Penerapan biosekuriti yang lemah memudahkan terjadinya wabah. Penyakit akan mudah menyebar dengan cepat ke tambak berikutnya.
Hal itu disampaikan Maono Van Daswan, Regional Sales Manager (Central Region) Indonesia Perusahaan Pakan Udang, PT Grobest Indomakmur. “Munculnya kematian akibat serangan penyakit menyebabkan kita kesulitan dalam menghitung ulang survival rate sehingga kesulitan pula dalam mengatur program pakan. Adanya kematian juga menyebabkan FCR naik tajam. Jika pengambilan keputusan tidak cepat dan tepat akan menyebabkan kerugian yang sangat besar,” tuturnya.

Menurut Maono, penyakit udang yang ada di Indonesia dan masih menjadi momok adalah AHPND (acute hepatopancreatic necrosis disease), WFD (White feses Disease), WSSV (white spot syndrom virus), IMNV (infectious myo necrosis virus), TSV (taura syndrome virus), IHHNV (infectious hypodermal and hematopoietic necrosis virus). “Dan masih ada jenis penyakit disebabkan virus, tetapi sudah jarang terjadi, seperti YHD (yellow head disease),” tambahnya.
Penularan dan penyebaran penyakit
Secara umum, munculnya penyakit dimulai dari menurunya kualitas air atau terjadi perubahan kualitas air, baik secara fisika, kimia, maupun biologi. Maono memberi contoh terjadinya penumpukan bahan organik akibat dari crash plankton, sisa pakan, kotoran udang, cangkang molting, sisa bahan fermentasi. Pada kondisi tersebut, terjadi fluktuasi pH dan penurunan DO.
“Jika tidak secepatnya dibersihkan dengan teratur akan timbul pembusukan di dasar kolam maupun kolom air. Kondisi seperti ini akan memicu peningkatan bahan beracun serta meningkatnya mikroorganisme patogen seperti Vibrio sp. Kondisi kualitas air yang tidak standar melemahkan kondisi udang yang ada di dalam tambak,” terang Maono.
Saat kondisi DO turun dan gas beracun meningkat, udang menjadi lemah. Saat itulah vibrio dan virus yang masuk ke dalam tubuh udang akan merusak jaringan yang sangat vital, yaitu hepatopankreas. Jaringan hepatopankreas akan rusak, lipid droplet menurun, nafsu makan udang menurun, sampai akhirnya terjadi kematian pada udang. Selanjutnya, udang yang mati akan dimakan oleh udang yang masih sehat (kanibalisme) dan udang yang sehat tersebut akan tertular sehingga ikut sakit dan mati.
Penularan dan penyebaran penyakit juga dapat melalui peralatan tambak, manusia, binatang, udara, kendaraan, atau faktor lainnya. Oleh karena itu semua yang akan masuk ke tambak harus dipastikan steril dengan menerapkan biosekuriti yang ketat.
Dany Yukasano, National Technical Solution Manager Grobest Indonesia, juga memberikan pernyataan senada. Menurutnya, penyebaran penyakit dapat melewati jalur oral, yaitu tertelan dan masuk ke dalam tubuh inangnya. Selain itu, penularan penyakit dapat melewati kohabitasi dan waterborne. Pada kohabitasi, penularan disebabkan udang sehat hidup bersama dalam satu lingkungan dengan udang yang sakit. Sementara pada waterborne, penularan melalui air yang mengandung patogen, yang mengalir masuk ke tambak tempat hidup udang yang sehat.
“Secara prinsip, patogen harus mengalami kontak dulu dengan udang, baik tertelan atau pun menempel pada udang. Selanjutnya, patogen akan berkembang dalam tubuh udang dan jika mencapai jumlah tertentu akan memunculkan tanda klinis,” terang Dany.

Menghadang wabah
“Wabah atau out break adalah kondisi ketika terjadi ledakan penyakit dalam jumlah di luar normal di suatu lokasi tertentu,” tutur Dany. Wabah penyakit terjadi pada saat populasi udang (inang) yang banyak disertai peningkatan jumlah patogen yang luar biasa akibat lemahnya biosekuriti. Diperparah dengan kondisi kualitas air atau lingkungan yang buruk sehingga melemahkan inang dan memicu ledakan penyakit.
Adapun ciri atau gejala adanya serangan penyakit sangat beragam, tergantung jenis penyakit dan organ yang diserang. Dany mencontohkan, serangan IMNV menyebabkan 3 ruas ekor terakhir menjadi putih dan jika parah menjadi kemerahan; serangan WSSV ditunjukkan dengan mortalitas masal secara mendadak atau munculnya bintik putih pada karapas udang; serangan AHPND ditandai dengan hepatopankreas yang memutih, mengecil, dan menjadi liat jika ditekan. Sementara serangan WFD ditandai dengan munculnya kotoran udang berwarna putih yang mengambang di permukaan air tambak. Adapun serangan EHP ditandai dengan variasi ukuran udang yang luar biasa, dengan lebih dari 50% populasi yang tidak mau tumbuh.
“Cek PCR adalah metoda pengecekan yang paling akurat dan diperlukan untuk konfirmasi hasil pengamatan visual di lapangan,” ujar Dany.
Terkait munculnya wabah penyakit, Maono mengatakan akan terjadi jika kondisi cuaca sangat buruk. Penyebab lainnya yaitu penerapan biosekuriti yang sangat buruk; kurang cepat dalam menangani kasus penyakit dalam satu tambak; kondisi konstruksi yang sangat buruk, misalnya banyak terjadi kebocoran, saluran masuk air terhubung dengan saluran keluar air, atau farm tidak memiliki IPAL yang ideal; serta penangan panen udang yang terkena penyakit atau penerapan biosekuriti panen yang sangat buruk.
Pengendalian penyakit
“Konsep budidaya yang paling aman terhadap serangan penyakit adalah sebagaimana konsep yang disarankan Snietzko, yaitu peningkatan sistem imun udang, aplikasi biosekuriti, dan manajemen lingkungan yang baik,” kata Dany.
Lingkungan yang baik adalah lingkungan dengan keragaman (diversity) yang tinggi. Dengan begitu, tidak ada dominasi plankton atau dominasi bakteri. Jumlah vibrio ditekan serendah mungkin dengan aplikasi probiotik. Sementara pemberian mineral agar komposisi mineral di tambak mendekati kondisi alaminya.
Serangan penyakit hanya dapat dicegah jika kehadiran patogen ke dalam sistem ditekan dengan penerapan biosekuriti dan manajemen lingkungan diterapkan agar selalu optimal untuk udang. “Dan tidak kalah penting, udang harus selalu fit, seperti orang yang selalu minum multivitamin dan immunobooster agar lebih kuat menghadapi Covid,” jelas Dany.
Merujuk pendapat Snietzko, Dany mengatakan bahwa cara pengendalian penyakit meliputi beberapa hal. Pertama, pemilihan inang yang sehat dengan memilih benur SPF dan kuat terhadap penyakit serta pemberian functional feed sejak awal agar udang lebih kuat saat munculnya paparan penyakit. Kedua, biosekuriti yang baik, meliputi pemilihan desinfektan yang tepat, manajemen tambak individual, dan pembangunan IPAL yang bagus. Selain biosekuriti tambak, harus diterapkan juga biosekuriti wawasan dan antar-negara. Ketiga, manajemen lingkungan, meliputi manajemen kualitas air dan dasar tambak serta pembangunan IPAL yang memadai. Hal ini penting agar tambak tidak mencemari lingkungan dan dapat memperlambat laju penyebaran penyakit.
“Penyakit seperti AHPND dan IMNV akan menyerang pada DOC 20 hari,” ujar Heru Setyawan, Sales Area Indonesia Barat PT. Sekar Golden Harvesta Indonesia.
Menurut Heru, kerugian secara ekonomis yang ditimbulkan penyakit sangat besar. Udang yang terserang penyakit susah untuk disembuhkan atau diobati. Dengan begitu, langkah yang bisa dilakukan yaitu melakukan pencegahan dengan persiapan lahan secara maksimal, manajemen air, manajemen pakan, dan pengendalian penyakit dengan mengendalikan pertumbuhan vibrio.
“Teknologi bisa disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Namun yang terpenting adalah pengendalian vibrio. Vibrio ini harus dikendalikan karena semua penyakit disebabkan oleh vibrio,” jelas Heru.
Maono pun berpendapat senada. “Untuk pengobatan, saya pikir tidak ada dalam budidaya udang selama ini, yang ada adalah pengendalian dan pencegahan,” terangnya. Secara lebih terperinci, Maono menyebutkan beberapa hal yang perlu diperhatikan para petambak.
- Memilih lokasi budidaya yang tepat
- Melakukan perbaikan konstruksi atau membuat konstruksi tambak udang sesuai dengan kaidah ramah lingkungan dan berkelanjutan.
- Memastikan dalam satu tambak memiliki sumber air yang cukup dan baik; memiliki reservoir; memiliki treatmeny pond, minimal 25%—30% dan/atau lebih dari total volume tambak budidaya; saluran masuk dan keluar air tidak terhubung, serta adanya
- Melakukan penerapan biosekuriti yang ketat.
- Melakukan persiapan lahan dan persiapan air yang baik, sesuai SOP.
- Memilih benur yang baik dan mempunyai sertifikasi yang jelas.
- Melakukan penebaran benur dengan
- Menyesuaikan padat tebar dengan daya dukung yang ada.
- Mengontrol manajemen kualitas air dan dasar tambak yang terukur.
- Mengontrol manajemen pakan yang akurat serta terukur.
- Mengontrol kesehatan udang serta melakukan sampling pertumbuhan dan sampling populasi secara berkala.
- Melakukan proses panen dengan kaidah biosekuriti yang benar.
Terkait dengan serangan WSSV, Sukri Y Jambak, Manager Budidaya Saung Naga Soedirman Farm, Tanggerang, menambahkan perlunya para pelaku budidaya udang menerapkan strategi tebar sebagai antisipasi menghadapi musim penghujan dan fenomena bediding. Caranya dengan mengatur bulan tebar dan kepadatan tebar sebagai antisipasi dan meminimalkan risiko kegagalan yang lebih fatal. Peningkatan sistem imun juga perlu diperhatikan dengan memberikan asupan pakan yang mengandung beberapa komponen imunomodulator, yang dapat menjadi pilihan sebagai upaya teknis dalam meminimalkan serangan penyakit dalam budidaya udang.
“Beberapa produsen pakan, probiotik, dan obat-obatan telah mengeluarkan produk yang diklaim mampu mencegah serangan penyakit dengan bahan yang terkandung di dalamnya. Namun, jika pelaku budidaya tidak melaksanakan SOP budidaya dengan baik, semua bahan-bahan tersebut tidak berperan signifikan,” ujar Paian Tampubolon.
Menurut Paian, hal itu disebabkan untuk mempertahankan kondisi udang agar selalu sehat yaitu dengan merawat lingkungan hidupnya. Adapun bahan tambahan lainnya hanya untuk melengkapi kekurangan yang ada dalam air kolam dan diharapkan membantu proses alami secara kimia dan biologi, yang harus berlangsung secara normal. (RA/Adit/Resti)

