Musim Kemarau Tiba, Petambak Waspada

Sejumlah petambak udang vaname di Indonesia mengaku kesulitan membesarkan udangnya lantaran kadar garam air saat ini cukup tinggi. Hal itu disebabkan cuaca yang sangat terik, hingga memicu peningkatan kadar garam pada air laut yang digunakan sebagai media budidaya.

Kondisi tersebut mampu mempengaruhi perkembangbiakan udang vaname, siklus budidaya menjadi lebih lama jika dibanding dengan kondisi normal. Dengan demikian, akan berimbas pada membengkaknya biaya produksi.

Musim kemarau identik dengan kekeringan, bahkan air laut yang digunakan media budidaya pun ikut mengalami perubahan suhu dan salinitas. Siklus panen bisa molor sehingga biaya pakan, listrik, perawatan lainnya juga membengkak.

Jika dalam kondisi normal proses budidaya hanya selama dua-tiga bulan, dengan kondisi seperti sekarang proses produksi molor hingga 20 hari sampai satu bulan. Hasil panen akan semakin menurun, bahkan kadang merugi jika tidak dibarengi dengan kenaikan harga udang.

Biasanya panen udang sendiri dilakukan hingga beberapa tahapan. Tahap pertama yakni untuk mengurangi populasi udang dalam tambak demi pertumbuhan sebagian udang lainnya, dilakukan pada bulan kedua sejak penebaran, dinamakan panen parsial.

Sepuluh hari kemudian, akan disusul panen berikutnya dengan mengambil separuh jumlah udang pada tambak, dan terakhir dilakukan sepuluh hari setelah panen kedua dengan menguras habis jumlah udang pada tambak.

Jika kondisi normal, ukuran udang bisa sampai size 30, artinya satu kilogram ada 30 ekor. Tapi  saat musim kemarau bisa sampai pada size 40, itupun sangat sulit dan harus diperhatikan betul proses budidayanya. Jadi, untuk Anda para pelaku usaha budidaya udang harus tetap waspada dan memiliki rencana sigap menghandapi musim kemarau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.