Pilih Obat-obatan Tepat untuk Atasi Virus dan Penyakit

Pilih Obat-obatan Tepat untuk Atasi Virus dan Penyakit
Agus Furwoko

Pemilihan obat-obatan yang tepat untuk atasi serangan virus dan penyakit, peluang besar panen udang maksimal.

Budidaya udang vaname membutuhkan tenaga dan materi yang tidak sedikit, segala aspek harus diperhatikan. Tidak hanya soal pemilihan pakan, obat-obatan, namun juga pemilihan probiotik, feed additive, hingga mineral harus benar-benar serius diperhatikan, mengingat virus dan penyakit bisa menyerang sewaktu-waktu.

Seperti kasus budidya udang di wilayah Lampung Timur, tidak sedikit petambak yang merugi akibat kematian udang yang diduga white spot syndrome virus (WSSV). Sebab, beberapa petambak menemukan ciri-ciri WSSV pada udang yang dibudidaya.

Agus Furwoko dari PT SiHS Lampung Area yang juga pembina petambak yang menngunakan pakan udang brand Irawan, Novo dan Marine (Product of CP Prima) sejak 2015 di wilayah Lampung Timur menjelaskan, ada tiga jenis penyakit udang yang ada di Lampung Timur yaitu White Spot Syndrome Virus (WSSV), Infectious Myonecrosis Virus (IMNV)/Myo dan White Feces Disease (WFD).

Lanjutnya, WSSV merupakan penyakit yang disebabkan virus yang virulensinya meningkat pada suhu rendah dan banyak terjadi pada saat musim penghujan (Oktober – Januari) dan Februari – Maret cenderung menurun.

Menurut Agus, penyebaran antar tambak disebabkan beberapa faktor seperti kurangnya kesadaran petambak akan pentingnya biosecurity (daerah terbuka/lalu lalang manusia), kurangnya kesadaran pengelolaan kawasan, pembuangan air tambak yang terinfeksi ke saluran (merupakan saluran air masuk dan keluar), konstruksi tambak mayoritas tambak tanah (menggunakan mulsa pada didnding tambak dan dasar tambak tetap tanah) sehinggi terjadi rembesan antar tambak/kontaminasi, lantai dasar tambak lebih rendah dari lantai dasar saluran sehinggai ada infiltrasi air saluran ke dalam tambak budidaya serta banyaknya burung (kuntul dan camar) pada saat ada tambak terinfeksi juga mempercepat penyebaran virus WSSV.

Sedangkan penyakit Myo kata Agus, adalah penyakit yang disebabkan oleh Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) yang dipicu buruk kualitas air kurangnya ganti air, manajemen pakan yang buruk (over feeding), sumber air yang tidak steril dan padat tebar tinggi (over carrying capacity).

“Parameter kualitas air pada tambak yang terinfeksi biasanya terjadi fluktuasi pH yang tinggi, total ammonia yang manigkat tajam dan DO (oksigen terlarut yang rendah/<3 ppm). Infeksi Myo akan cepat meningkat apabila ada kenaikan suhu (>32oC),” ujar Agus.

Sedangkan, kata Agus, untuk WFD atau kotoran putih penyakit yang disebabkan parasit dan bakteria Vibrio parahaemolyticus. Penyakit WFD lebih banyak disebabkan karena kondisi lingkungan dalam tambak yang jorok atau kotor sehingga pertumbuhan kedua mikrorganisme tersebut sangat cepat dan dominan di dalam ekosistem tambak.

Setidaknya ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan petambak untuk meminimalisir terjadinya serangan WFD pada udang yang dibudidaya, diantaranya:

  1. Sumber air yang kurang memadai: sumber air yang hanya mengandalkan pasang surut yang relatif kecil, ditambah lagi kondisi parit merupakan saluran masuk (inlet) sekaligus sebagai saluran buang (outlet).
  2. Masih rendahnya kesadaran manfaat tandon reservoir, tandon pengendapan dan tendon Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), persayaratan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB)/Good Agriculture Practices (GAP) masih belum dilksanakan sehingga air limbah organik dari tambak langsung dibuang ke saluran sehingga penyebaran penyakit sangat cepat.
  3. Persiapan tambak: buruknya kondisi dasar tambak pada saat persiapan seperti tambak tanah (tanah tidak bisa kering dan lumpur organik yang tidak dibersihkan sehingga terukur redoks tanah > -50 mV dan pH < 6).
  4. Saat budidaya: manajemen pakan dan pengelolaan dasar kolam yang (overfeeding) dan pengelolaan dasar kolam merupakan faktor utama munculnya infeksi WFD. Kelebihan pakan akan memperburuk kualitas air sehingga limbah organik yang meningkat akan menyebabkan pertumuhan plankton sangat cepat dan didominasi fitoplankton jenis BGA dan juga pesatnya pertumbuhan bakteri Vibrio di dalam ekosistem tambak.

“Harapan besar dari saya ada peran dari pemerintah yang nyata dalam mencari solusi 4 hal di atas sehingga budidaya udang akan berumur panjang (sustainable), imbuhnya.

Kelemahan Pertambakan di Lampung Timur

Menurut Agus, kasus serangan virus dan penyakit pada tambak budidaya udah di Lampung Timur terjadi akibat kelemahan kondisi pertambakan di sana. Kelemahan tersebut seperti diantaranya, layout tambak yang tidak ideal karena air masuk (inlet) dan air keluar (outlet) pada parit yang sama sehingga kualitas air akan cepat memburuk.

Kemudian, lebih lanjut Agus menambahkan, bahwa parit saluran masuk dan keluar cepat mengalami pendangkalan, sebagian besar tambak tidak ada tandon pengendapan awal (air parit langsung masuk ke tambak), tidak ada tandon perlakuan (air ke tambak budidaya sebagian besar langsung dari bor/resapan yang kualitasnya selalu berubah) dan tidak adanya tandon IPAL.

“Perlu adanya kesadaran tentang pentingnya biosecurity, sehingga penyebaran penyakit sangat cepat.” pungkasnya.

Pilah-pilih Obat-obatan

Air merupakan salah satu faktor paling penting yang menentukan apakah budidaya udang akan berhasil atau tidak, berbagai macam permasalahan yang ada di tambak pada umumnya dimulai dari kondisi air. Oleh karena itu penting bagi petambak untuk selalu mengecek kondisi air pada kolam budidaya mereka.

Untuk mendukung aktifitas budidaya udang, produk-produk akuatik dari SiHS sudah banyak digunakan petambak. Di Lampung Timur sendiri, jelas Agus, masuknya produk SiHS bersamaan dengan tumbuhnya tambak rakyat (mini intensive) udang vaname di Lampung Timur karena produk SiHS merupakan produk pelengkap bagi customer/petambak yang menggunakan pakan CP Prima serta didampingi oleh teknisi CP Prima yang mengembangkan tambak mini intensive di Lampung Timur pertama kali sejak tahun 2015.

Pendampingan produk SiHS terintegrasi dengan pendampingan pakan yang dilakukan oleh tim teknisi CP Prima di Lampung Timur. Angus mengatakan, Semua customer yang menggunakan pakan produk CPP (Irawan, Novo, Marine) akan didampingi secara teknis selama budidaya dengan menggunakan desinfektan, probiotik, feed additive dari SiHS.

“Sampai sekarang (2019) jumlah tambak binaan dibawah teknisi CP Prima di wilayah Lampung Timur >1500 tambak,” tuturnya.

Pendampingan produk SiHS terintegrasi dengan pendampingan pakan yang dilakukan oleh tim teknisi CP Prima di Lampung Timur. Semua customer yang menggunakan pakan produk CPP (Irawan, Novo, Marine) akan didampingi secara teknis selama budidaya dengan menggunakan desinfektan, probiotik, feed additive dari SiHS.

Berikut beberapa produk SiHS yang sudah digunakan oleh petambak-petambak di wilayah Lampung Timur, diantaranya:

  1. Desinfektan yakni kaporit (Tjiwi Kimia, UAP, Hioshi) sebagai oksidator dan  desinfektan bagi mokroorganisme.
  2. Probiotik
  3. Super NB mengandung bakteri ntrifikasi untuk merombak bahan organik menjadi nitrat.
  4. Super PS mengandung Rodhobacter, sangat efektif untuk mereduksi H2S di dasar tambak.
  5. SuperLacto mengandung Lactobacillus, sangat cocok hidup di saluran pencernaan dengan pH rendah sehingga mampu menekan bakteri yang jahat dalam saluran pencernaan yang merupakan penyebab infeksi kotoran putih.
  6. BioSolution mengandung bakteri Bacillus berfungsi menaikkan total bakteri dalam tambak dan mengendalikan pertumbuhan plankton.
  7. Vannapro       mengandung beberapa jenis Bacillus yangberfungsi mengendalikan pertumbuhan fitoplankton.
  1. Feed Additive
    1. Super Media merupakan sumber karbon yang berfungsi untuk menumbuhkan fitoplankton.
    2. Vitamin C mengandung asam askorbat yang berfungsi menaikkan immunitas udang dan sebagai immuno stimulant. Penggunaannya dilakukan dengan mencampur pakan dengan dosis 5-10 g/kg pakan.
    3. BiKlin merupakan probiotik yang mengandung beberapa strain Bacillus digunakan dengan dicampur pakan dengan dosis 5-10 ml/kg pakan.
  2. Mineral
    1. Natural Micro Mineral yakni mineral micro lengkap (Zn, Sn, Fe, Mo, dll) sebagai asupan mineral untuk mempercepat pembentukan kulit udang pasca molting dan sangat cocok untuk perairan dengan salinitas rendah seperti di Lampung Timur.
    2. Kasel/CaCl2 mengandung mineral makro Kalsium dan Kalium yang berfungsi menaikkan Ca Hardness yang berfungsi mempercepat pengerasan kulit pasca molting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *