Waspada AHPND pada Budidaya Udang Vaname

Agus Somamihardja
Anggota Team Penasihat Menteri Kelautan dan Perikanan RI

Acute Hepato Pancreatic Necrosis Disease (AHPND), atau dulu dikenal Early Mortality Syndrome (EMS), menjadi ancaman Program Peningkatan Produksi Udang Nasional 250% tahun 2024, yang dicanangkan pemerintah.

AHPND bisa menyebabkan kematian masal hingga 100%, 30-35 hari pasca tebar. Muncul pertama kali di China tahun 2009, AHPND menyebar ke Malaysia dan Vietnam (2011), Thailand (2012), Meksiko (2013), Filipina (2014), dan Bangladesh tahun 2017. AHPND membuat anjlok produksi udang Thailand hingga 50% tahun 2012. Overfeeding, blooming dan crash algae, penyebab tingginya bahan organik, salinitas dan suhu tinggi, serta fluktuasi pH harian ditengarai memicu AHPND.

Penelitian membuktikan bahwa AHPND disebabkan oleh Vibrio parahaemolyticus. Bakteri ini secara alami melimpah di perairan, terdapat pada zooplankton menempel pada kitin, material pembentuk karapas (cangkang kepala) udang.

Aneka cacing Polychaeta, juga menjadi sumber bakteri ini. Di kolam budidaya AHPND menyebar antar individu, dan di hatchery secara vertikal menginfeksi dari induk ke larvae. Serangan penyakit terjadi ketika bakteri memasuki organ percernaan, menginfeksi hepatopankreas.

Indikasi Penyakit

Udang yang terserang AHPND biasanya berwarna pucat, hepatopankreas mengkerut (atrofi), karapas melunak, usus dan perut kosong. Hepatopankreas tidak mudah hancur ketika dipencet. Udang berenang spiral, nafsu makan turun, diikuti kematian masal.

Istilah EMS berasal karena kematian masal terjadi pada awal masa budidaya, pemeriksaan histopathology hepatopankreas menggunakan mikroskop cahaya (TEM dan SEM) dapat mengkonfirmasi serangan AHPND. Diagnosis lainnya, analisa PCR menggunakan primer yang mentargetkan gen Pir- A dan Pir- B.
Bila diamati di bawah mikroskop, pada awal masa infeksi, histopatologi menunjukkan degenerasi akut hepatopancreas, menyebabkan berkurangnya sel-sel R, B, dan F, berakibat pada menurunnya aktivitas mitotik sel E. Hal ini mengakibatkan disfungsi sel-sel R, B, F, diikuti dengan peluruhan sel epitel tubulus di hepatopancreas.

Pembesaran inti sel (karyomegaly) terjadi tanpa diketahui penyebabnya. Tahap akhir serangan penyakit, ditandai dengan agregasi melanosit raksasa, munculnya melanisasi granuloma ditambah dengan infeksi berbagai koloni bakteri pada tubulus lumens (Gambar 1, 2, dan 3).
Vibrio biasa dan Vibrio penyebab AHPND, bakteri Vibrio parahaemolyticus, termasuk jenis bakteri gram negatif. Bakteri strain penyebab AHPND memiliki plasmid ekstra-kromosom, sementara bakteri non patogen tidak memilikinya. Vibrio. parahaemolyticus yang ditemukan di Asia (China, Thailand, dan Vietnam) berbeda dengan bakteri sejenis di Amerika (Meksiko dan Amerika Tengah).

Bakteri yang diisolasi dari Amerika memiliki insersi transposon ORF4, sementara dari Asia tidak memilikinya. Meskipun demikian, virulensi (keparahan) keduanya terhadap AHPND tidak berbeda.

Serangan AHPND terjadi ketika plasmid ekstra-kromosomnya Vibrio parahaemolyticus menyandi gen racun (toksin Pir-A dan Pir-B). Toksin Pir (Photorhabdus Insect Related) inilah yang menyebabkan pembengkakan dan pengguguran sel epitel pada serangga, terjadi pada saluran pencernaan udang. Dalam waktu 6 jam, toksin Pir-B mampu menyebabkan peluruhan pada hepatopankreas. Tanpa kehadiran toksin Pir-A, toksin Pir-B saja cukup memicu AHPND.
Hal yang mengkhawatirkan adalah, gen yang menyandi toksin Pir-A dan Pir-B dapat ditransfer pada bakteri-bakteri lain yang memiliki plamid mirip dengan plasmid V. parahaemolyticus (pVA1). Bakteri yang memiliki plasmid mirip pVA1 antara lain Vibrio owensii, Vibrio campbellii dan strain yang mirip Vibrio harveyii. Kemampuan transfer gen ini memungkinkan bakteri non-patogen menjadi pathogen, penyebab massive-nya penyebaran AHPND.

Tingkat keparahan AHPND ditentukan oleh konsentrasi toksin Pir di dalam tubuh udang. Jumlah patogen Vibrio di dalam organ pencernaan udang menentukan keparahan AHPND. Sejumlah >1×103 CFU bakteri Vibrio cukup memicu AHPND. AHPND disebut insektisida alami, karena dengan konsentrasi 105 CFU di dalam pencernaan mampu membunuh udang. Namun kandungan 102 CFU vibrio di lumpur dasar kolam sudah membahayakan.

Secara alami bakteri patogen menyukai materi organik.
Pengendalian dan Pencegahan AHNPD. Antibiotik terbukti tidak efektif karena plasmid ekstra-kromosom yang memiliki gen Pir-A dan Pir-B, memiliki gen tetB yang mampu menyandi sehingga resistens terhadap antibiotik (tetracycline). Vibrio pada biofilm di dasar kolam juga resisten terhadap chloramphenicol.

Jadi, hindari penggunaan antibiotik, karena resistensi antibiotik menyulitkan penanganan di kemudian hari. Vibrio eksis secara alami, merupakan bakteri oportunis, berkembang baik di perairan laut bernutrien tinggi. Mengkondisikan air tambak stabil pada awal periode budidaya (D0C 1-45) adalah kunci pencegahan AHPND.

Pengolahan air baku, persiapan dasar kolam, mencegah penumpukan lumpur, menghindari overfeeding, padat tebar tidak berlebihan, dan membuang kotoran termasuk busa dan buih di permukaan dan pinggir kolam harus rutin dilakukan. Menjaga stabilitas populasi algae penting untuk mencegah penyakit ini.
Aplikasi imunostimulan asam aminolevulinik (5-ALA) pada pakan dikabarkan mampu mempertahankan SR hingga 67%. Penambahan campuran 10 minyak esensial yang memiliki efek antibakteri juga dipercaya mampu menyelamatkan popuulasi hingga 53%.
Disinfeksi air baku dengan injeksi nanobubble ozon membunuh 100% bakteri V. parahaemolyticus. Belum tersedia obat komersial di pasaran. Akan tetapi, penelitian phage dengan bakteriofag pelisis bakteri A3S dan Vpms dilaporkan mengurangi populasi V. parahaemolyticus. Bakteriofag, virus yang menginfeksi bakteri spesifik Vibrio, efektif membunuh populasi bakteri Vibrio.

Namun, seperti disampaikan diatas, plasmid yang keluar dari sel yang mati bisa mentransfer gen Pir-A dan Pir-B kepada bakteri lain. Menjaga keseimbangan biologis antara alga dan bakteri di kolam, juga di saluran gastro-intensinal udang adalah upaya terbaik mencegah dan mengurangi keganasan AHPND.

Probiotik, disamping efektif menghambat infeksi bakteri, juga efektif menjaga kualitas air. Probiotik yang mengandung Lactobacillus casei, Rhodopseudomonas palustris, dan Saccharomyces cerevisiae dilaporkan meningkatkan kelangsungan hidup udang. Lactobacillus plantarum strain SGLAB01 dan Lactococcus lactis strain SGLAB02 yang diisolasi dari usus udang diketahui memberikan efek antibakteri sehingga dapat melindungi udang dari infeksi AHPND.

Eradikasi

Udang yang terjangkit AHPND sebaiknya didesinfeksi dengan 100 ppm kaporit kemudian dikubur. Kolam yang terjangkit dibersihkan dari lumpur, didesinfeksi kaporit, minimal 15 hari, dikeringkan dan ditaburi kapur tohor sebanyak 2 ton per hektar. Saluran pipa inlet dan outlet serta peralatan tambak seperti kincir dan anco didesinfeksi dan dikeringkan.

Mitigasi oleh Negara Lain

Thailand mencegah AHPND dengan menginspeksi sanitasi hatchery, monitoring bakteri vibrio koloni hijau, manajemen induk dan kualitas benur. Departemen Perikanan Thailand meluncurkan program induk baru, meningkatkan keragaman genetik, memproduksi probiotik massal dan menyalurkannya ke tambak dan hatchery.

Ekuador melarang impor udang udang hidup, produk dan produk turunan udang, artemia, polychaeta, prebiotik, probiotik, algae dari China, Malaysia, Vietnam Thailand, Meksiko, dan Amerika Selatan selama setahun.
Vietnam meminta bantuan teknis dari organisasi regional dan internasional, membuat gugus tugas nasional menanggulangi epidemi, mendistribusikan desinfektan ke seluruh negeri, membuat survei epidemiologi nasional, melakukan sistem investigasi diagnostik skala luas di lab regional maupun internasional, serta memberikan dana hibah untuk penelitian-penelitian AHPND. Vietnam mengintroduksi sistem budidaya polikultur (udang-nila salin), dan sistem rotasi budidaya udang dengan ikan.

Mengingat besarnya ancaman AHPND, sebaiknya antisipasi dilakukan bersama. Pelaku industri, hatchery, petambak, processing dan eksportir, bersama pemerintah segera bahu membahu mencegah munculnya penyakit ini di bumi nusantara. Program peningkatan produksi udang 2,5 kali lipat pada tahun 2024, yang telah dicanangkan harus diamankan dengan tindakan nyata bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.