Wabah Penyakit di Tambak, Kendala Bisnis Budidaya Udang

Budidaya udang masih menghadapi tantangan di penyakit diantaranya AHPND, IMNV, EHP, dan lainnya. Tetapi, semangat petambak masih menggebu-gebu. Pasalnya, harga udang di pasaran masih terbilang tinggi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Fauzan Bahri, Sales Director Skretting Indonesia. Terkait masalah pengendalian penyakit, menurut Mochammad Heri Edy, Dosen dan praktisi budidaya udang, Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo, menghadapi tantangan seperti ancaman penyakit pada budidaya udang adalah tambak masa sekarang perlu lebih intensif pengelolaannya agar bisa dijalankan dengan baik, tambak tradisional dan semiintensif harus dikelola dengan baik.

Kita harus menyediakan kualitas air yang lebih baik sesuai dengan persyaratannya agar  udang nyaman hidup dan berkembang di tambak, bila kualitas air sesuai maka udang tumbuh cepat dan tidak mudah terserang penyakit.

Penyediaan pakan dan obat-obatan yang berkualitas juga akan menjaga ketahanan udang terhadap penyakit.  Phytopankton yang stabil dan cukup, kecuali blue green algae juga ikut menjaga kesehatan udang.

Menurut Heri, pemerintah harus memberikan pembinaan yang baik terutama petambak rakyat yang jumlahnya cukup besar, peningkatan peran penyuluh swasta misalnya technical service (TS) pakan dan obat-obatan juga besar untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap petambak sehingga produksi udang meningkat.

Penyakit masih jadi kendala

Beberapa penyakit masih menjadi kendala besar dalam budidaya udang. menurut Heny Budi Utari, Head Divisi Market Technical Service Shrimp and Laboratory Service, PT Central Proteina Prima, beberapa penyakit tersebut di antaranya adalah kematian dini, WSSV, IMNV.

Di lain pihak, Paian Tampubolon, TS Manager Central & West Java, PT Grobest Indomakmur, strategi dalam menghadapi tantangan ancaman penyakit di antaranya menerapkan tahapan-tahapan budidaya dengan baik dan semaksimal mungkin (dari tahapan pra-persiapan, persiapan, perawatan kualitas air selama budidaya sesuai dengan standar, pemberian pakan dengan optimum sehingga penggunaan pakan efektif.

Ia juga mengutarakan pentingnya seleksi benur yang akan digunakan sudah lulus uji bebas penyakit (pathogen). Berikutnya, mengetahui batas carrying capacity (daya dukung lingkungan) pada area tambak.

“Umumnya, tambak yang usianya sudah tua mempunyai daya dukung lingkungan yang semakin turun. Hal ini diperlukan untuk menentukan densitas tebar yang sesuai,” papar Paian.

Selanjutnya, ungkap Paian, adalah melakukan pemantauan kualitas air, kesehatan udang secara berkala, segera melakukan isolasi tambak-tambak yang bermasalah dan mencegah penularan ke tambak lain (biosecurity).

Strategi hadapi ancaman penyakit

Penyakit menjadi salah satu tantangan terbesar dalam budidaya udang. Menurut Wayan Agus Edhy, praktisi budidaya udang, strategi mencegah merebaknya penyakit di tambak udang dimulai sejak masa persiapan tambak.

Para pembudidaya udang harus memahami tatacara menjaga plankton agar stabil, tidak overblooming dan juga tidak mati massal, menciptakan ekosistem yang seimbang antara plankton dengan bakteri heterotrof, mengendalikan bakteri nitrifikasi agar alkalinitas stabil dan trennya naik meskipun sedikit dan tidak boleh turun meskipun sedikit. Kisaran nilai pH antara 7,7 – 8,3 dan fluktuasinya tidak terlalu tinggi.

Kemudian, ia melanjutkan pentingnya pengendalian bahan organik di dalam tambak. “Bahan organik merupakan sumber masalah dalam budidaya udang, terutama bahan organik yang mengandung nitrogen tinggi yang berasal dari sisa pakan, feces udang dan plankton mati. Mengendalikan bahan organik bisa dengan cara sipon dan/atau tap air melalui pipa pembuangan,” ungkapnya.

Lebih jauh, ia juga menjabarkan peranan bakteri heterotrof. Aplikasi bakteri heterotrof, seperti genus Bacillus sp. dapat menekan pertumbuhan bakteri Vibrio karena bisa menghasilkan N-acyl homoserine lactonase (quorum quenching) yang bisa mendegradasi N-acyl homoserine lactone yang merupakan sarana komunikasi antar sel bakteri Vibrio. Terakhir, tidak lupa ia mengingatkan petambak dalam penerapan protokol biosecurity yang ketat.

Tiga tahapan penting atasi penyakit

Dalam mengatasi tantangan penyakit udang, berdasarkan pengakuan Romi Novriadi, Dosen, Politekinik Ahli Usaha Perikanan, ada tiga tahapan penting yang harus dilakukan. Pertama adalah tahapan sebelum produksi. “Ini bisa dilakukan melalui proses persiapan kolam yang baik, sterilisasi air untuk masa awal dan selama melakukan produksi, pemilihan benur yang bebas penyakit, serta persiapan bahan-bahan produksi seperti penggunaan pakan fungsional yang mampu meningkatkan sistem imun non-spesifik udang vaname atau penggunaan probiotik yang sudah diketahui efektivitasnya untuk meningkatkan kondisi kualitas air dan pencernaan udang agar optimalisasi produksi dapat dicapai,” ungkap Romi.

Berikutnya, tahapan kedua adalah masa selama melakukan produksi, termasuk di dalamnya aplikasi biosekuriti yang tepat untuk minimalisasi patogen yang masuk kedalam unit produksi, aplikasi manajemen air, pakan dan kesehatan udang yang baik yang disertai dengan rencana monitoring dan surveillance yang aktif dan efektif untuk melakukan tindakan awal pencegahan penyakit.

Terakhir, tahapan ketiga adalah tahapan pasca produksi yang difokuskan kepada proses pengolahan limbah organik dan inorganic baik secara fisika/mekanik, kimia dan biologi. Melalui ketiga tahapan ini, diharapkan proses produksi udang dapat dilakukan secara terukur dan berkelanjutan.

Atasi ancaman penyakit, jaga dominasi mikroba yang baik

Untuk mengatasi ancaman penyakit pada budidaya udang, menurut Heri, yang perlu dilakukan adalah dengan meningkatkan oksigen terlarut dalam air agar metabolisme udang maksimal.

“Perlu diketahui, penggunaan probiotik yang aerobik juga perlu oksigen terlarut yang tinggi. Sehingga, menjadi pesaing metabolisme udangnya oleh karena itu menggunakan probiotik juga harus bijaksana,” papar Heri.

Ia melanjutkan, penggunaan sterilisator yang baik dan ampuh pada persiapan air dapat menghambat patogen.  Pengelolaan cara budidaya yang baik dengan parameter kualitas air sesuai   dapat mencegah terjadinya penyakit.

Menurut Heri, plankton dan mikroba adalah pendukung budidaya udang, sehingga harus dijaga plankton didominasi jenis yang baik seperti jenis green algae dan diatom. Plankton yang baik adalah sebagai berikut, tidak menghasilkan toksin, menyerap racun (amonia), stabil dalam waktu lama, memiliki gizi yang baik, menekan mikroba merugikan.

Mikroba didominasi oleh mikroba yang baik, non-pathogen dan tidak menghasilkan toksin diantara mikroba yang baik adalah, dapat mengurai limbah organik, menyerap racun (metabolit), menekan mikroba merugikan, sebagai makanan (flok), meningkatkan daya tahan.

Lebih jauh, masih menurut Heri, tambak berukuran kecil (setiap petak kurang lebihnya 1000 m2)  agar dapat menangani penyakit dengan lebih baik diantaranya, melakukan pesiapan dasar, peralatan  dan air yang baik dengan  sterilisator yang baik untuk mencegah pathogen masuk di badan air, atau peralatan.

Penanganan  kualitas air sesuai dengan parameter yang diharuskan, benur yang digunakan dijamin kesehatannya, pakan diberikan dengan kualitas dan kuantitas yang baik, obat-obatan sesuai dengan anjuran, menggunakan imunostimulan yang sesuai  dan tidak membahayakan tapi berfungsi sebagai zat yang dapat meningkatkan ketahanan tubuh udang.

Berikutnya, ia menyarankan penggantian air 15% per hari secara terus menerus agar air sehat jika memungkinkan. Terakhir, ia mengungkapkan, pengelolaan budidaya dengan cara yang baik dan menggunakan teknologi lebih baik.

Cegah penyakit mulai dari perencanaan produksi

Terkait pencegahan penyakit udang, Teguh Setyono, Farm Manager PT Dua Putra Perkasa, membeberkan pendapatnya. Menurutnya, metode pencegahan tentunya dimulai dari perencanaan produksi yang disesuaiakan dengan fasilitas yang ada, SDM dan menyesuaikan musim berjalan.

Pengetahuan mengenai kualitas air, biosekuriti dan daya dukung lingkungan harus dikuasai supaya tidak sampai terjadinya penyakit.  Pemilihan benur yang SPF juga tidak kalah pentingnya, dan langkah preventif juga menjadi kunci yang utama.

Langkah pencegahan terhadap penyakit juga dipaparkan Supito, Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar. “Penyakit memang selalu menghantui pembudidaya udang. Pada kenyataannya pembudidaya terus melakukan kegiatan usaha dengan berbagai perbaikan metode atau SOP sehingga mampu untuk produksi,” ungkapnya.

Menurutnya, Tindakan pencegahan penyakit pada udang menjadi langkah utama untuk pengendalian dibandingkan pengobatan. Pasalnya, udang sulit untuk diobati jika sudah sakit.

Teknik pencegahan adalah tetap dengan pengelolaan bioserkuriti dengan memilih benih yang  berkualitas, pengelolaan media pemeliharaan dan pengolahan air buangan mengunakan sistem pengolahan air buangan tambak udang. Setiap unit usaha budidaya menerapkan sistem pengolahan air buangan.

“Diduga permasalahan penyakit vibriosis disebabkan oleh permasalahan air buangan yang tidak dikelola dengan baik,” ungkap Supito.

Atasi ancaman penyakit, perlu regulasi

Berbeda dengan narasumber sebelumnya, Ikhsan Kamil, Kepala Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang, mengkaji pencegahan penyakit dari sudut pandang pemerintah.

Menurutnya, untuk mengatasi ancaman penyakit pada budidaya udang, diperlukan adanya penerapan regulasi, kajian, monitoring dan informasi yang cepat ke pembudidaya regulasi terkait tata ruang, daya dukung, daya tampung, pengolahan limbah, kualitas benih, saprodi.

Masih menurut Ikhsan, diperlukan kajian teknologi budidaya udang yang berkelanjutan, kajian daya dukung, dan daya tampung kawasan, dan lain-lain. Ia berkata, “Monitoring penyakit, kualitas lingkungan, pembatasan dengan ketat masuknya calon induk impor dan penggunaan saprodi yang dilakukan secara terintegrasi dan terjadwal pada setiap kawasan budidaya udang.”

Ia juga menyarankan penyampaian informasi kepada pembudidaya, terkait sebaran penyakit, kualitas lingkungan, teknologi adaptif, serta respon yang cepat pada saat munculnya penyakit di suatu kawasan.

Ikhsan mengungkapkan, tidak terlepas dari penyakit, tantangan dalam budidaya udang lainnya adalah penurunan kualitas lingkungan. Untuk menyiasatinya, diperlukan penerapan pengolahan air yang optimal, perluasan rasio tandon, penurunan padat tebar sesuai daya dukung lingkungan.

Strategi budidaya udang

Pengendalian penyakit tak dapat dilepaskan dari strategi dalam berbudidaya. Aspek ini perlu dilakukan untuk menjamin keberhasilan budidaya udang. Menurut Didi Junaedi, Teknisi PT Karua Hanesa Jaya, strategi budidaya udang bagi teknisi, adalah harus bisa membaca pola atau pergerakan sistem budidaya yang berlangsung, melihat musim, menyeimbangkan semua aspek dalam budidaya/parameter fisika kima, dan biologi.

Pembacaan parameter fisika kimia biologi adalah acuan dalam kegiatan harian budidaya untuk membantu  mengimplementasikan perlakuan atas hasil pembacaan parameter pada saat saat tertentu.

“Semakin baik kualitas air dalam kolam, semakin baik pula kondisi udang yang dipelihara. Sehingga dapat mencegah penyakit menyerang udang,” kata Didi.

Hal ini harus didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai sehingga  mengasilkan produksi yang melimpah. “Sarana yang dimaksud antara lain adalah laboratorium, SDM, pengolahan buangan tambak (IPAL) sebelum dibuang ke perairan umum,” ungkapnya.

Tradisional dan semi intensif, masih dominan

Meskipun belakangan ini sudah muncul metoda budidaya supra intensif dengan hasil yang cukup baik, namun metode yang paling banyak digunakan, menurut pengakuan Paian, adalah cara tradisional dan semi intensif. Hal ini dikarenakan usaha dengan metoda di atas tidak memerlukan biaya besar untuk memenuhi  sarana dan prasarana tambak.

Penggunaan pakan pun tidak terlalu banyak dimana prosesnya cukup sederhana (masuk air, beri pemacu (starter) penumbuhan plankton, tebar benur, beri pakan secukupnya lalu panen).

Keuntungan lain, metoda tradisional dan semi intensif ini sangat jarang mengalami masalah (gagal panen) sehingga berpeluang untuk memberikan hasil, karena daya dukung alam masih sangat membantu (densitas rendah dengan luasan tambak yang besar).

Sementara itu, tutur Paian, tambak yang menerapkan metoda intensif dan supra-intensif harus memberikan asupan tambahan (bakteri, mineral, vitamin, dan lain-lain) yang membutuhkan biaya tambahan.

Dengan jumlah tebar yang tinggi sehingga menggunakan pakan yang banyak, akan menimbulkan dampak sampingan limbah yang menurunkan kualitas lingkungan sekitarnya. Untuk itu, tambak harus mempunyai IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) sebelum limbah digelontorkan ke alam.

Selain itu degradasi akan menurunnya daya dukung lingkungan, metoda intensif dan supra intensif ini akan cepat terjadi. Hal ini terlihat dari menurunnya grafik hasil produksi pada setiap siklusnya. Untuk itu perlu disiapkan secara matang bagi yang menggunakan metode ini.

Budidaya ramah lingkungan

Tidak dipungkiri, dengan maraknya ancaman berbagai penyakit, menurunnya produktivitas, budidaya ramah lingkungan menjadi sorotan yang topik hangat di kalangan pembudidaya.

Menurut Jacobson Sony Lalenoh, salah satu petambak udang vaname, strategi dalam menghadapi tantangan seperti ancaman penyakit pada budidaya adalah dengan mengoptimalkan keseimbangan lingkungan baik di dalam tambak dan lingkugan sekitarnya atau dengan kata lain sustainable atau berkelanjutan.

Budidaya ramah lingkungan juga dikemukakan oleh Sartoyo, petambak barokah udang dari Pacitan, Jawa Timur. Menurutnya, perlu digalakkan pembinaan dan pendampingan petambak semi dan tradisional agar lebih paham dan terarah.

“Perlu penerapan sistem intensif dan supra intensif yang benar-benar sesuai dengan lingkungan dan selalu berorientasi ramah lingkungan,” paparnya. (noerhidajat/adit/resti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *