Tidak dapat dipungkiri, efek pandemi Covid-19 memang masih mempengaruhi situasi perekonomian global, termasuk kegiatan ekspor produk perikanan budidaya. Meskipun demikian, produk perikanan budidaya, terutama komoditas udang tetap menjadi andalan penggerak ekspor perikanan nasional.
Hal ini diungkapkan oleh Pande Gde Sasmita, Dosen Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Udayana Bali, pada redaksi Info Akuakultur. “Saya memprediksi bahwa meski pandemic Covid-19 masih berlangsung, pasar ekspor budidaya udang tetap tumbuh untuk memenuhi permintaan global. Ini sangat berpotensi untuk terus meningkat,” tutur Pande. Pendapatnya beralasan, mengingat beberapa negara pesaing penghasil udang, khususnya udang vaname, sedang menerapkan lockdown sebagai akibat meningkatnya jumlah penduduk di negara tersebut yang terpapar virus SARS-CoV-2 ini.

Tren kenaikan ekspor produk perikanan, terutama udang juga disampaikan oleh Rudy Kusharyanto, Ketua Harian Forum Komunikasi Praktisi Akuakultur (FKPA) Lampung. Meskipun begitu, ia tidak menyanggah, petambak juga masih dihantui oleh munculnya beragam penyakit yang menyerang udang saat budidaya.
Ia membeberkan, peningkatan tersebut terjadi juga di negara produsen udang lain, di antaranya Thailand dan Vietnam. Terlepas dari itu semua, Indonesia sebagai salah satu pengekspor udang terbesar tentu wajib berhitung untung dan rugi melihat tetangga kawasan sudah mulai pulih terhadap serangan penyakit. Namun bila melihat permintaan ekspor, Indonesia harus optimis produksi udang nasional terus meningkat.
“Pemerintah telah menggalakan peningkatan produksi udang nasional. Kita bisa bersama-sama menyatukan energi untuk mencapai tujuan tersebut. Apalagi peluang ke arah sana masih terbuka lebar,” papar Rudy optimis.
Infrastruktur, kunci menangkan persaingan
Untuk menciptakan iklim industri udang yang kompetitif, diperlukan dukungan infrastruktur yang memadai. Syarifuddin Zain, ketua Pokdakan Potto Tau Kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan, mengungkapkan, Indonesia dapat bersaing dengan negara pesaing produsen udang yang lain, misalnya Thailand dan Vietnam, jikalau infrastruktur penyokong budidaya udang dapat dibangun/dikerjakan. “Contohnya yaitu muara dan saluran, benur yang bermutu unggul dapat diproduksi,” papar Syarifuddin.
Tak lupa ia pun menyampaikan harapannya akan kembali berjayanya Indonesia dan unggul dalam ekspor udang terutama udang windu yang merupakan udang asli Indonesia. Untuk mencapai harapan tersebut, ia bersama komunitasnya membentuk tim pengembangan udang windu.
“Kami sudah membentuk sebuah komunitas yang merupakan gabungan dari tim peneliti dari balai riset, perguruan tinggi, penyuluh, pengusaha hatchery, pengekspor dan pembudidaya udang, yang bernama Komunitas Pemerhati Udang Windu Indonesia (KONTINU),” ungkap Syarifuddin optimis.
Industrialisasi budidaya udang

Kunci memenangkan persaingan tak terlepas dari upaya dalam industrialisasi sektor perikanan dan udang. Menurut Meizar Malanesia, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lampung Selatan. Usaha budidaya udang dapat dikembangkan melalui industrialisasi budidaya udang dengan cara intensifikasi. Upaya ini diterapkan dengan tetap mengindahkan dan memperhatikan kelestarian dan daya dukung lingkungan.
Ia menambahkan, pengembangan budidaya udang juga memerlukan dukungan sektor lain, antara lain infrastruktur, ketenagalistrikan, permodalan, tata ruang wilayah, dan perizinan. Ia berharap, produksi udang Indonesia dapat terus meningkat penopang pendapatan negara dari sektor perikanan. Selain itu dapat membuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan pembudidaya udang.
Volume ekspor udang meningkat
Meskipun pandemi masih berlangsung, hal ini tidak terlalu memukul neraca ekspor produk perikanan, terutama udang ke pasar Amerika Serikat. Romi Novriadi, Peneliti di Kementerian Kelautan dan Perikanan, mengungkapkan, “Merujuk pada data publikasi dari NOAA Trade (Maret 2021), volume ekspor udang Indonesia ke pasar Amerika Serikat mengalami kenaikan di periode Januari – Maret 2021 (41,890 tons) dibandingkan periode yang sama di tahun 2020 (36,355 ton).”
Artinya ada kenaikan sebesar ± 15,2% di tahun 2021. Data ini menunjukkan bahwa semangat pemerintah untuk memberikan dukungan penuh terhadap peningkatan produktivitas udang vaname memberikan hasil yang cukup positif.
“Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan yang terlibat di industri udang vaname saat ini, bukan tidak mungkin peningkatan yang lebih signifikan akan terus dicapai melalui perluasan pasar, tidak hanya di Amerika Serikat, namun juga pasar Uni Eropa, Jepang, Timur Tengah dan lainnya,” terang Romi.
Tahun 2021, optimis ada kenaikan
Senada dengan Romi, peningkatan ekspor produk perikanan di tahun 2021 disampaikan oleh Coco Kokarkin Soetrisno, Direktur Perbenihan 2020, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan. “Untuk tahun 2021, pasti akan ada kenaikan karena yang tahun sebelumnya berhasil akan mengulang keberhasilannya dan banyaknya tambak-tambak intensif baru yang dibuka,” papar Coco.
Coco Kokarkin Soetrisno yang saat ini menjabat sebagai Direktur Teknis PT Bomar Biopova Sulawesi Selatan, menambahkan, tambak tradisional sepertinya masih berjuang untuk terbebas dari EMS akibat WSSV dan AHPND serta EHP. Ia menambahkan, petambak tradisional memerlukan bimbingan intensif agar SOP berjalan dengan baik dengan hasil yang lebih terukur. Produksi akan naik sekitar 50 hingga 60 ribu ton walaupun seharusnya bisa naik 100.000 ton. Syaratnya, petambak Intensif harus sudah menerapkan IPAL dengan baik dan benar, lebih paham dinamika kualitas kimia dan mikrobiologis dalam satu bulan pertama pemeliharaan. (noerhidajat/adit/resti)

