berat untuk parameter Cd, Hg, dan Pb. Bebas pula dari ecoli. Pengaturan terhadap penggunaan obat ikan serta bahan kimia dan biologi dalam proses produksi benih juga diperhatikan. Unit pembenihan hendaknya tidak menggunakan obat dan bahan kimia yang dilarang. Sementara pada biosekuriti, penilaian mencakup pengaturan tata letak; pengaturan akses masuk ke lokasi; sterilisasi wadah, eralatan, dan ruangan; sanitasi lingkungan; pengolahan limbah; pengendalian hama dan penyakit; serta pengaturan personil/karyawan.

Keempat, persyaratan lingkungan. Persyaratan ini mencakup upaya sanitasi lingkungan dengan tersedianya alat kebersihan yang memadai serta perlakuan pengelolaan limbah sebelum dibuang untuk mencegah pencemaran lingkungan. Sebelum dibuang ke lingkungan sekitar pembenihan, limbah harus ditampung atau diendapkan terlebih dulu dalam bak pengemdapan. Selanjutnya limbah disalurkan ke bak pengolahan limbah dan disterilisasi dengan kaporit 20 ppm selama 60 menit atau secara biologi.

Benur Berkualitas Tentukan Suksesnya Budidaya

Memilih benur berkualitas adalah langkah awal menuju suksesnya budidaya udang

Teliti dalam memilih benur yang akan dipakai tentu menjadi sebuah kewajiban jika ingin memulai usaha budidaya udang vaname, baik secara tradisional apalagi dengan sistem intensif dan supra intensif.

Sukses budidaya udang vaname sangat erat kaitannya dengan 3 komponen penting yakni kualitas air yang terjaga, manajemen pakan yang baik dan benur pemilihan yang berkualitas. Benur yang bermutu dapat dilihat apakah bisa sampai panen (size besar), bisa tahan terhadap penyakit, seragam atau tidak memiliki ukuran yang berbeda (blantik), serta pertumbuhan yang cepat.

Pengawas Perikanan Muda Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar, Guno Gumelar mengatakan, di Indonesia sendiri ada beberapa jenis strain benur unggulan yang beredar di pasaran. Seperti benur F1, asal induk impor yang banyak digunakan pada tambak intensif memiliki pertumbuhan cepat (ADG dapat mencapai 0,3-0,4), seragam (80-90%) dan SPF.

Kemudian ada benur Vaname Nusantara (VN) yang digunakan mulai dari budidaya jenis tradisional sampai intensif. Kelulushidupan cukup bagus namun ADG masih kalah dengan F1, aman dari penyakit karena sudah SPF.

Lalu ada benur F2/Jumper, benur hasil Hacthery Skala Rumah Tangga (HSRT) yang induknya diambil dari hasil budidaya tambak masyarakat, digunakan untuk budidaya udang tradisional, harga murah dan ukuran cukup seragam.

“Pembenihan vaname sudah sangat massal di Indonesia, meski belum ada data pastinya jika melihat kebutuhan benur pertahun di pasaran, maka panti benih dapat menghasilkan lebih dari 40 milyar benur pertahun” ujar Guno.

Untuk terus menggenjot produksi budidaya udang vaname di Indonesia, belum lama ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melaluli Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) mengumumkan membangun Naupli Center Udang Vaname di Jepara yang berkapasitas sekitar 450 juta ekor pertahun.

Direktur DJPB Slamet Soebjakto mengatakan, Naupli Center ini merupakan bagian upaya untuk membangun sistem logistik benih yang lebih tertata dan terintegrasi. Selama ini menurut Slamet mata rantai benih kurang tertata dengan baik dan masih bersifat parsial, dampaknya ketersediaan benur seringkali tersendat dan kualitas benur juga sulit dikontrol.

Pentingnya membangun mata rantai proses produksi secara terintegrasi. Untuk itu, DJPB tengah menata sistem logistik perbenihan melalui pembangunan naupli center yang ke depannya diharapkan akan menjangkau sentral-sentral produksi udang.

Mekanismenya menurut Slamet, UPT seperti BBPBAP Jepara yang akan memproduksi Nauplius udang berkualitas, dan HSRT/panti benih masyarakat tinggal beli nauplius tersebut untuk dibesarkan sampai ukuran siap tebar di tambak.

“Naupli center ini nantinya akan terkoneksi dengan panti benih/ HSRT milik masyarakat disentral-sentral produksi budidaya udang. Melalui naupli center ini, akan ada jaminan kualitas benur yang dihasilkan, disisi lain keberadaan naupli center ini juga akan memicu segmen usaha HSRT semakin bergairah. Paling penting adalah, para pembudidaya udang tidak harus repot-repot mendatangkan benur dari luar daerah,” jelas Slamet.

Slamet berharap pembangunan naupli center BBPBAP Jepara ini akan mampu mensuplai kebutuhan benur berkualitas, sekaligus sebagai embrio bagi pembangunan naupli center lainnya di daerah lain, dengan demikian ketersediaan benur bermutu akan mampu terpenuhi di seluruh Indonesia.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Nusantara 1, Vaname Unggul dari Situbondo

Bisa jadi, tak banyak pembudidaya tahu bahwa Indonesia, khususnya Situbondo, telah berhasil memproduksi indukan udang vaname unggul. Hatchery pun tak perlu lagi tergantung pada indukan vaname impor berharga tinggi.
Demikian informasi dari Dr. Siti Subaidah, Perekayasa Utama Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo kepada Info Akuakultur. Menurutnya, sebagai salah satu pemasok kebutuhan udang vaname dunia, Indonesia seharusnya memiliki pusat induk atau broodstock center untuk kepentingan pembenihan jangka panjang. Adapun dalam jangka pendek, produksi indukan dari beberapa lokasi harus mempertimbangkan kaidah genetika.
Induk impor yang didatangkan dari USA (Hawaii atau Florida) yang disebut dengan induk udang super diyakini tumbuh pesat dan tahan penyakit (SPR dan SPF). Mengutip pernyataan Haryanti (2003), induk udang introduksi nampaknya merupakan hasil rekayasa klon sehingga menunjukkan homozigositas yang tinggi antar-induk. Dari sisi keragaman genetik, hal ini tentu tidak menguntungkan. Kondisi semakin diperburuk dengan digunakannya induk lokal hasil budidaya di tambak tanpa pemantauan mutu genetiknya. Akibatnya, keragaman genetik tereduksi dan potensi terjadinya inbreeding sangat besar.
Rekayasa hasilkan indukan vaname unggul
Masuknya udang vaname ke Indonesia sendiri tak lepas dari kondisi menurunnya produksi udang windu akibat serangan penyakit. Inilah yang mendorong para pengusaha berusaha mencari komoditas udang unggulan. Di tahun 2001, Indonesia sudah mulai mengimpor benih dan induk udang vanname yang berasal dari Hawai, Florida dan Amerika latin.
Udang vaname menjadi pilihan beberapa keunggulan, di antaranya memiliki ketahanan terhadap penyakit yang cukup baik dan memiliki laju pertumbuhan yang cepat, yaitu masa pemeliharaannya berkisar 70—90 hari. Selain itu, nilai konversi pakannya (FCR) termasuk cukup rendah. Untuk menghasilkan satu kilogram daging, udang ini memerlukan pakan sebanyak 1,3 kilogram. Dengan begitu, pembudidaya dapat menghemat pengeluaran untuk pakan.
Disebabkan semakin banyaknya pembudidaya yang mengembangkan udang vaname dan sebagai alternatif mengatasi kekurangan stok udang nasional, pada tanggal 12 Juli 2001, melalui SK Menteri Kelautan dan Perikanan No. 41/2001, diresmikanlah udang vaname sebagai varietas unggul.
Seiring terus berkembangnya usaha pembenihan dan pembesaran udang vaname, belakangan ini terjadi penurunan yang diduga akibat penurunan kualitas dan rusaknya lingkungan budidaya.
Melihat kondisi tersebut, BBAP Situbondo melakukan kegiatan perekayasaan untuk menghasilkan udang vaname unggul berkualitas tinggi, yang resisten terhadap penyakit dan mudah dikembangkan. Perekayasaan ini berupa kegiatan breeding program (pemuliaan) dengan cross breeding (kawin silang) dan selective breeding (seleksi individu dan seleksi famili). Tujuan pemuliaan ini adalah menghasilkan udang yang lebih baik, memiliki pertumbuhan lebih besar, bobot lebih berat, dan tahan penyakit. Pada akhirnya, keturunannya memiliki keunggulan seperti induknya, bahkan bisa melebihi keunggulan induknya.
“Di bawah bimbingan dan pembinaan tim ahli dan Guru Besar genetik dan penyakit yang telah handal dari berbagai perguruan tinggi (IPB, UGM, UNPAD, UNIBRA) dan beberapa lembaga lain (BPPT, BRKP), kerja keras sejak tahun 2003 pun terbayar sudah. “Udang Vanname Nusantara I (VN-1)” di-launching pada tanggal 23 Oktober 2009 dengan SK Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.78/MEN/2009,” terang Siti Subaidah.
Terdapat beberapa keunggulan VN-1, di antaranya berat induk 40 g dapat dicapai dalam 6 bulan. Pada suhu media pemijahan 29—31 oC, performa reproduksi pada kondisi pemijahan telah stabil dimana jumlah induk matang telur (MT) 20—30%, terjadi mating rate sebanyak 50—70% dari induk MT, HR 70—90%, dan jumlah nauplius yang dihasilkan 125.000—250.000 ekor per spawner. Perkembangan udang di tambak pun sangat baik. SR bisa mencapai 98%, keseragaman bisa mencapai 95—98%, pertumbuhan harian 0,12—0,19 g/hari, dan FCR 1,2—1,4.
Dengan keunggulan tersebut, kehadiran udang vaname Nusantara 1 (VN-1) diharapkan bisa memenuhi kebutuhan udang vaname unggul seluruh stake holders.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Lirik Potensi Gurame, Lakukan Pemijahan dari Sekarang

Keterbatasan benih tidak seimbang dengan banyaknya permintaan akan ikan konsumsi ini. Perlu adanya penyuluhan kepada pembudidaya agar budidaya gurame berkesinambungan.

Sejalan dengan pengembangan kawasan usaha budidaya gurame yang semakin luas, maka kebutuhan induk dan benih juga semakin meningkat. Pengalaman salah seorang Penyuluh Perikanan Bantu dari Ciamis, yang juga sebagai pembudidaya ikan gurame, Eti Rohaeti, A.Md., mengatakan, ”Permintaan akan benih gurame untuk disekitar lokal belum terpenuhi dan baru bisa memenuhi 10 ribu ekor benih per minggu,” ujarnya.

Begitu juga keterangan dari ketua kelompok Ulam Barokah Pembudidaya gurame dari Tulung Agung, Sumanto, S.Pd., mengatakan, prospek gurame untuk di Tulungagung dari tahun ke tahun juga selalu mengalami peningkatan, ia sendiri memulai usaha budidaya gurame dari 2003. Permintaan pasar untuk gurame ukuran konsumsi per hari bisa mencapai lebih dari 10 ton.

Lanjut Sumanto, harga dari pembudidaya saat ini 30 ribu/kg, biasanya gurame untuk dijual kembali dan dikirim ke Jakarta. Penjualannya bisa mencapai 2 truk, untuk setiap truk berkisar 7,3 kwintal, serta pengepul jumlahnya lebih dari 10 orang untuk satu kecamatan.

Untuk itu diperlukan pasokan benih dalam jumlah yang cukup dan kualitas yang baik, agar bisa berkesinambungan antara benih yang diperuntukkan konsumsi dan juga untuk induk. Eti, juga menerapkan pola kemitraan dengan masyarakat yang disuluhnya yakni dengan mengatur pola tanam yang terstruktur dan terarah.

“Karena dengan kita ada pembagian segmen dan pola tanam, maka resiko seperti hama dan penyakit bisa teratasi, serta penghasilanpun akan teratur,” tambahnya.

Sebagai penyuluh perikanan Bantu, tujuan Eti dapat memberikan penyuluhan secara nyata, dengan memberikan contoh kepada masyarakat. Bahwa yang selama ini mereka berpikir susah dengan menfaatkan SDA yang ada, yaitu kolam dan air yang tersedia mengalir sepanjang tahun adalah sumber penghasil pendapatan.

“Dengan cara kita merubah pola pikir yang awalnya menanam ikan hanya untuk di konsumsi sendiri, untuk hajatan, menjadi berpikir dengan cara berbudidaya ikan gurame mempunyai prospek yang sangat besar, sehingga bisa mensejahterakan keluarga,” kata Eti.

Lanjut Eti, beserta penyuluh lainnya mendukung visi misi Kabupaten Ciamis yaitu menjadi sentra penghasil gurame terbesar di Priangan Timur. Keluhnya, Ciamis semenjak Pangandaran menjadi daerah otonomi baru (DOB), maka sumber perikanan hanya dari perikanan tawar. “Otomatis kita harus mengoptimalkan perikanan tawar karena perikanan hasil laut sudah tidak ada lagi,” ungkapnya.

Memilih Induk untuk dipijahkan

Bagi para pembudidaya gurame agar menghasilkan benih yang berkualitas, dimulai degan memilih indukan. Adapun ciri – ciri induk jantan yang siap untuk dipijahkan antaralain, terdapat benjolan di bagian kepala, bibir bawahnya tebal dan memerah pada saat birahi, tidak memiliki warna hitam pada ketiak sirip dada, kemudian bila bagian perut diurut kearah genital, akan mengeluarkan cairan sperma berwarna putih, berat induk berkisar 4- 5 kg.

Sedangkan untuk induk betina, pilih yang tidak mempunyai benjolan di bagian kepala, bibir bawah tidak tebal dan tidak memerah pada saat birahi, memiliki warna hitam pada ketiak sirip dada, kemudian berat induk berkisar 3 kg. Induk dapat dipelihara pada kolam tembok atau kolam tanah baik secara masal maupun berpasangan, dengan perbandingan jantan : betina = 1 : 4.

Pakan yang diberikan selama masa pemeliharaan indukan berupa pellet terapung dengan kadar protein lebih dari 28 %, sebanyak 2% biomass/hari dan bisa diberi pakan berupa daun sente/talas sebanyak 5 % bobot biomass/hari.

Persiapan pemijahan induk gurame, pertama kolam induk diberi tempat dan bahan sarang (tempat sarang diameter 20 – 25 cm). Kedalaman kolam 10 – 15 cm dibawah permukaan air, bahan sarang berupa sabut kelapa, ijuk atau bahan lainnya, ditempatkan dipermukaan air.

Selanjutnya pemijahan dilakukan secara alami di kolam pemeliharaan induk, ikan yang sudah siap memijah membuat sarang untuk menampung telur. Sebaiknya pengecekan telur dilakukan pagi hari pada setiap sarang yang sudah dibuat induk ikan, yakni dengan cara menusuk sarang atau dengan menggoyangkannya.

Bila keluar telur atau minyak, maka pemijahan sudah terjadi dan sarang berisi telur. Sarang yang berisi telur dikeluarkan dari tempat sarang secara perlahan untuk dipindahkan kedalam baskom plastik yang sudah diisi air kolam induk.

Sarang dibuka secara perlahan sampai telur keluar dan mengapung dipermukaan air. Telur-telur tersebut diambil dengan menggunakan sendok untuk dipindahkan kedalam wadah penetasan berupa corong dari fiberglass atau akuarium yang sudah diisi dengan air bersih.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Pacu Perkembangan Gonad Kerapu Kertang

Meskipun kerapu kertang jantan besutan BBAP Situbondo telah berhasil menghasilkan sperma yang berkualitas untuk menghasilkan kerapu-kerapu hybrid, tetapi induk betinanya belum mampu menghasilkan telur berkualitas secara kontinu. Dengan penyuntikan hormon LHRH-a, masalah pengadaan benih kini bisa diatasi.

Salah satu usaha dalam pengembangan budidaya ikan kerapu  adalah penyediaan benih yang bermutu,  baik dalam jumlah yang memadai maupun waktu penyediaan yang tepat.  Selama ini, usaha kearah tersebut telah dilakukan dan menunjukkan keberhasilan pada ikan kerapu tikus, kerapu macan, dan kerapu batik. Namun pada jenis ikan kerapu kertang belum sepenuhnya berhasil. Demikian ungkap Eko Sutrisno (Pengawas Perikanan Bidang Pembudidayaan Ikan BBAP Situbondo) dan Sugeng Harjono (Koordinator KerambaJaring Apung dan Pelaksana Gelondongan Kerapu BBAP Situbondo).

Ikan kerapu kertang merupakan salah satu jenis ikan laut ekonomis yang dikembangkan teknologi pembenihannya oleh BBAP Situbondo. Jenis ikan ini telah dicoba untuk diintensifkan pemeliharaannya sejak tahun 2005. Perlakuan yang diberikan pada induk yang dipelihara yaitu dengan melakukan manipulasi lingkungan. Namun, pemijahan kerapu kertang secara alami masih belum berhasil dilakukan. Guna mengembangkan teknologi pembenihan, keberhasilan pemijahan merupakan titik awal dan salah satu kunci keberhasilan kegiatan pembenihan secara keseluruhan.

Induk ikan kerapu kertang jantan di BBAP Situbondo telah berhasil menghasilkan sperma yang berkualitas. Selama 5 tahun terakhir, hasil perekayasaan BBAP Situbondo lebih banyak menggunakan sperma kerapu kertang untuk memproduksi kerapu hybrid. Sayangnya, induk kerapu kertang betina belum mampu menghasilkan telur yang berkualitas secara kontinu.

Rekayasa teknologi pemijahan buatan pun dilakukan dengan aplikasi hormon untuk mendapatkan telur kerapu kertang yang berkualitas. Untuk memacu perkembangan gonad, pemberian hormon LHRH-a dilakukan pada ikan indukan.

Metode rekayasa

Setidaknya, terdapat tiga langkah utama yang dilakukan selama proses rekayasa perkembangan gonad dilakukan. Ketiga langkah itu meliputi: pemeliharaan induk, manipulasi lingkungan dan pengamatan kematangan gonad, dan aplikasi hormon LHRH-a.

Pemeliharaan induk

Kegiatan utama dalam pemeliharaan induk dan pematangan gonad adalah pemberian pakan induk serta manipulasi lingkungan untuk memacu pematangan gonad. Pakan induk yang diberikan selama pemeliharaan berupa ikan segar jenis selar, ekor kuning, belanak, sarden, dan cumi-cumi sebanyak 5—7% dari total berat badan induk ikan. Pakan diberikan pada pagi hari antara pukul 08.00—09.00 WIB. Multivitamin diberikan untuk menjaga kesehatan dan stamina induk setiap 3 hari sekali, sedangkan vitamin E diberikan menjelang masa pemijahan.

Manipulasi lingkungan dan pengamatan kematangan gonad

Kegiatan ini dilakukan untuk memacu pematangan gonad melalui pengaturan ketinggian air pada bak induk. Caranya, setiap hari setelah selesai pemberian pakan, ketinggian air diturunkan sekitar 2/3 dari total tinggi bak induk. Perlakuan ini dilakukan setiap hari selama 8 jam.

Pengamatan perkembangan tingkat kematangan gonad induk kerapu kertang betina yang akan dipijahkan dilakukan pada saat bulan terang dengan cara kanulasi.

Hormon reproduksi di dalam tubuh ikan berkembang sesaat setelah ikan dewasa, yang dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain ketersediaan pakan yang mendukung perkembangan gonad, kondisi lingkungan hidupnya dan jenis dari ikan itu sendiri.

Tingkat kedewasaan beberapa spesies ikan kerapu umumnya diketahui dari ukurannya. Sebagai contoh, ikan kerapu macan akan mulai dewasa (betina) dengan ukuran panjang lebih dari 56 cm dan jantan lebih dari 85 cm. Ikan kerapu lumpur betina mulai dewasa pada panjang 52 cm dan jantan lebih dari 82 cm. Kerapu batik betina mulai dewasa pada ukuran 35 cm dan jantan lebih dari 42 cm. Sementara tingkat kedewasaan ikan kerapu bebek betina terjadi mulai pada panjang 30 cm dan jantan 42 cm.

Tingkat kedewasaan induk jantan kerapu kertang telah terdeteksi ketika berat mencapai rata-rata minimum 30 kg. Sementara induk ikan betina terdeteksi pada ukuran minimal 22 kg.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Tingkatkan Produksi Benih Kerapu

 

 

Kontinuitas penyediaan pakan dan sperma ikan kerapu diperlukan, agar produksi benih meningkat dan berkualitas

 

Budidaya ikan air laut terus dikembangkan salah satunya kerapu hibrid Cantang, yang merupakan persilangan dari kerapu Kertang (Epinephelus lanceolatus) dengan kerapu Macan (Epinephelus fuscogutattus). Ada juga persilangan kerapu Macan dengan kerapu Batik sehingga disebut kerapu Cantik.

 

Pengawas Perikanan Muda Bidang Pembudidaya Ikan, Balai Budidaya Laut (BBL) Batam, Ipong Adi Guna, S.St.Pi, mengatakan bahwa prospek kerapu Cantang cukup menjanjikan dengan pasar lokal Batam sedang untuk ekspor ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. “Harga benih ukuran 10 cm adalah Rp 15.000/ekor, sedangkan ukuran konsumsi Rp 180.000 – Rp 220.000/kg,” ujarnya.

 

Direktur CV. Surung – Bali, I Ketut Bendesa, mengatakan kami mulai produksi kerapu Cantang dan Cantik sejak tahun 2011. Kerapu Cantik orientasi pasarnya Hongkong, sedangkan kerapu Cantang lebih banyak untuk pasar lokal, dikarenakan untuk pasar Hongkong dari China juga sudah memproduksi masal kerapu Cantang.

 

Lanjut Bendesa, kelebihan kerapu Cantang adalah cepat besar dengan pemeliharaan 9 bulan sudah mencapai satu kilo, namun harganya lebih murah serta membutuhkan salinitas air yang lebih rendah yaitu 28%. “Kerapu Cantang juga mudah terserang penyakit terutama terhadap Iridovirus”, ungkapnya.

 

Bendesa menambahkan kembali, kerapu Cantik lebih tahan terhadap penyakit dan harganya juga lebih mahal, namun pertumbuhannya hampir sama dengan kerapu Macan yaitu dalam 12 bulan mencapai 600 gram.

 

Menurut Ipong, kerapu Cantang pada saat larva pertumbuhannya hampir sama dengan larva kerapu Macan, tetapi setelah memasuki pemeliharaan tahap  pendederan atau di atas umur 60 hari mulai adanya percepatan pertumbuhan, melebihi ikan kerapu Macan. “Selama pemeliharaan di Karamba Jaring Apung (KJA) percepatan pertumbuhan ikan hasil hibridisasi ini sangat cepat dimana selama masa pemeliharaan enam bulan di KJA sudah mencapai berat 800 – 900 gram,” ujarnya.

 

Kriteria benih berkualitas

 

Kriteria benih kerapu yang baik, bentuk tubuh sempurna, memiliki gerakan yang lincah, naik kepermukaan jika diberi pakan, kemudian tidak cacat, tidak terdapat kelainan seperti bengkok, anggota tubuh tidak lengkap, dan tidak mengapung dipermukaan air.

 

Bendesa menambahkan agar pertumbuhan optimal harus memperhatikan stabilitas suhu beserta kandungan nutrisi dalam pakan, karena kendala utama dalam budidaya kerapu adalah pakan. “Untuk itu saat ini kami sedang dalam proses untuk mendapatkan pakan buatan berupa pelet dan tidak lagi tergantung pada pakan ikan atau rucah,” jelasnya.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Pijah Buatan untuk Si Jelawat

Dikenal sebagai ikan khas pedalaman Kalimantan dan Sumatra, ikan air tawar yang nikmat disantap setelah digoreng atau dikukus ini sudah merambah pasar Jakarta. Keberhasilan teknik pembenihan jadi kuncinya.

Tak hanya nikmat disantap, ikan jelawat ternyata memiliki penampilan yang cantik. Tubuhnya yang memanjang seperti terpedo memiliki sisik berukuran besar berwarna perak. Sementara sisik punggungnya berwarna kelabu kehijauan. Sementara sirip dada dan perutnya terdapat warna merah. Konon, sisik ikan jelawat yang dikukus rasanya enak, kenyal seperti tulang muda. Jika digoreng seperti kerupuk.

Ikan jelawat (Leptobarbus hoevani Bleeker) memiliki banyak nama lokal. Di Jambi, Sumatera Selatan, dan Lampung, ikan ini disebut lemak atau klemak, tetapi saat masih berukuran kecil—antara 10—20 cm—disebut jelejar. Di Kalimantan Tengah, ikan jelawat disebut dengan manjuhan. Sementara di Malaysia, sebutannya ikan sultan dan di Thailand diberi nama pla ba.

 

Sebagai ikan konsumsi khas daerah, sebagian besar pemenuhan kebutuhan pasarnya ikan jelawat mengandalkan alam. Bisa diterka, keberadaannya di perairan alam pun ikut menipis. Upaya budidaya yang dilakukan secara tradisional pun masih mengandalkan benih dari alam, menunggu saat air sungai naik dan induk memijah secara alami.Tak pelak, keberadaannya masih tergantung pada musim. Sementara Jambi merupakan pemasok utama benih alam ikan jelawat di Pulau Sumatera.

 

Induce breeding

Melihat potensi dan keterbatasan pasokan benih ikan yang masih satu kerabat dengan ikan mas ini, pihak Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam, Jambi, pun berupaya melakukan terobosan dalam hal budidaya, khususnya pembenihan. Pada 2006, BPBAT Jambi berhasil melakukan teknologi pemijahan dengan melakukan induce breeding yang pertama kali di Sumatera.

 

Menurut Wahyu Budi Wibowo, S.St.Pi, Perekayasa Madya pada BPBAT Sungai Gelam, Jambi, masih banyaknya pembudidaya yang tergantung dengan benih tangkapan alam membuat kelestarian ikan jelawat dialam terancam ketersediaannya.

 

Adanya rekayasa pembenihan ikan jelawat hasil domestikasi diharapkan akan memberikan dampak secara sosial bagi para  pelaku budidaya ikan jelawat. Berhasilnya domestikasi dan budidaya ikan jelawat mampu melindungi salah satu plasma nutfah ikan spesifik lokal asli Indonesia.

 

Lebih lanjut Wahyu membeberkan langkah-langkah dalam teknologi induce breeding yang telah dilakukan. Langkah awal dilakukan dengan persiapan kolam dan indukan. Sebelum digunakan, kolam persiapan induk diolah dengan cara penggemburan tanah dasar, pembalikan tanah, dan pengeringan. Selanjutnya, kolam diisi air dan calon induk jantan dan betina dimasukkan dengan kepadatan 1—2 ekor induk per 5 meter persegi. Selama masa persiapan, induk diberi pakan pelet komersial dengan protein 30—32% sebanyak 3% dari berat biomassa ikan. Sementara itu, pakan tambahan berupa daun singkong diberikan sebanyak 2% biomassa setiap dua hari sekali.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Auakultur

Agar Benih Patin Siam Tumbuh Optimal

Di kalangan pembenih patin, jenis patin siam sudah tidak asing lagi. Selain ‘bandel, dari sisi ketahanan hidupnya, patin siam juga sangat produktif. Meskipun begitu, perawatan benih perlu perlakuan khusus agar dapat tumbuh optimal.

Tak berlebihan jika patin siam dikatakan sebagai primadona. Maklum, jenis patin satu ini memang kaya keunggulan. Beberapa pesona patin siam di antaranya mudah dipelihara dan kelangsungan hidupnya tinggi. Selain itu, ikan berkumis ini juga dapat dipelihara dengan kepadatan tinggi di lahan dan pasokan air yang terbatas.

“Di samping itu, permintaan pasar lokal dan ekspor sangat banyak. Produktivitasnya yang tinggi cocok untuk memenuhi kebutuhan protein hewani bagi manusia. Bahkan, patin siam tidak banyak tuntutan soal pakan. Sisa katering, ikan rucah, dan pakan alternatif lain pun jadi,” beber Sahban I. Setioko, S.Kom., pemilik Unit Pembenihan Rakyat (UPR) Pasir Gaok Fish Farm yang beralamat di Rancabungur, Bogor.

Di  pembenihan miliknya, Sahban hanya memproduksi benih patin siam ukuran 2 cm. Pada periode Januari sampai Juli 2016 saja, UPR Pasir Gaok sudah memproduksi 13,264 juta ekor benih patin siam. Itu saja sudah dipotong kekosongan pada Bulan Juni karena sedang Bulan Puasa. Sementara pada tahun 2013, produksi benih mencapai 8.947.400 ekor, tahun 2014 sebanyak 7.138.500 ekor,dan tahun 2015 sebanyak 10.685.000 ekor.

Pantas saja jika Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya,Kementerian Kelautan dan Perikanan, memberikan Sertifikat Cara Pembenihan Ikan yang Baik pada  UPR Pasir Gaok Fish Farm pada 2015 dengan predikat Sangat Baik aliasExcellent”.

Jadwal bertelur

Dari sisi pembenihan, keunggulan patin memang bisa bertelur banyak sehingga mampu menyediakan larva secara masal. Mesipun begitu, produksi benih tetap harus diperhatikan penjadwalannya. Menurut pengamatan Sahban, induk patin mulai terlihat sulit bertelur pada bulan April. Pada Bulan Juni sampai menjelang akhir Agustus, telur patin mulai kosong. Pada akhir Agustus, induk mulai memijah. Bulan Oktober, induk matang telur dan dipijahkan. Pada awal bulan Januari, induk sudah siap dipijahkan lagi. “Induk produktif dapat dipijahkan setiap 3—4 bulan,” terang Sahban.

Selanjutnya baca di majalah Info Akuakultur

Benih Mustika Tahan Bencana

Ingat bencana Koi Herves Virus (KHV) yang menyerang dunia budidaya ikan mas tahun 2002? Pendatang baru besutan BPPI Sukamandi ini siap menerima tantangan!

 

Selain tahan serangan KHV, Ikan mas Mustika yang baru dirilis dengan SK Menteri Kelautan dan Perikanan tahun 2016 hasil kegiatan pemuliaan di Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI) Sukamandi mempunyai segudang kelebihan juga memiliki performa yang baik pada karakter-karakter ekonomis penting lainnya.

 

Strain yang digunakan adalah strain Rajadanu, yang memiliki keunggulan pada berbagai karakter dibandingkan dengan ikan mas lainnya, yang telah berkembang dimasyarakat selama ini seperti strain Majalaya yang cukup mendominasi pada sentra-sentra pembesaran ikan mas. Selain itu, ikan mas Rajadanu memiliki morfologi atau bentuk tubuh yang relatif disukai pasar atau masyarakat dengan bentuk tubuh yang relatif lebih memanjang.

 

Ketua Kelompok UPR Ikan Mas di Cianjur, Ijang mengatakan, kurang lebih 4 bulan membudidayakan ikan mas mustika, namun untuk ikan mas jenis lain sudah sejak tahun 1985. “Prospeknya cukup bagus, sekarang orang cari ikan tahan virus dan mas Mustika pasti tahan virus, sehingga pembudidaya lebih diuntungkan dan bisa lebih baik dari ikan mas yang sudah ada sekarang”, ujar Ijang.

 

Lanjut Ijang, indukan mas Mustika, peralatan dan pakan disediakan oleh Balai Penelitian Pemulian Ikan (BPPI) Sukamandi. “Kita sekarang sedang memijahkan dan pemasaran benihnya di jual ke Cirata,” ungkapnya.

 

“Keuntungannya budidaya ikan mas Mustika yaitu ikan cepat besar, benihnya banyak, dan rasa dagingnya enak,” tambah Ijang.

 

Kegiatan Ijang bersama kelompok adalah melakukan budidaya, memelihara air supaya terjaga kualitasnya, pemberian pakan, kontrol hama dan penyakit dan melaporkan ke BPPI Sukamandi. “Dalam budidaya ikan mas Mustika, kendala pasti ada namun kami selalu koordinasi dengan BPPI Sukamandi,” tambah Ijang.

 

Ikan mas Mustika dihasilkan dari kegiatan pemuliaan melalui program seleksi konvensional dengan bantuan marka genetik. Peneliti, Balai Penelitian Pemulian Ikan (BPPI) Sukamandi, Khairul Syahputra, M.Si, mengatakan teknologi budidayanya mudah diterapkan karena relatif sama dengan teknologi yang sudah berkembang di pembudidaya serta tidak memerlukan tambahan teknologi spesifik.

 

Lanjut Khairul, budidaya ikan mas Mustika dapat diaplikasikan pada berbagai jenis atau sistem budidaya seperti kolam air tenang (KAT), kolam air deras (KAD), maupun keramba jaring apung (KJA). “Hasil uji lapang pada berbagai sistem budidaya menunjukkan bahwa penggunaan benih mas Mustika dapat meningkatkan produktivitas pembesaran sebesar 5-67%  lebih tinggi dari penggunaan benih ikan mas lainnya,” jelasnya.

 

“Kondisi optimal pertumbuhannya dapat dicapai pada kondisi kualitas air yang sesuai untuk budidaya ikan mas pada umumnya. Sedangkan pada saat terjadi wabah KHV, ikan mas Mustika masih memiliki sintasan yang tinggi dan pertumbuhannya tidak terganggu,” tambah Khairul.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Kiat Sukses Benihkan Si Tangan Panjang GI Macro II

Sukses lewati proses seleksi, udang galah GI Macro II besutan Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI) Sukamandi siap genjot produksi udang galah nasional.

 

GI Macro II merupakan versi pemuliaan dari versi pendahulunya, GI Macro, yang telah dilepas ke masyarakat pada tahun 2001. Status bebas virus MrNV ditambah perbaikan kualitas genetik dengan empat strain georafis sebagai sumber material genetik menambah nilai keunggulan udang bongsor bertangan panjang yang dilepaskan melalui SK MENKP No. 23 Tahun 2014 ini.

Seiring munculnya terobosan sistem UGADI (Udang Galah Bersama Padi) dan digalakkannya sistem tersebut oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), permintaan benih udang galah unggul ikut meningkat. Oleh sebab itu, pengadaan benih unggul menjadi sebuah keharusan.

 

Menurut Hary Krettiawan, S.Si, M.Si dari Balai Penelitian Pemulian Ikan (BPPI) Sukamandi,  pengetahuan tentang biologi dan siklus hidup udang galah untuk keberhasilan operasional panti benih (hatchery) sangat diperlukan. Kurangnya pengetahuan tentang hal ini tidak hanya menyebabkan kesulitan bagi kelancaran usaha yang berpengaruh pada keberhasilan bisnis, tetapi juga dapat merusak industri akuakultur di wilayah tersebut. Selain menyediakan kondisi lingkungan yang sesuai untuk udang galah, teknisi atau operator juga perlu memahami teknik pemijahan. Dengan begitu, induk bisa menghasilkan benih yang sehat dan siap untuk dibesarkan.

Persiapan induk

Induk yang digunakan dalam operasional hatchery haruslah induk unggul. Induk unggul merupakan induk hasil penelitian pemuliaan. Ketersediaan induk betina bertelur merupakan faktor penting dalam manajemen hatchery.

Untuk memastikan jumlah betina bertelur cukup tersedia pada satu waktu dengan telur yang siap menetas pada waktu yang sama, sejumlah induk betina harus dipertahankan. Sekira 500 sampai 1.000 ekor udang jantan dan betina harus disimpan sebagai induk untuk memastikan bahwa pada saatnya ada 15—20 betina bertelur dengan warna telur yang seragam.

Jumlah kebutuhan larva disesuaikan dengan kebutuhan PL, dengan penyisihan kematian larva yang khas dalam budidaya. Sebagai panduan kasar, 1 gram berat betina bertelur menghasilkan 500—1.000 larva. Betina bertelur berukuran panjang total 10—12 cm biasanya membawa sekitar 10.000—30.000 telur.

Jika ingin menyiapkan induk sendiri, persiapan dilakukan dengan pemeliharaan udang galah tokolan di kolam, dimulai dengan padat tebar awal 10—20 tokolan/m2. Setelah dewasa atau 3—6 bulan pemeliharan, calon induk diseleksi dengan memilih performa terbaik berdasarkan bobot atau panjang tubuh. Selanjutnya, calon induk dipelihara selama 1—2 bulan di kolam induk.

 

Penebaran induk

Calon induk ditebar ke dalam kolam induk dengan kepadatan 2—5 ekor/m2, dengan perbandingan jantan  dan betina 1 : 3. Padat tebar dibuat rendah untuk mengurangi stres akibat kepadatan dan meningkatkan peluang udang mendapat pakan.

Induk, udang dipilih yang paling aktif. Untuk induk jantan, mayoritas yang dipilih harus BC (Blue Claw, Capit Biru), meskipun beberapa ekor OC (Orange Claw, Capit Oranye) bisa dipilih untuk memastikan berlangsungnya repoduksi secara aktif. Sementara induk betina dipilih yang besar dengan asumsi pertumbuhannya cepat.

Selama di kolam induk, udang galah diberi pakan dengan kandungan protein kasar lebih dari 30% untuk memacu perkembangan telur dan kualitas kuning telurnya baik. Induk diberi pakan setiap hari minimal 2 kali dengan porsi pakan lebih banyak pada sore atau malam hari. Jika pakan pellet tidak tersedia, berbagai pakan hewani dapat digunakan seperti cumi maupun keong.

Setelah 1—2 bulan pemeliharaan, beberapa induk betina biasanya sudah menggendong telur. Pada saat itu, induk betina ‘gendong telur’ tersebut sebaiknya dipindahkan ke bak atau tangki penetasan. Namun, tidak semua induk gendong telur yang ditetaskan. Pilih induk dengan warna telur yang seragam.

Warna telur akan mengalami perubahan dari oranye terang menjadi kecokelatan dan abu-abu. Betina dengan telur berwarna keabu-abuan lebih disarankan karena akan menetas dalam waktu 3—7 hari. Sementara telur berwarna oranye memerlukan waktu inkubasi lebih lama, yaitu 14—20 hari.

“Pemeliharaan  larva diharapkan dari usia yang sama. Pemeliharaan larva dari berbagai usia akan menimbulkan masalah, misalnya perbedaan ukuran yang mencolok, terutama pada saat kemunculan PL yang tidak seragam,” terang Hary.

Selanjutnya baca di majalah Info Akuakultur