Masa Normal Baru, Siasati Produktivitas Budidaya yang Turun

Masa Normal Baru, Siasati Produktivitas Budidaya yang Turun

Pandemi Covid-19 masih terus berlangsung, meskipun pemerintah sudah melonggarkan protokol pembatasan social (PSBB). Dengan dibukanya berbagai sektor yang strategis bagi kehidupan masyarakat, kehidupan pun berangsur ‘normal’.

Masa Normal Baru, Siasati Produktivitas Budidaya yang Turun
Budidaya_Udang_tetap menajnjikan (pindainews.com)

Munculnya pandemi Covid-19 telah memberikan kesadaran kepada manusia untuk merubah pola dan tatanan kehidupan sosialnya terutama saat harus memasuki tatanan hidup normal baru (new normal). Tatanan hidup baru ini juga berimbas pada sektor perikanan khususnya perikanan budidaya.

Perubahan yang terjadi diyakini terwujud dengan semakin meningkatnya kesadaran para pembudidaya untuk menjaga kesehatan diri dan lingkungannya. Penerapan protokol pencegahan Covid-19 melalui penggunaan pakaian kerja yang aman dan sehat, penggunaan masker, selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah melakukan kegiatan serta mengatur jarak aman antar sesama pelaku budidaya sepertinya sudah menjadi suatu keharusan.

Meskipun pada tatanan kehidupan ‘normal baru’, berbagai aspek kehidupan masyarakat berangsur pulih, dampak wabah ini tidak bisa dianggap sepele. Selama beberapa bulan penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), berbagai sendi kehidupan masyarakat menjadi terdampak. Sebagai contoh, akibat wabah ini, banyak perusahaan yang merumahkan karyawan akibat tekanan ekonomi. Imbasnya, angka pengangguran naik dan daya beli masyarakat turun.

Menyusul itu, produksi komoditas pun menurun akibat lesunya permintaan pasar. Aspek berikutnya yang terdampak adalah pembatasan transportasi, aspek vital dalam rantai pasok distribusi barang dan jasa. Akibatnya, aktivitas ekspor impor, distribusi barang/komoditas menjadi terganggu.

Memasuki pelonggaran PSBB, yang belum sepenuhnya fase normal baru, kegiatan ekonomi masyarakat mulai menggeliat. Begitupun sektor bisnis akuakultur mulai ancang-ancang dan bangkit. Para petambak yang sebelumnya mengerem produksi akibat turunnya permintaan pasar, saat ini bersiap-siap untuk mendongkrak produksi kembali.

Daya Beli Pasar Sempat Turun

Turunnya daya beli masyarakat terhadap produk perikanan diakui oleh Ahmad Arief, Direktur CV. Arjuna Brawijaya. Berdasarkan pengakuannya, permintaan konsumen terhadap produk perikanan sebenarnya tidak akan banyak berubah. “Permasalahannya, ketika ekonomi terkoreksi dengan adanya pandemi Covid-19, otomatis daya beli masyarakat akan menurun. mau tidak mau akan ada penurunan serapan produksi perikanan,” paparnya.

Dengan adanya kondisi demikian, beberapa sektor pendukung budidaya udang dan perikanan pun menyesuaikan. Salah satunya yaitu dengan cara menunda kenaikan harga pakan. “Pakan saat ini masih tetap menahan kenaikan harga, tetapi benur sudah mulai naik dan ini juga menambah beban budidaya,” aku Ahmad.

Ia berharap, dengan benur yang semakin berkualitas, probabilitas keberhasilan petambak di Nusantara pun semakin besar. Demikian juga, gugus tugas yang dibentuk oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dapat membantu menjaga kestabilan budidaya udang di manapun berada.

Normal Baru, Bisnis Mengarah ke ‘Normal’

Meskipun ikut terdampak, sektor bisnis akuakultur masih tetap bertahan. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Tirza Irwanda, Kepala Area 2 Shrimp Hatchery PT. Suri Tani Pemuka. “Sebetulnya, selama masa pandemi Covid-19, usaha bidang akuakultur masih bisa dibilang exist, hanya sempat terkendala atau rehat sejenak karena keran untuk ekspor udang atau ikan sempat ditutup,” ungkapnya.

Ia berharap di masa normal baru ini sampai seterusnya perkembangan usaha akuakultur ini kembali normal dan semakin meningkat. Ia pun mengakui, sejauh ini permintaan pasar terhadap produk perikanan masih boleh dikatakan sangat antusias. Harapannya, pihak pemerintah mendukung para pelaku usaha akuakultur ini agar semakin meningkat mengingat sektor ini menjadi salah satu penyumbang devisa negara terbesar.

Di antara produk akuakultur, udang menjadi salah satu komoditas primadona. Akan tetapi, terlepas sebagai produk andalan akuakultur saat ini, pelaku bisnis juga melirik beberapa komoditas alternatif, produk ini dianggap penting untuk memenuhi permintaan pasar lokal.

Komoditas tersebut di antaranya adalah nila dan bandeng hal ini disampaikan oleh Abdul Salam Atjo, Penyuluh Perikanan Madya/Satminkal Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau (BRPBAP), Kabupaten Pinrang, Sulawesi, mengingat komoditas ekspor seperti udang windu cenderung mengalami banyak kendala pada pasar ekspor.

Sementara itu, di Sulawesi, menurut pengakuannya, permintaan pasar saat ini khususnya terhadap udang windu tidak menentu. Ini ditinjau dari aspek volume maupun dari ukuran, sehingga pembudidaya akan merugi dari sisi harga dan waktu.

Penyakit dan Harga: Penyebab Turunnya Produksi

Menyiasati penurunan produksi, Desi Amelia Sari, Product Manager & Aquaculture Specialist Fenanza, membeberkan pemikirannya. Menurunnya, produksi menurun pada budidaya disebabkan dua hal, yaitu penyakit dan harga. Berkaitan dengan penyakit bisa diatasi dengan pendekatan teknologi budidaya yang menitikberatkan pada efisiensi biaya,  misalnya budidaya back to basic, kembali pada daya dukung lingkungan.

Konsepnya adalah SOP budidaya dibuat berdasarkan baku air wilayah tersebut . Masih menurut Desi, kiat untuk mendongkrak produktivitas adalah pengurangan padat tebar sehingga beban lingkungan berkurang,  efisiensi berjalan,  resiko budidaya juga rendah,  dengan keberhasilan tinggi. Sementara itu, terkait harga udang yang rendah atau tinggi, pembudidaya tetap akan melakukan penebaran,  yang terpenting adalah bagaimana harga pakan yang menjadi separuh dari biaya produksi masih terjangkau oleh pembudidaya.

Kiat Mendongkrak Produksi

Terkait produktivitas budidaya udang yang turun, Ade Mahir, Kepala Bidang Perikanan Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Garut, berpendapat. Menurutnya, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan para pembudidaya, diantaranya yaitu:

  • Pembudidaya udang jangan panik, lakukan inventarisasi penyebab terjadinya penurunan produksi.
  • Setelah diketahui penyebabnya maka  lakukan langkah-langkah upaya yang dapat memutus mata rantai penyebab tersebut.
  • Lakukan pemantauan secara intensif tentang standar CBIB udang vaname.
  • Intensifikasi kegiatan sanitasi tambak dan lingkungan tambak.

Selanjutnya, kiat-kiat yang harus dilakukan pembudidaya diantaranya, pembudidaya harus tetap optimis dan semangat dalam menghadapi situasi penurunan produksi. Berikutnya adalah melakukan panen lebih awal secara parsial, agar biomass udang berkurang, memperbaiki tindakan yang tidak sesuai dengan ketentuan pedoman CBIB, dan terakhir adalah melakukan  panen dini secara parsial, dan usaha kan jangan menular dan upayakan penyebab penyakit tersebut jangan sampai menular ke kolam tambak yang lain.

Siasati Produktivitas

Sementara itu, penurunan produksi disinyalir tidak hanya disebabkan oleh penurunan kapasitas produksi, tetapi juga akibat serangan penyakit. Pendapat ini diutarakan oleh Agus Giyono, Technical Support CV Garuda Mas. Menurutnya, penurunan produksi siklus dibandingkan dengan periode sebelumnya bukan hanya karena pengurangan kepadatan tebar/populasi, tetapi juga karena kegagalan produksi karena penyakit.

Udang akhirnya dipanen karena mortalitas yang tidak terbendung. Selain itu, hal ini disebabkan karena panen dini yang disengaja untuk menyiasati agar tetap untung meskipun tidak maksimal. “Menghindari kerugian yang lebih besar karena tren harga yang terus menurun di tengah kondisi pandemi covid-19,” dalih Agus.

Agus berpendapat, agar bisa kembali pada produksi yang lebih baik, para pembudidaya harus kembali pada SOP budidaya yang baik dan benar. “Tidak memaksakan padat tebar tinggi kecuali dengan fasilitas yang memadai,” sarannya.

Pembudidaya tidak dianjurkan untuk memaksa daya dukung (carrying capacity) kolam budidaya dengan melakukan penghitungan kemampuan yang benar tambak sebelum tebar. “Pastikan jumlah yang tepat kincir air dan oksigen terlarut (DO) di kolam. Sebagai patokan, menurutnya, satu unit kincir itu optimal untuk 20 – 25 ribu  ekor benur. Jika lebih dari jumlah tersebut, kolam harus didukung dengan fasilitas yang lain misalnya rood blower, micro-bubble, dan lain-lain.

Perhatikan Ketinggian Air dan Kolam

Selanjutnya adalah faktor ketinggian air. Menurutnya, ketinggian air kolam juga mesti diperhitungkan dengan padat tebar. Pasalnya, udang vaname itu hidupnya di kolom air. Di sisi lain, kincir mempunyai kemampuan terbatas dalam mengaduk kedalaman air kolam. Jika bermain dengan kedalaman air, kolam harus dibantu dengan blower atau microbubble dari dasar kolam agar tidak terjadi stratifikasi suhu dan kandungan oksigen.

Berikutnya adalah aspek kolam/tambak. Menurut Agus, persiapan kolam yang maksimal sebelum tebar menjadi salah satu kunci keberhasilan. Sebab di sinilah lingkungan hidup untuk benur.

“Filosofinya, gagal dalam persiapan itu sama saja dengan menyiapkan kegagalan,” ujarnya.

Indikator keberhasilan persiapan adalah bioassay. Sebelum tebar, Jika SR hasil bioassay di atas 90%, penebaran bisa dilanjutkan. Akan tetapi, jika kurang dari persentase tersebut, penebaran ditunda dulu dan kualitas air diperbaiki terlebih dahulu.

Selanjutnya adalah manajemen kualitas air. Air selayaknya diteliti dan diamati sebelum dilakukan pengelolaan yang tepat. Pasalnya, ini akan menjadi garansi keberhasilan budidaya yang berkelanjutan. Pemilihan produk saprotan yang berkualitas, pemakaianya yang tepat,  serta pemakaian desinfektan yang selektif akan lebih baik untuk keberhasilan dan kelanjutan budidaya ke depan. Penggunaan desinfektan berspektrum luas perlu dikaji ulang karena membawa dampak negatif pada lingkungan secara keseluruhan, apalagi dengan pemakaian yang tidak sesuai standar.

Pentingnya Kelola Pakan

Pengelolaan pakan yang tepat juga menjadi hal penting dalam keberhasilan budidaya. Hampir semua penyakit udang bermula dari kesalahan dalam pengelolaan pakan. “Kita sering terlena mengikuti nafsu makan udang, bahkan sampai melebihi % SR,” kata Agus.

Lanjutnya, dalih mengejar peetumbuhan yang cepat, akhirnya air kolam tidak mampu mendukung. TOM tinggi, vibrio meningkat dan penyakit tak terbendung. Untuk kehati-hatian, sebaiknya tidak memberikan pakan lebih dari 90%SR. Dengan pendekatan logika bahwa tidak mungkin benur yang kita tebar itu tidak ada yang mati. Kenyataan di lapangan  membuktikan bahwa kondisi kurang pakan sedikit itu lebih baik dan aman untuk udang daripada pemberian pakan yang berlebih.

Perlu dipahami bahwa dalam budidaya, semua terukur dan tidak sembarangan atau coba-coba. Tidak ada jaminan padat tebar tinggi hasilnya banyak, karena tingkat resikonya juga tinggi. “Siklus yang sekarang berjalan akan menghadapi peralihan musim (musim pancaroba). Untuk itu, harus dicermati dan disikapi lebih hati-hati secara teknis. Sebab, apapun sistem yang digunakan,  dalam kondisi/musim apapun budidayanya, kata kuncinya adalah stabilitas air kolam,” papar Agus.

Tetap Perhatikan Aspek Biosekuriti Budidaya    

Di samping upaya untuk mendongkrak produksi, pembudidaya juga tetap perlu memperhatikan kaidah budidaya yang benar. Hal ini disampaikan oleh Nur Muflich Juniyanto, Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon. Menurutnya Anto biasa ia disapa, penerapan protokol pencegahan Covid-19 pada masa normal baru dalam kegiatan budidaya secara tidak langsung juga mengingatkan betapa pentingnya biosekuriti dalam manajemen budidaya.

Biosekuriti yang diwujudkan dengan menjaga sanitasi lingkungan dan higienitas personil diharapkan akan mampu mengurangi dampak kontaminasi pada kegiatan budidaya untuk menjaga kualitas dan kuantitas produk. “Selama ini, mungkin masih banyak pembudidaya yang mengabaikan aspek ini dan lebih memprioritaskan aspek ketersediaan benih, pakan dan air. Padahal, sebetulnya aspek biosekuriti merupakan aspek penting dalam kegiatan budidaya di era modern saat ini,” jelas Anto.

“Masa normal baru,” lanjut Nur Muflich, “merupakan saat terbaik untuk memulai usaha budidaya demi meningkatkan daya saing sehingga diharapkan produk perikanan budidaya yang mampu menembus pasar ekspor.” Selama ini, kendala yang mungkin dihadapi adalah terkait keamanan pangan sebagai akibat dari penerapan biosekuriti yang belum maksimal. Perubahan pola pikir dalam kegiatan perikanan budidaya melalui penciptaan inovasi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi diyakini akan mampu meningkatkan produktivitas dan akseptabilitas produk perikanan budidaya secara optimal. “Pemanfaatan teknologi informasi untuk mendukung perikanan budidaya seperti teknologi digital pemantau kualitas air dan sistem pemberian pakan jarak jauh hanyalah beberapa contoh dari banyak hal yang kemungkinan akan menghiasi aktivitas perikanan budidaya,” pungkas Anto. (Noerhidajat/Resti/Adit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.