Mitigasi Dampak Buruk Pandemi Covid-19, Perlu Kerjasama Berbagai Pihak!

Tambak udang

Nono Hartanto Kepala Balai Perikanan Besar Air Payau (BPBAP) Situbondo mengatakan, pendemi global covid-19 yang terjadi di Indonesia memicu berbagai dampak negatif pada sektor kelautan dan perikanan, dampak negatif itu mulai dirasakan pembudidaya ikan di seluruh kawasan pesisir dikhawatirkan akan menurunkan produksi berbagai komoditas yang selama ini menjadi tulang punggung bagi Negara.

“Komoditas kerapu dan budidaya laut lainnya serta udang yang sudah masuk target produksi dengan peningkatan hingga 250% pada 2024. Penurunan harga disebabkan karena permintaan hasil budidaya menurun. Dengan menurunnya serapan hasil budidaya, juga mengakibatkan menurunnya permintaan benih,” jelas Nono.

Pemerintah, melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), melakukan sejumlah skenario untuk menekan dampak negatif melandanya pandemi covid-19 terhadap industri akuakultur. Untuk melakukannya, diperlukan sinergi dan kerjasama berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pelaku industri, dan pihak terkait lainnya.

Seiring melemahnya aktivitas ekonomi saat ini, yang diperlukan oleh dunia usaha adalah bertahan di tengah terjangan badai pandemi. Terkait hal ini, Dedy Biantoro, Direktur PT Maxima Arta Jaya, berpendapat untuk tidak melakukan ekspansi usaha.

“Di tengah kondisi yang tengah dilanda wabah, sebaiknya tidak melakukan upaya-upaya ekpansi usaha. Setidaknya jangan dulu melakukan ekspansi area tambak di lokasi baru yang belum pasti, atau melakukan spekulasi dengan berinvestasi pada pemasok benur yang belum terlalu dikenal,” sarannya.

Lebih jauh, Ia juga mengimbau untuk tidak berinvestasi berlebihan ke barang modal jenis baru yang masih spekulatif seperti kincir atau pompa tertentu yang efektivitasnya masih diragukan. Investasi barang modal sebaiknya ditahan dulu dan hanya berproduksi pada kapasitas sedang. Sasaran produksi sebaiknya diturunkan sampai ke tingkat menengah untuk menekan biaya variabel dan sebisa mungkin melakukan perjanjian harga dengan pemasok lama agar tidak terlalu sering menyesuaikan harga bahan baku modal ketika rupiah melemah.

Kencangkan Ikat Pinggang

Uus Sofyan Anshori, Head Technical Service PT. IANDV BIO Indonesia, mengatakan dampak covid-19 sangat terasa di sektor produksi yang menurun, karena dampak sendiri sangat spesifik merusak terhadap daya dukung di produksi. Ia menambahkan, menurunnya kuota orderan baik ikan maupun udang, meningkatnya biaya produksi, karena bahan yang dibutuhkan di sektor produksi harga ada kenaikan harga.

Sektor swasta melakukan berbagai upaya untuk tetap ‘survive’ dalam kondisi yang penuh ketidakpastian ini. Hal ini disampaikan oleh Dedy kepada Redaksi Info Akuakultur. Menurutnya, swasta berperan dengan terus melakukan efisiensi usaha dan aktif menerapkan protokol pencegahan covid-19 di tempat kerja masing-masing. Dengan melakukan ini saja, swasta berperan sangat besar dengan tetap memberikan lapangan kerja kepada karyawan-karyawan. Suksesnya swasta melakukan efisiensi biaya dan sebisa mungkin tidak melakukan PHK, tentunya secara makro ekonomi akan berdampak pada penguatan fundamental ekonomi bagi pemerintah. Meskipun demikian, dengan melakukan hal ini, konsekuensinya keutungan yang diraih perusahaan sangat minimal.

Lebih jauh, Direktur PT. Maxima Arta Jaya tersebut mengungkapkan, covid-19 adalah salah satu bentuk krisis global. Namun dunia telah melewati banyak krisis serupa seperti wabah black death di abad pertengahan, wabah flu spanyol pada sekitar tahun 1918, dan lain-lain. Krisis tidak pernah menyenangkan dan akan selalu ada yang menjadi korban. Namun, sejarah juga membuktikan kita selalu mampu bertahan & menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

”Intinya, kalau saya meminjam kutipan terkenal, saya rasa, ini pun akan berlalu atau ‘this too shall pass”, ungkapnya. Ia meneruskan, yang dapat dilakukan adalah mendukung program pemerintah, melakukan efisiensi internal dan menjaga karyawan-karyawan sebagai keluarga. “Cepat atau lambat, ini pun akan berlalu dan teratasi dengan baik,” paparnya.

Agus Giyono, Technical Support Manager CV. Garuda Mas, mengatakan, mewabahnya virus corona atau covet-19 ini membawa dampak negatif di semua lini kehidupan dan hampir di semua sektor dunia usaha, tidak terkecuali dunia pertambakkan udang.

Meski tidak berimbas langsung secara teknis, kata Agus, terapi sangat berat dirasakan oleh para pembudidaya, dampak dan kerugian mewabahnya covit 19 tersebut diantaranya adalah jatuhnya harga udang karena banyak negara pengeksport udang yang me-lockdown negaranya sehingga ekspor terkendala, dampaknya udang di pasaran melimpah dan harganya menjadi murah.

Selain itu, Agus menambahkan, turunya harga udang di perparah dengan naiknya harga sarana produksi pertanian (saprotan) serta pakan. Sebagai dampak dari terpuruknya nilai tukar rupiah, ini juga membuat semangat para petambak udang terguncang.

Operasional budidaya di lapangan juga banyak mengalami  masalah karena lockdown di tiap-tiap daerah, sehingga banyak tambak yang akhirnya menunda operasional, sebab distribusi pakan, obat obatan, benur dan juga SDM yang juga terkendala, sebab kebanyakan SDM petambak juga berasal dari daerah lain, bukan hanya orang-orang setempat.

Kerugian Signifikan

Ujang Komarudin, Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung, mengatakan, lambat laun dampak pandemi covid-19 terhadap perikanan budidaya mulai terasa dengan penurunan serapan pasar secara keseluruhan, baik domestik ataupun ekspor hal terseut kebijakan beberapa negara yang menerapkan lockdown.

Contoh kasus di Lampung, Ujang menjelaskan, seorang supplier yang sebelumnya (sebelum wabah) secata rutin memasok 10 ton/bulan berbagai ikan laut (bawal bintang, kakap putih, dan kerapu) ke Jakarta, saat ini hanya bisa mengirim sekitar 300 kg ikan per minggunya. Demikian juga untuk pemasaran ikan kerapu (ekspor), lanjut Ujang, biasanya paling tidak setiap bulan ada kapal angkut bersandar ke  karamba-keramba pembudidaya untuk mengambil ikan. “Namun, selama wabah corona ini melanda dunia, sejak Januari tidak ada lagi kapal pengangkut ikan berkunjung ke kawasan karamba jaring apung di Lampung,” ungkap Ujang.

Kerugian secara ekonomi sangat signifikan di rasakan para pebudidaya, karena banyak yang akhirnya memakasakan panen dini melihat harga yang terus merosot dan tertundanya tebar untuk siklus berikutnya juga merugikan karena biaya operasional tetap berjalan, seperti listrik, gaji karyawan, logistik dan perputaran usaha yang terhenti.

Kepastian sampai kapan wabah covid-19 ini berakhir juga membawa dampak psikologis bagi para pelaku usaha di semua sektor, meskipun harga kini ada kecenderungan membaik tapi tidak serta merta membangkitkan semangat pebudidaya sebab biaya operasional jelas meningkat, seiring naiknya harga pakan, dan saprotan, sementara setiap ada produksi melimpah yang berlaku mesti turun harga.

Saat ini, ucap Agus, tidak banyak yang bisa dilakukan oleh para pembudidaya, namun untuk mengurangi resiko kerugian pembudidaya bisa melakukan panen dini untuk menghindari resiko kerugian yang lebih besar karena harga yang terus menurun, kemudian menjual hasil panen di pasar lokal untuk ukuran tertentu harga lokal memang lebih baik.

“Lebih hati hati secara teknis, dalam mengelola air dan management pakan, dengan orientasi bisa berumur panjang dan selamat, sambil berharap situasi lebih baik dan atau harga yang lebih bersahabat,” ujar Agus.

Perlu Peran Pihak Swasta

Peran swasta dalam kondisi saat ini juga tidak terlalu besar bisa di harapkan, tutur Agus, sebab mereka juga terimbas. Perusahaan perusahaan yang bergerak di sektor industri pangan diharapkan dapat menyerap lebih besar produksi yang dihasilkan dari para pebudidaya.

Penanganan dampak negatif dari pandemi membutuhkan komitmen dan kerjasama dari semua elemen dalam masyarakat dan pelaku usaha, di samping pemerintah yang bertugas membuat kebijakan. Menurut Ahmad Arif, Direktur PT. Juara Biolife Solution, beberapa hal bisa dilakukan oleh pihak swasta di antaranya adalah tidak menaikkan harga produk produk yang dibutuhkan untuk budidaya sehingga bisa mengurangi beban petambak. Tentunya jaminan pengambilan hasil budidaya juga pastinya akan sangat membantu para petambak.

Dalam paparannya, Nurdin Apriansyah, Marketing Pakan PT. Indonesia Evergreen Agriculture, Area Lampung Timur mengatakan, dalam kondisi ekonomi sulit, pembudidaya disarankan untuk tetap melakukan budidaya dengan cara pembudidaya seadanya atau diganti budidaya ikan. Ia menyarankan agar pihak swasta memberikan toleransi tempo pembayaran bibit & pakan, serta tidak menaikkan harga pakan dalam kondisi yang serba tidak menentu.

Sementara itu, Head of Technical Support & Partnership PT. Universal Agri Bisnisindo, Teguh Winarno berpendapat, peran swasta yang dapat dirasakan terutama dari pabrikan pakan dan obat-obatan. Ketika kondisi seperti saat ini, swasta dapat membantu meringankan beban pembudidaya dengan program-program khusus yang dibuat, menciptakan terobosan-terobosan baru, mengadakan program corporate social responsibility (CSR) yang arahnya ciptakan usaha kerja.

Sementara itu, perlu juga dilakukan kampanye makan ikan secara besar-besaran dan berkelanjutan. Adnan Karisma, Sales Aquaculture Alltech Indonesia, juga menyampaikan pendapat serupa. Akibat covid-19, banyak masyarakat sekitar lokasi budidaya yang lebih susah kehidupannnya. Swasta bisa berperan dalam sosialisasi, serta lebih gencar dalam kegiatan Corporate Social Responsibility untuk kesejahteraan masyarakat sekitar.

Pemerintah Pegang Kendali Utama

Di tengah terjadinya badai akibat serangan covid-19 di berbagai daerah, pemerintah tetap menjadi pemegang kendali utama sebagai pembuat kebijakan. Menurut Teguh, adanya subsidi khusus dari pemerintah di sektor perikanan dapat menekan biaya operasional tidak terlalu tinggi. Misalnya, adanya subsidi listrik atau BBM terhadap para pembudidaya. Selain itu, pemerintah membuka keran ekspor ke berbagai negara tanpa birokrasi yang rumit. Selain itu, pemerintah juga dapat mengurangi pajak impor bahan baku pakan.

“Regulasi yang dikeluarkan pemerintah yang berkaitan dengan pandemi covid-19 terhadap sektor perikanan sudah cukup bagus seperti regulasi tentang kemudahan distribusi barang dan produk perikanan, misalnya juga adanya himbauan Dirjen Budidaya Perikanan untuk menunda kenaikan pakan ikan,” papar Teguh. Ia berharap, pemerintah melakukan upaya bagaimana agar produk perikanan khususnya ikan  bisa terserap di pasar lokal.

Di lain pihak, Nurdin menekankan pentingnya pemerintah membantu pembudidaya dalam menangani pemasaran hasil budidaya. Ia berharap agar pemerintah memberikan solusi untuk pemasaran hasil budidaya dan memberantas oknum-oknum yang membuat harga perikanan menjadi tidak stabil.

Pembudidaya perlu mengurangi masa tebar, mencari alternatif pakan yang lebih murah, penyebaran pasar harus mengarah ke domestik. “Saat ini, perlu diadakan pembicaraan dengan pihak pemerintah yang terkait dengan budidaya, untuk mencari solusi baik di sektor budidaya maupun di pemasarannya. Serta diharapkan pemerintah bisa membantu memasarkan hasil produksi baik domestik maupun internasional dengan membuka gerbang export tentunya dengan pengawasan yang ketat terkait covid-19,” ujar Uus.

Agus mengatakan, peran pemerintah yang besar diharapkan oleh para pebudidaya dalam situasi sekarang ini dan semoga bisa terus berjalan ke depan adalah memberikan kemudahan berusaha, terkait perijinan. “Subsidi jika mungkin, seperti di luar negri para pengusaha di subsidi energinya dan lain lain. Mengkampanyekan besar besaran gemar makan ikan dan udang, ini sangat besar dampaknya jika berhasil…ikan dan udang adalah makanan yang sehat,bernilai gizi dan harga yang terjangkau,” pungkasnya.

Perlu Pendampingan Teknologi

Sementara itu, Kepala Bidang Dinask Kelautan Perikanan (DKP) Lampung Timur, Dardjono mengungkapkan, peran swasta dengan tetap menjaga ketersediaan pasokan sarana produksi (pakan dan obat) dan pendampingan teknologi, terutama pada budidaya tambak udang. Untuk air payau, tambak yang tidak di isi udang dengan mengganti komoditas nila salin, seperti nila srikandi yang tahan sampai 30 ppt. Nila dalin untuk alternatif pengganti udang vaname.

Selanjutnya, Dedy Biantoro, mengungkapkan, pemerintah sudah melakukan jalan tengah yang terbaik. Ia berharap agar pemerintah lebih sigap lagi dalam praktek di lapangan terutama mensinergikan komunikasi antar departemen dan berbagai kementerian di bawah presiden untuk menghindari kebingungan di tengah masyarakat.

Berikutnya adalah peran pemerintah dalam memfasilitasi pembudidaya dalam proses penyimpanan hasil panen. Terkait hal ini, Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Sugeng Raharjo, mengutarakan, yang harus dilakukan petambak untuk mengatasi kerugian tentunya meminta bantuan kepada pemerintah untuk membeli dan menampung  produknya di cold storage milik BUMN.

Pemerintah dapat memberikan solusi mencarikan pasar produk masyarakat tersebut ke industri pengolahan, maupun pasar online. membeli produk budidaya ikan dan udang masyarakat ditampung di cold storage pemerintah BUMN. Selanjutnya, membuat program bantuan ikan olahan untuk masyarakat kurang mampu bersama bantuan sembako. Berikutnya, adalah melakukan program bantuan benih, pakan udang dan ikan bagi masyarakat pembudidaya agar kegiatan budidaya tetap berlanjut. Sebagai tambahan, dilakukan juga untuk membantu proses transportasi pengiriman benih, pakan dan sarana produksi perikanan lainnya.

Pembudidaya, Lakukan Strategi Efisiensi

Selanjutnya, Ikhsan Kamil dari Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang, menyarankan, agar pembudidaya untuk melakukan penurunan intensitas budidaya dan melakukan efisiensi manajemen pakan termasuk penggunaan pakan alternatif yang murah. Selain itu, disarankan juga untuk melakukan panen parsial sesuai dengan permintaan pasar. Selanjutnya, pembudidaya dapat melakukan pengajuan proposal sarana budidaya (benih, pakan dan calon induk) kepada pemerintah (KKP) untuk mengurangi biaya operasional budidaya.

Menambahkan narasumber sebelumnya, Kepala Balai Perikanan Besar Laut (BPBL) Lombok, Mulyanto, menyarankan untuk saat ini para petambak dan pembudidaya untuk mempertahankan persediaan yang ada sambil menunggu momentum yang lebih baik serta harga pasar yang bagus. Terkait dengan strategi untuk mengatasi membengkaknya biaya operasional, Supriyadi, Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) menyarankan untuk melakukan jadwal ulang tebar benih dan mengurangi tingkat kepadatan budidaya.

Langkah Proaktif Pemerintah

Salah satu langkah proaktif yang telah dilakukan pemerintah, menurut Ikhsan adalah dengan melakukan pendataan terhadap pembudidaya yang terdampak covid-19. Sehingga, langkah-langkah antisipatif dapat diambil, misalnya jika terdapat produk perikanan yang tidak dapat ditampung pasar, pemerintah akan bertindak sebagai pembeli. Jika terjadi penurunan daya beli masyarakat terhadap produk perikanan, pemerintah juga perlu untuk memberi bantuan langsung dengan mendistribusikan produk yang telah dibeli tersebut kepada masyarakat yang membutuhkan.

Agar kegiatan budidaya tetap berjalan dan mengantisipasi kebutuhan ikan dalam waktu 2 – 4 bulan ke depan, pemerintah dapat melakukan stimulus dengan memberikan bantuan sarana produksi kepada pembudidaya ikan berupa pemberian bantuan (benih, calon induk dan pakan). Syarat untuk dapat menerima bantuan mungkin perlu dipermudah sehingga dapat lebih membantu masyarakat pembudidaya yang membutuhkan. Pemerintah membantu membuka pasar bagi pembudidaya (kemudahan administrasi ekspor udang, kemudahan untuk transportasi logistik perikanan, dan lain-lain).

Selain itu, menurut Ikhsan, pemerintah melakukan pendampingan untuk usaha pembenihan rakyak dengan memberikan bantuan berupa calon induk yang lebih massif. Hal ini untuk merangsang peningkatan produksi benih oleh pembudidaya. Memberikan kemudahan untuk pembudidaya yang memiliki persoalan kredit di perbankan berupa penundaan sebagaimana yang dilakukan terhadap pengemudi ojek daring. Ikhsan berpendapat optimis, perikanan budidaya sebagai salah satu penghasil produk sumber protein dalam masa pemulihan akibat dampak dari COVID-19 sangat dibutuhkan sehingga akan diperlukan jumlah ikan dalam volume yang tinggi, sehingga ini merupakan peluang bagi sector perikanan budidaya untuk dapat tetap berproduksi untuk 2 – 4 bulan ke depan.

Pemerintah Berikan Stimulus Bagi Pembudidaya

Lebih lanjut, Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Lombok, Mulyanto berpendapat, untuk mengurangi dampak pandemi ini, pemerintah melalui DJPB dan semua UPT berusaha untuk tetap memberikan stimulus kepada pelaku usaha perikanan budidaya, antara lain program bantuan benih.

Program pakan mandiri semakin digiatkan untuk mejawab kenaikan harga pakan pabrik. Secara teknis, pendampingan dan konsultasi dapat dilakukan melalui media komunikasi daring, seperti seperti facebook, twitter, whatsapp, dan lain-lain. Dari DJPB juga membuat Surat Edaran No. 3442/DJPB/IV/2020 tanggal 7 April 2020 kepada seluruh Kepala Dinas KP Propinsi dan Kabupaten/Kota dan Pihak-Pihak lain untuk memberikan kemudahan akses bagi distribusi logistic inputan produksi dan hasil produksi bidang perikanan budidaya.

Selanjutnya, terkait peran pemerintah, Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Supriyadi menyampaikan pendapatnya kepada Redaksi Info Akuakultur. Menurutnya, pemerintah membantu pembudidaya dengan membeli produk budidaya seperti Bulog yaitu dengan mengoptimalkan cold storage yang ada di berbagai daerah. Kemudian, pemberian stimulus berupa bantuan tunai atau pun bantuan sembako plus ikan. Dengan demikian, pembudidaya akan terus melakukan kegiatannya dan pada saat yang sama, kebutuhan protein masyarakat terhadap ikan sebagai upaya meningkatkan imunitas juga tercapai. Di pihak yang lain, industri pengolahan juga tetap berjalan.  (Noerhidajat/Resti/Adit)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.