Aquafest 2022 Mewujudkan Peningkatan Produksi Udang yang Berkelanjutan

Aquafest 2022 Mewujudkan Peningkatan Produksi Udang yang Berkelanjutan

Aquaculture Festival (Aquafest) 2022 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Akuakultur berhasil menyelenggarakan Seminar yang merupakan bagian dari rangkaian Shrimp Conference bertemakan “Menyiasati Daya Dukung Lingkungan untuk Peningkatan Produksi Udang dengan Cara Mudah”. Acara  yang berlangsung pada Sabtu, 17 September 2022 di Gedung Andi Hakim Nasution, IPB University ini bertujuan untuk memberikan pemahaman serta meningkatkan pengetahuan petambak-petambak udang maupun masyarakat yang tertarik pada  bidang ini dalam menyelesaikan masalah yang ada dalam produksi udang. Seminar ini dibuka oleh MC, yaitu Othari Gusman dan dimoderatori oleh Rafi Kemal, M.Si yang merupakan lulusan jurusan Budidaya Perairan angkatan 53.

Acara ini menghadirkan beberapa narasumber expert dalam bidang akuakultur, antara lain Sekretaris Jenderal Forum Udang Indonesia, Ir. Coco Kokarkin Soetrisno, M.Sc; Head of Aquaculture and Development STP, Itang Hidayat; Technical and Commercial Director-East Grobest, Achmad Wahyudi, dan Chief Operating Officer Fistex, Rico Wisnu Wibisono S.Pi. Acara ini juga dihadiri oleh Dr. Tb Haeru Rahayu, A. Pi, M. Sc. selaku Dirjen Perikanan Budidaya KKP RI.

“Budidaya yang paling established adalah crustacea, yaitu budidaya udang, kepiting, lobster. Luas pertambakan udang di Indonesia sekitar 300.501 ha, dimana ini mendominasi pertambakan di Indonesia. Namun, terdapat persoalan yang masih menghambat pertambakan udang di Indonesia, antara lain perizinan yang tidak terpusat, lokasi budidaya tersebar, akses permodalan yang terbatas, bibit yang tidak terstandarisasi, dan lemahnya infrastruktur dasar.  Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam pertambakan udang adalah revitalisasi dan modeling. Konsep dalam budidaya tidak boleh melewati 3 komponen budidaya, yaitu wadah, biota, dan media dengan tetap memperhatikan vegetasi lingkungan”, Ujar Dr. Tb Haeru Rahayu, A.Pi, M. Sc. dalam sambutannya.

Menurut Ir. Coco Kokarkin Soetrisno, M.Sc, Indonesia dikalahkan oleh Equador terkait budidaya udangnya karena adanya hambatan. Hambatan dalam budidaya udang salah satunya berasal dari serangan penyakit, contohnya AHPDN. Namun, permasalahan yang ada dapat diatasi dengan kolam terpal bundar dan kolam bioflok. Lebih lanjut dikatakannya, perlunya mengubah mindset terkait budidaya udang yang lebih mudah, misalnya dengan pentokolan.

“ Bisnis yang baik adalah bisnis pentokolan karena waktunya paling singkat dan memiliki keuntungan yang tinggi”, ujarnya.

Sementara itu, Itang Hidayat memaparkan terkait pentingnya pengolahan air limbah dalam budidaya udang. Menurutnya, untuk menyiasati daya dukung lingkungan untuk peningkatan produksi udang dengan mudah maka titik intake air laut dan titik outlet air limbah tambak udang harus tepat dengan memperhatikan aspek geografis. Beberapa cara untuk menyiasati terkait air limbah dapat dilakukan dengan kolam sedimentasi dan biofiltrasi.

Dilanjutkan dengan pemaparan oleh Achmad Wahyudi mengenai Sustainable Feed Paradigm. Transforming high protein content to high nutrition value. Carrying capacity sangat bergantung pada lingkungan yang dikelola. Fakta di lapangan menunjukkan lingkungan sudah banyak polutan, 80% amonia di tambak dihasilkan dari pakan. Oleh karena itu, selain high nutrition, pakan juga harus high additive dan ramah lingkungan.

Terakhir, Rico Wibisono menambahkan banyak hal baru yang dapat dilakukan untuk menunjang sustainability dalam budidaya tambak, misalnya teknologi nano dan dan teraphysic.  Permasalahan budidaya udang dapat diatasi dengan menggunakan aplikasi bernama service FisTx Apps yang dapat mengontrol kualitas air untuk tambak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *