Peluang di Balik Badai Pandemi Covid-19

tambak udang

Dalam setiap musibah, terselip hikmah yang tersembunyi, ‘blessing in disguise’ Siapa sangka, di balik musibah wabah covid-19 yang tengah melanda, muncul peluang usaha yang menjanjikan. Pertanyaannya, mampukan pelaku akuakultur mengubah peluang ini menjadi sebuah kesuksesan?

Dalam kondisi terburuk sekali pun, selalu ada hikmah yang tersembunyi. Seperti halnya dalam kondisi wabah virus corona atau covid-19 yang tengah melanda dunia, ada peluang yang tersembunyi. Terjadinya wabah covid-19 sangat mempengaruhi perilaku masyarakat, sebagai imbas dari penanggulangan penyebaran covid-19, dimana pemerintah memberlakukan program pembatasan sosial berskala besar (PSBB), pola hidup masyarakat berubah. Keadaan ini membawa konsekuensi tersendiri, misalnya dalam proses berinteraksi sosial, transaksi jual beli, berkomunikasi, dan lain-lain. Dalam usaha akuakultur, diperlukan sejumlah solusi dan strategi agar perikanan, terutama target produksi udang naik 250% di tahun 2024 dapat tercapai.

Peluang Bisnis Industri Olahan Ikan

Dalam kondisi pasokan ikan dan udang segar melimpah, pengolahan panen menjadi salah satu dari sekian solusi yang masuk akal. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Yosep Purnama, Ketua Kelompok Pembudidaya Leles Lestari Foundation. Di tengah pasokan ikan yang menumpuk akibat menurunnya permintaan karena daya beli masyarakat yang melemah, muncul peluang industri olahan ikan dalam jumlah yang besar.

Menurut Yosep, hal ini karena terjadi pola perubahan atas perilaku konsumen ikan dalam kondisi menjangkitnya wabah covid-19. Industri ini dapat menampung hasil panen ikan dan udang di tengah pasokan meningkat sementara permintaan dari konsumen mengalami kelesuan.

Produk olahan ikan dan udang berbeda dengan produk ikan dan udang segar. Pasalnya, produk olahan dapat disimpan dalam waktu yang relatif lebih lama. Sehingga, karakteristik produk ini menguntungkan bagi penjual dan produsen karena dapat bertahan di pasaran lebih lama. Tidak hanya itu, masa simpan yang lebih lama juga menguntungkan konsumen sebagai pengguna akhir.

Penjualan Produk Ikan Secara Daring (online)

Selanjutnya, dilakukan penjualan secara daring (dalam jaringan atau online) dan kerjasama dengan pasar daring. Hal ini juga digagas oleh pemerintah melalui Kementerian Perikanan dan Kelautan (KKP). Untuk hal tersebut, pemerintah telah mendata ketersediaan sarana pendukung, seperti Gudang beku (cold storage) yang tersebar di berbagai wilayah. Sehingga, pemasaran produk bisa menjangkau wilayah yang cukup luas.

Peluang ini bukan hanya isapan jempol belaka. Pasalnya, sejumlah usaha rintisan telah menginisiasi usaha penjualan ikan secara daring ke masyarakat di pasar domestic. Dikutip dari laman Kompas, jejaring Digifish Network yang merupakan komunitas usaha rintisan perikanan berbasis daring, telah memantau adanya tren kolaborasi yang dilakukan usaha rintisan dalam bidang perikanan. Produk yang dijual tidak hanya ikan segar dan utuh, tetapi juga dalam bentuk beku yang dilakukan melalui media internet, aplikasi, media sosial, dan whatsapp. Beberapa perusahaan tersebut juga melakukan kerjasama dengan penyedia laman e-dagang dalam pemasaran produknya. Metode pemasaran ini tidak hanya membantu pembudidaya untuk tetap melakukan aktivitas usahanya secara berlanjut, akan tetapi juga membantu konsumen dalam memenuhi kebutuhan pangannya.

China Kembali Membuka Keran Import

Senada dengan narasumber lain, Uus Sofyan Anshory, Head Technical Service PT. IANDV BIO Indonesia, mengungkapkan, adanya peluang bagus untuk pembudidaya di tengah wabah covid-19, khususnya pembudidaya udang. Akan tetapi, menurutnya, perlu adanya pengawalan dari pihak pemerintah baik dari informasi yang harus disampaikan ke pembudidaya dengan dibukanya eksport ke China dengan mempermudah perizinan maupun pengawalan proses pengiriman.

Di samping itu, perlu juga melakukan negosiasi dengan pihak China terkait jumlah kuota maupun harga. Sehingga, dengan demikian, hal ini dapat membantu menstabilkan harga udang nasional.

Peluang ekspor ini bukan isapan jempol dan tanpa alasan. Berdasarkan pengakuan Teguh Winarno yang menjabat sebagai Head of Technical Support & Partnership PT. Universal Agri Bisnisindo, imbas India sebagai salah satu pengekspor udang melakukan lockdown, peluang ekspor udang bagi Indonesia terbuka lebar. Dengan demikian, permintaan dari negara-negara pengimpor udang menjadi peluang bagi industry akuakultur Indonesia. Tidak mengherankan, di minggu ke-2 bulan April 2020, harga udang dunia Kembali merangkak naik.

Optimalkan Pasar Lokal

Terkait peluang optimalisasi pasar lokal, Ahmad Arif, Direktur PT. Juara Biolife Solution, berpendapat, bahwa harga udang saat ini sangat murah, semestinya mampu mendobrak pasar lokal. Sebagai gambaran, udang ukuran 60 per hari ini adalah Rp. 60.000/kg, yang berarti hanya Rp. 1.000/ekor. Dengan demikian, anggapan umum yang berpandangan udang adalah konsumsi mahal sangat mudah dipatahkan.

“Untuk itu, diperlukan campur tangan semua pihak terkait untuk membuka pasar lokal. Jika gerakan makan udang ini bisa jalan efektif, 100% hasil budidaya akan terserap domestik,” ujarnya Ahmad.

Senada dengan Ahmad, Hendra Gunawan Manager Inspektur PT. Alter Trade Indonesia mengungkapkan, pasar lokal dipandang masih cukup potensial. Hal ini karena komoditas perikanan dapat menggantikan daging sapi yang mayoritas hasil impor. Dengan demikian, kendala pasar akan lebih mudah. Akan tetapi, yang penting pemerintah harus memastikan jalur distribusi perikanan persediaan sampai ke pelosok dengan tetap menjaga kesegaran.

Hendra berpendapat, apabila di setiap pasar tradisional ada mini cold storage, masyarakat juga dapat dengan mudah mendapatkan udang dan ikan beku yang berkualitas. Menurut Hendra, perlu dilakukan edukasi kepada masyarakat mengenai produk beku untuk menghilangkan stigma bahwa produk beku adalah barang tidak lolos sortir. Selanjutnya, rantai distribusi sangat penting, karena harga pasar lokal masih bisa bersaing dengan pasar internasional.

Peluang Pemasaran Langsung

Imbas dari anjuran tinggal di rumah saja, ‘stay at home’ adalah kurangnya pergerakan masyarakat di luar. Akibatnya, warung eceran ikan, rumah makan, dan hotel sudah banyak yang tutup sementara itu pasar tradisional dibatasi jam operasinya karena kurangnya konsumen.

Hal ini membuat pembudidaya cenderung menumpuk persediaan ikan dan udang. Arus kas terganggu akibat bandar berhenti membeli ikan/udang. Aspek lainnya, yaitu sistem distribusi mengalami gangguan akibat ketakutan dan kekhawatiran tinggi atas pandemi. Sehingga, pembudidaya cenderung ‘wait and see’ di tengah ketidakpastian usaha perikanan.

Pada kondisi demikian, peluang pemasaran langsung (door to door marketing) produk perikanan dari rumah ke rumah. Strategi ini dapat dilakukan dengan bekerja sama antara pembudidaya dengan para pelaku pemasaran daring, melalui media whatsapp, media social, dan pengemudi ojek daring. Alih-alih menunggu konsumen mendatangi pasar atau toko ikan, para penjual menawarkan dan mengirimkan langsung ke rumah-rumah konsumen. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Ikhsan Kamil dari Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang, agar pembudidaya mencari pasar alternatif yang masih memiliki kemampuan untuk menyerap hasil produksi walaupun dengan margin yang tidak sama dibanding dengan kondisi normal. Misalnya, dengan membuka jaringan pasar secara langsung door to door untuk menawarkan produk.

Pembudidaya, Harus Berbuat Apa?

Wabah pandemic ikut memukul industri akuakultur di berbagai lini. Setiap orang tentu tidak ingin keadaan ini berlarut-larut. Lantas, apa langkah yang sebaiknya dilakukan oleh para pembudidaya di tengah badai pandemic ini? Saran Adnan Karisma, Sales Aquaculture Alltech Indonesia ialah pembudidaya yang mengetahui kondisi melimpahnya persediaan udang yang sedang tinggi sementara permintaan yang turun, bisa mengatur kelompoknya untuk melakukan perkiraan terkait jumlah produksi.

Harapannya, harga komoditas dapat kembali normal bila terjadi keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Sementara itu, menurut Supito Kepala Balai Perikanan Besar Air Payau (BPBAP) Takalar, langkah yang perlu dilakukan petambak adalah melihat kebutuhan pasar dan bisa melakukan panen saat harga sesuai (tidak rugi), panen bertahap agar tidak justru merugi.

Menurut Hendra, dampak wabah global covid-19 sangat berpengaruh terhadap kepastian pasar lokal dan ekspor. Sementara itu, saat ini negara pengimport produk perikanan juga terkena wabah, sehingga berpengaruh terhadap permintaan pasar. Belum ada keamanan mengenai kepastian pasar di tengah kondisi ini. Dari sisi budidaya, aktivitas berjalanan hanya bagaimana potensi pasar ke depan dan beberapa pabrik pengolahan ikan juga sudah mulai membatasi pembelian bahan baku dari pembudidaya.

Selain dampak menurunnya harga udang, menurut informasi, distribusi rantai budidaya tidak begitu lancar, ungkap Hendra. Contohnya adalah pengiriman induk menggunakan kargo penerbangan sudah terbatas. Demikian juga, pengiriman produk/komoditas juga sudah terbatas.

  • Petambak tetap melakukan kegiatan budidaya walaupun kepastian pasar yang tidak pasti, dan masih optimis pasar akan kembali normal
  • Komunikasi 2 arah antara petambak dan pengolah harus sejalan dalam membuat perencaan kerja dalam situasi seperti ini, kedua belah pihak harus duduk bersama dan sama sama mengeti dengan kondisi pasar, sehingga pasar akan tebentuk kembali.
  • Pemerintah tetap membuka jalur distribusi maupun kegiatan di bidang perikanan, dan mengembangkan pasar, merekomendasikan potensi pasar yang saat ini masih tidak terganggu terhadap wabah.

Pemerintah Hadirkan Solusi Bagi Pembudidaya

Untuk mengatasi dampak negatif dari terjadinya wabah covid-19 ini, semua pihak perlu bekerjasama bergandeng tangan, baik pemerintah, swasta, lembaga asosiasi, dan lain-lain. Di sisi pemerintah sebagai pengatur dan pembuat kebijakan, menurut Yosep, dapat membantu pembudidaya melalui pengadaan dan pengelolaan sarana gudang beku (cold storage) untuk memperpanjang masa simpan komoditas perikanan. Hal ini dapat dilakukan kerjasama pemerintah daerah dan para pembudidaya serta asosiasi, perusahaan daerah di sentra budidaya perikanan.

Pemerintah juga dapat membantu pembudidaya dengan melakukan pembelian ikan secara massif dan membantu pembudidaya melalui pengadaan benih. Menurut Yosep, ke depan akan terjadi kelangkaan benih pasca terjadinya wabah covid-19 ini. Di samping itu, pemerintah juga dapat membantu infrastruktur dan sarana untuk pengolahan ikan UMKM di sentra budidaya perikanan, membantu relaksasi kredit yang sudah dilakukan. Hal yang tidak kalah penting adalah meningkatkan daya beli masyarakat melalui pembelian produk pembudidaya.

Tidak hanya itu, pemerintah, dalam hal ini KKP, ungkap Dardjono Kepala Bidang DKP Lampung Timur, sudah menyiapkan dan menerapkan program untuk percepatan penanganan dampak covid-19, diantaranya program bantuan sarana dan prasarana. Selain itu, disiapkan juga beberapa alternatif solusi dari permasalahan yang saat ini tengah dihadapi oleh para pelaku usaha perikanan. Beberapa di antaranya dapat dilihat di dalam table di bawah ini.

Table Permasalahan dan Solusi yang Ditawarkan

Permasalahan Alternatif solusi
Adanya pembatasan ekspor udang ke negara tujuan utama Penyediaan Gudang/penyimpanan beku (cold storage), untuk menampung hasil produksi
Permintaan untuk udang menurun Mencari alternatif pasar lain seperti pasar domestic.
Pembudidaya membatasi produksi, sehingga produktivitas menurun Meningkan industri hilir pengolahan udang.

 

Manfaatkan Peluang, Perlu Kolaborasi Semua Pihak

Selain itu, menurut Boyun Handoyo, Kepala Balai Pewrikanan Besar Air Tawar (BPBAT) sungai Gelam Jambi, langkah dan peran pemerintah yang dapat dilakukan saat ini diantaranya kerjasama antar kementerian. Ini dapat dilakukan antara Kementerian Perikanan, Kemensos, dan Pemda untuk memasukkan produk perikanan dalam paket bantuan ke masyarakat, seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan non-Tunai.

“Jika dalam paket bantuan tersebut terdapat produk perikanan baik ikan segar ataupun olahan, tentu produksi sektor perikanan budidaya dapat terserap,” dalihnya. Ia menambahkan, perlunya penyiapan gudang beku berskala besar untuk menampung hasil produksi perikanan di masyarakat untuk ketahanan pangan sumber protein ikani. Diperlukan jaminan perlindungan pemerintah seperti distribusi logistik perikanan seperti pakan ikan, benih dan sarana lain agar kegiatan perikanan tetap berjalan. Demikian juga program-program tertentu, seperti bantuan benih ikan dan pakan mandiri bisa terus diberikan ke masyarakat pembudidaya ikan. Selain itu, di pihak lain,

Adnan menambahkan mengenai peran pemerintah untuk meningkatkan permintaan pasar terhadap udang. “Pemerintah dapat lebih agresif dalam promosi kegiatan gemar makan ikan atau udang,” paparnya.

Selain itu, Supito berkata, peran DJPB tetap akan menyalurkan benih bantuan saat ini untuk mengurangi beban BOP pembudidaya. Sehingga, Ketika kondisi sudah nornal 3 – 4 bulan ke depan, panen akan memperoleh keuntungan. “Andaikan darurat covid-19 belum selesai, maka panen ke depan tetap tidak rugi. Kegiatan budiadaya khususnya budidaya teknologi sederhana yang jumlahnya banyak dan dampak sosial sangat tinggi perlu kita dorong dengan kemudahan dan bimbingan teknis yang baik. Meskipun produktivitas tambak tradisional masih rendah, manfaat sosial dari tambak ini sangat besar terhadap kehidupan masyarakat,” ungkapnya. (Noerhidajat/Resti/Adit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.