Kokohkan Eksistensi di Pasar Global

Di tengah lesunya perekonomian akibat dampak wabah covid 19, kinerja ekspor perikanan Indonesia justru semakin berkilau dari tahun ke tahun. Bahkan, nilai ekspor perikanan Indonesia tembus di angka 5,71 miliar dolar Amerika.

Sampai tulisan ini dibuat, dunia masih belum sepenuhnya terbebas dari Covid 19, begitu pula dengan Indonesia. Dampak di bidang ekonomi begitu sangat dirasakan para pelaku usaha, terutama pada masa awal wabah pada tahun 2020—2021. Adanya social distancing menyebabkan beberapa usaha di segmen usaha tertentu berguguran. PHK merebak, daya beli masyarakat pun menurun.

Meskipun begitu, kondisi sebaliknya terjadi pada pasar ekspor perikanan Indonesia. Peningkatan nilai ekspor perikanan pada periode Januari—November 2022 dikabarkan meningkat sebesar 10,66% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Demikian dilansir dari website resmi Kementerian Kelautan dan Perikanan (https://kkp.go.id).

Produk andalan

Potensi pasar perikanan dunia sangat besar. Hal ini terungkap dari wawancara Menteri Perikanan dan Kelautan, Sakti Wahyu Trenggono di saluran Youtube CNBC (16/7/2021). Disebutkan bahwa potensi pasar perikanan dunia sekira USD162 milyar, yang didominasi beberapa komoditas. Komoditas pertama adalah salmon dengan nilai sekira USD27 milyar; kedua udang USD24,5 milyar; diikuti tuna-cakalang; cumi-sotong-gurita; dan rajungan-kepiting.

“Jadi kalau untuk salmon, tentu Indonesia tidak memiliki komoditas itu. Tapi Indonesia akan fokus di lima sektor, yaitu udang, kemudian tuna-cakalang, cumi-sotong-gurita, rajungan-kepiting, dan lobster. Jadi ini adalah satu kekuatan yang dimiliki oleh negara kita, yang terus akan kami genjot di masa yang akan datang,” ujar Sakti.

Berdasarkan laporan dalam Buku Statistik Ekspor Hasil Perikanan 2017—2021 dituliskan bahwa volume ekspor udang mengalami kenaikan rata-rata dalam kurun waktu 5 tahun tersebut, yaitu sebesar 8,63%. Pada tahun 2017, 2018, dan 2019 volume ekspor udang secara berurut sebesar 180.592.220 kg; 197.433.608 kg; dan 207.702.651 kg.

Sementara wabah covid sepertinya tidak memberi dampak negatif pada volume ekspor. Volume ekspor udang justru semakin meningkat. Tercatat, volume ekspor pada tahun 2020 dan 2021 berurutan sebesar 239.282.011 kg dan  250.715.434 kg.

Menurut Ditjen PDSPKP-KKP, udang menduduki peringkat pertama lima komoditas utama ekspor hasil perikanan Indonesia, diikuti tuna-cakalang-tongkol, cumi-sotong-gurita, rumput laut, dan rajungan-kepiting. Pada periode Januari—November tahun 2022, nilai ekspor udang mencapai USD1.997,49 juta; tuna-cakalang-tongkol USD865,73 juta; cumi-sotong-gurita USD657,71 juta; rumput laut USD554,96 juta; dan rajungan-kepiting USD450,55 juta.

Pasar ekspor utama

Dalam website resminya, ppejp.kemendag.go.id, Kemendag mempublikasikan Daftar 10 Produk Utama Indonesia, di mana komoditas udang masuk dalam urutan pertama. Adapun negara yang menjadi tujuan ekspornya meliputi 19 negara, yaitu Jepang, Hongkong, Cina, Singapura, Malaysia, Australia, Taiwan, Thailand, Korea Selatan, Vietnam, USA, Belgia, Inggris, Spanyol, Perancis, Kanada, Belanda, Italia, dan Jerman.

Produk perikanan lainnya masuk dalam urutan kedua Daftar 10 Produk Potensial Indonesia. Tercatat, ada 9 negara tujuan ekspor produk perikanan, yaitu Australia, Jepang, Singapura, Cina, Malaysia, Taiwan, Hong Kong, Thailand, dan Korea Selatan.

Sepanjang tahun 2021, terdapat 10 negara tujuan ekspor dengan volume hasil perikanan terbesar, yaitu Cina, Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, Thailand, Vietnam, Taiwan, Singapura, Korea Selatan, dan Italia. Sementara berdasarkan nilai ekspor hasil perikanannya, 10 negara tujuan ekspor terbesar pada tahun 2021 adalah Amerika Serikat, Cina, Jepang, Vietnam, Thailand, Taiwan, Malaysia, Italia, Australia, dan Singapura.

Cina merupakan negara tujuan ekspor hasil perikanan dengan volume terbesar pada tahun 2021, yaitu sebesar 428.056.174 kilogram. Berdasarkan nilai ekspornya, Cina menduduki peringkat kedua setelah Amerika, yaitu senilai USD890.143.520. Adapun volume ekspor komoditas udang Indonesia ke Cina sebanyak 6.188.057 kg senilai USD46.503.560. Dalam kurun waktu 2017—2021, volume ekspor rata-rata ke Cina naik sebesar 11,46%; sedangkan nilai ekspor rata-ratanya naik sebesar 20,29%.

Adapun Amerika Serikat merupakan negara tujuan ekspor hasil perikanan dengan nilai tertinggi pada tahun 2021, yaitu sebesar USD 2.532.864.431. Namun, dilihat dari volume ekspornya, Amerika Serikat justru menduduki peringkat kedua setelah Cina, yaitu sebanyak 263.245.177 kg. Sementara volume ekspor komoditas udang Indonesia ke Amerika Serikat sebanyak 179.692.195 kg senilai USD1.596.962.731. Dalam kurun waktu 2017—2021, volume ekspor rata-rata ke Amerika Serikat naik sebesar 9,10%; sedangkan nilai ekspor rata-ratanya naik sebesar 9,06%.

Pada periode Januari—November 2022, nilai ekspor perikanan mencapai USD5,71 miliar atau tumbuh sebesar 10,66% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2021. Amerika Serikat masih menduduki peringkat pertama dengan nilai ekspor USD2,15 miliar (37,63%). Selanjutnya diikuti Tiongkok USD1,02 miliar (17,90%); Jepang USD678,13 juta (11,89%); Asean USD651,66 juta (11,42%); dan Uni Eropa USD357,12 juta (6,26%). Diperkirakan, nilai ekspor perikanan hingga Desember 2022 mencapai USD6,22 miliar atau tumbuh 8,84% dibandingkan tahun 2021.

Ragam komoditas udang ekspor

Terdapat beberapa ragam komoditas udang yang diekspor. Adapun jenis komoditas di setiap negara tujuan ekspor bisa berbeda sesuai permintaan.

Sepanjang tahun 2021, peringkat pertama untuk pasar Cina diduduki komoditas udang besar hidup, selain bibit, senilai USD16.034.473. Komoditas berikutnya adalah udang vaname (Liptopenaeus vannamei) beku senilai USD9.643.161, udang vaname beku (Liptopenaeus vannamei) tanpa kepala dengan ekor senilai USD6.240.919, udang besar beku senilai USD5.541.308, dan udang windu (Penaeus monodon) beku senilai USD5.407.505.

Adapun komoditas ekspor udang lain yang dikirim ke negeri tirai bambu itu adalah udang vaname (Liptopenaeus vannamei) beku tanpa kepala tanpa ekor senilai USD1.914.500; udang besar air dingin (Pandalus spp, Crangon crangon) beku senilai USD631.512; udang besar air dingin (Pandalus spp, Crangon crangon) hidup senilai USD415.447; udang besar, diolah atau diawetkan, dalam kemasan kedap udara senilai USD311.982; udang besar tidak dalam kemasan kedap udara senilai USD222.810; udang besar dalam kemasan kedap udara untuk penjualan eceran senilai USD129.680; udang besar segar atau dingin senilai USD1.568; udang besar air dingin (Pandalus spp, Crangon crangon) segar atau dingin senilai USD8.395;  dan udang windu (Penaeus monodon) segar atau dingin senilai USD300.

Untuk pasar Amerika Serikat, komoditas udang ekspor di posisi pertama adalah udang vaname (Liptopenaeus vannamei) beku senilai USD681.330.898. Posisi kedua diduduki udang besar, diolah atau diawetkan, tidak dalam kemasan kedap udara senilai USD405.029.883. Selanjutnya udang vaname (Liptopenaeus vannamei) beku tanpa kepala dengan ekor senilai USD226.109.646; udang vaname (Liptopenaeus vannamei) beku tanpa kepala tanpa ekor senilai USD112.538.913; dan bakso udang senilai USD54.603.751.

Tak hanya itu, komoditas udang lain yang dikirim ke Amerika Serikat di antaranya udang besar beku senilai USD 38.784.539; udang windu (Penaeus monodon) beku tanpa kepala senilai USD27.934.229; udang diberi tepung senilai USD 20.535.513; udang windu (Penaeus monodon) beku senilai USD19.309.842; udang besar, diolah atau diawetkan, dalam kemasan kedap udara senilai USD10.280.580; udang besar hidup lainnya, selain bibit, senilai USD 490.175; udang besar air dingin (Pandalus spp, Crangon crangon) hidup senilai USD13.826; dan udang besar segar atau dingin senilai USD936.

Pengembangan brand dan pasar ekspor

Di tengah isu resesi yang melanda dunia di tahun 2023, juga dinamika global terkait konflik Rusia-Ukraina dan belum tuntasnya masalah Covid, upaya untuk menjaga pangsa pasar hasil perikanan ke negara utama tujuan ekspor terus dilakukan. Tak hanya itu, pasar baru yang prospektif pun mulai dirambah.

Dilansir dari website https://kkp.go.id, Plt. Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Ishartini, mengakui bahwa dinamika kondisi global seperti perang Rusia-Ukraina sangat berdampak pada ekspor perikanan Indonesia. Meskipun demikian, KKP tetap menjaga pangsa pasar ke negara-negara tujuan ekspor utama serta mulai menjajaki tujuan pasar prospektif di Timur Tengah, seperti pemenuhan katering haji dan umroh di Arab Saudi.

“Kita cari peluang alternatif selain pasar-pasar yang sudah mapan. Ini tentu sebagai respon dinamika global yang terjadi sejak awal tahun 2022, yang tentu berpengaruh terhadap kelancaran arus barang,” ujar Ishartini.

Bagi para pelaku usaha perikanan ekspor, kabar gembira datang dengan adanya persetujuan kesepakatan dagang antara Indonesia dengan beberapa negara Eropa yang tergabung dalam European Free Trade Association (E-FTA). Lewat IE-CEPA (Indonesia European – Comprehensive Economic Partnership Agreement) kesepakatan dagang dijalin dengan Islandia, Liechtenstein, Norwegia, dan Swiss.

Dengan Mozambique, Indonesia telah yang menyepakati penurunan tarif untuk tuna segar, kepiting, dan udang beku dalam Preferential Trade Agreement (IM-PTA). Indonesia juga aktif terlibat dalam Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), yaitu perundingan perdagangan bebas antara negara ASEAN (10 negara) dengan 5 negara mitra seperti Jepang, Korea Selatan, Cina, Australia, dan Selandia Baru.

Dalam rangka menyukseskan usaha pemasaran di luar negeri, Ishartini juga mengarahkan jajarannya untuk aktif di berbagai pameran dan pertemuan internasional serta terus mempromosikan branding produk perikanan Indonesia dengan tagline “Indonesia Seafood: Naturally Diverse” dan subtagline “Safe and Sustainable”. Beberapa komoditas ekspor Indonesia telah memiliki branding produk sendiri, di antaranya “Indonesia Seaweed, Natural Binding Solutions to The World” untuk rumput laut; “Indonesian Pangasius, The Better Choice” untuk ikan patin; “Indonesia Tuna, Sustainable by Tradition: One-by-One” untuk ikan tuna; dan “Indonesian Shrimp, Discover The Taste of 17,000 Islands” untuk udang.

Gencarnya aktivitas pemasaran di pasar ekspor dan terbentuknya pasar baru tentu menjadi angin segar bagi para pengusaha yang terjun dalam industri udang. Tak hanya mengandalkan bahan baku, pasar produk olahan pun perlu mendapat perhatian untuk meningkatkan nilai ekspor dan memperluas jangkauan pasar. Dengan upaya yang totalitas, industri hulu—hilir udang secara khusus dan perikanan secara umum tidak hanya meningkatkan pendapatan negara, tetapi juga mampu menghidupi dan meningkatkan kesejahteraan hidup lebih banyak rakyat, terutama pengusaha maupun pekerja di sektor perikanan. (RA/Adit/Resti)

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.