Urgensi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dalam Budidaya Udang

Salah satu isu global yang menjadi perhatian adalah terjadinya krisis pangan dunia. Diperkirakan, pada tahun 2050 kelak, penduduk planet bumi hampir mencapai 10 milyar jiwa. Salah satu sektor yang menjadi andalan untuk mengatasi kerawanan pangan ini adalah sektor akuakultur sebagai salah satu pemasok sumber protein hewani.

Lebih jauh, kekhawatiran ini mendorong manusia untuk melakukan revolusi biru (blue revolution) dalam bidang akuakultur. Dengan langkah ini, akuakultur meningkat signifikan dari 50% menjadi 62 % di tahun 2030 (Global Aquaculture Alliance). Akan tetapi, di lain pihak, praktik intensifikasi dan ekspansi dalam revolusi biru menciptakan sumber kekhawatiran baru bagi dunia. Pasalnya, kegiatan akuakultur sebagai ekor dari praktik revolusi biru mengakibatkan polusi nutrisi di saluran air, muara, dan pantai. Akibatnya, perairan menjadi vektor spesies invasif, merebaknya berbagai penyakit dan menurunnya daya dukung dan daya lenting lingkungan. Ditengarai, wabah AHPND yang muncul belakangan ini merupakan respon alam terhadap praktik akuakultur yang jor-joran dilakukan manusia. Apalagi, dalam kegiatan budidaya udang, hampir 80% petambak-petambak intensif menggunakan beton dan HDPE untuk kolam budidaya. Tak pelak, polusi nutrisi baik padat, terlarut maupun tersuspensi terbuang semua di perairan. Untuk itu, disinilah urgensi penerapan IPAL dalam kegiatan akuakultur. Hal ini diungkapkan oleh Agus Saiful Huda, salah seorang petambak Jawa Timur.

Sehingga, diharapkan, dengan kehadiran IPAL, kerusakan akibat kegiatan budidaya untuk mengakumulasikan manfaat-manfaat alam, teknologi, dan sumberdaya hayati lainnya dapat ditekan. Dalam jangka panjang, IPAL sangat berperan penting untuk memastikan kelestarian budidaya/akuakultur. Menurut Adnan Kharisma,Sales Aquaculture PT Alltech Biotechnology Indonesia, hal ini untuk menekan penurunan daya dukung lingkungan.

IPAL, vital dalam akuakultur

Menurut Zaenal Arifin, Perekayasa, BBPBAP Jepara, keberadaan IPAL dapat mengendalikan kasus penyakit yang menahun. Dengan adanya IPAL, sebagian besar bahan organik dalam air akan mengendap di petak pengendapan, dan di petak pengolahan biologis, mikroorganisme “baik” akan tumbuh, dan menekan mikroorganisme tidak baik (bakteri vibrio dan virus). Vitalnya peranan IPAL juga disampaikan oleh Agus Saiful. Namun demikian, paparnya, petambak harus sadar bahwa kegiatan akuakultur adalah kegiatan ekonomi, yang harus bertumpu pada keberlanjutan baik di produksi, ekonomi, sosial dan ekologi (lingkungan).

Selanjutnya, Ikhsan Kamil, Kepala Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang, juga mengungkapkan hal serupa. Ia berpendapat, IPAL sangat penting sebagai upaya perlindungan dan menjaga kualitas lingkungan. Sedangkan kelangsungan kegiatan budidaya tidak selalu berlaku secara linier. Hal ini mengingat banyak faktor yang mempengaruhi kelangsungan usaha budidaya, terutama serangan penyakit. Ekstremnya, dalam perspektif ekonomi, penerapan IPAL akan menghambat kelangsungan usaha budidaya karena operasionalnya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sebagai salah satu faktor penentu utama dalam keberlanjutan usaha budidaya udang adalah pengelolaan air (kualitas dan kuantitas) yang merupakan media hidup udang.   Budidaya udang akan berhasil apabila kualitas air media baik.  Limbah budidaya udang khususnya sistem intensif/supra intensif sangat besar dan akan mempengaruhi  kualitas air di wilayah sekitarnya jika tidak dikelola dengan baik akan berakibat negatif pada keberlanjutan usaha budidaya.  Oleh karena itu, IPAL (instalasi pengolahan air limbah) merupakan salah satu prasarana penting dalam menjaga  kualitas air wilayah tersebut dan sekaligus keberlanjutan kegiatan budidaya udang.

Bahkan, menurut pengakuan Sudiarnoto, Kepala Divisi Akuakultur, PT Golden Westindo Artajaya, penerapan IPAL di Kawasan tambak udang, tidak hanya penting, tapi sudah dianggap wajib dimiliki oleh setiap klaster budidaya udang. Dari aspek bisnis, penerapan IPAL akan menguntungkan untuk kestabilan daya dukung lingkungan dengan terjaminnya baku mutu air. Sementara itu, dari aspek moral, hal ini merupakan bagian dari tanggung jawab manusia terhadap alam dan Sang Pencipta.

IPAL jaga keseimbangan ekosistem

Karena berfungsi sebagai pengolah limbah yang dihasilkan oleh tambak udang, IPAL berperan dalam menjaga keseimbangan alam. Hariry Bahar, salah seorang petambak daerah Pantai Selatan Jawa, memaparkan, pengolahan limbah sangat penting untuk menjaga ekosistem yang baik dalam jangka panjang. Limbah tambak mengandung banyak residu kotoran, pakan dan bahkan kemungkinan bibit penyakit. Limbah yang tidak diatur pengolahannya akan mencemari atau tanah atau daerah pantai. IPAL merupakan upaya manusia dalam menjaga alam.

Dalam IPAL, terjadi proses pengolahan limbah dalam tiga aspek penting, yaitu proses kimiawi, fisis, dan biologis. Hal ini diungkapkan oleh Hardi Harris, Kepala Bidang Budidaya dan Daya Saing Produk Perikanan, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan kepada Redaksi Infoakuakultur. Menurutnya, proses fisik berperan mengurangi padatan tersuspensi. Sementara itu, dalam proses biologi, terjadi pengurangan bahan organik, sedangkan proses kimia berfungsi membunuh mikroorganisme yang berpontensi membawa penyakit pada udang.  Jadi dengan adanya pengolahan limbah diharapkan air yang dikeluarkan dari saluran limbah merupakan air yang mutunya sama dengan sumber air yang digunakan dalam usaha budidaya.

Estimasi limbah tambak

Air buangan tambak banyak mengandung residu bahan organik sisa dari pakan, feses udang, dan bahan organik lainnya. Sebagai estimasi, Muharijadi Atmomarsono, Peneliti Ahli Utama Bidang Kesehatan ikan dan Lingkungan BRPBAP3, Maros memberikan sebuah gambaran.“Andai satu petak tambak super intensif ukuran 1.000 m2 mampu menghasilkan 10–18 ton udang. Jika rasio konversi pakan (FCR) berkisar 1,2–1,3, limbah pakan yang dihasilkan sekitar 33% dikali dengan 15 ton, yang setara dengan 5 ton padatan. Jumlah ini setara dengan sekitar 25 ton lumpur organik (organic sludge). Jumlah ini berasal dari satu petak tambak. Jadi, ini bisa dibayangkan, berapa banyak lumpur organik yang dikeluarkan dari sekian jumlah, puluhan atau bahkan ratusan petak tambak.” Pertanyaannya, mampukah alam memperbaikinya? Hal ini menjadi pelajaran bagi para pemangku kepentingan agar tidak salah kelola. Contoh kasusnya, Taiwan mengalami kehancuran total dan tidak dapat diperbaiki kembali akibat salah kelola pada tambaknya.

Strategi penerapan IPAL

Penerapan IPAL untuk tambak yang sudah terbangun terkendala dengan ketersediaan lahan, aktivitas budidaya yang sudah berjalan, dan lainnya. Untuk itu, fokus penerapan IPAL diarahkan pada tambak-tambak yang akan dibangun terlebih dahulu, serta tambak-tambak skala intensif. Hal ini diusulkan oleh Adnan kepada Redaksi Infoakuakultur.

Dedi Cahyadi Ketua Kelompok Mina Artha Sejahtera, Lampung Timur, mengakui mengenai pentingnya peranan IPAL. Meskipun demikian, penerapannya terkendala, terutama bagi petambak yang sebagian besar masih skala tambak rakyat. Luas tambaknya masih di bawah 5 ha. “Jadi, menurut saya, faktor keterbatasan lahan ada pengaruhnya.”

Strategi berikutnya, adalah dengan memberikan insentif bagi petambak yang memiliki sarana IPAL di tambaknya. Menurut Hariry, faktor biaya bisa menjadi penghambat ketika mereka tidak mengetahui manfaatnya.  Akan tetapi, dengan disediakannya suatu insentif seperti jaminan benur berkualitas dari pemerintah, bisa dilaksanakan dengan cara supervisi hasil produk hatchery atau insentif bagi tambak atau kelompok yang memiliki IPAL akan mendapat subsidi dalam harga pakan, hal ini akan mendorong para petambak untuk membangun IPAL.

IPAL terpadu kawasan

Karena pertimbangan ekonomis, IPAL sebaiknya dibangun secara terpadu untuk suatu Kawasan. Teguh Winarno, Head of Shrimp Department, De Heus Indonesia, berpendapat, petunjuk teknis pengolahan limbah tambak dibuat yang realistis dan terjangkau oleh petambak. Perhatian juga untuk petambak skala kecil, dengan dibuatkan unit pengolahan limbah terpadu di suatu kawasan. Sementara itu, pengelolaanya dapat dijalankan oleh kelompok tambak.

Ia melanjutkan, pada dasarnya pengolahan limbah tambak harus dimulai dari pengelolaan di dalam tambak sendiri. Harus ada regulasi yang jelas tentang padat tebar, kandungan protein kasar pakan yang di rekomendasikan, penggunaan kincir air, penggunaan probiotik pengurai, ketersediaan tandon air, dan lain-lain. Selanjutnya, manajemen kualitas air yang tepat di dalam tambak akan sangat mempengaruhi kualitas limbah itu sendiri. Sehingga, beban pengelolaan limbah tidak terkumpul di unit instalasi limbah. “Dengan memperhatikan manajemen tambak seperti yang diuraikan diatas, teknologi dan biaya untuk pengolahan limbah akan menjadi lebih ringan,” imbuhnya.

Perlu penyesuaian konstruksi tambak

Terkait penerapan IPAL, Suprapto, salah seorang pentolan SCI Banyuwangi, angkat suara. Menurutnya, IPAL dapat mengurangi cemaran yang masuk ke perairan bebas, baik sungai maupun laut. Dengan IPAL setidaknya bahan organik padat dapat terendapkan dalam IPAL. Akan tetapi, menurutnya, pada umumnya, tambak-tambak lama yang dibangun pada tahun 1980an hingga 1990an belum memiliki sarana IPAL karena belum ada aturan tentang ini. Sehingga, agak kerepotan bagi pembudidaya membuat konstruksinya dan akan memakan biaya operasional yang cukup tinggi. Misalnya, mereka harus menggunakan pompa untuk menaikkan air ke kolam IPALnya akibat konstruksi posisi outlet yang rendah. Sehingga, aturan pengadaan IPAL ditambak sangat cocok diterapkan untuk tambak-tambak yang baru dan akan dibangun.

Dengan pengolahan limbah yang baik, maka sumber pencemaran limbah organik  tambak dapat dikurangi sehingga pencemaran air laut maupun sungai sebagai sumber dapat diperlambat proses penurunan kualitas airnya. Dengan minimnya limbah organik yang masuk ke perairan maka kemampuan untuk memulihkan kembali (self-purification) dapat mangurangi potensi pencemaran. Dengan demikian maka perkembangan pathogen di perairan akan lambat dan dapat menekan terjadinya penyakit.

Perlu alternatif pemanfaatan hasil samping IPAL

Selama ini, pengolahan limbah dipandang sebagai kegiatan yang membebani keuangan para petambak. Mereka harus mengeluarkan biaya investasi lebih untuk membangun sarana IPAL dan juga menyisihkan keuntungan untuk biaya operasionalnya. Tidak heran, banyak para pembudidaya enggan menerapkan teknologi ini di tambaknya.

Untuk memberikan motivasi ekonomi kepada para pelaku usaha tambak, paradigma IPAL menjadi beban harus diubah. Alih-alih menjadi beban, IPAL dapat memberikan keuntungan sampingan dari kegiatan budidaya udang. Untuk itu, perlu dicari formulasi untuk memanfaatkan limbah yang dihasilkan IPAL menjadi produk yang bernilai ekonomis.

Menurut Hariry,untuk penerapan IPAL, perlu dibuatkan contoh dan diatur secara kolektif rasio antara petak dan IPAL. Di samping itu, ia menyayangkan, belum ada yang mengarahkan dan mengatur untuk memanfaatkan produk akhir limbah IPAL yang menumpuk menjadi produk yang bermanfaat. Salah satu contohnya adalah pupuk organik. Hal ini tidak mengherankan karena limbah tambak udang kaya kandungan karbon organik, fosfor, dan nitrogen. Di samping pupuk organik untuk tanaman, beberapa kajian meneliti potensi pupuk organik tambang udang untuk budidaya kelekap dan nener ikan bandeng. (noerhidajat/resti/adit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.