Genjot Produktivitas, Tetap Patuhi Prinsip Budidaya Lestari

Saat ini, Indonesia termasuk lima produsen udang terbesar dunia. Sebagai salah satu andalah program percepatan pemulihan ekonomi nasional (PEN), produksi udang diharapkan dapat menjadi lokomotif roda ekonomi yang terpukul akibat pandemi.

Produksi Indonesia  akan bisa menguasai dunia  asalkan seluruh pemangku kepentingan dapat berkepala dingin, tidak serakah melihat potensi.  Ini dapat berakibat pada banyak SOP teknis dan biologis yang dilanggar atau dihilangkan karena berharap pada kemurahan alam. Akibat negatifnya akan terjadi dalam tahun kedua.

Melihat potensi ini juga muncul pada pihak aparat yang berasumsi omzet besar identik punya uang banyak untuk menjadi target pendapatan daerah sehingga membuat peraturan yang berulang atau peraturan yang memperpanjang sebuah proses dari satu menjadi dua. Hal ini disampaikan oleh Coco Kokarkin Soetrisno, Direktur Teknis PT Bomar Biopova Sulawesi Selatan,

Ia menambahkan, industri udang harus sudah dilakukan dengan pendekatan modern. Teknisi-teknisi baru harus sudah bisa dicetak dengan bekal keterbukaan informasi agar langkah-langkahnya ilmiah dan terukur, bukan bersandar pada kebiasaan.

Demikian juga pemilik harus berani investasi pada sarana dan input yang tepat sesuai dengan masalah spesifik di lahan masing-masing yang memang sudah berubah, sehingga tidak bisa menerapkan kembali SOP yang paling sederhana namun (pernah) berhasil.

Produksi udang jadi salah satu program PEN

Menurut Pande Gde Sasmita, Dosen Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Udayana Bali, sebagai salah satu komoditas unggulan nasional, udang bisa menjadi salah satu pilihan untuk bisa dilibatkan dalam program percepatan pemulihan ekonomi nasional (PEN) dampak dari Covid-19.

Target kenaikan produksi udang 250% pada tahun 2024 yang dicanangkan KKP, ttu harus disertai dengan implementasi strategi yang tepat, seperti pemanfaatan potensi lahan sumberdaya akuakultur sebagai tambak produktif. Di samping itu, aplikasi teknologi yang mampu mendukung peningkatan produksi udang dengan tetap memperhatikan prinsip budidaya udang yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Potensi lahan harus dimanfaatkan

Kaitannya dengan target peningkatan produksi, Pande berpendapat, potensi lahan budidaya udang yang ada jauh lebih besar dan harus mampu dimanfaatkan semaksimal mungkin. Disamping itu, tentu peran semua pihak, baik pemerintah sebagai penentu kebijakan, pembudidaya serta stakeholder terkait harus saling support untuk bisa menggenjot produktivitas udang nasional.

Peningkatan produksi ini tentu harus ditujukan sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat. Selain itu, penting untuk selalu diperhatikan bahwa, peningkatan produktivitas ini harus dibarengi dengan prinsip keberlanjutan sehingga kelestarian lingkungan tetap terjaga.

Indonesia masuk lima besar produsen udang dunia

Menurut pengakuan Pande, saat ini, Indonesia termasuk lima besar produsen udang di dunia. Besaran produksinya di bawah 1 juta ton per tahun. Sementara itu, posisi teratas dipegang China disusul Ekuador, Vietnam, dan India. “Saya pribadi berharap, dengan potensi SDA dan SDM yang dimiliki Indonesia, produktivitas budidaya udang di tanah air bisa ditingkatkan,” papar Pande.

Ia optimis, dengan target peningkatan produksi sebesar 250%, berarti Indonesia harus bisa memproduksi udang sebesar 1.290.000 ton dengan nilai produksi Rp. 90,3 triliun. Dengan dukungan potensi luas lahan 120.400 hektar seperti dicanangkan KKP pada tahun 2024, target ini sangat mungkin untuk diwujudkan.

Ekspektasi produksi udang Indonesia

Menurut Achmad Mulyana, Technical Manager PT Matahari Sakti, ekspor udang budidaya di Indonesia pada awal tahun 2021 telah terjadi peningkatan jumlah dibandingkan awal tahun 2020.

Peningkatan ini, kata Achmad sebagai upaya KKP menggenjot produksi udang di Indonesia agar tiap tahunnya dapat terjadi peningkatan ekspor sebesar 19,8% sehingga dapat mencapai target ekspor udang pada tahun 2024 sebesar USD 4,25 M.

Salah satu upaya KKP agar dapat mencapai target tersebut yaitu dengan melakukan pembinaan pada tambak klaster di berbagai daerah di Indonesia dengan tujuan menghasilkan kualitas untuk ekspor dengan jumlah kuantitas yang meningkat.

Grafik Target produksi udang 2020-2024, dapat disimpulkan tambah Achmad nilai produksi dari 36,22 T pada 2019 menjadi sebesar 90.30 T pada 2024 terdapat kenaikan produksi sebesar 772.608 Ton sampai 2024

Achmad menambahkan kembali, ekspor udang Indonesia ke AS pernah mengalahkan Thailand dan Vietnam pada tahun 2016. Selain itu, Indonesia juga pernah menjadi produsen utama udang di ASEAN bersama Vietnam dan Thailand. Namun saat ini nilai ekspor udang Indonesia kalah dengan Thailand dan Vietnam.

Hal ini dikarenakan Indonesia masih belum melakukan banyak peningkatan dalam hal sarana dan prasarana pada kegiatan budidaya udang jika dibandingkan dengan Vietnam dan Tahiland.

Berbeda dengan negara tersebut, kata Achmad pemerintah Vietnam dan Thailand sangat mendukung dalam hal pembangunan infrastruktur, pembangunan fasilitas listrik, dan pembangunan akses air bersih serta sanitasi yang dapat membantu melancarkan kegiatan produksi udang yang belum dilakukan oleh pemerintah Indonesia khususnya di lokasi-lokasi tambak klaster.

Pemicu pertumbuhan produksi

Menurut Achmad, persaingan dalam produksi ini yang akan memicu pertumbuhan dan pergerakan kearah lebih baik lagi. Oleh karenanya, kata kunci yang harus dipenuhi dalam mendorong keberterimaan produk udang nasional adalah bagaimana menciptakan daya saing produk udang nasional yang kompetitif.

untuk menciptakan daya saing produk udang nasional yakni bagaimana menciptakan efisiensi produksi dan keterjaminan mutu atau foodsafety. “Tetap optimis bahwa Indonesia dengan segala upayanya bisa segera recover dan meningkatkan produksi dengan signifikan,”tambah Achmad.

Kontribusi udang Indonesia tercatat 7,15 % dari total ekspor dunia. Saat ini Indonesia merupakan produsen Udang terbesar di dunia setelah China.

Harapan Achmad untuk produksi udang kedepannya agar semua yang terlibat dalam kegiatan produksi udang baik pelaku pembudidaya, pemerintah dan perusahaan-perusahaan penyedia pakan maupun benur dan sarana produksi pertambakan dapat saling membantu agar kedepannya produksi udang  dapat semakin maksimal sehingga Indonesia dapat menjadi produsen terbesar di dunia.

“Produksi meningkat sesuai dengan yang dicanangkan Presiden meningkat 250 %. KKP akan memfasilitasi pengembangan Shrimp Estate yakni system budidaya dengan skala intensif dengan target produksi berkisar 40 ton/ha dalam setahun. Meningkatnya produksi udang/ikan menjadi 10,32 Ton pada Tahun 2024 atau tumbuh 8, % per tahun”,pungkas Achmad. (noerhidajat/resti/adit)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.