Waspada AHPND, Perlu SOP Budidaya Normal Baru

“Dalam budidaya udang di Indonesia dan dunia, salah satu penyakit yang menjadi fokus utama adalah penyakit Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND). Penyakit ini terbukti menjadi faktor penurunan produksi yang sangat signifikan, akibatnya terjadi kematian massal pada udang,” terang Pemimpin Redaksi Majalah Info Akuakultur, Ir. Bambang Suharno saat membuka webinar Kamis, (8/10).

Peserta yang hadir di Webinar ini lebih dari 80 orang, yang terdiri dari kalangan pemerintah, swasta, petambak, asosiasi, akademisi dan stakeholder perikanan. Menurut Pimpinan Minapoli, Rully Setya Purnama, kerugian akibat serangan AHPND di tambak udang, tidak hanya dirasakan oleh petambak, tetapi hal tersebut memiliki efek domino.

Sebagai contoh, Rully menjelaskan, akibat penyakit ini, terjadi penurunan konsumsi pakan di tambak. Hal ini menyebabkan kebutuhan pakan menjadi turun.

Secara nasional, hal ini berdampak pada target produksi udang. Dengan adanya kematian massal dan panen dini, tentu sangat berakibat pada penurunan produksi di bawah target.

Oleh sebab itu, Majalah Info Akuakultur bekerjasama dengan Minapoli menyelenggarakan Bincang Akuakultur dengan mengusung Tema “Waspada AHPND pada Udang”.

Organisme hidup, ditengarai menjadi media penyebaran penyakit AHPND dari negara terjangkit ke berbagai negara lainnya. Sehingga, wabah menyebar dari satu tempat ke tempat lain melalui inang/vektor. Bagaimanakah negara-negara tersebut menangani wabah AHPND?

Bincang Akuakultur, menghadirkan narasumber yang ahli dibidangnya yaitu Head of Free Market Animal Health Service & Laboratory PT. Central Proteina Prima, Dr. Heny Budi Utari, M. Kes yang menjelaskan seputar Penyakit AHPND. Kemudian Ahli Penyakit Udang, Sidrotun Naim Ph.D., M.P.A, yang membahas Penanganan AHPND di Berbagai Negara. Serta dibahas oleh Ketua Harian Shrimp Club Indonesia (SCI), Hardi Pitoyo dan di komandoi oleh Ketua Indonesia Network on Fish Health Management (Infhem), Ir. Maskur, M.Si.
Pada fase awal terjadinya wabah, penyakit ini dikenal sebagai early mortality syndrome (EMS) atau penyakit kematian dini.

Penyebab penyakit AHPND adalah bakteri vibrio, begitu juga dengan penyakit kotoran putih dan penyakit udang lainnya. Bakteri marga vibrio sangat dikenal pada praktisi udang karena kerap menjadi biang penyakit. Lantas, apa yang membedakan bakteri vibrio penyebab AHPND dengan jenis vibrio lainnya?

Menurut Heny, bedanya Vibrio parahaemolyticus adalah mikroba normal yang hidup dalam perairan. Jumlahnya akan meningkat seiring dengan meningkatnya bahan organik. Namun, bakteri tersebut bersifat opportunistic, yaitu dapat menyebabkan penyakit apabila kondisi udang lemah dan dipicu oleh lingkungan yang kurang baik.

Sedangkan Vibrio parahaemolyticuspenyebab AHPD adalah Vibrio parahaemolyticus yang mengandung toxin pirA dan B dalam plasmid, yang bermutasi akibat terinfeksi oleh bacteriophage (phage). Selanjutnya plasmid tersebut bisa ditransmisikan (diwariskan) ke jenis Vibrio lain melalui proses konjugasi. Hingga saat ini, Vibrio spp. yang menyebabkan AHPND antara lain Vibrio parahaemolyticus, Vibrio harveyi, V. owensii, V. campbellii, Vibrio ordelii, Vibrio mimicus, dan V. punensis .

“Penyakit AHPND yang disebabkan oleh bakteri Vibrio parahaemolyticus sangat mematikan karena bakteri Vibrio parahaemolyticus menghasilkan racun AHPND yang disebut pirA (pir = photorhabdus insect-related) dan pirB,” tambah Heny.

Beberapa negara yang sudah terlebih dahulu terkena serangan penyakit tersebut di antaranya adalah Tiongkok, Thailand, Vietnam, Malaysia, Meksiko, dan Filipina.

Terkait pengendalian AHPND di negara negara terinfeksi Sidrotun Naim memaparkan pendapatnya. Dalam proses infeksi penyakit, transfer plasmid yang membawa gen toksin difasilitasi oleh media air. Dengan demikian, perbaikan sistem pengelolaan produksi dan aplikasi biosekuriti banyak dilakukan di negara-negara yang terkena wabah AHPND seperti Vietnam, Thailand dan China untuk menjamin produksi udang yang berkelanjutan.

Perbaikan sistem produksi meliputi aplikasi desinfektan selama proses persiapan kolam untuk mengurangi risiko transfer horizontal, pengelolaan lumpur di dasar kolam setelah proses budidaya, penggunaan ikan nila sebagai biokontrol, dan penggunaan bahan-bahan fungsional dalam pakan.
Heny menambahkan, penanganan penyakit AHPND, Indonesia dapat mengadapatasi metode beberapa negara dengan konsep shrimp toilet, perbaikan drainase kolam dan nursery system.

“Kedepan, semakin berubahnya iklim diperlukan budidaya yang mudah dikontrol seperti sistem indoor dengan kolam kolam bulat dengan kepadatan tinggi namun terkendali,” ungkap Sidrotun Naim.

Penggunaan system nursery dapat dipadukan dengan tambak yang sudah ada. Sehingga, ketika benur dilepas ke tambak, mereka sudah dibekali ketahanan terhadap serangan penyakit yang lebih baik.
Hal yang perlu dilakukan untuk mencegah wabah AHPND menurut Hardi Pitoyo, terkait pentingnya peranan laboratorium lapangan, baik biologi dan kualitas air internal dan eksternal.

Di samping itu, ia juga menekankan pentingnya pertemuan asosiasi atau perkumpulan petambak se-kawasan sebagai wahana koordinasi untuk bersama sama menahan penyebaran penyakit.

Kunci keberhasilan budidaya adalah menjaga keseimbangan lingkungan dengan tetap memperhatikan daya dukungnya. Maskur menyimpulkan, petambak perlu mengidentifikasi daya dukung lingkungan. Sehingga dapat menentukan padat tebar dan target produktivitas. Menerapkan system tandon pengendapan dan tandon pengolahan air serta tandon air sisa budidaya dan penggunaan nursery pond.

Terselenggaranya acara ini berkat dukungan Blue Akua, Himperindo, SCI (Shrimp Club Indonesia) dan INFHEM. (Resti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.