Akuakultur dan Dampak Pandemi Covid-19

udang

Terjadinya wabah pandemi corona virus disease 2019 atau covid-19 sangat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk di antaranya kegiatan akuakultur. Merujuk pada data terakhir dari KKP, penurunan permintaan terhadap produk perikanan mencapai sekitar 10 – 20% setelah terjadinya serangan covid-19, baik pasar local maupun ekspor.

Wabah penyakit yang disebabkan oleh infeksi covid-19 membuat gonjang-ganjing dunia. Penyakit ini tidak hanya mempengaruhi aspek kesehatan, tetapi merembet juga ke aspek-aspek yang lainnya, seperti politik, ekonomi, dan sosial. Terjadinya penurunan aktivitas ekonomi, menurut Ikhsan Kamil dari Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang, berakibat terjadinya penurunan pendapatan masyarakat terutama sektor informal.

Pada akhirnya, hal ini berdampak pada terjadinya penurunan daya beli masyarakat termasuk terhadap ikan dan udang. Untuk komoditas udang, terjadi penurunan kemampuan cold storage untuk membeli udang, hal ini merupakan akibat dari penurunan permintaan udang dari negara-negara pengimpor seperti China, Eropa dan USA yang juga sedang dilanda covid-19. Ikhsan berpendapat, secara umum dapat dikatakan bahwa sektor perikanan budidaya mengalami dampak penurunan permintaan karena berkurangnya daya serap pasar untuk produk perikanan. Di samping itu juga terjadi penurunan harga walaupun tidak begitu signifikan.

Untuk menekan meluasnya penyebaran virus, pemerintah di berbagai negara melakukan berbagai upaya, di antaranya adalah dengan melakukan pembatasan sosial. Kebijakan pembatasan sosial, ternyata berpengaruh besar terhadap kegiatan budidaya perikanan. Seperti yang diungkapkan Adnan Karisma, Sales Aquaculture Alltech Indonesia, akibat adanya serangan wabah covid-19, kawasan budidaya menerapkan aturan biosekuriti yang lebih ketat untuk meminimalkan risiko penularan.

“Tambak mulai isolasi, sehingga selain karyawan atau berkepentingan tidak boleh masuk, misalnya personel pemasaran pakan atau obat tidak boleh masuk ke dalam area,” kata Adnan.

Permintaan Terhadap Ikan dan Udang Menurun

Menurut Ikhsan, covid-19 berdampak cukup signifikan terhadap kegiatan perikanan budidaya terutama dengan berkurangnya permintaan karena daya serap pasar yang berkurang. Menurutnya, hal ini ditengarai karena terjadinya social dan physical distancing yang mengakibatkan masyarakat menghindari untuk pergi ke pasar. Sebagai konsekuensi dari anjuran untuk tetap tinggal di rumah, banyak keluarga yang memilih untuk memasak sendiri di rumah. Sehingga, terjadi penurunan serapan pasar untuk produk perikanan yang dijual untuk rumah makan.

Senada dengan itu, Supito, Kepala Balai Perikanan Besar Air Payau (BPBAP) Takalar berpendapat, dampak covid-19 bagi pembudidaya adalah harga jual yang turun, terutama untuk komoditas ekspor. Hal ini disebabkan tidak ada kepastian harga pasar di tingkat pemasok.

Dari sisi pembudidaya, biaya operasional meningkat karena masa pemeliharaan yang diperpanjang. “Seharusnya, dengan nilai tukar dolar AS yang menguat harga udang pun meningkat. Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya,” ungkap Supito. Ia menambahkan, komoditas ikan konsumsi dalam negeri pun menurun karena memang daya beli masyarakat menurun, terlebih lagi jika lockdown berlanjut.

Turunnya harga komoditas ikan air tawar

Menurunnya nilai ekonomi komoditas akuakultur tidak hanya diderita oleh para pengusaha tambak udang, tetapi juga pembudidaya ikan air tawar. Seperti yang diungkapkan oleh Dardjono yang menjabat Kepala Bidang DKP Lampung Timur, turunnya harga ikan air tawar terjadi setelah merebaknya wabah covid-19. Penurunan harga ini dapat dilihat pada grafik di bawah, di mana terjadi penurunan harga hampir di semua jenis ikan, kecuali ikan nila yang cenderung stabil.

Sementara itu, naiknya harga sarana produksi, pakan dan obat terjadi karena penerapan pembatasan transportasi dan naiknya kurs dolar dan melemahnya rupiah. Selain itu, kendala yang lain adalah tersendatnya arus distribusi ikan ke luar wilayah sehingga harga turun karena pasokan melimpah di sentra produksi. Dardjono meneruskan, untuk mengatasi kerugian dengan efisiensi biaya produksi terutama pakan budidaya ikan air tawar, pembudidaya sebaiknya menggiatkan GERPARI di samping tetap menerapkan SOP dan kaidah CBIB.

Terkait turunnya harga komoditas perikanan, Kepala Balai Perikanan Besar Lombok (BPBL) Lombok, Mulyanto, juga menyampaikan hal yang sama. Sebagai contoh, lele dipatok harga pada Rp 18.000, bawal bintang dan kakap putih menjadi Rp. 35.000,- sedang rumput laut Rp. 15.000,- dari semula kisaran Rp. 18.000 sampai Rp. 21.000,-.

Untuk komoditas nila masih pada kisaran harga Rp. 23.000. Demikian juga pada pemasaran antar pulau seperti untuk hasil perikanan Lombok dan sekitar biasanya juga dipasarkan ke Bali namun kondisi Bali juga sama akibat covid-19 yang berdampaknya pada pariwisata yang lesu dan kapal penyeberangan ke Bali juga berkurang akibat pembatasan akses ke Bali ini.

Fluktuasi Harga Udang

Terkait dengan komoditas udang, Dardjono berpendapat, harga udang sudah mulai mengalami kenaikan setelah turun harga di periode sebelumnya akibat kurs dollar AS yang naik. Terkait hal ini, menurut Teguh Winarno yang menjabat sebagai Head of Technical Support & Partnership PT. Universal Agri Bisnisindo, disinyalir sebagai imbas India melakukan lockdown.

Begitu india menerapkan karantina wilayah, dampak positif bagi indonesia adalah naiknya permintaan (demand) udang dari negara-negara pengimpor sehingga harganya kembali naik di minggu ke 2 April 2020. Pasalnya, India merupakan salah satu produsen udang dunia. Ia pun mewanti-wanti agar petambak/pembudidaya harus seefesien dan seefektif mungkin dalam memanfaatkan SDM yang ada untuk mengurangi biaya operasional.

Gambar fluktuasi harga udang di Cilacap

Terkait penurunan harga udang di pasaran, juga disampaikan oleh Mulyanto. Kesulitan berikutnya pada petani pembudidaya yang sedang dan akan panen karena sudah merasakan kesulitan pemasaran. Biasanya ada pengepul ikan yang mengambil di lapangan atau di karamba untuk pasar local tapi akibat sepinya wisatawan local ataupun asing dan banyaknya hotel-hotel yang tutup, permintaan pun menurun. Harga pasaran ikan dan udang memang mengalami penurunan seperti udang vaname ukuran 100 di Rp. 40.000/kg sedang ukuran 50 di harga Rp. 50.000/kg.

Di lain pihak, menurut Adnan, kerugian yang diderita akibat terjadinya wabah covid-19 di antaranya adalah harga udang yang turun. “Kenapa turun? Karena stok melimpah sedangkan permintaan tidak ada,” katanya. Ia melanjutkan, Indonesia adalah negara pengekspor udang, salah satu negara tujuannya adalah China dan AS. Setelah wabah covid-19, China menutup keran impornya sehingga barang ekspor dari Indonesia tidak bisa masuk.

Di lain pinak, AS juga menerapkan kebijakan pembatasan impor sehingga udang yang sudah diproduksi tidak dapat masuk penyimpanan beku (cold storage) karena pembatasan impor. Dengan menurunnya permintaan, akhirnya persediaan udang melimpah.

Ekspor Udang Tersendat

Dengan merebaknya wabah covid-19 di berbagai negara-negara pengimpor komoditas udang, seperti Amerika Serikat, China, dan Eropa, proses ekspor udang pun mengalami ganjalan. Menurut Ahmad Arif, Direktur PT. Juara Biolife Solution, seperti halnya dengan sektor yang lain, tentunya budidaya udang mengalami banyak permasalahan, terutama mengenai kepastian penjualan hasil budidaya. Pandemi ini sedang menyerang hampir semua negara termasuk USA, jepang dan china. Import udang dibeberapa negara potensial di stop karena hal ini, yang mengakibatkan berlimpahnya persediaan udang di tempat penyimpanan beku.

Turunnya nilai ekspor berdampak pada tingginya pasokan yang berimbas pada turunnya pembelian dan rendahnya harga udang Beberapa petambak menunda tebar. Untuk petambak yang tidak menunda, mereka akan memangkas biaya-biaya untuk mengurangi kerugian. Menurutnya, kata kunci disini adalah efektivitas. Jika pembudidaya mampu bergerak seefektif mungkin semestinya masih dapat mendapat keuntungan.

Penurunan Produktivitas Budidaya

Akibat dari turunnya permintaan pasar, pengurangan pasokan pun tak terhindarkan. Menurut pengakuan Boyun Handoyo, Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam Jambi, terjadinya penurunan perikanan khususnya ikan air tawar yaitu, kondisi pasar ikan konsumsi sekarang cenderung menurun atau lesu karena banyak rumah makan, hotel tutup operasi.

Sementara itu, warung-warung kios-kios ikan warung pecel lele dan warung tenda lain juga dibatasi jam operasionalnya otomatis ikan-ikan dari kolam lambat terjual, sehingga terdapat efek berantai (multiple effect) ke penjualan benih ikan dan sarana produksi lain juga menjadi terhambat dan menurun.

Kerugian yang terjadi atas dampak covid-19 ini terhadap bagi pembudidaya tentunya perputaran uang menjadi terhambat, sehingga panen menjadi tidak tepat waktu, biaya produksi membengkak untuk menahan ikan dan harga cenderung menurun. Secara alamiah pembudidaya akan menurunkan produksi mereka, kemudian beberapa antisipasi juga sudah mereka lakukan seperti dengan melakukan penjualan door to door dan penjualan daring via medsos maupun telepon.

Penurunan produktivitas juga disampaikan oleh Cartenius, PT. Sumber Lancar. Ini akibat diberlakukannya peraturan pembatasan sosial (social distancing) dan pembatasan akses ke dalam tambak. Sehingga, hal ini menghambat aktivitas pasokan bahan baku, proses kerja, dan lain-lain.

Selain turunnya tingkat produktivitas, adanya wabah covid-19 juga menambah biaya produksi. Sebagai contoh, pada tambak-tambak yang berskala besar, dilakukan penerapan disinfeksi dan protocol lainnya untuk mencegah penularan covid-19, sehingga membutuhkan biaya tambahan

Naiknya Biaya Produksi

Adnan menuturkan, covid-19 juga berdampak pada melemahnya ekonomi Indonesia, melemahkan nilai tukar rupiah terhadap dollar. Hal ini tentu saja menyebabkan kenaikan harga pakan ikan atau udang karena bahan bakunya masih sebagian besar impor, seperti bungkil kacang kedelai dari Brazil atau Argentina, MBM, PMM, CGM, DDGS. Demikian juga dengan bahan baku tepung ikan. “Tidak hanya itu,” lanjut Adnan, “kenaikan harga pakan juga diikuti kenaikan harga benih, yang pada akhirnya karena semua biaya produksi naik sementara harga panen udang semakin menurun, berdampak pada menurunnya keuntungan pembudidaya. Pembudidaya kecil yang tidak bisa menyesuikan kenaikan biaya produksi terpaksa menunda tebar benih baru atau berhenti sementara,” paparnya.

Yosep Purnama, Ketua Kelompok Pembudidaya Leles Lestari Foundation, juga menyampaikan hal serupa dengan mengambil contoh program GERPARI dan budidaya perikanan, di Kabupaten Garut dan Tasikmalaya. Penyediaan bahan baku dan bahan pendukung pakan lainnya sulit didapat karena toko bahan baku akibat penerapan Karantina Wilayah. Jika ada yang buka, harganya mengalami kenaikan 20 – 30% dengan alasan persediaan habis. Sementara itu, biaya produksi, (BBM tenaga kerja, listrik, lahan) cenderung sama seperti sebelum terjadinya pandemi covid-19.

Terkait naiknya biaya produksi juga disampaikan oleh Ikhsan. “Jika kita melihat terhadap perekonomian nasional,” ungkap Ikhsan, “Covid-19 secara tidak langsung juga mempengaruhi nilai kurs rupiah terhadap dollar,” ungkapnya. Hal ini berimplikasi pada peningkatan pada harga bahan pakan yang masih harus diimpor, seperti tepung ikan. Sehingga, perusahaan pakan menaikan harga jual pakan, per 1 april 2020 harga pakan ikan naik Rp 200/kg, pakan udang naik Rp. 500/kg.

Kenaikan harga pakan juga dikeluhkan oleh Mulyanto. Permasalahan yang dirasakan oleh pembudidaya ikan atau udang adalah kenaikan pakan, informasi dari petani kenaikan berkisar antara Rp. 200 – Rp. 500 per kilo untuk semua jenis pakan. Kenaikan ini akibat kenaikan dari pabrik dan factor distribusi.

Jika dari pabrik kenaikan bersumber karena kenaikan bahan baku naik akibat dolar dan impor bahan tersebut. Sedang distribusi transportasi dari pabrik ke lokasi karena sejak adanya wabah covid-19 ini banyak pembatasan wilayah sehingga pengirimanan menjadi terkendala akibat armada yang berjalan makin sedikit.

Berubahnya Prosedur Budidaya

Menurut Dedy Biantoro, Direktur PT. Maxima Arta Jaya, dampak covid-19 ini terasa secara langsung dan tidak langsung. “Dampak langsungnya adalah operasional kami di lapangan menjadi melambat karena kami harus menyesuaikan sistem operasi kami untuk mengikuti protokol pengamanan covid-19. Contohnya adalah bekerja dalam tim yang kecil dan menjaga jarak sehingga target pekerjaan menjadi selesai lebih lama. Kami juga menyiapkan masker, pencuci tangan (sanitizer) dan selalu mengukur suhu tubuh pekerja tambak sebelum mereka diperbolehkan bertugas.  Ini semua adalah kewajiban tambahan yang kami lakukan dan berdampak secara operasional,” paparnya.

Ia melanjutkan, dari segi logistik, saat ini belum terlalu terasa dampaknya karena pemerintah masih mengizinkan sektor logistik beroperasi penuh. Namun dampak tidak langsung dari segi keuangan mulai terasa, karena rupiah terus melemah selama pandemi covid-19 ini. Kondisi demikian menyebabkan harga barang modal per tambak yang diinvestasikan juga meningkat, karena pemasok bahan baku produksi juga turut menyesuaikan harga seiring pelemahan rupiah.

‘Kerugian’ yang Diderita Pembudidaya

Penurunan permintaan terhadap komoditas akuakultur tentu berdampak kepada produksi dan pasokan. Hal ini tentu saja sangat mempengaruhi para pelaku bisnis bidang akuakultur. Berdasarkan pengakuan Mulyanto, akibat kenaikan pakan, biaya operasional meningkat dan makin mahal. Beberapa pembudidaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap pakan dialihkan pada pakan segar berupa pakai ikan rucah namun masih jadi kendala karena sumber pakan rucah juga terbatas.

Kesulitan pasar akibat aktivitas sector lain berhenti akibat pembatasan wilayah seperti sector pariwisata yang sedang lesu dan belum adanya system pasca panen untuk distribusi dingin (coldstorage, dan lain-lain) maupun pengolahan. Pengiriman hasil panen juga dirasakan makin sulit karena terbatasan armada yang bergerak baik truk maupun kapal penyebarangan.

Di lain pihak, Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Supriyadi berpendapat, dengan banyaknya restoran tutup dan pasar dibatasi jam operasional nya karena covid-19 berdampak pada daya serap pasar yang turun drastis dan harga yang turun. Meskipun begitu, ia berpandangan, jika dikatakan sebagai kerugian, belum ada laporan kecuali omzet/pendapatan yang menurun. Dalam jangka menengah persediaan ikan budidaya lambat dipanen biaya produksi bertambah harga turun baru baru timbul kerugian.

Menurut Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Sugeng Raharjo, Kerugian yang terjadi tentunya karena tidak ada pasar disaat ikan dan udang sudah siap panen harus menunggu pasar, disatu sisi biaya operasional jalan terus, harga rendah tentunya ini menjadi dilema.

Di pihak lain, Ikhsan mengungkapkan, kerugian yang dihadapi oleh sektor perikanan budidaya adalah tidak terserapnya hasil produksi budidaya sebagaimana keadaan normal, disamping terjadi penurunan harga walaupun tidak terlalu signifikan yang juga akan berpengaruh terhadap keuntungan yang dihasilkan, karena biaya operasional produksi juga mengalami kenaikan dikarenakan naiknya harga pakan sedangkan harga jual mengalami penurunan.

Teguh mengungkapkan, meskipun wabah covid-19 berdampak besar terhadap bisnis udang, secara umum proses budidayanya masih berjalan lancar. Dampak secara langsung adalah penurunan harga udang sejak awal Februari hingga Maret karena permintaan pasar yang menurun akibat ketidakpastian kondisi pasar. Di samping itu, negara-negara penghasil udang melepas komoditas ke pasar dengan harga sangat rendah akibat lockdown di Tiongkok. Selanjutnya, merosotnya nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS mengakibatkan harga premix feedmill naik sehingga harga pakan udang pun ikut naik.

Selanjutnya, tidak hanya udang, budidaya ikan juga ikut terpengaruh dengan wabah ini. Akibat diberlakukan pembatasan operasional produksi ikan tidak bisa terserap ke pasar. Konsekuensinya, produk ikan menumpuk dan biaya produksi bertambah. Kerugian yang terjadi sangat besar terutama di sektor budidaya ikan.

Permintaan ikan turun drastis, harga ikan menjadi turun drastis, finansial macet bahkan sebagian menghentikan operasional untuk menghindari kerugian yang lebih banyak. Lebih jauh, Ikhasan mengungkapkan, sektor udang secara materiil tidak rugi dan budidaya tetap jalan secara normal. Meskipun demikian, beberapa tebaran di bulan Maret – April 2020 mundur ke bulan Juni/Juli 2020. Hal ini karena petambak takut negara-negara pengimpor menerapkan kebijakan karantina wilayah. Akibatnya, beberapa hatchery terkena imbasnya dalam kisaran 20 – 30% karena banyak petambak yang menunda tebar benih. (Noerhidajat/Resti/Adit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.