Tingkatkan Produksi dengan Rehabilitasi Saluran Tambak

Pemeliharaan saluran irigasi tambak merupakan salah satu komponen terpenting dalam pengelolaan perikanan budidaya berkelanjutan. Guna memaksimalkan fungsi jaringan saluran irigasi tambak pembudidaya dan menunjang program padat karya.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kembali menggulirkan program bantuan Pengelolaan Irigasi Tambak Partisipatif (Pitap) kepada masyarakat. Program Pitap ini sendiri merupakan penyelenggaraan irigasi swakelola berbasis peran serta kelompok pengelola irigasi perikanan (Poklina) mulai dari perencanaan sampai pelaksanaan kegiatan dan operasional pemeliharaan.

Dalam pelaksanaannya kegiatan ini menggunakan tenaga manusia, termasuk masyarakat sekitar di luar anggota Poklina. Direktur Kawasan dan Kesehatan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Tinggal Hermawan  mengatakan, bahwa tujuan Pitap adalah untuk meningkatkan kesadaran gotong royong pembudidaya dalam menggunakan dan merawat saluran irigasi.

“Selain itu, juga untuk membentuk dan memperkuat kelembagaan pengelola irigasi perikanan yang akan duduk menjadi bagian dari komisi irigasi ditingkat Kabupaten atau Kota,” ujar Tinggal menambahkan, Selasa (2/11).

Kolaborasi Direktorat Kawasan dan Kesehatan Ikan (KKI), Direktorat Jenderal (Ditjen) Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan Komisi Irigasi Provinsi Jawa Barat (Jabar) akan memperkokoh pengelolaan irigasi tambak partisipatif (Pitap) yang sudah dicanangkan sejak tahun 2013. Kerjasama yang diinisiasi Direktorat KKI Ditjen Perikanan Budidaya KKP, dengan percontohan Poklina di Kabupaten Karawang diharapkan mampu memperkuat lembaga tersebut.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Karawang, Jawa Barat (Jabar), H. Abuh Bukhori   menyambut  baik inisiasi Direktorat KKI, Ditjen Perikanan Budidaya KKP untuk memperkuat kelembagaan Poklina di Kabupaten Karawang. Pihaknya juga bangga, Poklina di Kabupaten Karawang akan dijadikan percontohan dalam kolaborasi dengan Komisi Irigasi Provinsi Jabar.

Bukhori mengatakan,  areal tambak di Karawang  cukup potensial untuk dikembangkan.  Kawasan tambak seluas 18.000 ha tersebar di 9 kecamatan.  Dari 9 kecamatan tersebut sudah terbentuk 6 Poklina. Kedepannya akan dibentuk 3 Poklina lagi dan bahkan lembaga yang mengelola irigasi tambak tersier ini diperkuat sampai ke tingkat desa atau dusun. Sehingga, kerjasama dengan Komisi Irigasi nanti diharapkan akan memperkokoh keberadaan kelembagaan Poklina.

Menurut Bukhori, jaringan irigasi yang dikelola Poklina adalah irigasi tambak tersier, yang sumber airnya berupa air payau dengan salinitas tertentu dan air tawar. Harapan kami, dengan kerjasama ini, air untuk irigasi tambak bisa tersedia sepanjang tahun, dengan begitu produksi tambak juga terjaga.

Enjang Kuswaya, Kepala Seksi OP Irigasi Jawa Barat, menyampaikan apabila kegiatan Poklina sudah tertata dengan baik,  pemerintah akan  memberi dukungan. “Kebetulan kami akan lakukan revisi keanggotaan dan mengusulkan adanya satuan pelaksana yang mengelola tambak, seperti Poklina  yang selama ini mengelola jaringan irigasi tambak tersier dalam program Pitap bisa menjadi anggota Komisi Irigasi,”ujarnya.

Tenaga Ahli Sekretariat Komisi Irigasi Jawa Barat, Edi Mulyadi mengatakan, Poklina ke depannya diharapkan semakin aktif mengelola saluran irigasi tambak tersier.  Pengurus Poklina yang sekaligus petambak (pembudidaya udang/bandeng) diharapkan secara rutin menyusun  pola budidaya, kapan mulai budidaya, hingga panen. Dengan pola yang sudah terencana pengelolaan irigasi tambak akan  lebih tertata lagi.

Meningkatkan Produksi

Aep Suhardi, Ketua Poklina Ciparage, Kecamatan Tempuran, Kab. Karawang, yang menerima bantuan pitap tahun 2015, 2016, 2020 dan 2021 menyampaikan bantuan ini mampu memperlancar suplay air ke kawasan tambak sehingga produksi meningkat.

“Dulu akibat sedimentasi sejumlah saluran irigasi dangkal dan tertutup, sehingga ada beberapa tambak yang tidak dapat berproduksi dan setelah di normalisasi mampu melancarkan saluran irigasi, dan mengairi tambak sehingga dapat berproduksi kembali, bahkan dalam satu tahun bisa untuk 3 siklus,”

Komoditas yang dibudidayakan Aep, polikultur diantaranya udang, ikan bandeng, nila, menggunakan sistem tradisional. “Alhamdulillah hari ini ada kunjungan langsung dari komisi irigasi, dan kami sudah masuk DI tambak, semoga bisa masuk ke komisi irigasi,”harapnya.

Hal yang sama disampaikan juga oleh, Tafsir Muhammad Yusuf, Poklina Pesona Tambak, Kecamatan Tirtajaya. Ia merasakan dampak yang signifikan dengan adanya bantuan Pitap, karena masyarakat dengan swadaya merawat saluran irigasi bersama, sehingga tumbuh kegotongroyongan.

Tafsir bersama kelompok budidaya ikan bandeng, mujaer, rumput laut,  pola budidaya menggunakan sistem tradisional. “kalau dulu per hektar hanya dapat 700 kg ikan bandeng per siklus sekarang per hektar bisa 1200 kg produksinya,”ujarnya.

Anang Kertua Kelompok Pengelola Irigasi Perikanan Mitra Mina Jaya, Kec. Cibuaya  bersama kelompok budidaya udang, mujair, mas, rumput laut, mengatakan, dengan adanya Pitap yang dikerjakan secara padat karya tentunya sangat  membantu masyarakat  dalam mendapatkan penghasilan  (upah kerja)  ditengah sulitnya perekonomian akibat pandemi.

Sementara itu, Jani, Poklina Minakarya, Kecamatan Batujaya, juga sangat apresiasi adanya program Pitap,  selain dapat membantu masyarakat mendapatkan upah kerja, juga mampu mengembalikan fungsi saluran irigasi sehingga  dapat beroperasi secara optimal.

” Saluran irigasi yang telah kita bangun secara gotong royong ini tentunya akan kita pelihara dengan baik secara   bersama- sama  sehingga manfaatannya dapat kita rasa. Dulu produksi per hektar 500 kg per siklus ikan mujair sekarang menghasilkan 1000 kg produksinya.

Aep menambahkan kembali, cara yang dilakukannya untuk meningkatkan gotong royong bersama poklina.”Ketika pemeliharaan saluran tersier itu kita pelihara secara gotong royong, satu saluran irigasi bisa mengairi 100 hektar, 1 hamparan itu kemudian habis biaya berapa kemudian kita udunan, kalo tidak bisa patungan ya harus bekerja,”ungkapnya.

Saluran irigasi yang kami rehab ini saluran irigasi tersier, kata Tafsir makanya menggunakan tenaga orang. “Masih ada yang perlu di rehab saluran sepanjang 40 KM secara swakelola, sebab sudah semakin menyempit dan dangkal akibat terlalu lama tidak tersentuh  normalisasi,” pungkasnya.(Adit/Resti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.