Larangan Penggunaan Antibiotik Pada Budidaya Udang

Antibiotik pada umumnya dihubungkan dengan Antibiotic Growth Promotor (AGP) yang biasanya digunakan pada campuran pakan, termasuk pakan udang dan ikan. Penggunaan antibiotik sendiri, menurut Owner CV Pradipta Paramita, Agnes Heratri, sudah resmi dilarang pemerintah sejak tahun 2018 Melalui Permentan No. 14/2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan, sejak 1 Januari 2018 Pemerintah melarang penggunaan AGP dalam pakan.  Pelarangan ini juga diperkuat dengan Permentan No. 22/2017 tentang Pendaftaran dan Peredaran Pakan, yang mensyaratkan pernyataan tidak menggunakan AGP dalam formula pakan yang diproduksi bagi produsen yang akan mendaftarkan pakan.

Di Indonesia penggunaan antibiotik sebagai AGP sudah mulai ditinggalkan (walau belum semuanya) dan mulai meracik pakan non AGP.

Kerugian

Sebagaimana kita ketahui penggunaan antibiotik digunakan agar udang tidak mudah terserang penyakit. Namun, ada kerugian yang ditimbulkan akibat adanya residu antibiotik.

Ratri biasa ia disapa, memaparkan bahwa banyak kerugian yang dirasakan dari penggunaan antibiotik pada budidaya udang seperti akan ada residual antibiotik dan apabila hasil analisa laboratorium menunjukkan adanya residual antibiotik pada daging udang, maka udang tersebut tidak bisa diekspor, hanya bisa dijual sekala lokal yang pasarnya tidak terlalu banyak.

“Turunya nilai jual hasil budidaya udang karena tingkat kepercayaan (trust) dunia akan berkurang, melemahnya tingkat persaingan penjualan udang untuk ekspor,” ujarnya.

Ratri menambahkan, residual antibiotik yang ada di daging udang jika terus menerus dikonsumsi manusia akan menyebabkan resistensi terhadap antibiotik tersebut dan resistrensi antibiotik. Jika terjadi, ini akan sangat merugikan karena bila sakit akibat bakterial akan sulit disembuhkan karena resisten  (kebal)  atau naiknya resiko kegagalan pengobatan dan hal ini bila harus dirawat di rumah sakit lama waktu perawatan akan lebih panjang atau bahkan akan menyebabkan kegagalan sembuh dan menyebabkan kematian.

Di sisi lain, Ratri menjelaskan, untuk budidaya udang bisa jadi terserang penyakit yang sulit diatasi, karena udangnya semakin survive dengan paparan antibiotik yang mestinya tidak masuk ke tubuh udang namun ternyata terpapar antibiotik yang menyebabkan udang rentan terhadap serangan pathogen.

Setidaknya ada beberapa antibiotik yang dilarang, kata Ratri, diantaranya Quinolone (sangat dilarang), Betalactam (seperti penisilin, amoxicillin, dan meropenem), Aminoglikosida (termasuk tobramycin, gentamicin, dan amikacin), Macrolide (seperti azithromycin, clarithromycin, dan erythromycin) serta Clindamycin.

 

Tips Budidaya Udang Sehat

Budidaya udang harus dilihat beberapa faktor yang harus diperhatikan antara lain kualitas air, pakan dan benur. Menurut Ratri, untuk membuat air cocok bagi budidaya udang harus dilihat faktor kimia dan biologis air.

Untuk faktor kimia, ia menjelaskan, air yang perlu diperhatikan adalah pH, DO, salinity, Alkalinity, kandungan nitrit, Nitrat dan ammoniak, Phophat, Silika, H2S dll yang mana perlu penanganan yang baik, pH air contohnya kisaran sekitar 7,5 sd 8,0  dan fluktuasi pH pagi dan sore idealnya tidak boleh lebih dari 0,5.

Namun karena adanya hujan yang terus menerus atau karena goncangan plankton maka pH bisa jadi berubah ubah fluktuasi, faktor lain misalnya kandungan nitrit yang tinggi akan mengganggu pertumbuhan udang dan bisa menyebabkan udang keracunan, maka kadar nitrit di air perlu dikendalikan bisa dengan cara penggunaan pakan fermentasi atau probiotik yang mengandung Nitrobacter dan Nitrozomonas dan Thiobacilus denitrificans.

Bila amoniak terlalu tinggi juga akan mencemari air, maka perlu dikendalikan dengan Probiotik yang mengandung Rhodobacter atau Rhodopseudomonas, demikian juga kalau polutan dalam air yang disebabkan karena bahan organik di air yang membuat air bau bias menggunakan Thiobacillus thiooxidans, Thiobacillus ferroxidans.

Untuk mengatasi kekurangan mineral dalam air yang mana mineral ini dibutuhkan oleh udang dan oleh probiotik yang ada, maka perlu penambahan mineral, karena mineral bawaan dari air sering kurang, dan kekurangan mineral ini akan sangat mempengaruhi moulting pada udang dan membantu mengaktifkan enzyme tertentu untuk lebih baik, sehingga metabolisme udang akan berlangsung dengan baik.

Penambahan Kalium dan magnesium akan menyebabkan udang mengalami penurunan performace pertumbuhan. Kekurangan Phosphore akan mempengaruhi produksi ATP menyebabkan kelesuan dan anoreksia (kurus) dan pertumbuhan buruk. “Demikian juga kekurangan unsur-unsur lain akan sangat berpengaruh, sehingga penggunaan mineral pada budidaya udang sangat dibutuhkan, dan mineral ini tidak bisa diproduksi sendiri oleh udang dan harus ditambahkan dari luar, entah melalui air maupun pakan,” jelasnya.

Sesudah air dikendalikan dengan baik, tambah Ratri, pertumbuhan phytoplankton dan zooplankton sebagai pakan alami akan seimbang, maka tinggal memperhatikan kulaitas pakan tambahan, dengan pemberian pakan yang kandungan protein, yang mencukupi.

Namun, sebagus apa pakan yang diberikan hasilnya akan lebih meningkat apabila diberikan probiotik pada pakan atau pakan yang akan diberikan sudah difermentasikan terlebih dahulu dengan probiotik.

Pakan yang telah terfermentasi dengan probiotik, akan mempunyai struktur yang lebih simple karena struktur yang berantai panjang (misalnya karbohidrat akan dipecah pecah menjadi rantai yang lebih pendek, protein akan dipecah jadi asam amino, lemak jadi asam lemak)  akan dibantu dipecah-pecahkan dengan enzyme yang ada pada probiotik menjadi pakan yang lebih mudah dicerna udang, sehingga Total Digestible Nutrient (TDN) naik dan biasanya Feed Conversion Ratio (FCR) akan turun dan pakan menjadi lebih efesien.

Selain faktor kimia, juga harus memperhatikan faktor biologis misalnya berapa jumlah vibrio kuning dan vibrio hijau yang berbahaya, serta jumlah green algae, blue algae (semakin tinggi maka semakin buruk), diatom, dinoflagelata, protozoa, total zooplankton. Untuk pertumbuhan zooplankton yang baik juga memerlukan tambahan mineral agar dapat tumbuh dengan baik, sedangkan untuk vibrio dapat ditekan perumbuhannya dengan beberapa probiotik anatara lain yang mengandung Bacillus polymixa, Lactobacillus plantarum, Lactobacillus fermentum, Pediocuccu acidilactici, dan Pseudoalteromonas

Sedangkan untuk menekan  Blue Green Algae (BGA) bisa menggunakan Lactobacillus brevis. Sedangkan penyakit intestinal seperti white feces disease WFD bias dikendalikan dari awal bila menggunakan probiotik Lactobacillus dengan banyak species yang ada dengan funsi yang berbeda beda.

Untuk benur kadang akan tergantung pada hatchery namun kesehatan udang dari benur hingga panen ini tetap harus diperhatikan, dengan pemberian probiotik tertentu, bila mana perlu untuk pencegahan penyakit bisa diberi probiotik yang mampu menhasilkan natural antibiotik misalnya streptomyces yang dapat membantu udang untuk lebih tahan penyakit tanpa meninggalkan residual antibiotik. (Adit)

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.