Masa Normal Baru, Menjanjikan untuk Bisnis Akuakultur?

Masa Normal Baru, Menjanjikan untuk Bisnis Akuakultur?

Pandemi covid-19 telah mengubah berbagai sendi kehidupan manusia, termasuk dalam hal ini sector bisnis akuakultur. Beberapa waktu yang lalu, pasca diberlakukannya PSBB di sejumlah provinsi oleh pemerintah daerah, beberapa sector aktivitas masyarakat mulai dibuka. Fase normal baru pun dimulai. Lantas bagaimanakah dampaknya terhadap sector akuakultur?

Masa Normal Baru, Menjanjikan untuk Bisnis Akuakultur?
Budidaya udang_vaname tetap bergairah (News Lampung Terkini)

Seperti yang sudah dimaklumi, wabah covid-19 memberikan dampak ke semua sector, termasuk bisnis akuakultur. Namun, perlu dicatata bahwa akuakultur merupakan industri strategis yang diharapkan pemerintah tetap beroperasi selama masa pandemi. Sehingga, tidak heran bisnis ini tetap bertahan meskipun sempat terdampak. Menurut Ikhsan Kamil, Kepala Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya Karawang, DJPB, KKP, bisnis akuakultur termasuk salah satu bisnis yang mampu bertahan. Dalam beberapa aspek, wabah pandemi covid-19 relatif tidak banyak mempengaruhi bisnis akuakultur. Ini jika dibandingkan dengan industri lain yang berakibat terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK). Lebih jauh, ia memaparkan, “Sebagai contoh beberapa industri otomotif yang ada di Karawang dan Bekasi banyak melakukan pembatasan operasional karena lesunya permintaan pasar.” Sementara itu, di sisi lain, industri pakan ikan yang ada di Karawang, Bekasi, dan Purwakarta masih beroperasi seperti biasa dengan kapasitas yang tidak jauh berbeda meskipun selama pademi covid-19. Usaha akuakultur hanya terimbas sementara oleh pademi covid-19 ketika terjadinya penurunan permintaan pasar akibat kebijakan pemerintah terkait PSBB yang membatasi aktivitas manusia. Akan tetapi kondisi ini memicu munculnya adaptasi bisnis baru dengan pemanfaatan teknologi daring dalam pemasaran produk perikanan budidaya.

Masa pasca pandemi menjanjikan?

Masuknya fase normal baru menciptakan peluang di sejumlah sector usaha rakyat. Dalam bisnis akuakultur, fase ini menciptakan peluang baru terkait dengan system pemasaran produk. Boyun Handoyo, Kepala Balai BPBAT Sungai Gelam-Jambi berpendapat, ada kecenderungan perbaikan terhadap bisnis akuakultur sebagai produk pangan khususnya penghasil protein. Bahkan, kemungkinan semakin menjanjikan ke depan. Menurutnya, hal ini ditandai dengan adanya kecenderungan kenaikan harga ikan konsumsi air tawar.

Terkait peluang ini, Dany Yukasano, Technical Service Manager, PT Grobest Indomakmur mengungkapkan hal serupa. Ia menekankan mengenai pentignya keamanan pangan (food safety), sehat dan memiliki ketertelusuran (traceability). “Dalam era new normal, orang lebih memperhatikan aspek kesehatan dan pencegahan terhadap penyakit,” ungkapnya. Ia melanjutkan, hal tersebut, tentunya menjadi peluang tersendiri. Pasalnya, produk-produk akuakultur merupakan produk yang sehat dan dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit. Sehingga, normal baru menjadi pemantik untuk peningkatan konsumsi produk akuakultur. Pendapatnya tersebut beralasan. Pasalnya, menurut pengakuannya, permintaan konsumen akan meningkat, mengingat produk perikanan adalah makanan yang sehat dan dapat meningkatkan daya tahan tubuh.

Pendapat senada juga diungkapkan oleh Imam Kadarisman, Direktur Stargold Internusa Jaya & Rekayasa Agromarin. Menurutnya, di balik setiap kesulitan tersembunyi peluang. Selayaknya, para pegiat akuakultur melirik potensi tidak hanya menjual sarana budidaya atau aktif di budidaya, tetapi juga merambah sector hilir, yaitu produk olahan. “Konsepnya adalah panen-olah-jual.” Papar Imam.

Produk perikanan tetap unggul

Bertahannya sector akuakultur tidak terlepas dari tidak tergantikannya komoditas perikanan sebagai sumber pangan. Di samping sebagai sumber pangan yang sehat, produk perikanan juga mengandung gizi yang tak tergantikan, antara lain protein hewani, omega 3, dan lain-lain. Nur Muflich Juniyanto, pria yang akrab disapa ‘Anto, Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon, Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon (BPBL Ambon) berpendapat. Ia yakin, meningkatnya kesadaran manusia mengenai pentingnya kesehatan membawa dampak positif bagi penyerapan produk perikanan, terutama perikanan budidaya. Pasalnya, ikan memiliki kandungan gizi yang tidak dimiliki bahan pangan lainnya terutama terkait peranannya meningkatkan daya tahan tubuh. Nutrisi pada ikan memang dibutuhkan oleh tubuh karena ikan mengandung protein tinggi, lemak omega 3, asam lemak tak jenuh, vitamin A, D, B6 dan B12, serta mineral yang semuanya baik untuk daya tahan tubuh. Kondisi new normal merupakan kesempatan yang baik untuk mengejar permintaan produk perikanan baik di dalam maupun luar negeri dalam rangka memenuhi tuntutan konsumen.

Lebih jauh lagi, Ikhsan Kamil, membahas keunggulan produk akuakultur yang membuatnya mampu bertahan di tengah terpaan badai pandemi. Menurutnya, kejadian merebaknya wabah covid-19 mendorong masyarakat untuk mengonsumsi makanan yang seimbang. Hal ini dilakukan untuk menjaga kesehatan agar terhindar dari serangan virus. Sehingga, ikan sebagai salah satu sumber protein menjadi pilihan dengan harga yang relatif terjangkau, Kondisi ini akan mendorong makin berkembangnya kegiatan bisnis akuakultur. Disamping itu juga akan berkembang teknologi akuakultur yang mengakomodasi SOP dengan mengacu pada protokol kesehatan untuk pencegahan covid-19.

Tren aktivitas akuakultur meningkat di normal baru

Semenjak sejumlah daerah di Indonesia memasuki fase kehidupan normal baru pasca pandemi, terjadi peningkatan aktivitas masyarakat. Pun demikian dalam kegiatan akuakultur. Terkait hal ini, Boyun Handoyo, mengungkap, adanya kenaikan produksi ikan konsumsi dan benih di beberapa lokasi. Ini menunjukan terjadinya kenaikan terhadap permintaan ikan budidaya air tawar. Menurutnya, selama kebijakan PSBB kegiatan akuakultur menurun baik pembenihan maupun pembesaran. “Sehingga, adanya fase normal baru ini merupakan momentum juga untuk kegiatan bisnis budidaya ikan untuk bangkit.” ungkapnya.

Lebih jauh lagi, mulai aktifnya berbagai sector merangsang kegiatan akuakultur untuk kembali bergairah. Teguh Setyono, Farm manager PT Dua Putra Perkasa, berkata, pemberlakuan normal baru semakin memperlancar peluang bisnis budidaya akuakultur. Hal ini ditandai dengan semakin lancarnya pengiriman dan pengadaan  barang jadi lebih lancar. Kegiatan pencetakan kolam dan panen semakin mendekati normal (lancar) termasuk tenaga antar pulau misal dari Jawa ke Sumatera dengan tetap menerapkan protocol kesehatan.

Contohnya, ia memaparkan mengenai harga jual udang yang beranjakk naik secara signifikan.. Ketika tranportasi dan pasar mulai dibuka, permintaan semakin meningkat karena distribusi semakin lancar. “Harga udang ukuran 100 sebelum normal baru rata-rata Rp 45.000. Setelah masuk normal baru, naik jadi Rp 55.000,” terangnya. Perkiraannya, ini disebabkan akibat stok udang yang mengalami penurunan karena masih banyak pembudidaya yang menunda tebar. Kemungkinan lain, budidaya terkendala penyakit.

Peran berbagai pihak di masa normal baru

Di masa pandemi, sejalan dengan program pemerintah dalam mendukung keberlangsungan  industri budidaya perairan, banyak inisiatif yang oleh pihak swasta. Salah satunya, perusahaan membantu keberlangsungan bisnis rekan petani udang dan ikan. Hal ini diungkapkan oleh Emiliana Dhian Anggeraheni, Head of Shrimp Hatchery PT Suri Tani Pemuka. Cara yang ditempuh dengan mengeluarkan surat resmi bahwa perusahaan berkomitmen kepada konsumen untuk menjamin distribusi dan operasional perusahaan. Di samping itu, prosedur kebersihan dan keselamatan dilakukan secara ketat. Selain itu, untuk membantu petani ikan di beberapa daerah yang saat pandemi terkena dampak covid-19, perusahaan membantu menyerap ikan-ikan yang siap dipanen.

Selanjutya, pemulihan ekonomi sector akuakultur membutuhkan peran serta dari berbagai pemangku kepentingan, di antaranya pemerintah. Sebagai pengambil kebijakan dan penentu regulasi, pemerintah sangat diharapkan untuk menerapkan berbagai peraturan yang membantu pemulihan kegiatan akuakultur. Boyun Handoyo, mengungkapkan hal ini. Menurutnya, peran pemerintah sangat diperlukan untuk membangkitkan semangat pembudidaya ikan. Beberapa cara bisa dilakukan dengan menghadirkan program dan kebijakan yang secara konkret dapat mendukung kegiatan akuakultur dari hulu ke hilir. Kegiatan diarahkan agar pelaku kegiatan akuakultur dapat beradaptasi dan berbenah terhadap situasi terkini atau era normal baru. Hal ini dilakukan dengan melakukan refocusing dan perubahan postur anggaran dengan prioritas peningkatan produksi dan jaminan keamanan sosial (social safety).

Terkait dengan peran pemerintah, Asiyah, pemilik Shrimp Hatchery Riz Samudera berharap agar pemerintah bersedia membantu. “Saya berharap pemerintah serius membantu pelaku usaha budidaya atau apapun dengan cara melindungi dan mempermudah atau menyetabilkan harga sarana dan bahan baku, terutama bahan impor.

Perlu adaptasi di masa normal baru

Pembatasan interaksi social di masyarakat melalui kebijakan PSBB secara langsung berpengaruh terhadap permintaan pasar atas produk perikanan budidaya. Akibatnya, terjadi ketidakpastian pasar, sehingga membuat pembudidaya melakukan pembatasan aktivitas usaha produksi perikanan budidaya selama pandemi. Saat ini, setelah diberlakukannya fase normal baru, adanya adaptasi menyebabkan kehidupan normal kembali. Permintaan pasar akan produk perikanan budidaya beranjak normal. Berdasarkan kondisi yang ada, permintaan konsumen terhadap produk perikanan budidaya kembali normal bahkan cendurung akan mengalami peningkatan seiring dengan inovasi sistem pemasaran, skala usaha dan munculnya wirausahawan baru dalam sub sektor perikanan budidaya.

Di sisi lain, pasokan ikan menjadi terbatas akibat pembatasan aktivitas budidaya pada masa PSBB yang diterapkan sebelumnya. Hal tersebut diungkap oleh Ikhsan. “Sebagai contoh,” ia berargumen, “untuk pasar di Jabodetabek dan Karawang, permintaan terhadap komoditas ikan lele saat ini lebih tinggi dibandingkan dengan pasokan. Akibatnya, harga di pasar ikut terdongkrak. Efeknya, bandar kebingungan mencari pasokan.”

Menurut Emiliana, ada prinsipnya semua sektor harus melakukan adaptasi di masa kelaziman baru, termasuk bisnis akuakultur. Protokol dasar seperti penggunaan masker, cuci tangan dengan sabun/penggunaan hand sanitizer, jaga jarak, dan pengecekan suhu menjadi hal yang seharusnya diterapkan dan menjadi norma baru di bisnis akuakultur, termasuk beberapa tambahan protokol pencegahan dan penanganan yang spesifik perlu dilakukan di bisnis akuakultur ini. Prosedur tersebut di antaranya adalah dalam menjaga kebersihan dan kesehatan yang ketat di seluruh operasional perusahaan. Sebagai contoh, melakukan pengecekan suhu tubuh dan prosedur kebersihan melalui lorong disinfektan, prosedur jaga jarak, cuci tangan/penggunaan pensteril tangan, dan kebijakan penggunaan masker dan APD covid-19.  Aturan ini tidak hanya diberlakukan di kantor, tetapi juga di bagian operasional tambak, dan hatchery.

Di lain pihak, menurut pendapat Imam Kadarisman, dalam bisnis akuakultur ke depan, akan lebih banyak mengarah ke bisnis daring. Untuk sampai ke sana,  ketersediaan produk menjadi sangat penting. Dengan demikian, sudah saatnya tidak hanya bicara potensi tetapi juga harus fokus pada produk apa yang dapat dihasilkan. (Noerhidajat/Resti/Adit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.