Industri Benih Dukung Produksi Budidaya Udang

Tahun 2022, produksi udang diperkirakan berbagai kalangan mengalami peningkatan. Hal ini sejalan dengan adanya target pemerintah yang mencanangkan peningkatan produksi udang hingga 250% pada tahun 2024.

Tak dapat dipungkiri, kegiatan bisnis budidaya udang sangat bergantung pada ketersediaan dan pasokan benih yang cukup. Sehingga, peranan hatchery sangat penting dalam keberlangsungan budidaya pembesaran udang.

Dengan dicanangkannya target peningkatan produksi sebesar 250% pada tahun 2024, hal ini harus didukung dengan ketersediaan benih yang cukup. Sehingga, peranan hatchery menjadi salah satu faktor penting dalam menjamin keberhasilan mencapai target tersebut.

Berdasarkan pengakuan Romi Novriadi, Dosen, Politekinik Ahli Usaha Perikanan, peluang peningkatan produksi di Indonesia tahun 2022 cukup baik. Hal ini ditandai dengan komitmen perusahaan makanan udang, pelaku usaha, akademisi dan stakeholder untuk bersama-sama mewujudkan target peningkatan produksi serta nilai ekspor udang vaname hingga 250 % di tahun 2024.

Menurut Romi, perkiraan ini sejalan dengan adanya penambahan lahan tambak baru, percepatan teknologi serta upaya pengendalian penyakit. “Kita harapkan kenaikan jumlah produksi hingga ± 20% dibandingkan tahun 2021 dapat tercapai,” ungkap Romi optimis.

Produksi diperkirakan naik

Prediksi peningkatan produksi udang juga diungkapkan oleh Supito, Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Payau BPBAP Takalar. Ia mengungkapkan, prospek produksi udang di tahun 2022 diperkirakan akan mengalami kenaikan.
Supito berpendapat, kenaikan produksi ini akibat telah meningkatnya jumlah tambak udang baru. Di samping itu, peningkatan juga disebabkan adanya peningkatan produksi dari revitalisasi tambak tradsional maupun pengembangan tambak baru dengan percontohan klaster tambak udang vaname.

“Permintaan pasar terhadap udang size 100 – 200 ekor/kg, baik udang windu maupun vaname ini sangat mendorong peningkatan produksi udang khususnya tambak sederhana,” ungkap Supito.

Saat ini revitalisasi sederhana dengan intervensi teknologi fermentasi maupun mekanisasi dapat meningkatan produktivitas udang hingga 750/kg/MT dengan target udang berukuran 80 – 150 ekor/kg, dengan umur pemeliharaan antara 60 – 70 hari. Saat ini, musim tanam udang dapat mencapai 3 kali dalam satu tahun.

Lebih jauh, Supito menyebutkan angka perkiraan peningkatan produksi. Menurutnya, di tahun 2022, peningkatan produksi dapat mencapai sekitar 20%. Angka ini berasal dari perkembangan atau revitalisasi tambak sederhana.
Diperkirakan, kenaikan produksi udang di 2022 dapat mencapai kenaikan 25 – 30%. Program pengembangan tambak klaster dengan modeling tambak Kawasan tambak dari hulu dan hilir, pengembangan revitalisasi ditengarai akan mendorong peningkatan produksi.

Budidaya udang, peluang bagus

Budidaya udang masih memiliki peluang yang menggiurkan. Hal ini diakui oleh Mohammad Nadjib, Direktur PT IANDV BIO Indonesia. Menurutnya, peluang bisnis budidaya udang baik menggunakan metode tradisional, semi intensif, intensif atau supra intensif, semua berpeluang bagus.

“Tinggal bagaimana caranya agar efisien. Untuk menghadapi ancaman penyakit pada budidaya, pastikan benur berkualitas sesuai kebutuhan yaitu disesuaikan dengan daya dukung alam dan teknologi budidaya yang akan diterapkan. Genetik induk benur harus jelas,” paparnya.

Seperti halnya dengan peluang bisnis budidaya udang, Nadjib berpandangan, industri benih (hatchery) juga memiliki peluang yang menjanjikan. Ia bertutur, hatchery juga sama cerahnya dengan tambak.

“Yang dibutuhkan adalah jaminan pasokan induk berkualitas yang bisa dipastikan SPF nya, tahan terhadap serangan penyakit atau pertumbuhan yang cepat,” ungkapnya.

Nadjib menambahkan, untuk menghadapi tantangan di industri benih, perlu adanya peningkatan efisiensi yaitu dengan hanya menggunakan produk bermutu. Misalnya, induk, artemia, pakan, probiotik, algae, dan peralatan harus bermutu.
“Diperkirakan kendala yang akan muncul adalah pakan hidup induk udang terutama cacing, terkait pasokan dan kualitas,” papar Nadjib.

Menurutnya, dalam industri hatchery, sumberdaya manusia, fasilitas dan kemampuan mendukung kebutuhan benur untuk meningkatkan produksi udang, sudah mumpuni. “Tinggal menanti kepastian kualitas induk dan pakan hidup untuk induk (cacing),” ungkapnya.

Konsistensi indukan jadi tantangan

Lebih jauh Uus Sugema, Manager Genetic & Deheus Innovation and Solution, PT Universal Agribisnisindo – De Heus Indonesia, mengungkapkan tantangan yang ada dalam industri benih.

Menurut pandangannya, tantangan yang ada saat ini yaitu konsistensi induk (broodstock) yang unggul genetiknya, baik karakter pertumbuhannya maupun resistensinya terhadap penyakit.

Selain itu, Nauplii yang dihasilkan harus berkualitas, memiliki daya tahan yang kuat, dan jumlah nauplii per spawner yang tinggi dengan perkembangan tahapan larva yang baik daya tahan hidupnya.

Hal ini penting untuk mendapat perhatian mengingat masih banyaknya panti-panti benih skala kecil yang memproduksi PL dimulai dari nauplii (N4-N5). Sehingga, harus mengandalkan (membeli) Nauplii dari panti benih bersakal besar yang lengkap memiliki fasilitas maturasi broodstock.

“Diperlukan keseriusan untuk membuat benur yang bagus dan konsisten dalam menjaga mutu PL yang akan dipasok ke tambak-tambak,” kata Uus.

Lebih selektif memilih induk

Masih menurut Uus, pelaku bisnis benih harus lebih selektif dalam memilih induk (atau Nauplii, bagi memulai mata-rantainya dari Nauplii. Sehingga, didapatkan yang performa yang paling baik dan konsisten dalam keunggulan genetiknya.

Berikutnya, ia juga menekankan pentingnya melakukan revitalisasi SOP yang lebih serius dari mulai aspek biosekuriti, pengolahan air yang keluarannya rutin divalidasi. Asupan pakan dan pengayaan lainnya yang lebih berkualitas, inovasi-inovasi teknik budidaya, pemantauan/kendali mutu yang levelnya semakin ditingkatkan.
Sehingga, perhatian terhadap pengemasan dan transportasi benur yang sampai di lokasi tambak tetap terjaga baik dan optimal performanya.

Perhatian terhadap sumberdaya manusia pelaku bisnis benih terus ditingkatkan. “Tidak hanya berorientasi pada smart skillnya, tetapi juga cemerlang spiritualnya, harmonis dan solid dalam tim kerjanya,” ungkapnya.
Selain itu, SDM juga dituntut agar bahagia dan selalu semangat dalam kinerjanya. Sebab, hal ini, menurut Uus, berkontribusi besar dan memiliki daya pengaruh positif dalam memproduksi benur berkualitas.

Pelaku industri benih berbenah

Terkait aspek bisnis benih udang, menurut Uus, kini kalangan pelaku bisnis juga banyak yang melakukan pembenahan dan peningkatan terhadap upaya menghasilkan benur yang performanya lebih baik serta lebih tahan terhadap serangan penyakit.

“Para pemain broodstock diprediksi di tahun ini dan mendatang akan semakin bersaing positif dan berlomba meningkatkan kualitas indukannya khususnya dalam merespon pandemi AHPND,” paparnya.

Menurut Uus, kondisi ini berlaku untuk merek induk yang sudah dikenal luas selama ini seperti SIS CP, Prima Larva, Konabay Indonesia, SyAqua, GGI, maupun pendatang baru Benchmark dan Broodstock API (American Penaeid).
Bagaimana dengan pemain di industri benih dari dalam negeri? Menurut Nadjib, kondisinya menggembirakan. Pasalnya, jumlah hatchery di Indonesia juga semakin berkembang.

“Diprediksi jumlah hatchery mencapai sekitar 400 unit dengan jumlah benur yang diproduksi skala nasional dapat mencapai lebih dari 40 milyar PL per tahun,” paparnya yakin. (noerhidajat/resti/adit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *