Hadapi Tantangan Pasar Global 2023

Kejar posisi kelompok lima besar eksportir udang dunia, Indonesia targetkan kenaikan 250%. Produksi 2 juta ton udang di tahun 2024.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, mengatakan bahwa udang memberi nilai ekspor yang cukup luar biasa, yaitu hampir USD2 milyar. Tak heran jika Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berupaya terus mendorong peningkatan produksi dan pemasaran udang. Pasalnya, kebutuhan pasar dunia terhadap udang sangat besar, yaitu USD24,5 milyar.

“Nah, kita ini belum masuk di kelompok ‘Lima Besar’ eksportir udang dunia. Jadi kita ingin mengejar itu. Di 2024, menargetkan kenaikan 250 persen, kira-kira sekitar 2 juta ton,” ungkap Sakti dalam wawancara di saluran Youtube CNBC (16/7/2021).

Untuk merealisasikan target tersebut, langkah pertama KKP yaitu melakukan evaluasi terhadap seluruh tambak udang yang ada. Langkah kedua adalah revitalisasi tambak rakyat. Jika produksi saat ini hanya 0,6 ton per hektar, di masa datang akan ditingkatkan menjadi 2 ton per hektar. Pada langkah ketiga, KKP akan membangun percontohan.

Tantangan budidaya

“Budidaya udang, khususnya pada tahun 2023, merupakan tahun dengan penuh tantangan bagi para pembudidaya maupun stakeholder lainnya. Melihat realita yang terjadi di lapangan, tentu prospek budidaya tahun 2023 tidak akan mudah,” ujar Rudy Kusharyanto, dari PT Suri Tani Pemuka.

Menurut Rudy, pembudidaya di lapangan masih dihadapkan pada maraknya penyakit budidaya, di antaranya WSSV, IMNV, dan AHPND. Serangan penyakit kembali marak terjadi pada budidaya udang di berbagai daerah, mulai dari pesisir barat Sumatera, Bangka-Belitung, daerah Jawa, hingga area timur Lombok dan Sumbawa. Secara ekonomis, dampak serangan penyakit ini sangat terasa.

Pembudidaya juga dituntut untuk meningkatkan efisiensi akibat naiknya biaya operasional. Pada situasi saat ini, harga bahan baku pembuatan pakan terus naik. Ditambah isu global yang saling berkaitan seperti pandemi, kenaikan biaya transportasi, perang di wilayah penghasil bahan baku, dan diperparah dengan  kondisi harga udang yang belum stabil. Hal tersebut bedampak besar terhadap kelangsungan budidaya udang ke depan.

Munculnya tekanan yang datang bertubi tersebut mendorong para pembudidaya mencari alternatif inovasi budidaya selain yang sedang dijalankan saat ini. Dengan harapan, ditemukan suatu ‘formula’ baru yang bisa memberikan dampak signifikan bagi keberhasilan budidaya. Menurut Rudy, masih ada petambak yang berhasil menerapkan SOP budidaya dan  menghasilkan panen yang bagus, di antara kegagalan-kegagalan budidaya dan berita penyakit udang yang marak terjadi.

“Melihat realitas yang terjadi di lapangan, sangat perlu untuk semua petambak menata kembali cara budidaya yang lebih ramah lingkungan agar berkelanjutan dan terbebas dari berbagai serangan penyakit. Dengan begitu, kita tetap bisa menjaga ekspor sebagai salah satu negara pengekspor udang terbesar dan cita-cita untuk menaikkan ekspor ke pasar global bisa terwujud,” terang Rudy.

Berpandangan senada, Wiwik Winarti, petambak udang, mengatakan bahwa budidaya udang adalah kegiatan usaha yang rumit, sulit, susah diprediksi, dan hasilnya berfluktuasi. Oleh sebab itu, petambak harus fokus mengurus tambak dan udang yang sedang dipelihara, tidak direcoki oleh hal nonteknis seperti jaminan keamanan, kemudahan perijinan, dan penyederhanaan perpajakan.

Sebagai pembudidaya, Wiwik berharap perlunya dukungan pemerintah melalui pelayanan laboratorium dan pusat riset untuk membantu petambak jika terjadi wabah penyakit, baik pada tahap pencegahan maupun solusi mengatasinya. Sementara untuk pihak stakeholder, ia menuturkan bahwa petambak ingin selalu memastikan agar input budidaya memenuhi syarat teknis dan ekonomis, seperti benur SPF yang mencukupi, pakan berkualitas dengan harga terjangkau, serta aditif yang baik untuk udang dan lingkungan.

Menjaga semangat

“Saat ini, pasar ekspor banyak dilakukan pemasok udang karena prosedur dan persyaratan penjualannya mudah,” ujar Mochammad Heri Edy, Dosen Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo, yang juga seorang praktisi budidaya udang.

 

Sayangnya, menurut Heri, memproduksi udang ukuran besar kurang menguntungkan bagi petambak. Hal tersebut disebabkan kenaikan harga udang tidak signifikan, padahal FCR pakan lebih tinggi. Artinya, selisih harga tidak sebanding dengan ongkos produksi dan waktu pemeliharaannya pun menjadi lebih lama. Petambak intensif banyak dirugikan karena harga pakan semakin tinggi, kebutuhan obat-obatan dan probiotik meningkat, sedangkan harga udang turun.

 

“Keadaan semacam ini bisa mempengaruhi semangat atau tidaknya petambak untuk berbudidaya udang.  Yang jelas, budidaya udang semakin rumit dan memerlukan daya upaya lebih. Sementara harga udang cenderung kurang bersahabat bagi petambak,” kata Heri.

 

Meskipun begitu, Heri mengungkapkan bahwa para petambak memahami kondisi global seperti ini. Oleh sebab itu, semangat untuk lebih efisien dalam berbudidaya harus didorong, meskipun penyakit dan persyaratan lingkungan masih menghantui. “Yang penting selalu terus berinovasi,” ujarnya.

 

Bicara soal pasar, umumnya pasar tradisional menginginkan udang dengan size 100—67 atau 10—15 g/ekor. Permintaan pasar ritel size 100—50 atau 10—20 g/ekor. Sementara pasar ekspor size 50 ke bawah atau minimal 20 g/ekor. Secara umum, kesegaran dan kebersihan menjadi syarat kualitas; baik untuk pasar tradisional, ritel, maupun ekspor. Untuk ekspor ditambah lagi dengan bebas antibiotik dan cemaran serta lolos sertifikasi. Demikian ungkap Dany Yukasano, National Technical Service Manager-PT Grobest Indomakmur.

 

“Secara kualitas, kendala untuk memenuhi permintaan pasar terletak pada metode panen dan lokasi tambak yang jauh dari pabrik pengolahan. Akibatnya, udang menjadi kurang segar dan menurun kualitasnya saat tiba di pabrik pengolahan. Sementara secara kuantitas, kendala yang dihadapi adalah serangan penyakit, cuaca ekstrim, penurunan daya dukung lahan secara makro menurunkan produktivitas tambak sehingga menurunkan kuantitas panen udang,” tutur Dany.

 

Menurut Dany, untuk mengatasi kendala tersebut, para pembudidaya hendaknya bisa meningkatkan efisiensi dan menekan biaya produksi.  Padat tebar tidak perlu terlalu tinggi, tetapi lebih aman dan lebih besar potensi keberhasilannya. Bagi pemerintah, Dany berharap agar lebih banyak melakukan surveillance penyakit dan kualitas lingkungan, yang datanya sangat bermanfaat bagi para pembudidaya.

 

Muhammad Farzuki, Sales Blue Aqua Indonesia berpendapat bahwa pemerintah diharapkan mampu membantu atau bekerja sama dengan stakeholder dalam kesuksesan budidaya seperti sosialisasi pentingnya menjaga lingkungan, menfasilitasi pengecekan kualitas lingkungan, serta memberikan informasi perkembangan budidaya dari segi teknologi, baik di dalam maupun luar negeri. Dengan begitu, proses budidaya bisa berjalan dengan lancar.

 

Sementara Agus Suryadi, Aqua Technical Support ManagerKemin Aquascience berpandangan bahwa isu resesi global 2023 perlu diantisipasi dengan beberapa langkah. Di sektor budidaya perlu dilakukan penyesuaian padat tebar sesuai musim untuk menekan terjadinya wabah penyakit. Selain itu, biosekuriti perlu dijalankan secara terintegrasi, dari hulu (induk) hingga ke hilir (tambak). Diversifikasi spesies yang dibudidayakan juga patut dipertimbangkan untuk masuk ke pasar baru. Sementara harapan kepada pemerintah yaitu mempermudah regulasi pelaksanaan budidaya serta membantu pengendalian harga dasar udang.

Dari sisi pemasaran, Edison Saade, Dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanudin yang lebih akrab di sapa Edy, menyoroti pentingnya pelibatan masyarakat Indonesia di luar negeri sebagai strategi untuk mengokohkan eksistensi pemasaran udang secara global. Menurutnya, masyarakat Indonesia di luar negeri terdiri dari mahasiswa, PNS dan staf di Kedutaan Besar RI, dosen atau guru, pengusaha, serta pegawai di beragam perusahaan

“Menurut hemat saya, peluang potensial yang bisa dioptimalkan adalah mahasiswa, terutama yang memiliki jiwa bisnis. Kenapa mahasiswa? Meskipun terlihat cukup sibuk dengan kuliahnya, ternyata mereka banyak berinteraksi dengan masyarakat setempat, termasuk dengan para pengusaha besar,” kata Edy.

Edy beranggapan bahwa importir membutuhkan mitra yang bisa dipercaya. Kelebihan mahasiswa yaitu mereka berada di dalam negara importir. Dengan begitu, jika ada masalah dengan udang yang di-impor, mereka akan lebih mudah mendapatkan penjelasan karena berada di dalam negara tersebut. Hal ini berdasarkan pengalaman Edy menyaksikan seniornya bekerjasama dengan pengusaha atau importir Jepang untuk mengimpor ikan laut dari Indonesia. Mahasiswa berperan sebagai penghubung antara importir Jepang dengan pemerintah Indonesia dan eksportirnya di tanah air. Kerjasama tersebut berlangsung lama dengan tingkat kepercayaan yang tinggi.

Target produksi 2023

Jika target produksi 2024 sebesar 2 juta ton, target produksi udang tahun 2023 sebesar 1,83 juta ton.  Target ini merupakan target udang secara keseluruhan dan tidak dirinci untuk masing-masing jenis udang. Target telah disesuaikan dengan hasil analisis pasar udang baik dalam negeri maupun luar negeri. Demikian ungkap Nono Hartanto, Direktur Perbenihan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB).

“Peningkatan produksi udang, selain untuk tujuan ekspor juga untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dalam bentuk peningkatan konsumsi udang per kapita. Jumlah penduduk Indonesia yang besar diharapkan bisa meningkatkan kemandirian pasar sehingga tidak tergantung dengan pasar luar negeri,” ungkap Nono.

Untuk mencapai target produksi pada 2023, terdapat dua program yang menjadi andalan KKP,  yaitu program revitalisasi dan tambak percontohan. Program Revitalisasi Tambak meliputi rekonstruksi, mekanisasi, dan operasional pemeliharaan Kluster Tambak Udang, masing-masing seluas 5 hektar; Pengelolaan Irigasi Tambak Partisipatif (PITAP); pemberian bantuan alat berat dan pemberian bantuan kincir; serta bekerjasama dengan PUPR dalam pembuatan DED (Detail Enginering Design) kawasan tambak.

Adapun Program Modeling Tambak dilakukan dengan percontohan tambak udang terintegrasi dari hulu-hilir dengan sumber pendanaan Non-APBN. Selain itu, dilakukan pula pembangunan tambak udang berbasis kawasan di Kebumen dengan sumber pendanaan dari APBN.

Untuk menyukseskan budidaya, diperlukan zonasi lahan budidaya terkait penataan kawasan. Hal ini penting dilakukan agar kegiatan budidaya dan kegiatan lain di lingkungan budidaya tidak saling memberikan efek negatif, yang akan mempengaruhi keberlanjutan usaha budidaya serta produk perikanan yang dihasilkan.

Hal tersebut juga bertujuan untuk mengakomodasi tuntutan konsumen global terhadap produk budidaya; selain kualitas, keamanan pangan, ketelusuran, juga kegiatan budidaya yang ramah lingkungan. Zonasi industri udang bisa dilakukan berdasarkan pengelolaan segmentasi daerah sentra-produksi, mulai dari broodstock center, hatchery, hingga pembesarannya.

Kejar posisi di kelompok 5 besar eksportir udang, pencapaian target produksi akan didukung sentra-produksi udang vaname saat ini antara lain Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, dan Sulawesi Tenggara. Sementara sentra-produksi udang windu di antaranya berada di Jawa Barat, Aceh, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. (RA/Adit/Resti)

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.