Ekspor Udang Tumbuh Signifikan

Komoditas produk perikanan, udang masih menjadi produk primadona yang menjadi andalan ekspor Indonesia.

 

Desi Amelia Sari, Technical support akuakultur, PT Fenanza Putra Perkasa, menyampaikan udang masih menjadi primadona. Pemerintah tergiur jalur cepat dengan mencanangkan program menaikan ekspor udang hingga 250 persen pada 2024 sekitar 405.000 ton.

Dengan data perkiran atau estimasi ekspor udang budidaya sekitar 345.000 ton. “Untuk mencapai angka yang sangat tinggi ini, ada dua hal yang bisa dilakukan yakni peningkatan nilai ekspor udang dan peningkatan produksinya,” ungkap Desi.

Sementara itu, pertumbuhan ekspor udang tahun 2020 menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Berdasarkan data KKP, hingga November 2020 ekspor udang sudah mencapai USD 1,86 miliar, sehingga nilai ekspor udang di 2020 meningkat 20% dari total ekspor pada 2020, hampir 65 persennya ditujukan untuk pasar AS. Sisanya, diekspor ke Jepang dan China. Sembari mempertahankan pasar di AS, Indonesia juga harus bisa memperluas pasar ke negara-negara yang belum tersentuh oleh udang nasional.

Menurut Desi, ekspor udang di Tahun 2021 diprediksi masih akan terus meningkat walaupun masih dalam kondisi pandemi Covid-19. Hal ini sudah terbukti pada Tahun 2020, peningkatan ekspor dalam kondisi pandemi Covid-19 meningkat signifikan. Sementara itu, harga diprediksi tergantung permintaan pasar ekspor terutama kemampuan daya saing Indonesia dengan India dan Vietnam untuk merebut pasar ekspor ke Amerika Serikat dan Jepang.

“Masih berlangsungnya pandemi membuat produksi harus lebih hati-hati.  Meskipun begitu, sektor industri udang tidak berdampak karena menunjukkan produktivitas yang tetap baik,” ungkap Desi.

Perlu jajaki pangsa pasar ekspor yang lain

Di satu sisi, produksi udang dalam negeri digenjot untuk mencapai target kenaikan 250% di tahun 2024. Akan tetapi di sisi lain, saat yang sama Indonesia dihadapkan pada persaingan dengan Thailand dan Vietnam yang sudah pulih. Terkait hal ini, Desi, berpendapat, peningkatan produksi perlu dibarengi dengan terus mencari pasar ekspor sehingga tidak melulu bergantung pada pasar ekspor ke Amerika Serikat yang saat ini mendominasi, yaitu mencapai 65%.

Salah satu pasar ekspor yang bisa dioptimalkan adalah Jepang. Dengan porsi ekspor mencapai 17 persen, selama ini produk udang yang diekspor masih didominasi oleh produk udang kupas yang nilai tambahnya relatif kecil. Karena itu, diusulkan Indonesia menggenjot produk udang olahan. Ekspor ke Eropa yang selama ini pangsanya masih 1,2 persen juga menjanjikan. “Dengan adanya perjanjian dagang yang tengah dibahas, diharapkan juga bisa memperbesar peluang ekspor udang Indonesia ke Eropa,” sambung Desi.

Di lain pihak, Oei Gianto Suparlan, pria yang disapa Parlan, Teknisi Tambak KBS (Karunia Berkat Sejahtera), berpendapat, pulihnya negara pesaing seperti Thailand, tidak terlalu mengkhawatirkan persaingan ekspor udang. Saya rasa masalah dengan Thailand yang mulai pulih dibidang produksi udang tidaklah menjadi halangan buat Indonesia untuk menggenjot produksinya. Sampai hari ini permintaan dunia akan udang masih tinggi. Lagipula, Thailand tidak benar-benar mampu pulih seperti dulu dimana masalah AHPND masih cukup merepotkan mereka dalam menaikkan produksi udangnya.

Pasar Eropa tengah dibidik

Sejauh ini, Amerika Serikat masih menjadi pasar andalan untuk produk perikanan, terutama udang dari Indonesia. Akan tetapi, seiring dengan meningkatnya target produksi perikanan, khususnya udang, maka perlu dijajaki perluasan pasar ekspor lainnya, di antaranya adalah Uni Eropa.

Menurut Coco Kokarkin Soetrisno, Direktur Teknis PT Bomar Biopova Sulawesi Selatan, Indonesia bisa masuk ke pasar lama, AS karena kesesuaian jenis, harga dan olahan udang. Meskipun mahal, harganya lebih murah jika dibandingkan dengan negara lain sehingga pasar AS bisa kita pertahankan,” ungkap Coco.

Coco menambahkan, India, Vietnam, dan Ekuador masih mengandalkan udang beku. Sementara itu, Vietnam dan Thailand akan mampu merebut sebagian pasar Indonesia di AS jika produk Indonesia tidak kreatif. Menurutnya, kualitas produk harus tetap dijaga dan harus bebas dari antibiotik.“Dilain pihak, Indonesia justru harus merebut pasar Eropa yang mencapai 300.000 ton pertahun,”saran Coco.

Pasar Eropa, tantangan tersendiri

Eropa menjadi salah satu pasar ekspor yang tengah dibidik produsen udang di Indonesia. Meskipun begitu, menembus pasar Eropa memiliki tantangan tersendiri, seperti yang diungkapkan oleh Coco.

Ia membeberkan, bagi negara Uni Eropa, dari segi kewenangan, Indonesia juga punya keunikan karena otoritas kompeten kita adalah karantina (BKIPM). Namun, instansi ini hampir tidak mungkin mengontrol, menerapkan dan mengendalikan HACCP secara detail di tingkat nelayan dan pengumpul (perihal Cadmium, Dioxin, penggunaan es, higienis, serta pencatatan suhu, dan lain-lain).

“Sehingga, kami sarankan kewenangan ini  dialihkan kepada PDSKP sebagai otoritas kompeten dan PSDKP untuk mengawasi   dan BKIPM  untuk  memeriksa kelengkapan  dokumen-dokumen ini ketika pelaksanaan ekspor,” saran Coco.

Ia menyambung, “Kesulitan kita terhadap Uni Eropa adalah mereka hanya percaya pada pemerintah.”  Menurutnya, bila pemerintah memiliki sistem yang kuat dan dipercaya, perusahaan-perusahaan lebih banyak yang bisa mengekspor ke sana. Jika sistem pemerintah kita tidak dipercaya, kuota perusahaan pengekspor terus diturunkan.

Kebalikannya, pemerintah AS dan Jepang lebih mengandalkan kepercayaan dari  individu perusahaan-perusahaan langsung. “China sekarang juga seperti Uni Eropa karena mereka tidak mau ada sisa virus di kardusnya. Jadi, harus ada alat untuk tes PCR,” imbuhnya.

Tetap jaga kualitas

Pasar ekspor untuk produk udang masih terbuka lebar bagi Indonesia. Saat ini, pasar Uni Eropa tengah diincar untuk mengakomodasi adanya peningkatan produksi udang dalam negeri. Akan tetapi, produsen udang juga harus mempertimbangkan potensi persaingan dengan sesama produsen udang dunia, misalnya China, Vietnam, Thailand, dan India. Apalagi, beberapa negara penghasil udang tersebut sudah beranjak pulih dari dampak Covid-19.

Menanggapi potensi persaingan dengan sesama produsen udang dunia yang saat ini sudah beranjak pulih, Romi Novriadi, Peneliti di Kementerian Kelautan dan Perikanan berpendapat, persaingan akan selalu ada dalam dunia usaha. Di samping itu, permintaan terhadap komoditas udang vaname dan harga yang sangat baik.

Strategi terbaik yang dapat dilakukan Indonesia adalah dengan tetap menjaga kualitas yang selama ini sudah menjadi trede mark produk udang kita di pasar global, melakukan monitoring dan surveillance aktif untuk minimalisasi introduksi patogen, menerapkan biosekuriti di unit produksi, penggunaan teknologi untuk meningkatkan produktivitas, serta melakukan sertifikasi produk melalui skema sistem pengelolaan produksi yang diakui oleh dunia Internasional. (noerhidajat/adit/resti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.