Merawat Warisan Budidaya

Sudah jamak berlaku di belahan bumi mana pun, merawat tradisi budaya yang baik adalah upaya untuk menjaga kelestarian peradaban manusia. Ambil yang baik, buang buruknya. Mengapa? Agar peradaban umat manusia semakin bertambah baik dari masa ke masa.

Tak hanya tradisi budaya, dalam lingkup budidaya perairan atau akuakultur pun demikian. Beragamnya spesies endemik atau khas di suatu wilayah merupakan kekayaan alam hayati yang menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat yang mendiami wilayah tersebut. Kecocokan antara spesies dengan iklim dan ekosistem alam yang lengkap dengan segala tantangannya, dari sudut ketahanan pangan, tentu bisa lebih diandalkan.

Salah satu spesies ‘pribumi asli’ dari perairan Indonesia adalah udang windu. Dalam sejarah budidayanya, udang ini telah membuktikan kedigdayaannya sebagai salah satu komoditas perikanan yang banyak diminati masyarakat lokal. Cita rasa udang windu yang ‘spesial’ di lidah para penikmat kuliner seafood segera menjadikannya primadona. Tak hanya beredar di pasar domestik, udang windu pun melenggang di pasar global.

Berita harga udang windu yang ‘aduhai’ di pasar ekspor segera tersiar. Petambak mendapat untung besar. Dengan segera, lahan tambak di pesisir pantai pun dibuka untuk menggenjot produksi dan mendulang devisa, berhektar-hektar. Beragam kalangan masyarakat mengadu nasib dengan kekuatan modalnya masing-masing, dari yang bermodal kecil hingga berkantong tebal. Pada era tahun 80—90-an, tercatat sebagai masa keemasan dan kejayaan sang udang pribumi primadona.

Artikel Populer:  Ikatan Alumni Perikanan Undip dan BBPBAT Sukabumi Inisiasi Penerapan Culture-Based Fisheries di Situ Tujuh Muara Tangerang Selatan

Sayang, hasrat mendapat untung berlipat membuat banyak petambak silap. Padat tebar dibuat semakin rapat tanpa mempertimbangkan lagi kapasitas daya tampung lahan dan lingkungan. Kualitas lingkungan perairan sekitar tambak, tempat di mana air diambil dan dibuang, segera menurun. Wabah penyakit pun dengan segera menyebar dan menyerang tanpa ampun.

Dua virus yang melekat di benak Nunung Nurhayat Daman, petambak udang windu dari Pontianak, Kalbar, adalah monodon bacula virus (MBV) dan white spot syndrome virus (WSSV). Bagi para petambak udang windu, nama terakhir yang disebut menjadi ancaman, bak hantu pembunuh yang terus menyebar teror di malam hari. Begitu banyak memangsa korban tanpa mampu dibendung dan dicarikan langkah pencegahan.

Berhektar-hektar lahan tambak yang dibangun dengan harapan besar itu pun mangkrak. Tak sedikit perusahaan penopang usaha budidaya bertumbangan. Meskipun tak sampai punah, budidaya yang dicoba untuk dibangkitkan kembali tak lagi seperti dulu.

Industri perudangan, khususnya di sektor budidaya, kembali bergairah dengan masuknya komoditas udang baru dari luar Amerika Serikat. Diklaim sebagai jenis yang lebih tahan terhadap serangan penyakit dan menghasilkan tingkat produktivitas yang tinggi, udang vaname L. vannamei digadang-gadang sebagai komoditas yang mampu mengembalikan kejayaan udang Indonesia.

Artikel Populer:  Bahu-membahu Hadapi Penyakit

Didukung dengan riset dan teknologi yang terus berkembang, vaname segera menjadi primadona baru di kalangan petambak. Apalagi, Amerika Serikat sebagai penyuplai indukan bersedia membuka pasarnya sebagai tujuan ekspor udang asal Indonesia. Menurunnya pasokan udang windu dunia menjadikan uadang vaname sebagai komoditas pengisi kekosongan yang segera diminati pasar dunia.

Tak dipungkiri, kehadiran vaname mampu membuat tambak-tambak mangkrak kembali menggeliat. Beragam upaya dilakukan para praktisi untuk mengaktifkan kembali tambak mangkrak dengan kapasitas modal yang ada. Salah satu upaya yang dilakukan oleh salah satu pelaku usaha budidaya, yaitu CPP, adalah membangun RTVe atau Rumah Tangga Vaname. Dengan model budidaya ini, petambak tetap bisa menjalankan usaha budidaya udang secara ekonomis di lahan tambak dengan luasan yang relatif kecil. Tentu saja degan dukungan sistem dan budidaya yang memadai.

Hadirnya primadona baru tak lantas menghilangkan kenangan kejayaan primadona lama, terlebih primadona lama ini ‘asli pribumi’. Selain memiliki cita rasa yang diakui dunia, ketersediaan induk udang windu berkualitas di alam Indonesia masih sangat bisa diandalkan, berbeda dengan indukan vaname yang masih harus tergantung pada impor.

Berkaca pada hubungan antar-negara yang tak selalu berjalan mulus, memiliki sumberdaya yang bisa dikelola dari hulu ke hilir secara mandiri tentu menjadi nilai lebih tersendiri. Sumber indukan udang windu berkualitas sudah ada, bahkan KKP telah berhasil menghasilkan indukan dan benih SPF. Meskipun begitu, penelitian terus dilakukan agar indukan mampu menghasilkan benur sesuai dengan tingkat kebutuhan yang diinginkan.

Artikel Populer:  “Kerapu” Siap Berkontribusi untuk Sektor Perikanan

Membangkitkan kembali kejayaan udang windu bukan berarti menegasikan keberadaan vaname yang telah nyata berjasa dalam memproduktifkan kembali tambak mangkrak. Membangkitkan kembali kejayaan udang windu bisa diartikan sebagai langkah untuk mengamankan stok Indonesia sebagai salah lumbung udang dunia, yang tak hanya mampu memproduksi udang endemik, tetapi juga mampu menghasilkan jenis introduksi dari luar wilayah. Di samping nilai ekonomis, menggalakkan kembali budidaya udang windu juga merupakan upaya untuk melestarikan nilai ekologis penting udang endemik dan pembentuk keragaman plasma nutfah Indonesia. (Rch)

Similar Posts:

    None Found
Artikel Sedang Trending
Kurangi cost produksi budidaya udang vaname dengan sistem  Synbiotics Shrimp Club Indonesia (SCI) Lombok &
Menteri Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo menghadiri pembukaan Aquatica Asia dan Indoaqua 2019
Di sela-sela rapat yang digelar selama dua hari, 27-28 Maret 2019 di Hotel Santika BSD
Para pembicara dan moderator, dari kiri ke kanan: Andi Eka Satya, Yusuf S. Djajadihardja, Albertus
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggelar Rapat Koordinasi perkembangan Regulasi Pakan dan Obat Ikan pada

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.