Kerjasama Pemerintah dan Swasta untuk Capai Target Produksi

Harga udang di tahun 2021 cukup terpengaruh dengan pandemi dan kebijakan PPKM terutama untuk pasar lokal dan cendrung menurun dibandingkan tahun 2019 – 2020. Pada tahun 2022 diperkirakanakan harga udang akan menguat, terutama pasar ekspor meskipun tidak akan meningkat tajam. 

Hal ini akibat semakin membaiknya kondisi perekonomian pasca-pandemi yang akan meningkatkan permintaan pasar atas bahan berprotein tinggi seperti udang. Hal tersebut diungkapkan oleh Ikhsan Kamil, Kepala Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang. Budidaya udang khususnya udang vaname masih menjadi primadona budidaya perikanan sampai saat ini.

Berbagai permasalahan yang intensif dan ofensif masih belum mengalahkan pesona budidaya udang khususnya di tambak.  Oleh karena itu, untuk mencapai target peningkatan produksi sampai 2 juta ton tahun 2024, seperti yang dipatok pemerintah, diperlukan upaya terintegrasi baik dari pemerintah, pembudidaya maupun swasta (pakan, benur, pasar) sehingga target dapat tercapai dengan baik.

Ia melanjutkan, pada tahun depan, diprediksiakan terjadi peningkatan ekspor namun belum melejit apabila masih belum pulihnya daya beli akibat pandemi yang berkepanjangan.  Selain itu, produksi udang pun masih dihadapi berbagai kendala khususnya lingkungan dan penyakit yang belum mampu meningkatkan produksi nasional secara tajam.

Target produksi 2 juta ton per tahun

Menurut Sudiarnoto, Kepala Divisi Aquaculture, PT Golden Westindo Artajaya untuk mencapai target angka 2 juta ton per tahun, semua pihak, terutama pemerintah harus menghitung mundur semua kebutuhan untuk mencapai produksi angka tersebut.

“Berapa jumlah benur yang dibutuhkan, berapa jumlah induk yang dibutuhkan, berapa jumlah pakan induk (berupa Polychaetes hidup yang dibutuhkan karena masih merupakan pakan induk andalan dan masih tergantung pada tangkapan alam), serta sarana dan infastruktur pendukung,” papar Sudiarnoto.

Menurutnya, terkait sarana produksi, perlu dikembangkan sentra-sentra atau zona budidaya udang yang baru dengan perairan yang masih bagus terutama di luar Jawa dan Sumatera yang memiliki lahan dan garis pantai masih luas.

“Zona-zona budidaya ini harus dipelihara dengan baik, jangan obral perizinan pembangunan tambak-tambak baru tanpa terkendali, sehingga mengakibatkan percepatan rusaknya lingkungan budidaya,” terang Sudiarnoto.

Ia melanjutkan, budidaya harus disesuaikan dengan daya dukung perairan setempat. Sehingga zona-zona ini dapat bertahan lama dengan produktivitas tinggi. “Perlu juga didukung percepatan pembangunan hatchery yang dekat dengan sentra-sentra budidaya baru sehingga tidak hanya mengandalkan pasokan dari Jawa dan Sumatra,” ungkapnya.

Pasalnya, jika jarak lebih dekat, biaya transportasi lebih murah dan benur tiba di tambak lebih segar dengan resiko kematian rendah.

Capai target produksi, perhatikan daya dukung lahan

Untuk mencapai target produksi 2 juta ton/ tahun pada 2024, Ikhsan berpendapat, petambak perlu menyadari kondisi lingkungan pada kawasan budidaya, sehingga aplikasi atau manajemen budidaya perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan yang ada. Sebagai contoh pada tambak tradisional untuk penumbuhan pakan alami selama ini hampir selalu menggunakan pupuk anorganik urea atau TSP tanpa melihat kebutuhan lahan saat ini.

Berikutnya, adalah memperhatikan daya dukung lahan untuk produksi optimal. Misalkan tambak tradisional dapat ditingkatkan kepadatannya melalui program permodalan, yang supra intensif bisa mempertahankan atau bahkan mengurangi padat tebar produksinya untuk keberkanjutan usaha.

Di samping aspek daya dukung lingkungan, untuk meraih keberhasilan mencapai target produksi, menurut Sudiarnoto, dari sisi pelaku budidaya adalah disiplin budidaya. Disiplin dalam penerapan SOP budidaya yang tepat dan terus-menerus mulai dari persiapan tambak, seleksi kualitas benur, program pemberian pakan, pengelolaan kualitas air, dan pascapanen termasuk pengaturan pembuangan atau pemanfaatan limbah budidaya, serta disiplin bersama dalam memelihara lingkungan perairan.

“Budidaya udang pada dasarnya juga bagaimana memelihara lingkungan perairan, tanggung jawab ini juga melekat kepada pelaku budidaya skalanya, agar sama-sama dapat berkelanjutan dalam jangka panjang di satu zona kawasan budidaya,” paparnya.

Pemerintah dukung budidaya udang dengan mudahkan perizinan

Baik pemerintah maupun swasta sangat berperan dalam keberhasilan pembudidaya udang dalam menjalankan usaha budidayanya. Menurut Wawan siswanto, Sales Manager Indonesia PT Inve Aquaculture, pihak swasta berperan untuk petambak lokal melakukan sharing knowledge dan penyediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan petambak lokal agar lebih cepat tumbuh dan berkembang. Menurutnya, pemerintah dapat berperan dengan memudahkan perizinan dan dukungan akses permodalan dari perbankan atau bantuan pemerintah.

Terkait peran swasta dan pemerintah, Mochammad Heri Edy, Dosen Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo, berpendapat, swasta tidak banyak berpengaruh kepada petambak lokal karena teknologi yang diterapkan petambak lokal sangat sederhana sehingga produktivitasnya rendah, masalah penyakitnya sama.

“Peran pemerintah harus besar membina petambak lokal, melalui penyuluhan yang kaya akan teknologi sehingga petambak lokal tingkat keterampilannya lebih maju,” ungkap Heri. Ia berpendapat, petambak lokal harus diberi contoh yang baik, bila tambaknya tradisional plus, contohnya juga tradisional plus yang baik, begitu juga tambak intensif, tambak bundar.

Ia juga mengungkapkan, sarana dan prasarana perlu disediakan atau dipinjamkan asal rasional. Hatchery udang F1 harus diperbanyak agar memenuhi jumlah yang diperlukan, penyediaan probiotik dan obat-obatan lainnya harus tersedia. Pemerintah dan masyarakat harus berinovasi untuk pengembangan peralatan dan mesin, untuk meningkatkan produktivitas udang.

Swasta jalin kemitraan dengan petambak lokal

Berkaitan dengan peran pemerintah dan swasta, Riana Soesilo, Marketing Geosintetik, PT Kencana Tiara Gemilang menambahkan, peran pemerintah melalui Balai Besar Budidaya biasanya memberikan bantuan benih unggul ke kelompok petambak budidaya setempat. “Selain itu, pihak swasta sudah mulai membuat usaha kemitraan dengan petambak lokal.”

Selain itu, pemerintah juga berperan dalam menyediakan sarana budidaya, seperti yang diungkapkan oleh Abdul Salam, Penyuluh Perikanan Pinrang, Satminkal BRPBAPPP Maros. bantuan benih vaname, pakan dan sarana produksi lainnya.

Kemudian, KKP juga menggerakkan tenaga penyuluh perikanan untuk melakukan pendampingan di lapangan. Sedangkan dukungan pemerintah daerah adalah melakukan rehabilitasi saluran tambak, jalan tani dan jembatan penyeberangan di area tambak.

Menurut Hari Yulianto, Sekretaris Shrimp Club Indonesia (SCI) Banyuwangi, pihak swasta berperan dalam pembinaan bersifat bisnis kepada para petambak lokal, kerangkanya bersifat bisnis.

Menambahkan Hari, Paian Tampubolon, TS Manager Central & West Java, PT Grobest Indomakmur, berpendapat, hingga saat ini, sangat terlihat peran swasta sangat dominan dalam membina petambak. Umumnya swasta berasal dari produsen pakan dan obat-obatan.

Pemerintah melalui dinas yang bersangkutan memang sudah menugaskan para penyuluh lapangan, namun dengan luasnya wilayah yang dicover sehingga belum memberikan dampak yang bisa dirasakan. Sebaiknya swasta dan pemerintah bisa bekerjasama untuk memberikan pembinaan berupa bimbingan teknis kepada para petambak.

Layanan teknis sangat membantu

Menurut Ikhsan, peran swasta, terutama perusahaan pakan udang dengan technical servicenya cukup banyak membantu dengan mendampingi petambak udang secara teknis yang bundling dengan pakan dan benur. Pemerintah terutama Ditjen Budidaya banyak membina petambak udang melalui kegiatan bimbingan teknis maupun pendampingan teknis kepada pembudidaya udang.

Selain itu pemerintah memberikan bantuan berupa input produksi (benih, pakan, pompa, dan lain-lain, sebagai stimulus bagi masyarakat untuk melakukan dan mengembangkan budidaya udang, akses permodalan dari perbankan, dan kemudahan perizinan usaha.

Sudiarnoto, menekankan, swasta dan pemerintah sama-sama berperan penting dalam meraih keberhasilan dalam mencapai target produksi. Peran keduanya sangat penting dan tidak terpisahkan, termasuk dalam pembinaan petambak udang lokal yang umumnya masih dikelola secara tradisional dan semi ekstensif.

“Jika perlu pemerintah memberikan insentif, kemudahan dalam upaya peningkatan kemampuan petambak lokal, misalnya kemampuan finansial, teknis budidaya, pelatihan, perizinan, dan lain-lain,” ungkap Sudiarnoto. (noerhidajat/adit/resti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *