Limbah Oraganik Tambak, Ancaman Serius Bagi Lingkungan Perairan

Tambak udang

Peningkatan jumlah penduduk, perubahan pola hidup dan tuntutan akan gizi memberi konsekuensi terhadap peningkatan permintaan produksi perikanan budidaya tidak terkecuali udang vaname (Litopenaeus vannamei). Akibatnya permintaan udang terus meningkat di negara-negara maju yang menyebabkan budidaya udang terus berkembang pesat terutama di dataran rendah subtropis dan tropis Amerika dan Asia.

Konsekuensinya adalah pencarian alternatif teknologi budidaya yang dapat memacu produksi udang, terutama udang vaname yang saat ini menjadi primadona budidaya seiring dengan lesunya budidaya udang windu (Penaeus monodon).

“Teknologi budidaya udang vaname saat ini telah sampai pada tingkat superintensif,” Ujar Mudian Paena, Peneliti Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Pemyuluhan Perikanan, Maros.

Lanjutnya, teknologi superintensif ini dicirikan dengan penggunaan pakan dalam jumlah banyak  dan padat penebaran yang tinggi di atas 350 – 1.200 ekor/m3 dengan produksi dapat mencapai 100 ton/ha. Jika dibandingkan dengan teknologi budidaya sebelumnya seperti pada teknologi intensif dengan kepadatan 30 – 150 ekor/m² diperoleh hasil sekitar 30 ton/ha, semi intensif dengan kepadatan 20 ekor/ m² hasil yang diperoleh  antara 10 – 20 ton/ha.

Ekstensif plus dengan kepadatan  8 ekor/ m² diperoleh  hasil 0,76 – 1,050 ton/ha, sedangkan ekstensif dengan kepadatan 1 – 7 ekor/m² diperoleh hasil 0,1 – 0,2 ton/ha. Tingginya produksitivitas udang pada teknologi superintensif menyebabkan teknologi ini menjadi alternatif pengembangan budidaya udang secara luas oleh pembudidaya yang memilki modal besar.

Teknologi superintensif tergolong budidaya monokultur dengan intervensi pakan dalam jumlah yang besar.  “Sampai saat ini belum ditemukan dan sulit ditemukan tehnik pemberian pakan yang seluruhnya dapat dimakan oleh udang pada setiap pemberian pakan,” imbuhnya.

Menurutnya, budidaya udang tidak sama dengan memelihara ternak ayam. Pada peternakan ayam sangat mudah menentukan daya makannya, sehingga tidak ada pakan yang terbuang, berbeda dengan pemeliharaan udang dan produk perikanan budidaya lainnya tidak demikian dimana selalu terjadi adanya pakan yang tidak dikomsumsi dan terbuang ke lingkungan sebagai limbah organik.

“Hal ini menyebabkan pakan merupakan sumber terbesar pencemaran organik dalam perikanan budidaya. Ekspansi budidaya monokultur tanpa pengendalian dan penerapan tata kelola kawasan akan menghasilkan kerusakan lingkungan dan masalah sosial ekonomi. Limbah organik yang kaya akan nutrien pada lingkungan pesisir, pada konsentrasi tertentu akan berdampak negatif karena bersifat toksis dan dapat terakumulasi dalam sistem jaring makanan akuatik,” jelasnya.

Limbah organik dari tambak udang dalam bentuk padatan tersuspensi organik, karbon, nitrogen dan fosfat, yang dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan beban limbah organik pada lingkungan pesisir. Dinamika limbah organik global menjadi isu meningkatnya kekhawatiran selama ini karena dampaknya terhadap ekosistem, sehingga semangat dan fokus peningkatan produktivitas dan kualitas produk udang harus dibarengi pula dengan semangat dan fokus mengurangi dampak sosial dan lingkungan yang negatif.

Limbah organik dari tambak udang superintensif terutama berasal dari pakan yang terbuang selama budidaya, pakan yang tidak dicerna oleh udang yang terbuang melalui feses dan sisa metabolisme udang dalam bentuk urin selama dibudidayakan. Jumlah pakan yang terbuang selama budidaya udang di tambak superintensif dapat mencapai 24,32% dari total pakan yang diberikan.

Hal ini terjadi karena estimasi jumlah pemberian pakan yang tidak pernah tepat sehingga banyak pakan terlarut dan terbuang kelingkungan. Senyawa nitrogen (amonia, nitrit, dan nitrat) dianggap sebagai kontaminan utama dalam budidaya dan lingkungan budidaya selain fosfat, dan total bahan organik.

Kelebihan nutrien dalam perairan sendiri, kata Mudian,  dapat menyebabkan dampak lingkungan yang serius. Degradasi ekosistem laut antara lain disebabkan oleh adanya eutrofikasi dan perubahan iklim. Selain itu kelebihan nutrien juga akan memicu munculnya ganggang yang berbahaya, HABs (harmful algal blooms). 

Penurunan kualitas lingkungan perairan karena adanya limbah organik dari tambak superintensif bukan hanya berpengaruh pada kegiatan perikanan budidaya lainnya tetapi juga langsung berpengaruh pada penurunan produksi tambak udang superintensif tersebut, karena air baku untuk kegiatan budidaya telah tercemar.

Mudian menuturkan, tambak udang intensif dan superintensif akan menjadi ancaman kelangsungan perikanan budidaya di Indonesia apabila tidak menerapkan konsep tata kelola kawasan pengembangan tambak intensif/superintensif. Dalam tata kelola pengembangan kawasan tambak intensif/superintensif banyak variabel yang harus dipenuhi.dan wajib diadopsi oleh pengembang tambak udang intensif dan superintensif.

“Salah satu contohnya adalah harus memiliki izin lingkungan termasuk izin pembuangan limbah.  Penggunaan instalasi pengolahan limbah (IPAL) menjadi bagian dari izin pembuangan limbah,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.