Industri Pakan Udang, Perlu Sinergi dan Kolaborasi

Bisnis udang semakin bergairah. Setidaknya itulah yang diprediksi oleh berbagai kalangan di awal tahun 2022 ini. Dengan meningkatnya budidaya, hal ini menjadi efek domino bagi bisnis pendukung akuakultur, di antaranya kebutuhan akan ketersediaan pakan udang.

Menurut Uus Sugema, Manager Genetic & Deheus Innovation and Solution, PT Universal Agribisnisindo – De Heus Indonesia, gairah industri pakan udang di tahun ini diprediksi akan semakin meningkat. Pelaku bisnis akan berlomba mengisi ceruk pasar (share market) yang terus tumbuh di tengah situasi beberapa bahan baku utama yang makin mahal dan terbatas.

Hal ini dengan adanya asumsi normal pertumbuhan pasar sekitar 8 – 10% dan cukup derasnya investasi pabrik pakan baru dan juga akuisisi feedmill lama. Di tambah lagi, adanya target pemerintah yang mencanangkan peningkatan ekspor udang 250% di akhir Tahun 2024.

Dengan demikian, industri pakan udang pun tentu akan menyesuaikan. Setidaknya, untuk pangsa pasar skala nasional di tahun depan yang dapat mencapai 600.000 MT.

Uus menuturkan, dalam rangka meningkatkan kuantitas maupun kualitas, pabrikan pakan juga banyak yang melakuan scale up maupun improvement, dari mulai memperluas varian rendah protein hingga tinggi protein, pengayaan komposisi, pasokan bahan baku yang lebih berkualitas dan lain-lain.

Hal ini untuk merespon kebutuhan di lapangan yang sangat masif mendongkrak produktivitas, disamping berjibaku terhadap ancaman penyakit, seperti AHPND yang belum kunjung reda.

“Kualitas pakan yang bisa mendongkrak pertumbuhan, signifikan terhadap imunitas udang, aman dari efek negatif leaching di media air budidaya dengan harga yang kompetitif di pasaran menjadi perhatian pabrikan pakan saat ini” ungkap Uus.

Produksi tetap tumbuh

Tetap adanya pertumbuhan produksi udang di tahun 2022 juga diyakini oleh Deny Mulyono, Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT). Ia meyakini, prospek produksi pakan udang tahun 2022 secara regresi tetap tumbuh 7 – 8%, kecuali ada hal-hal diluar kebiasaan.

Pandemi yang masih terus bergulir secara global, perubahan iklim dan juga rencana negara besar (seperti China) untuk lockdown, akan mempengaruhi keseimbangan permintaan dan penawaran (supply and demand) baik dari bahan baku pakan, ketersediaan kontainer untuk logistik bahan baku ataupun produk akhirnya (udang, red). Hal ini perlu terus dicermati dengan jeli.

Di pihak lain, Fauzan Bahri, Sales Director Skretting Indonesia juga optimis adanya pertumbuhan bisnis udang di sektor budidaya. Menurut prediksinya, pertumbuhan tersebut karena terbangunnya kawasan tambak baru dan adanya petambak baru. “Kebutuhan pakan masih ada kenaikan di 2022 sekitar 5 – 10%,” prediksinya.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Paian Tampubolon, TS Manager Central & West Java, PT Grobest Indomakmur. “Prospek produksi pakan pada tahun 2022 tetap menjanjikan karena masih tingginya animo dalam usaha budidaya udang,” tutur Paian.

Target pemerintah meningkatkan produksi 250% pada tahun 2024 membuat produsen pakan akan bertambah dan membuka terjadinya kompetisi yang cukup ketat. Selain itu, adanya tren harga pakan yang terus merangkak.
“Produsen akan berlomba-lomba melakukan efisiensi dalam produksi baik dalam rantai produksi maupun bahan-bahan baku produksi dengan tidak menurunkan kualitas,” ungkap Paian.

Strategi hadapi tantangan di industri pakan

Masih menurut Paian, dengan semakin ketatnya persaingan pemasaran pakan, maka sangat dibutuhkan pelayanan lain bagi konsumen selain harga yang terjangkau dan kualitas yang baik, diantaranya adalah dengan menyediakan pakan yang dapat memberikan pertumbuhan baik dan meningkatkan daya tahan udang.

Sehingga, udang tidak rentan terserang penyakit (Vibrio, virus, jamur, dll.) serta kuat menghadapi perubahan kualitas air yang ekstrim (suhu, salinitas, pH, dinamika plankton). Selanjutnya, produsen juga dituntut untuk dapat menyediakan pelayanan pengecekan kualitas air (kimia, biologi, fisika) dan udang secara berkala (misalnya kondisi hepatopancreas dan usus).

Selain itu, Paian menambahkan agar produsen membantu konsumen/petambak secara teknis (mengelola kualitas air, mengelola pakan, mengelola dasar tambak dan mengelola penyakit).

“Bantuan ini dilakukan dari pra-persiapan, persiapan, pemilihan benur, menentukan panen parsial hingga panen total,” papar Paian.

Ia juga menyarankan produsen mengarahkan petambak untuk menggunakan sistem budidaya sesuai dengan kelengkapan sarana penunjang (semi intensif, intensif, supra intensif). Semakin meningkatnya produsen pakan membuat konsumen/petambak lebih leluasa untuk memilih pakan yang ada.

Namun Paian mengingatkan, agar konsumen tidak semata-mata menjatuhkan pilihan hanya karena harga. Pasalnya, udang membutuhkan asupan protein bagi pertumbuhan serta asupan bahan-bahan lain (additive) untuk menjaga daya tahan.

Kemandirian dan bahan baku lokal

Peningkatan produksi pakan, sebagai pendukung sektor budidaya udang, tak dapat dilepaskan dari ketersediaan bahan baku pakan. Terkait isu ini, kemandirian dalam penyediaan bahan baku lokal menyita perhatian dari para pemangku kepentingan.

Romi Novriadi, Dosen Politekinik Ahli Usaha Perikanan, mengutarakan, prospek pakan untuk produksi udang tahun 2022 sangat baik dan sejalan dengan upaya peningkatan produksi. Ia menekankan pentingnya kemandirian dalam penggunaan bahan baku lokal.

Hal ini untuk mengantisipasi perubahan perdagangan global yang mengarah kepada monopoli penggunaan bahan baku. “Kita berharap kenaikan harga pakan tidak terlalu signifikan di tahun 2022,” harapnya.

Masih menurut Romi untuk menghadapi tantangan dalam industri pakan, perlu dilakukan dua strategi yaitu kolaborasi dan reformulasi. Menurutnya, kolaborasi dilakukan antara pelaku industri dengan institusi perguruan tinggi untuk mempercepat ketersediaan bahan baku lokal yang dapat memenuhi kebutuhan industri baik dari segi harga, kualitas dan keberlanjutan pasokan.

Berikutnya, Romi melanjutkan, industri pakan harus mulai untuk melakukan reformulasi yang disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi spesifik udang vaname untuk optimalisasi pertumbuhan dan kesehatan selama masa produksi.

Tiga tantangan industri pakan

Masih menurut Romi, saat ini, tantangan utama industri pakan adalah harga dan kualitas pakan, penyakit dan harga pasar yang fluktuatif. Untuk mengatasi ketiga tantangan utama diatas para pelaku usaha diharapkan mulai membuka diri untuk teknologi terbarukan yang mampu secara efektif meningkatkan efisiensi produksi.
Seperti halnya pengetahuan nutrisi spesifik yang dibutuhkan oleh udang dapat dijadikan referensi dalam pemilihan pakan yang sesuai untuk mencapai target pertumbuhan dan profitabilitas yang diharapkan.

Kemudian, untuk penyakit, lanjut Romi, masa produksi yang optimal serta minimalisasi interaksi negatif antara inang, patogen dan lingkungan harus dilakukan dengan baik.

“Tantangan ketiga untuk fluktuasi harga dapat diantisipasi secara bersama-sama dengan perbaikan kualitas produksi serta penerapan sistem sertifikasi untuk menjadikan produk udang yang dihasilkan lebih kompetitif baik di pasar nasional maupun di pasar global,” tandas Romi.

Sinergi dan kolaborasi

Pentingnya sinergi dan kolaborasi juga diutarakan oleh Uus. “Upaya untuk menghadapi masalah sumber bahan baku di industri pakan ini sudah saatnya ada sinergitas dan kolaborasi yang solid dan harmonis antar elemen,” papar Uus.
Pemerintah melakukan sinergi dan kolaborasi dengan melibatkan lembaga-lembaga riset pendukungnya maupun perguruan tinggi bersama produsen pakan, dalam rangka mendapatkan sumber bahan-bahan baku alternatif yang berkualitas dan lestari dengan pertimbangan biaya yang masuk akal bagi industri.

“Konsorsium semacam ini akan lebih mempercepat proses dan mudah terealisasi,”ungkap Uus meyakinkan.
Lebih jauh, Uus menjabarkan pandangannya terkait bahan baku pakan. “Keberlanjutan bahan baku pakan yang lebih berkualitas dan terbarukan, disamping ada juga isu lingkungan,” ungkap Uus.

Terkait keterbatasan ketersediaan bahan baku, diperlukan terus inovasi, penelitian dan pengujian sumber bahan baku, khususnya sumber protein selain tepung ikan yang kian terbatas. Sumber protein alternatif pengganti tepung ikan kedepan yang selama ini sedang masif diupayakan antara lain adalah dari tepung serangga dan tepung kedelai yang difermentasi.

Siasati kondisi tidak menentu

Menurut Paian, dalam usaha budidaya udang, dikenal istilah risiko tinggi berpeluang mendapatkan untung besar (high profit). Oleh karenanya para pengusaha udang akan selalu loyal untuk terus melanjutkan usahanya. Risiko tinggi tersebut di antaranya terkait terjadinya kondisi dan kejadian yang tidak menentu.

Untuk mengantisipasi ketersediaan bahan baku dengan kondisi global yang tidak menentu saat ini, menurut Deny, sebagaimana dialami sepanjang 2020 – 2021 ini, menjadi kunci. Sekaligus, diharapkan tidak ada kejutan-kejutan yang berakibat membatasi akses kepada bahan baku, dari sisi apa pun termasuk peraturan.

Pasalnya, lanjut Deny, jika bahan baku tidak tersedia, industri tidak dapat berproduksi dengan baik dan dampaknya tentu kepada daya saing produk baik pakan, atau pun udangnya. (noerhidajat/resti/adit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *