Jurus Ampuh Sistem Nursery Tangkal Penyakit AHPND pada Udang

Sistem nursery telah lama dikembangkan di beberapa negara, seperti Vietnam, Thailand dan China, dan Malaysia untuk mengatasi penyakit AHPND. Teorinya, penyebab penyakit tersebut akan tumbuh ketika kadar DO tidak merata. Sehingga, ada titik tertentu di dalam kolam yang DO nya rendah. Dalam kolam nursery yang berukuran kecil, hal tersebut bisa teratasi.

Berdasarkan pengakuan Kasan Sentosa, Praktisi Akuakultur sebenarnya, system nursery sudah banyak dilakukan di Indonesia sebelumnya. Ada beberapa konsep nursery yang bisa diterapkan tergantung dengan kondisi tambak juga, misalnya bisa dibuat dengan memakai tangki fiber, bangunan bak kecil di samping petakan, dan lain-lain.

Bahkan, menurut Mohammad Nadjib, Direktur INVENDO Akuakultur dan IANDV BIO Indonesia, Sebetulnya Indonesia adalah negara pencetus ide system nursery. “Saya tidak tahu persisnya mulai kapan, tetapi saya yakin, sejak jaman nenek moyang, kita sudah mempraktikkan tambak udang modern yaitu system menabur/mengisi benur.  Bahkan secara tradisional, system nursery ini berkembang menjadi suatu rantai usaha tersendiri yaitu sebagai penghubung hatchery dan petambak. Sebagai contoh, di Jawa Barat, usaha ini dikenal dengan pengoslahan dan benur yang dihasilkan disebut benur oslah.

Senada dengan Kasan dan Nadjib, Desi Amelia Sari, Product Manager & Aquaculture Specialist, PT Fenanza Putra Perkasa, mengungkapkan hal yang sama. Pendapat serupa juga dilontarkan oleh Syarifuddin Zain, Ketua Pokdakan Potto Tau, Kab. Pinrang Sulawesi Selatan. Nursery merupakan cara yang telah lama dikenal oleh petambak di Indonesia dengan sistem impung atau deder. Dengan demikian secara teknologi para petambak telah mengenal dengan baik dengan hasil PL (benur) yang lebih besar dan memiliki daya adaptasi yang lebih baik serta pencernaan yang lebih baik.

Berdasarkan pengakuan Syarifuddin, sistem ini dapat mempercepat pertumbuhan udang jika sudah dipindahkan dipetakan pembesaran. Biasanya, hanya  dalam umur 40 hari, udah sudah dapat mencapai ukuran 30/kg.

Dengan adanya system nursery, menurut Harli Teknisi PT Maju Tambak Sumur (MTS) Lampung, adanya pemeliharaan transit, kontrol terhadap udang akan jauh lebih intensif dan memudahkan pengamatannya. Penggunaan pakan juga lebih optimal, sehingga pertumbuhan awal pemeliharaan dipastikan bisa bejalan dengan baik.

Peran system nursery dalam budidaya udang

Menurut Supito, Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar, system nursery atau pentokolan udang di masa mendatang dapat menjadi solusi untuk peningkatan produtivitas lahan tambak per tahun. Pasalnya, musim tanam bisa lebih cepat dengan penerapan system ini. Apalagi, teknik kontruksi tambak lining saat ini menggunakan plastik maupun bak beton, sehingga persiapan tambak lebih cepat untuk penebaran siklus berikutnya. Peranan system nursery pada budidaya udang adalah:

  • media adaptasi benur dari hatchery terhadap klimitalogi lokasi tambak. Contohnya, salinitas hatchery biasanya 25 – 30 ppt yang berbeda dengan di tambak. Sehingga, kolam nursery menjadi media penyesuaian salinitas.
  • untuk menguji ketahanan benur dari serangan penyakit.  Sampel benur yang diuji laboratorium diambil secara acak dengan populasi kurang dari 1%. Bila terjadi  infeksi penyakit di petak nursery dapat langsung dikendalikan sehingga bisa mengurangi nilai kerugian.
  • mempersingkat pemeliharan di petak pembesaran. oleh karena itu petak nursery harus dibangun berdekatan dengan petak pembesaran.

Kolam nursery yang cocok diterapkan

Seperti apa system nursery yang cocok diterapkan di Indonesia? Terkait ini, Desi memaparkan pendapatnya. Menurutnya, kolam nursery dapat menerapkan kolam bentuk bundar maupun elips untuk kolam aliran deras. Lahan yang diperlukan untuk kola mini tidak terlalu luas, dapat juga digunakan padat tebar tinggi. Dengan demikian, hal ini dapat menghemat energi, tenaga kerja, dan memudahkan pengawasan. Di samping itu, ini dapat menghemat bahan pendukung seperti probiotik dan bahan lainnya yang dihitung berdasarkan volume air.

“Namun,” Desi melanjutkan, “bila pada tebar tinggi, antara 500 – 2.000 ekor/m3, diperlukan teknologi seperti pemantauan kualitas air dan alat pakan otomatis.” Pengembangan kolam nursery di Indonesia dapat dikembangkan secara luas dan dapat menambah siklus budidaya dalam setahun hingga 1,5 – 2 kali lipat dibandingkan cara konvensional.

System ini juga memungkinkan optimalisasi lahan budidaya dan mitigasi penyakit budidaya udang. Pendederan dapat berlangsung selama 15 – 40 hari, hingga menghasilkan benur siap tebar dengan PL 25 – PL 50. Nursery dapat diterapkan dengan berbagai macam sistem baik bioflok, semiflok, copefloc, dan RAS (recirculating aquaculture system) maupun lainnya. Sistem ini membutuhkan presisi baik dari pakan dan perawatan kualitas air, oleh karena itu dengan kepadatan yang tinggi diperlukan teknologi berupa monitoring dan pemberian pakan secara otomatis.

Lebih jauh, system nursery dapat dikembang dengan 2 atau 3 tahap, tergantung lokasi dan kebutuhan. Dengan menerapkan 3 langkah, 10 hari awal pada kolam yang diameter 5 m, kemudian berpindah ke kolam kedua selama 30 hari dengan diameter 10 – 20 m. Pada tahap akhir, pemeliharaan dilanjutkan di kolam pembesaran hingga panen. Dengan demikian, tidak terjadi penumpukan limbah pada wadah budidaya.

Kualitas benur, kunci utama

Bagaimana system nursery yang ekonomis dikembangkan di Indonesia? Menurut Bagyo Ari Yantono, Manager Technical Service Jawa Timur & Jawa Tengah, PT New Hope AquaFeed Indonesia, terkait system nursery, contohnya yaitu dengan metode ditampung dalam conikel yang diberi oksigen (yang bagus oksigen murni). Ke dalam 1 m3 air, dimasukkan 100.000 benur. Yang perlu diperhatikan yaitu waktu hanya tiga hari.

Hal tersebut bertujuan agar adaptasi benur yang akan dimasukan kolam sesuai yang diharapkan, seperti suhu , salinitas dan pH. Berikutnya, melatih benur untuk adaptasi dengan pakan yang diberikan yaitu artemia dan pakan udang nomor 0. Dengan metode tersebut, diharapkan benur yang dimasukkan dalam kolam budidaya sehat dan estimasi angka kelangsungan hidup (SR) masih tetap tinggi.

Menurut Bagyo, aspek yang tak kalah penting adalah benur yang menjadi kunci utama keberhasilan dalam budidaya udang vaname. Sebagai contoh, ketika memesan PL ke hatchery, diusahakan saat PL 3 – 5, minta kualitas sampel untuk dicek, terutama bagian hepatopancreas, apakah tubulusnya sempurna atau tidak.

Untuk itu, Bagyo menyarankan, pertambak paling tidak mempunyai mikroskop untuk memantau perkembangan saat budidaya sampai panen. Jika Hatchery menginformasikan benurnya mempunyai status SPF atau SPR. Benur SPR atau specific pathogen resistant mempunyai pertumbuhan agak lambat, tetapi tahan terhadap penyakit WSSV, IHHNV dan TSV. Sementara itu, benur SPF (specific pathogen free) pertumbuhannya cepat, tetapi tidak tahan terhadap penyakit.

Kunci keberhasilan system nursery

Berdasarkan pemaparan Heny Budi Utari, Kepala Free Market Health Animal Health Service and Laboratory, PT Central Proteina Prima, system nursery harus memenuhi beberapa aspek agar ekonomis, di antaranya dengan petak pembesaran (grow out pond).  Berhasil menghasilkan tokolan yang sehat, bebas penyakit, tingkat kelangsung hidup tinggi, bobot yang tinggi, dan biaya produksi rendah.

Menurut Heny, kolam nursery dapat dibuat secara sederhana, misalnya dari plastik HDPE dan kerangka besi/bambu. Namun, Heny menyarankan agar kepadatan benur di kolam nursery tidak terlalu tinggi, antara 500 – 800 pl/m3.

Di lain pihak, Sugeng Raharjo, Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara menekankan pentingnya kualitas air dalam system nursery. Menurutnya, pemantauan kualitas air, penyakit, nafsu makan, kesehatan dan jenis, maupun kelimpahan plankton secara periodik & konsisten serta penentuan waktu yang tepat untuk pemindahan dengan cara menekan stres sekecil mungkin.

Terkait kualitas air, yang perlu dilakukan adalah menerapkan proses penapisan air, sedimentasi bertingkat dimana pada kolam terakhir, air baku yang jernih dipindahkan ke kolam tandon untuk diberi perlakuan kaporit atau bahan disinfektan yang lain seperti H2O2, kapur tohor (CaO2). Selain itu, air diaerasi kuat sampai netral sebelum siap digunakan.

Terkait pengolahan air, menurut Bagyo, pengolahan air yang digunakan mengikuti perlakuan kolam budidaya tersebut. Ia berpendapat, kolam nursery yang berbentuk konikel ini ditempatkan di pingir kolam budidaya, pergantian air mengunakan air kolam tersebut dan mengikuti perawatan kolam tersebut.

Tingkatkan kompetensi tenaga kerja

Perhitungan rasio padat tebar yang tepat di kolam nursery harus disesuaikan dengan fasilitas yang ada. Artinya semakin tinggi kepadatan udang, fasilitas pendukung pun harus semakin lengkap. Demikian yang disampaikan Rudy Kusharyanto, Technical Support PT Suri Tani Pemuka, Kepala Divisi Iptek FKPA. Di samping itu, pastikan kecukupan DO selama budidaya dan kualitas air yang harus tetap terjaga pada kisaran normal, terapkan manajemen pakan yang tepat, dan proses transfer udang yang harus di perhitungkan dengan presisi.

Tidak kalah penting, menurut Rudy adalah peningkatan kapasitas tenaga kerja. Pasalnya, system nursery membutuhkan ketelitian dan kecermatan dalam prosesnya. Hal ini dalam teknis pengelolaan air selama proses budidaya di kolam nursery yang membutuhkan ketelitian serta kecermatan pengelola. Dengan padat tebar tinggi, bisa di atas 2,000 ekor/m), faktor pengelolaan kualitas air di kolam nursery memegang peranan yang sangat penting terhadap keberhasilan system ini. Fluktuasi parameter kualitas air sangat dinamis di kola mini, sehingga, disarankan pemeliharaan udang di kolam nursery tidak lebih dari 25 – 30 hari.

Faktor pemberian pakan

Menurut Desi, pemberian pakan hidup dapat meningkatkan sintasan hidup karena menurunnya proses kanibalisme oleh kompetisi pakan. Selain pakan diperlukan perawatan kualitas air terutama pada kadar DO yang tidak boleh kurang dari 5 ppm, hal ini berkaitan dengan kinerja bakteri dalam merombak amoniak.

Mineral merupakan faktor pembatas dalam proses ini kekurangan mineral dapat menyebabkan stres yang berakibat pada penyakit sehingga penambahan mineral baik lewat suplementasi pakan dan penambahan di air sangat baik dalam proses perkembangan udang pada sistem nursery.

Kepadatan yang tinggi menyebabkan daya dukung lingkungan semakin terbatas sehingga pemberian pakan dapat diberikan secara berterusan dengan pakan protein fungsional yang memenuhi nutrisi sehingga diperlukan pakan hidup untuk awal penebaran berupa artemia sehingga proses enzimatis tetap berjalan.

Di lain pihak, Harli menambahkan terkait pengaturan pakan. Untuk DOC yang berbeda, ia menggunakan jenis pakan yang berbeda, berikut pemaparannya:

  • DOC 1-7 hari, pakan yang diberikan artemia RW 500
  • DOC 8-14 hari, pakan yang diberikan artemia RW 700 + pakan pellet (50:50)
  • DOC 15 s.d. panen, pakan yang diberikan pellet. Periode ini, pakan dicampur dengan immunostimulant dan vitamin untuk menyehatkan pencernaan dalam usus udang.

Di lain pihak, Rico Wisnu Wibisono, COO FisTx, memberikan pandangannya terkait manajemen pakan system nursery. Pakan dapat dicampur imbuhan pakan yang berisi nutrisi hepatopankreas, asam organik, mineral dan multivitamin selama 20 hari. Pasalnya, fase ini adalah perkembangan hepatopankreas.

Pemberian pakan yang tepat mutu menjadi titik kritis untuk awal, dan sebaiknya diberikan artemia selama 7 hari kemudian dilakukan kombinasi pada 3 hari terakhir dengan pakan buatan sebagai komplementer. Selanjutnya, pakan buatan dapat digunakan dengan kadar protein diatas 40% guna menunjang pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang.

Sistem atau metode budidaya pun dapat menyesuaikan, misalnya, tahap 1 (DOC 1 – 20), dapat menggunakan sistem bioflok dengan tebaran 1000 PL/ m2 dengan target ukuran 2 – 250 mg/ekor. Berikutnya, tahap 2 (DOC 21 – 40) dengan tebaran 500 PL/m2 dengan target ukuran 250 mg – 5g dan digunakan sistem semiflok.

Selanjutnya, tahap akhir (DOC 41 – panen) dengan tebaran 200 PL/m2 melalui sistem semiflok/semi RAS dengan ukuran (5 – 25 gram). Namun, tahapan di atas dapat dipersingkat menjadi 2 tahap dengan tahap pertama dari DOC 1 – 30 dan dilanjutkan dengan tahap 2 DOC 31 – panen.

Cegah pemberian pakan berlebih 

Dalam menerapkan system nursery, tidak kalah penting adalah factor manajemen pakan. Menurut Arif Faisal Siburian, Technical Commercial Aquaculture, PT Behn Meyer Chemicals, penting untuk menghindari pemberian pakan berlebih (overfeeding), sebaiknya dilakukan pemberian pakan berdasarkan feeding protocol yang mengacu pada total jumlah udang, estimasi kelangsungan hidup, dan asumsi pertumbuhan yang ada dalam protokol.

Untuk mengganti kualitas air yang jelek dengan air baru yang kualitasnya lebih baik, dapat dilakukan pergantian air di kolam nursery. Tingkat pergantian air tergantung pada umur pemeliharaan, padat tebar, biomassa, kekeruhan air, dan ketersediaan air tandon. Kegiatan siphon secara rutin juga akan sangat membantu mengurangi akumulasi bahan organik yang berasal dari feses udang, sisa pakan, karapas, serta mikroorganisme mati yang mengendap di dasar kolam nursery.

Pengendalian bahan organik juga dapat dibantu oleh peran dari probiotik khususnya bakteri-bakteri heterotrof. Jangan lupa untuk selalu melakukan monitoring kualitas air untuk menjaga fluktuasi oksigen terlarut, pH dan suhu harian, serta rutin melakukan pengujian terhadap amonia, nitirit dan nitrat serta parameter mikrobiologi seperti TVC dan lainnya.

Kelola kualitas air kolam nursery

Kualitas air memegang peranan penting untuk menjamin keberhasilan system nursery. Menurut Desi, perawatan air dilakukan dengan menjaga kestabilan pH, TOM selalu rendah, salinitas diupayakan tinggi. Probiotik berkala diberikan, umumnya dari golongan bacillus. Kualitas air yang tidak kalah penting melakukan pengujian berkala kandungan amoniak, nitirit dan nitrat serta parameter biologi dan lainnya.

Menurut Bakti, Owner MSO, air merupakan media yang unik karena saling terhubung satu sama lainnya dan terintergrasi secara kompleks. Sehingga, kualitas air perlu dijaga.

Mudahnya, menurut Supito, pengelolaan air pada petak nursery hampir sama dengan petak pembesaran. “Karena petak nursery berukuran kecil, maka pengelolaan air dapat dilakukan lebih intensif,” ungkapnya.

Sistem biosekuriti, seperti penggunaan air yang masuk harus dilakukan pengolahan agar tidak terinfeksi penyakit. Di samping itu, pastikan oksigen terlarut yang baik >4 ppm dengan sistem aerasi. Kepadatan udang dapat diatur menggunaan pendekatan bioamas per m3, yaitu 2000 g/m3. Dengan target doc 1 bulan 2 – 3 g per ekor, maka kepadata pada petak nursery dapat mencapai 1000 ekor/m3.

Dalam aspek pengelolaan air, keahlian petambak di Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Begitu yang disampaikan oleh Nadjib. Menurutnya, teknologi sudah sangat mendukung dalam semua perawatan yang spesifik mulai dari parameter fisika, kimia, dan biologi. Laboratorium analisis juga juga sudah mulai umum dimiliki oleh pelaku usaha, terutama yang intensif.

Karena system nursery ini adalah perantara hatchery dan tambak, tentu teknologinya juga adalah teknologi perantara yang relatif unik. Petambak terpadu tentu akan lebih sedikit menghadapi gap karena system nursery dan tambak ada dalam suatu kendali teknis/management. Akan tetapi, petambak yang mendapatkan benurnya dari pihak lain, dibutuhkan komunikasi yang terbuka/jujur.

Menurutnya, akan lebih baik pada system nursery, setidaknya benur mengalami dua kali pencucian, yaitu saat benur baru datang dari hatchery dan saat benur nursery tersebut dipanen, sebelum dikirim ke petambak.

Pastikan kadar oksigen terlarut terjaga

Menurut Deny Mulyono, Ketua GPMT (Gabungan Perusahaan Makanan Ternak), penerapan system nursery, bukan hanya di Thailand atau Vietnam, namun Malaysia pun melakukan hal yang sama di tahun 2010. Para pembudidaya menyebutnya ‘new normal’ dalam budidaya udang. Dalam system tersebut, 30 hari pertama menjadi masa kritis yang perlu diwaspadai, diantisipasi dengan system nursery.

Menurut Deny, ukuran ekonomis system nursery tergantung sudut pandang, mengingat pada hasil yang diharapkan tentu perlu nursery yang baik dan sukses. Ia menekankan pentingnya aspek kadar oksigen terlarut dalam air kolam nursery.

“Pastikan DO terjaga, begitu pula dengan ketersediaan plankton sebagai pakan alami, karena di masa awal PL masih belajar untuk memakan pakan, ada keseimbangan dengan density pada masing-masing nursery pond,” ungkap Deny.

Konstruksi kolam nursery 

Bagaimana bentuk kolam nursery yang ideal? Menurut Harli, konstruksi kolam nursery yang ada saat ini terdapat beberapa model, di antaranya adalah system konikel, waring, dan bulat. Konstruksi konikel ditempatkan di masing-masing kolam pembesaran. Selain itu, bentuk kolam nursery juga dapat berbentuk bulat. Konstruksi kolam seperti ini benurnya disiapkan untuk beberapa kolam. “Model ini yang saat ini kita pakai guna pencegahan AHPND,” ungkapnya.

Harli melanjutkan, alasan memilih kolam berbentuk bulat untuk melancarkan sentralisasi lumpur yang dihasilkan. Selanjutnya, ia menambahkan, agar kolam nursery diposisikan di tengah-tengah lokasi tambak. Alasannya adalah untuk memudahkan transfer/proses pemindahan benur pada saat siap dipindahkan, yakni di doc 25 hari atau berat udang di 0.7 – 1 gram.

Menimbang 2 jenis system nursery

I Ketut Widiasa, yang menjabat sebagai Head of Shrimp Ponds PT Suri Tani Pemuka, berpandangan, system nursery dengan model 1:1, dimana 1 bak nursery untuk 1 kolam pembesaran. Posisi kolam nursery ada di tanggul kolam pembesaran. Model ini sangat bisa meminimalkan risiko stres udang ketika dilakukan proses pemindahan dari kolam nursery ke kolam pembesaran. Sementara itu, kelemahannya adalah pada investasi awal yang lebih besar dan pengontrolan karena banyak tempat.

Sementara itu, system nursery dengan model terpusat, bak-bak nursery diposisikan terpusat di satu tempat terpisah dengan kolam pembesaran dan 1 bak nursery. Keuntungannya, model ini memudahkan proses pengontrolan karena terpusat. Sementara itu, kelemahannya adalah dalam proses pemindahan dari kolam nursery ke kolam pembesaran berisiko tinggi terkena stress.

Kontruksi bak Nursery harus betul-betul kedap air (tidak bocor). Kemiringan dasar bak dan system masuk-keluar air harus bagus sehingga memudahkan selama proses pemeliharaan dan proses panen.

selain itu, menurut I Ketut, perlengkapan untuk proses panen dan pengiriman dari bak nursery ke kolam pembesaran harus memadai. Selain itu, penerapan biosekuriti yang ketat pun menjadi salah satu penunjang untuk menciptakan nursery sistem yang optimal.

Ukur parameter air secara berkala

Muhammad Fiqi Zulendra, Instruktur BPPP Bitung, menyampaikan agar pada saat memasukkan/mengganti air tambak hendaknya dimasukkan dulu ke dalam tandon, agar mendapat perlakuan dengan kaporit terlebih dahulu. Sehingga, hal ini dapat mengurangi/menghilangkan pathogen yang ikut masuk kedalam tambak melalui air. Kemudian juga dipasang biosecurity pada tambak.

Terkait pemeriksaan air secara berkala, hal inipun disampaikan juga oleh Harli. Menurutnya, ketika doc 5 – dipanen, kolam sudah dilakukan siphon, dengan pergantian air 10 – 20% setiap hari. Pengecekan parameter air, untuk fisika, kimia, dan biologi, rutin dilakukan untuk mendeteksi setiap perubahan kualitas air. Untuk mengantisipasi terjadinya goncangan, air mendapat perawatan terlebih dahulu. Ia menambahkan untuk menggunakan tandon rekondisi yang diisi ikan jenis nila. Hal ini untuk mengurangi konsentrasi jumlah vibrio, mengurangi  padat tebar, dan bijak dalam penggunaan bahan kimia seperti kaporit.

System kolam nursery, adaptasikan sesuai kondisi 

Menurut Rico, system nursery sejatinya sudah lama dikenal di Indonesia pada budidaya udang windu. Istilahnya disebut dengan oslah dan gelondong. System ini dikembangkan secara tradisional di beberapa wilayah seperti wilayah Pantura Jawa dan Lampung. sistem nursery Indonesia ini dapat dikembangkan dalam aspek teknologi dengan perbaikan sistem budidaya mulai dari kontruksi hingga sistem panennya.

System nursery di Indonesia sangat besar dikembangkan di Indonesia dengan menggunakan teknologi ekonomis seperti kolam bulat maupun race ways (kolam arus deras). Kontruksi dapat dibuat dengan indoor atau outdoor.

Kontruksi indoor dapat dibuat menggunakan keragaman lokal seperti bambu karena bambu memiliki keunggulan berupa kekuatan akan korosif dari air laut. Akan tetapi, bambu yang digunakan sebaiknya menggunakan bambu tua dan telah direndam di dalam air cukup lama. Dinding bangunan dapat menggunakan anyaman bambu yang dilapisi dengan plastic UV.

Begitupun juga dengan atapnya dapat menggunakan plastik UV yang lebih tebal. Penggunaan UV plastik untuk indoor dapat menjaga kestabilan suhu yang akan memicu perubahan parameter air lainnya. Sedangkan konstruksi outdoor dapat menggunakan pelapis menggunakan paranet 70% untuk menjadi shading untuk menjaga blooming BGA (alga hijau biru) dari penetrasi sinar matahari serta penjagaan kestabilan suhu.

Tata kelola system nursery

Lebih jauh, Rico berbicara tentang tata kelola system nursery dalam budidaya udang, yang menurutnya, memiliki manajemen tersendiri. Management nursery terbagi dalam manajemen pengelolaan air, pakan dan kesehatan udang. Pengelolaan air yang utama adalah parameter DO (oksigen terlarur) minimal 5 ppm.

Pengelolaan air dapat dilakukan dengan penambahan aerator air seperi nanobubble, microbubble, difusser microbuble dan jet aerator. Tidak kalah penting adalah menjaga kadar ammonia air dengan konsentrasi maksimum (mematikan, lethal 50) untuk udang vaname antara 0,7 – 3 mg/L, konsentrasi ini meningkat seiring kenaikan suhu dan pH. Sementara itu, kondisi aman konsentrasi ammonia pada kisaran 0,05 – 0,15 mg/L.

Selanjutya adalah pH dan fluktuasi pH sebaiknya kisaran pH berada di 7,5 – 8 dengan fluktuasi pH dibawah 0,5 tiap pagi dan sore hari. Penting juga, aspek ORP (potensial redoks) pada kolam bulat karena hal ini menandakan laju nitrifikasi dan persebaran oksigen lebih merata sebagai hasil dari proses sendimentasi yang baik akibat dari penerapan titik aerasi yang tepat. ORP yang aman untuk budidaya adalah diatas 200 mV dan paling baik berada di atas 300 mv. Perlu dilakukan perubahan apabila nilai ORP berada dibawah 100 mV karena vibrio masih dapat berkembang pada ORP tersebut. Paramater lainnya adalah alkalinitas, tingkat kesadahan, TVC, kandungan nitrit dan nitrat.

Salah satu cara yang perlu diperhatikan adalah titik aerasi, arah angin dalam penentuan titik sendimetasi dan penggunaan probiotik untuk pengelolaan air untuk mereduksi ammonia, nitrit, nitrat dan asam sulfida yang harus tepat jumlah dan tepat ukuran. Pasalnya, penggunaan yang berlebihan dapat menyebabkan alkalinitas turun dan berakibat pada buffer pH sehingga udang mudah stres (noerhidajat/resti/adit).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.