Dari beberapa jenis penyakit yang menyerang udang , WSSV (white spot syndrom virus) adalah penyakit yang menjadi “momok” sangat menakutkan bagi petambak udang. Pasalnya?
“Karena keganasan serangan terhadap mortalitas yang diakibatkannya,” ungkap Sukri Y Jambak memberi alasan.

Lebih lanjut, Teknisi Tambak Saung Naga Soedirman Farm, Tanggerang, itu menerangkan bahwa kecepatan kontaminasi WSSV, baik melalui media budidaya maupun kanibalisme, dapat terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Bahkan, tingkat mortalitas yang terjadi ketika virus ini menyerang satu petakan tambak dapat mencapai 90% bahkan 100% dalam hitungan waktu 3 hari paska-terinfeksi.
Musim hujan dan ketika musim “bediding” saat kemarau panjang merupakan kondisi ketika serangan WSSV umum terjadi. Salinitas dan suhu rendah merupakan pemicu berjangkitnya penyakit ini.
Bediding atau sering dilafalkan sebagai “mbediding“ adalah kondisi ketika suhu udara menjadi sangat dingin menjelang malam hari hingga pagi pada musim kemarau panjang. Umumnya, kondisi ini terjadi pada bulan Juni hingga agustus pada setiap tahunnya.
Terjadinya musim bediding dipengaruhi musim dingin di Australia yang menghembuskan angin atau udara dingin ke asia dan melewati pulau jawa. Pada musim bediding, tidak terjadi turun hujan dan tidak ada awan pada malam hari. Dengan begitu, pelepasan panas bumi tidak terhalangi awan yang menyebabkan suhu bumi menjadi lebih dingin pada malam hari.
Kondisi fluktuasi suhu diurnal atau harian cukup ekstrim. Suhu siang menjadi sangat panas dan pada malam hari berubah menjadi sangat dingin, terutama menjelang pagi hari. Ketika musim bediding, suhu pagi hari mencapai 20 oC, bahkan pada puncak bediding di daerah Kendal pernah mencapai 19 oC.
Kondisi suhu yang sangat dingin tersebut menjadi pemicu kasus serangan WSSV yang parah. Pada pagi yang dingin tersebut ditemukan 3 kolam tanda-tanda serangan WSSV. Sementara pada siang harinya, saat dilakukan pengecekan ke dasar kolam tersebut, ditemukan mortalitas yang cukup tinggi, hingga puluhan kilogram.
Suhu akan mempengaruhi sistem kekebalan tubuh udang yang dapat berakibat kekritisan, bersamaan adanya patogen. Suhu lebih rendah dapat menurunkan jumlah hemosit (hemosianin) yang mengalir pada sistem tubuh udang dan menurunkan kemampuan fagositosis sel darah udang untuk menangkal patogen yang menginfeksi. Sistem kekebalan tubuh hewan akuatik biasanya berfungsi sangat efisien pada kisaran suhu untuk pertumbuhan, yaitu pada kisaran 27—29 oC. Sementara pada suhu yang lebih tinggi atau lebih rendah, sistem imunitas kurang efektif untuk mencegah penyakit.
Pada umumnya, gejala yang ditimbulkan serangan WSSV yaitu udang melayang ke permukaan air dengan warna tubuh agak kemerahan atau berdiam pasif di tepi tambak. Jika cangkang kepalanya (karapas) dilepas, terdapat adanya bintik putih.

Momok paling menakutkan hingga saat ini
Jika diberi soal momok mana yang paling menakutkan bagi para petambak udang, tentu akan relatif jawabannya. Jenis penyakit paling menakutkan tergantung dari jenis penyakit yang pernah ditemukan menyerang dan tingkat kerugian yang dihasilkan.
Menurut Teguh Setyono, Manager Farm PT Dua Putra Perkasa, ada dua penyakit yang menjadi momok saat ini, yaitu IMNV (infectious myonecrosis virus/myo) dan AHPND/EMS (acute hepatopancreatic necrosis disease/early mortaly sindrome). IMNV disebabkan virus, sedangkan AHPND oleh bakteri. Pola rawan penyebaran IMNV terjadi saat panas terik, yang menyebabkan kematian plankton. Selain itu, amoniak dan nitrifikasi memicu serangan virus. Virus biasanya menyerang saat udang berumur 40—70 hari, saat pakan puncak dan kualitas air jadi faktor pembatas.
“Sementara AHPND bisa menyerang dari DOC 7—40 hari dan bisa berulang saat kualitas air buruk. Keberadaannya dihat dari kematian di ancho atau sifon awal dari umur 8—20 hari dan kematian di dasar. Untuk lebih akuratnya perlu dicek dengan PCR,” ujar Teguh.
Serupa dengan Teguh, tetapi ada satu penyakit tambahan. Prapto Marcel, TS Nasional De heus Indonesia, mengungkapkan bahwa penyakit yang menjadi momok saat ini ada tiga. “Data pantauan saya mulai tahun 2020—April 2023, dari total 2.399 kolam, yang panen normal 39,9 %, sisanya terkena penyakit 60,1%. Adapun penyakit tersebut adalah IMNV sebanyak 58%, WSSV 18,4%, dan AHPND 15,7%. Sementara WFD hanya 2,2% dan infeksi ganda IMNV plus WFD sebanyak 5,8%,” terang Prapto.
“Kerugian yang terjadi akibat penyakit di atas yaitu gagal panen, flusing pada DOC kurang dari 30. SR turun 10—20% dan FCR tinggi. Panen dini sehingga secara ekonomis pasti petambak akan rugi,” terangnya.
Sementara Narendra Santika Hartana, Animal Health Supervisor PT Suri Tani Pemuka, menambahkan satu penyakit lagi. Menurutnya, ada empat penyakit yang masih menjadi momok petambak udang saat ini, yaitu IMNV, AHPND, WSSV, dan EHP (enterocytozoon hepatopenaei).
“EHP disebabkan oleh mikrosporidia yang ‘menyuntikkan’ polar tube ke dalam sel udang, yang selanjutnya membentuk dan memperbanyak diri dengan pembentukan spora. Akibatnya, hepatopankreas pucat dan keseragaman udang menjadi rendah,” ujar Narendra.
Mengendalikan teror si ‘hantu tambak’
Paian Tampubolon, Technical & Marketing Area PT. Thai Union Kharisma Lestari, pun menyajikan empat jenis penyakit yang menjadi momok bagi petambak udang hingga saat ini. Bedanya, jika Narendra memasukkan EHP, Paian memasukkan WFD (white feses diseases). Lebih lanjut, Paian menjelaskan rinci gambaran keempat jenis penyakit udang tersebut.
IMNV (infectious myonecrosis virus)
IMNV disebabkan oleh virus dan pertama sekali ditemukan di Brazil pada tahun 2003, sedangkan di Indonesia ditemukan di Situbondo pada Juli 2006. Adapun mekanisme penularanya dapat terjadi secara vertikal atau infeksi bawaan dari induk serta horizontal atau infeksi dari perairan atau tambak sekitarnya.
Serangan IMNV akan meningkat seiring dengan peningkatan suhu, salinitas, dan pH. Gejala klinisnya terlihat dari udang yang terinfeksi IMNV biasanya akan menepi ke pinggir tambak, muncul warna putih seperti kapas pada otot daging, nekrosis di pangkal ekor berwarna merah, kulit terkelupas dan bagian ujung ekor berwarna merah, nafsu makan dan daya tahan tubuh menurun, serta pertumbuhan lambat dan terlihat lemah. Waktu inkubasi IMNV 6 hari dan mengakibatkan kematian dalam 13 hari dengan tingkat kematian 40—70%.
Pengendalian IMNV dapat dilakukan dengan memilih induk dan benur yang terbebas dari penyakit untuk meminimalkan risiko. Selain itu, kepadatan penebaran dikurangi agar memberikan lebih banyak ruang untuk hidup udang sehingga dapat mengurangi tingkat stres pada udang.
Adapun penanganan jika telah terinfeksi IMNV, stabilkan kualitas air seperti suhu, salinitas, dan pH. Gunakan probiotik dan kapur secara rutin di pagi hari. Kontrol pakan dengan mengurangi 30—50% dari keadaan normal hingga kematian berkurang sampai tidak ada tingkat kematian. Tingkatkan kadar oksigen terlarut melalui aerasi. Berikan bahan-bahan yang dapat meningkatkan daya tahan (imun) udang. Kendalikan pertumbuhan bakteri sebagai pesaing laju perumbuhan plankton.
AHPND (acute hepatopancreatic necrosis disease)
AHPND disebabkan oleh bakteri gram negatif Vibrio parahaemolyticus. Penyakit ini dapat mengakibatkan kematian di awal budidaya (DOC kurang dari 30 hari). Ciri-cirinya, hepatopankreas menyusut, udang terlihat pucat, nafsu makan rendah, dan selanjutnya udang mati. Hal ini disebabkan racun dari plasmid Vibrio parahaemolyticus yang bersatu dengan vibrio lain sehingga mencapai quorum sensing dan menghasilkan racun yang disebut dengan PIR-A dan PIR-B. Racun ini akan merusak hepatopankreas. Pencegahan penyakit dilakukan dengan cara meminimalkan media tempat hidup vibrio di tambak dengan rajin membuang bahan organik serta memberikan tambahan bakteri pesaing sehingga vibrio tidak mudah berkembang biak.
WSSV (white spot syndrome virus)
WSSV disebabkan oleh virus dengan penularan sangat cepat dan dapat menimbukkan kematian 100% dalam waktu 3—10 hari sejak inkubasi. Virus ini menyerang udang kecil maupun udang besar. Penyebaran WSSV dapat melalui induk ke benur, melalui perairan (waterborne transmission), kotoran udang yang terinfeksi, kanibalisme, serta pakan alami udang (cacing). Gejala klinis berupa perubahan tingkah laku udang mendekati aerasi, tidak responsif, lemah, respon terhadap pakan menurun, berenang miring hingga berputar, perubahan warna tubuh menjadi kemerahan, hepatopankreas pucat, serta timbul bercak putih pada karapas dan seluruh badan. Pencegahan dilakukan dengan penerapan biosekuriti yang baik, seleksi bibit negatif WSSV dengan cek PCR, meningkatkan daya tahan udang, serta menjaga kualitas air tetap stabil.
WFD (white feses disease)
WFD disebabkan oleh interaksi antara vibrio dengan parasit, yang merusak jaringan tubulus pada hepatopankreas sehingga tidak normal bahkan rusak menimbulkan ATM (agregated transformed microphili). Tanda-tanda klinisnya berupa hepatopankreas mengecil dan berwarna putih, nafsu makan menurun, pencernaan kosong, udang lemah, timbul kotoran udang berwarna putih yang mengapung pada permukaan air.
WFD umum terjadi saat kualitas air buruk dengan kecerahan rendah atau pekat (di bawah 20 cm), alkalinitas tinggi, DO rendah (kurang dari 3 ppm, total vibrio tinggi (lebih dari 103 CFU/ml), tingginya materi organik atau TOM, tingginya TAN). Pencegahan dilakukan dengan mengelola padat tebar, menghindari penumpukan bahan organik, pemberian asupan yang bertujuan meningkatkan daya tahan tubuh udang.
“Penyakit bersifat oportunistik, yang menyerang saat udang lemah. Turunnya daya tahan tubuh udang disebabkan oleh tekanan lingkungan kolam itu sendiri, yang mengandung bahan-bahan beracun sebagai dampak dari proses pembusukan. Selain itu, hadirnya vibrio/bakteri yang dengan mudah berkembang biak dalam kolam. Faktor utama yang harus diperhatikan untuk menangkal penyakit udang adalah dengan mempertahankan daya tubuh udang itu sendiri. Ketika udang kuat, penyakit tidak mampu masuk ke dalam tubuhnya.,” papar Paian. (RA/Adit/Resti)

