Upaya Melestarikan Populasi Ikan Uceng (Nemacheilus fasciatus), Ikan Endemik Asal Temanggung

Upaya Melestarikan Populasi  Ikan Uceng  (Nemacheilus fasciatus),  Ikan Endemik Asal Temanggung

Penulis : Yosephine Dwi Retnaningsih

Ikan Uceng dalam bahasa latin Nemacheilus fasciatus merupakan ikan endemik asal Temanggung.  Produk olahannya berupa ikan uceng goreng yang terkenal karena rasanya yang gurih dan lezat serta bergizi tinggi.  Walaupun harganya cukup fantastis dibanding produk ikan goreng lainnya, namun produk ini selalu dicari oleh penggemarnya baik dalam maupun luar kabupaten Temanggung.  Saat ini harga uceng goreng mencapai kisaran harga Rp.370.000,- per kg.  Sedangkan uceng segar  berkisar antara Rp. 75.000 – 90.000 per kg.

Sebagai  salah satu komoditas unggulan dari  Kabupaten Temanggung,  ikan Uceng Temanggung juga  telah memperoleh sertifikat ‘Indikasi Geografis’ dari Kemenkumham RI, yang  bertujuan untuk melindungi produk olahan ikan uceng goreng Temanggung dari kemungkinan terjadinya pemalsuan produk yang berdampak buruk bagi reputasi dan kesejahteraan pelaku usahanya.

Meningkatnya permintaan akan produk ikan uceng goreng terkadang belum bisa terpenuhi karena ikan uceng belum bisa dibudidayakan sehingga produksinya hanya mengandalkan dari hasil tangkapan nelayan perairan umum.    Sementara pada tahun-tahun terakhir ini ada kecenderungan bahwa jumlah hasil tangkapan ikan uceng mengalami penurunan karena makin tingginya intensitas penangkapan ikan uceng, pencemaran, penebaran ikan invasif dan masih adanya aktivitas illegal fishing.  Hal ini menjadikan ancaman bagi kelestarian populasi ikan uceng.

Oleh karena itu pada tahun 2015 – 2018 Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Temanggung mengadakan perjanjian kerjasama dengan Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Air Tawar  Bogor untuk melakukan penelitian dan pengembangan domestikasi ikan uceng dengan tujuan agar ikan uceng bisa dibudidayakan.

Domestikasi ikan uceng bertujuan untuk mengadaptasikan organisme liar dalam kondisi  budidaya sehingga berlangsung seleksi performa terbaik secara alamiah yaitu individu yang dapat merespon kondisi lingkungan budidaya dapat bertahan hidup, menerima pakan buatan  serta dapat tumbuh dan berkembang biak dengan baik (Ath-thar, et al. 2018).

Secara morfologis, ikan uceng (Nemacheilus fasciatus) merupakan ikan yang mempunyai  ukuran tubuh kecil (maksimal hanya 10 cm) dengan ciri-ciri perut rata, mempunyai sungut, badan pipih datar memanjang dengan garis-garis hitam.  Habitat ikan uceng adalah di sungai di daerah pegunungan yang memiliki dasar bebatuan, dangkal, jernih dan memiliki aliran air sedang sampai deras.

Kerjasama penelitian yang dilakukan telah membuahkan hasil dengan berhasilnya ikan uceng beradaptasi dengan lingkungan buatan di akuarium dan bak fiber, merespon pakan buatan yang diberikan dan dapat dipijahkan dengan metode induce breeding.  Metode ini berhasil menghasilkan larva sejumlah kurang lebih 1500 ekor per induk.

Setelah kerjasama penelitian selesai, program kerja selanjutnya dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Temanggung (yang sejak tahun 2020 digabung dengan Dinas Pertanian menjadi Dinas  Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Temanggung)  adalah memproduksi ikan uceng untuk ditebar ke perairan umum (restocking) dalam rangka pengkayaan stock (stock enhancement) guna melestarikan populasi ikan uceng.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Kristanto dan Dewi (2021) yang menyebutkan bahwa pemanfaatan ikan yang telah terdomestikasi, salah satunya adalah untuk kegiatan restocking (penebaran kembali), khususnya pada ikan lokal yang telah mengalami penurunan populasi  dan juga bertujuan untuk menjaga kelestariannya.

Kegiatan produksi ikan uceng dilakukan dengan melakukan proses pemijahan ikan uceng di laboratorium BBI Mungseng.  Saat ini pemijahan tidak lagi menggunakan metode induce breeding, tapi sudah dilakukan  secara alami.

Menggunakan wadah budidaya berupa akuarium berukuran 70x40x40 cm yang dibuat menyerupai habitat aslinya dengan diberikan pasir atau kerikil pada dasar kolam. Akuarium  diisi air bersih setinggi 25 cm dan dilengkapi dengan aerasi.  Kondisi kualitas air dibuat tidak berbeda jauh dengan lingkungan aslinya  yaitu dengan suhu antara 24-28 ⁰C, derajat keasaman (pH) antara  7-9 dan oksigen terlarut diatas 5 ppm.  Menurut Prakoso et al (2016) kualitas air dalam akuarium pemeliharaan ikan uceng merupakan variabel yang sangat berpengaruh terhadap sintasan, reproduksi, pertumbuhan, pengelolaan dan produksi ikan.  Parameter suhu dan oksigen terlarut memegang peran paling penting berkaitan dengan sistem monitoring dalam budidaya.

Pada saat  ini stok induk uceng yang ada terdiri dari induk jantan sejumlah 120 ekor dan induk betina 189 ekor.  Pemberian pakan untuk induk ikan uceng yang semula masih menggunakan campuran berupa cacing sutera dan pakan buatan, saat ini sepenuhnya sudah diberikan pakan buatan berupa pellet protein tinggi (39%).  Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari dengan dosis 2% dari bobot biomass.

Sebelum induk ikan dipijahkan, dilakukan seleksi dengan melakukan pengamatan secara visual pada induk yang telah berumur diatas 6 bulan.  Induk ikan yang sudah diseleksi dan telah matang gonad kemudian dipijahkan pada akuarium terpisah.  Dalam 1 akuarium dimasukkan 1 ekor induk betina dan 1 ekor induk jantan.

Pemijahan akan berlangsung 8-10 jam setelah ikan dipasangkan. Saat akan bertelur, induk betina mencari tempat di antara pasir dan bebatuan dalam air.  Bersamaan dengan itu induk jantan akan mengeluarkan sperma sehingga terjadi fertilisasi eksternal. Apabila pemijahan ikan uceng berhasil ditandai dengan adanya busa-busa di permukaan air dan tercium bau amis pada akuarium tersebut.  Setelah pemijahan selesai, induk jantan dan betina dikembalikan pada akuarium induk untuk proses recovery.

Telur ikan uceng bersifat tenggelam dan terlihat di dasar akuarium.  Telur yang berhasil dibuahi akan berwarna transparan dan akan menetas setelah 6-8 jam.  Larva tidak diberi pakan selama 3 hari karena masih mempunyai cadangan makanan (eggyolk).  Pada hari ke-4 larva mulai diberi pakan berupa kuning telur yang telah direbus, dihaluskan dan diencerkan.  Pemberian pakan tersebut berlangsung selama 1 minggu, dan selanjutnya larva diberikan pakan buatan dalam bentuk tepung (protein 39%) selama 2 minggu.  Setelah itu ikan diberikan pakan buatan dalam bentuk pasta selama 1 bulan dengan pemberian pakan alami berupa cacing sutera sampai benih ikan berumur lebih kurang 2 bulan.

Setelah dipelihara dalam akuarium selama 2 bulan, ikan dipindah ke bak fiber untuk tahap pendederan.  Tahapan ini berlangsung selama kurang lebih 2 bulan, hingga ikan mencapai ukuran 3-5 cm dan siap ditebar ke perairan umum.

Menurut penjelasan Ismiyati, S.Pi (tenaga teknis pembenihan ikan uceng BBI Mungseng yang sejak tahun 2015 terlibat sebagai tim teknis dalam kerjasama penelitian uceng), dalam 1 kali proses pemijahan, akan dihasilkan telur lebih kurang 1000 ekor, dengan potensi menjadi  larva pada kisaran 60-70%.  Dalam proses pemeliharaan selanjutnya yang memakan waktu sekitar 4 bulan akan dihasilkan ikan uceng ukuran 3-5 cm sejumlah 250-300 ekor yang siap untuk ditebar ke perairan umum.

Sejak tahun 2019 hingga tahun 2021 telah rutin dilakukan penebaran ikan uceng dengan jumlah total 11.500 ekor ke sejumlah sungai di Kabupaten Temanggung yang merupakan habitat asli ikan uceng.  Diharapkan ikan uceng yang merupakan generasi F2 dan F3 tersebut bisa berkembang biak sehingga populasi ikan uceng dapat meningkat.

Pada tahun 2022 ini, target jumlah benih uceng yang akan ditebar ke perairan umum adalah 5000 ekor. Oleh karena itu intensitas pemijahan ditingkatkan sehingga produksi benih ikan uceng bisa memenuhi target.  Mengingat belum bisa dipijahkan secara masal, maka dilakukan pemijahan selama 2 kali dalam satu bulan masing-masing dengan induk 3 sampai 4 pasang.

Saat ini masih terus dilakukan eksperimen oleh tim teknis agar induk uceng bisa dipijahkan secara masal. Harapan ke depannya produksi benih ikan uceng dapat ditingkatkan  guna mencukupi kebutuhan untuk restocking maupun diuji coba untuk dibudidayakan sampai ukuran konsumsi.

Sebagai upaya timbal balik dengan telah dilaksanakannya penebaran ikan uceng di sungai, maka perlu adanya partisipasi masyarakat untuk meningkatkan pengawasan terhadap adanya illegal fishing, pencemaran dan penebaran ikan invasif yang bisa mengganggu keseimbangan ekosistem dan menyebabkan ikan uceng yang ditebar tidak bisa berkembang biak.

Selain itu diperlukan juga kesadaran dari masyarakat untuk selalu melakukan penangkapan ikan menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan.  Biasanya nelayan Temanggung menangkap uceng menggunakan alat tangkap tradisional seperti halnya ‘telik’ atau ‘icir’ yang merupakan alat perangkap kecil dan alat tangkap tradisional lain seperti bubu/posong, dan seser.  Penggunaan alat-alat tangkap tersebut patut dipertahankan untuk menjaga kelestarian ikan uceng.

Berbagai upaya yang dilakukan tersebut diatas diharapkan mampu mengembalikan jumlah populasi ikan uceng di perairan umum Kabupaten Temanggung sehingga memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha di sektor terkait.

Daftar Pustaka :
Ath-thar, M.H. , Ambarwati,A., Soelistyowati D.T., Kristanto A.H. 2016.  Keragaan Genotipe dan Fenotipe Ikan Uceng Nemacheilus fasciatus (Valenciennes, 1846) asal Bogor, Temanggung dan Blitar;

Kristanto, A.H., Dewi , S.P.S. 2021.  Strategi Pengembangan dan Pemanfaatan Budidaya Ikan-ikan Lokal dalam Dokumen Pembenihan Ikan Air TAwar Asli Perairan Indonesia (Halaman 154-168);

Prakoso, V.A. Ath-thar M.H.F, Subagja J, Kristanto. 2016. Pertumbuhan Ikan Uceng (Nemacheilus fasciatus) dengan Padat Tebar Berbeda dalam Lingkungan Ex Situ.  Jurnal Riset Akuakultur, 11 (4) 2016 355-362;

*) Pengawas Perikanan Bidang Pembudidayaan Ikan Ahli Madya
Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Temanggung

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.