Kian Menjanjikan, Budidaya Udang Semakin Dilirik

Menjelang pergantian tahun, pelaku industri udang melakukan berbagai kalkulasi, terkait serapan pasar, target produksi, dan risiko yang mungkin muncul. Proyeksi untuk tahun depan tidak terlepas dari realisasi dari satu tahun ke belakang.

Demikian juga dalam bisnis udang nasional. Berbagai pihak melakukan estimasi. Hasilnya, budidaya udang memiliki prospek yang menjanjikan di tahun mendatang. Peluang prospek produksi udang di tahun 2022 masih terus terbuka lebar karena saat ini target ekspor hasil perikanan terutama udang sedang terus ditingkatkan dan serapan pasar ekspor masih cukup tinggi.

Hal ini diungkapkan oleh Heny Budi Utari, Head Divisi Market Technical Service Shrimp and Laboratory Service, PT Central Proteina Prima. Ia melanjuntukan, “Estimasi produksi dari kami sebagai pabrik pakan, ada kemungkinan naik namun tidak terlalu signifikan karena ada perluasan dan pembukaan lahan budidaya udang di beberapa daerah seperti Batam, Riau dan Bangka. Namun, beberapa lokasi masih sulit bangkit, seperti Jogja, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten dan Lampung.”

Menurut Ikhsan Kamil, Kepala Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang, berdasarkan target produksi yang disusun oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya diharapkan pada tahun 2022 akan dapat dihasilkan udang sebesar 1.543.000 ton.

Ikhsan melanjuntkan, “Hal ini diharapkan dapat tercapai berdasarkan hasil produksi tahun 2020 yang melebihi target walaupun sudah mulai terjadi Pandemi, yang membatasi mobilitas aktivitas,” paparnya.

Tren meningkat signifikan

Masih menurut Ikhsan, prospek produksi udang khususnya vaname di Indonesia akan mengalami tren peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini diikuti dengan program pemerintah yang semakin gencar dalam meningkatkan produksi udang dari 856.753 ton/tahun pada tahun 2019 menjadi 2.000.000 ton/tahun pada 2024. Program ini dillakukan secara komprehensif  lintas kementerian dan bahkan masuk program prioritas PEN (pemulihan Ekonomi Nasional).

Untuk mencapai peningkatan produksi tersebut, tidak hanya produktivitas yang didongkrak, akan tetapi dengan perluasan lahan pada saat yang sama. Ikhsan melanjutkan, pembukaan lahan untuk kegiatan budidaya udang cukup tinggi dan didukung oleh pemerintah daerah serta swasta pemilik lahan dan modal.

“Kesadaran pembudidaya dalam menerapkan cara budidaya udang yang baik sudah meningkat, contohnya dengan semakin tinggi kesadaran untuk membuat IPAL (Instalasi Pengolah air Limbah) pada kawasan budidaya udang,” lanjut Ikhsan.

Disamping itu tantangan dalam meningkatkan produksi udang juga semakin tinggi seperti penurunan  kualitas lingkungan, ancaman serangan penyakit yang semakin beragam serta masih adanya  pandemi yang menyebabkan adanya karantina dan pembatasan mobilitas. Untuk itu perlu ada pengembangan Teknologi baru yang adaptif dalam menjawab tantangan dalam budidaya udang.

Peluang budidaya udang cerah

Dengan masih terbukanya pasar baik domestik maupun mancanegara, tidak salah jika banyak pihak optimis budidaya udang masih memiliki prospek yang cerah. Salah satunya termasuk Mochammad Heri Edy, Dosen dan praktisi Budidaya udang, Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo. Menurutnya, peluang bisnis budidaya udang masih menjanjikan karena budidaya udang masih menguntungkan kalau dikelola dengan baik.

“Penawaran udang terbatas di dunia sedang permintaan banyak sehingga harga udang masih cukup tinggi. Udang masih menjadi barang ekspor,” dalihnya.

Optimisme juga diungkapkan oleh Didi Junaedi, Teknisi PT Karua Hanesa Jaya. Ia berpendapat, Peluang budidaya udang sangat menjanjikan. Khusus Budidaya udang vaname bisa meraup keuntungan hingga 60% dari modal. Kegiatan budidaya vaname dengan menggunakan bermacam metode selalu dapat menghasilkann keuntungan.

“Semakin tinggi padat tebar (ekor/m2), dibarengi dengan penerapan teknologi tepat, maka peluang mendapat keuntungan semakin tinggi,”tambahnya.

Lebih jauh, ia memberikan gambaran, padat penebaran untuk setiap m2 tambak tradisional sekitar 10 – 20 ekor, semi Intensif 50 – 100 ekor, intensif 150 – 300 ekor, supra Intensif > 400 ekor.

Ia menuturkan, “Metode budidaya menggunakan sistem intensif bahkan supra-intensif dapat diterapkan di daerah yang mempunyai sumberdaya alam yang masih bagus. Tetapi, daerah dengan sumberdaya alam yang biasa saja juga bisa diterapkan namun dengan teknologi tertentu (kolam bundar).”

Prospek dan peluang cerah

Sependapat dengan narasumber yang lain, Rudy Kusharyanto, Ketua Harian FKPA (Forum Komunikasi Praktisi Akuakultur), mengungkapkan optimismenya terkait prospek dan peluang bisnis budidaya udang tahun depan. “Menurut saya masih terbuka lebar, terutama permintaan kebutuhan udang dunia yang terus meningkat serta terbukti harga udang yang cenderung stabil meski di dera pandemi hal ini membuktikan bahwa udang bisa menjadi suatu usaha yang sangat prospektif.

Apalagi seperti sekarang dengan sinergi yang makin intens baik pemerintah maupun sektor swasta (petambak) dalam membuka wilayah pertambakan baru penghasil  udang, ini akan memberikan impact positip bagi sektor-sektor lainnya yang berkaitan (pakan, benur, obat-obatan dan lain-lain). Di samping peluang, tentu tahun 2022 juga merupakan tantangan di sektor budidaya udang.

“Tetap harus waspada khususnya tantangan penyakit udang yang masih menjadi momok menakutkan dalam budidaya dan isu kualitas lingkungan yang makin menurun. Ini tentu membutuhkan kolaborasi yang sangat erat baik dengan pemangku kepentingan maupun stakeholder lain yang terlibat dalam budidaya udang ini,” ungkap Rudy mewanti-wanti.

Hal senada juga diungkapkan oleh Jacobson Sony Lalenoh, salah satu petambak udang vaname. Ia berpendapat, peluang budidaya udang masih menggiurkan karena tidak terpengaruh dengan pandemi dan harga udang yang stabil serta belum memenuhi target 2 juta ton, terutama yang berkembang tambak intensif dan supra intensif.

Perlunya peningkatan produktivitas

Hukum ekonomi menyatakan, perlu adanya keseimbangan antara permintaan (demand) dan pasokan (supply). Dengan masih terbukanya peluang serapan pasar yang masih menjanjikan, hal ini perlu dibarengi dengan peningkatan produksi udang. Terkait proyeksi produksi udang tahun depan, Heri Edy, menekankan pentingnya peningkatan teknologi.

“Kenaikan produktivitas tambak tradisional atau meningkatkan teknologi tradisional menjadi semi intensif,” paparnya.

Ia melanjutkan, perlu dilakukan peningkatan produktivitas semua jenis tambak dengan benur unggul, perbaikan teknologi budidaya, perbaikan irigasi, penanggulangan penyakit.  Pemerintah diharapkan memperhatikan aspek lingkungan, keamanan pangan dan keberlanjutan usaha budidaya udang.

“Karenanya, perlu adanya peraturan yang mewajibkan penerapan SOP budidaya udang yang berkelanjutan pada masing-masing tingkat teknologi budidaya, juga mempermudah penyediaan fasilitas pembudidaya udang agar tersertifikasi,” papar Heri.

Menurutnya, nilai produk olahan udang yang diekspor juga harus ditingkatkan terutama produk ready to cook (siap olah) dan ready to eat (siap saji).

Revitalisasi tambak dongkrak produktivitas

Masih menurut Heri Edy, prospek produksi udang dengan menerapkan skema konsep revitalisasi tambak tradisional yang dikelola lebih baik lagi sehingga produktivitasnnya meningkat, seperti skema konsep modelling tambak udang modern juga dapat meningkatkan produktivitas.

“Di antaranya   harus ada perbaikan pengelolaan mekanisasi terutama untuk meningkatkan oksigen terlarut dan suplai air atau pompa air,” papar Heri.

Ia melanjutkan, penggunaan benih udang yang baik seperti benih SPF  dan pakan yang berkualitas tinggi juga dapat meningkatkan produksi. Peningkatan cara budidaya udang yang baik,  dapat juga mencegah penyakit udang karena udang adalah termasuk hewan yang dapat meningkat tingkat ketahannya jika dikelola secara baik budidayanya (persyaratan budidayanya sesuai).

Sehingga  sesuai penerapan ekonomi biru dalam perikanan budidaya melalui penerapan inovasi dan teknologi harus memperhitungkan keseimbangan antara dampak ekonomi dan dampak ekologi.

Pentingnya sinergi dan kolaborasi

Untuk meraih peluang bisnis udang agar menjadi berkah bagi semua pemangku kepentingan, diperlukan adanya usaha Kerjasama dari berbagai pihak. Uus Sugema, Manager Genetic & Deheus Innovation and Solution, PT Universal Agribisnisindo – De Heus Indonesia mengutarakan, sudah saatnya ada sinergi dan kolaborasi semacam konsorsium antar elemen-elemen terkait untuk mendapatkan indukan udang yang unggul, dari mulai institusi perguruan tinggi (dengan riset-riset dan inovasinya), perusahaan-perusahaan swasta panti benih (hatchery) ternama yang peduli terhadap genetic induk (broodstock).

Ia menuturkan, kolaborasi pemerintah dengan lembaga-lembaga pendukungnya yang diharapkan bisa mempersatukan para pakar dari berbagai unsur tadi untuk tujuan yang sama yaitu memperoleh Indukan terbaik yang konsisten dan berkelanjutan.

Pasalnya, proses dan penelitian maupun berbagai pengujian yang terkait breeding udang atau memproduksi indukan itu sangat panjang dan kompleks, beragam aspek dan berbiaya sangat mahal dan perlu waktu lama jika dikerjakan sendiri-sendiri.

Pentingnya peran pemerintah

Bisnis udang masih memiliki prospek dan peluang yang menjanjikan di tahun depan. Untuk itu, hal ini perlu mendapat dukungan dari pemerintah dan berbagai pihak. Menurut Heri Edy, peran pemerintah sangat penting.

Campur tangan pemerintah dalam hal tata ruang di basis-basis area tambak udang belum ada, sehingga antar unit tambak satu dengan yang lain  sangat rapat, dengan tidak mengindahkan sistem pengolahan limbah serta SOP masing-masing petambak, semaunya sendiri.

“Akibatnya produksi udang kita nggak bisa stabil bahkan tidak bisa diharapkan akan berkelanjutan efek dari limbah organik dari buangan tambak itu sendiri, yang pada akhirnya timbul wabah penyakit pada udang,” kata Heri.

Heri menyarankan, pemerintah, peneliti (pemerhati budidaya udang) serta perguruan tinggi duduk bersama membicarakan sistem serta aturan baku agar kelak dengan pembukaan lahan baru bisa tertata dengan baik demi menjaga keberlangsungan budidaya udang dengan produksi yang maksimal & stabil.

Ia juga menyinggung masalah produksi udang terkait tambak tradisional dan tambak semi intensif. Menurut Heri, tambak tradisional dan semi intensif di Indonesia masih luas dan produktivitasnya bisa ditingkatkan, hal itu perlu pengawalan pemerintah agar petambak tradisional dan semi intensif lebih meningkat lagi produktivitasnya dengan penggunaan mekanisasi yang baik.  Bila  teknologinya ditingkatkan maka perlu  mekanisasi dan obat–obatan yang berkualitas serta benur yang berkualitas baik , dijamin sehat (noerhidajat/resti/adit).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *