Tren dan Proyeksi Udang Vaname Tahun 2022

Seperti tahun sebelumnya, tahun 2021, dunia usaha masih dibayang-bayangi dampak pandemi Covid-19, termasuk sektor perikanan dan budidaya udang. Bagaimana dengan proyeksi bisnis udang di tahun yang akan datang?

Di sektor budidaya, produksi udang mengalami dampak yang signifikan akibat pandemi. Hal ini ditandai dengan turunnya volume produksi secara global. Di samping itu, terjadi keterlambatan pengiriman dari negara-negara produsen udang akibat sulitnya transportasi produk. Akan tetapi, permintaan dunia terhadap udang masih tetap tinggi meskipun pasar belum sepenuhnya pulih dari pandemi.

Terkait produksi udang nasional, kondisi produksi global tidak sama dengan yang terjadi di Indonesia. Berdasarkan data yang terkumpul, produksi udang di Indonesia tidak mengalami penurunan meskipun dalam kondisi pandemi Covid-19. Hal ini dibuktikan dengan tidak menurunnya penjualan pakan udang di Indonesia.

Dilihat dari posisinya, ekspor udang menempati posisi yang signifikan dalam ekspor produk perikanan nasional. Tercatat, udang menyumbang nilai 40% dari total produk ekspor perikanan nasional.

Kondisi pasar udang nasional

Berdasarkan pengakuan Jacobson Lalenoh, salah satu petambak udang vaname, harga udang di tahun 2021 di atas rata-rata dibandingkan 2020. Selanjutnya, ia menuturkan, tren 2022 lebih stabil dan lebih tinggi sedikit dibandingkan tahun ini. Ia memprediksi, ekspor udang bakal melejit karena ada beberapa tambak baru yang dibangun di beberapa daerah terutama Bangka Belitung dan Sulawesi.

Di lain pihak, Sartoyo, Owner Garuda Mas Surabaya, mengungkapkan tren harga udang akan stabil seperti saat ini. Dengan kata lain, tidak ada kenaikan atau penurunan yang signifikan. Ia memprediksi, tahun 2022, ekspor udang Indonesia akan naik tetapi tidak signifikan.

Terkait dengan kondisi pasar udang, Abdul Salam, Penyuluh Perikanan Pinrang, Satminkal BRPBAPPP Maros, mengungkapkan harga udang vaname di Sulawesi. Menurutnya, harga udang vaname di Kabupaten Pinrang terus bersaing dengan udang windu. Harga udang vaname yang diproduksi dari tambak tradisional dengan pakan alami Rp. 59.000 (ukuran 70 – 80) udang windu ukuran yang sama Rp. 65.000 – 70.000. Ia melanjutkan, udang vaname dari tambak tradisional sasaran konsumennya adalah pasar lokal. Sedangkan udang windu sasaranya pasar ekspor ke Jepang.

Abdul melanjutkan, proyeksi produksi tahun 2022 akan meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan pasar lokal dari tahun ke tahun. Sedangkan harga vaname akan bertahan dari harga yang ada saat ini. Petambak tradisional sangat terbantu dengan harga saat ini, sebab hanya bermodalkan harga benih dan pupuk saja tanpa membeli pakan buatan. Makanannya berupa plankton, kelekap, lumut dan phronima akan tumbuh secara alami di tambak. “Umur 40 hari sudah bisa panen selektif,” papar Abdul.

Kondisi harga udang yang bersahabat bagi pelaku bisnis juga diungkapkan oleh Mochammad Heri Edy, Dosen, Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo. Berdasarkan pengakuannya, harga udang tahun 2021 cukup baik. “Saat kami panen pada bulan Agustus, harga size 60 adalah Rp. 66.000. Tahun 2022 karena pandemi Covid-19 berkurang jumlahnya. Harga mungkin akan naik sedikit.” Ia mengakui, ketika pandemi Covid-19, jasa tranportasi ke luar negeri agak terhambat.

Harga masih fluktuatif dan variatif

Meskipun harga udang yang cukup menjanjikan di tahun ini, perbedaan dan fluktuasi harga masih terjadi, terutama di daerah yang berbeda. Menurut Sudiarnoto, Kepala Divisi Akuakultur, PT Golden Westindo Artajaya, harga udang di tahun 2021 sangat fluktuatif dan rata-rata cenderung lebih rendah.  Ia membeberkan, satu daerah dengan daerah lain harga udang dengan ukuran yang sama tidaklah sama. “Misalnya, harga udang di Jawa rata-rata lebih tinggi dibandingkan di Sumatera,” aku Sudiarnoto.

Demikian juga, berbeda dengan daerah lainnya. Menurutnya, harga udang 2021 mungkin juga dipengaruhi oleh situasi pandemi Covid-19 yang juga belum tuntas  sehingga terimbas kepada tingkat pendapatan dan konsumsi.

Untuk tahun 2022, ia berharap, harga udang membaik rata-rata lebih tinggi dibandingkan tahun 2021 jika melihat sektor ekonomi mulai bergeliat seiring dengan semakin menurunnya tingkat keparahan pandemi. Hal ini akan berimbas kepada tingkat konsumsi, terutama pasar global dengan akan meningkatnya permintaan pasar internasional. “Ekspor udang diharapkan meningkat, dan harga membaik,” ia berharap.

Ia sangat optimis, volume ekspor udang bakal meningkat di tahun 2022 dibanding tahun 2021. “Dengan melihat semangat para pengusaha tambak, hatchery dan pemerintah, berkolaborasi dan bersinergi untuk meningkatkan nilai produksi dan ekspor nasional di tahun 2022,” ia beralasan. Hal ini juga didukung kesadaran akan aspek teknis sebagai bentuk antisipasi serangan penyakit AHPND dan penyakit udang lainnya.

Tahun 2022, ekspor udang akan melejit?

Terkait ekspor udang, Riana Soesilo, Marketing Geosintetik, PT Kencana Tiara Gemilang memperkirakan akan melejit karena permintaan dari pasar ekspor masih terbuka luas, seperti dari negara Tiongkok, Jepang dan AS. Ia melanjutkan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, udang menjadi komoditas kelautan dan perikanan yang menjadi primadona ekspor selama Januari hingga April 2021.

Di lain pihak, Heri menyampaikan pandangan yang berseberangan. Menurutnya, ekspor udang tidak akan melejit di tahun 2022 karena kodisi dunia masih sulit. Sehingga, konsumennya akan kurang lebih sama dengan 2021. Kalau pun naik, tidak akan signifikan, ungkap Heri.

Di lain pihak, Hari Yulianto, Sekretaris Shrimp Club Indonesia (SCI) Banyuwangi, berpendapat sulitnya terjadi kenaikan ekspor udang ke mancanegara. Terkait hal ini, ia berpendapat, “Tanpa peran serta pemerintah, ekspor akan sulit naik. Sementara ini masih business to business. Kalau peran pemerintah sudah berjalan insyaallah naik,” ungkap Hari.

Harga cukup bagus

Secara umum, tren harga udang di tahun 2021 cukup membaik dibandingkan tahun sebelumnya. Harganya cukup bagus walaupun terkendala pandemi. Hal ini diungkapkan oleh Riana kepada Redaksi Infoakuakultur. Terkait harga udang, Teguh Setyono, Farm Manager PT Dua Putra Perkasa, menerangkan lebih rinci gambaran selama tiga bulan tahun 2021 menuju 2022.

Tabel harga udang tiga bulan terakhir (September – November 2021)

No Ukuran Sep-21 Okt 21 Nop-21
1 100 51.000 51.000 51.000
2 90 53.000 53.000 53.000
3 80 60.500 61.000 61.000
4 70 64.500 66.500 66.000
5 60 67.500 69.500 69.000
6 50 71.500 73.000 73.000
7 40 88.000 89.000 89.000
8 30 98.000 98.000 98.000
9 20 112.000 114.000 114.000
Ket Ada kenaikan harga

(Sumber: Teguh S.)

Menurut Teguh, ekspor tahun depan (2022), semakin naik karena kondisi pasar pasca Covid-19 segera berangsur pulih. Trend budidaya semakin tumbuh. Menurutnya, pihak swasta berperan dalam membina petambak tradisional menjadi tambak semi maupun intensif. Upaya ini banyak dilakukan oleh pabrikan pakan dan obat-obatan dengan pola kemitraan (kampung vaname). Ia menambahkan, peran pemerintahan juga sudah banyak membantu dalam perbaikan infrastuktur dari tambak, inlet maupun outlet melalui program revitalisasi.

Target KKP 2 juta ton tahun 2024

Teguh melanjutkan, target produksi udang nasional yang dipatok KKP sebesar 2 juta ton tahun 2024 akan terwujud jika para pelaku usaha tambak udang dari yang tradisional, intensif hingga yang supra intensif menjaga dan menerapkan budidaya yang berkelanjutan. Sebagai penunjang tercapainya produksi  2 juta ton tahun 2024, ia menghimbau pemerintah untuk mempermudah proses perizinan dalam budidaya, memperluas tataruang untuk budidaya tambak udang, infrastruktur jalan,  jaringan listrik, dan harga  solar industri yang semakin terjangkau.

Di samping itu, ia menekankan SDM teknisi budidaya Udang yang bekerjasama dengan dunia pendidikan/universitas negeri maupun swasta jurusan perikanan maupun sumberdaya perairan. Selain itu, perlu sering diadakan pelatihan teknis budidaya udang di setiap balai budidaya air payau, universitas dan bisa melibatkan pihak swasta. (noerhidajat/adit/resti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *