Inovasi Tambak Udang Rakyat Vietnam Untuk Bersaing di Pasar Dunia

Inovasi Tambak Udang Rakyat Vietnam Untuk Bersaing di Pasar Dunia

Vietnam, 1 November 2022 – 30 Peserta Aquaculture Benchmarking Trip yang berasal dari Indonesia, Thailand, dan juga Malaysia telah melaksanakan kunjungan ke tiga tambak yang menggunakan sistem kolam bundar dengan 3 fase pemeliharaan. Perjalanan ini merupakan wadah sekaligus jembatan untuk transfer ilmu khususnya dalam peningkatan produktivitas budidaya udang secara efisien oleh rakyat Vietnam, sehingga nantinya diharapkan dapat menjadi referensi untuk petambak di Indonesia.

Program ini merupakan hasil inisiasi dari PT Tequisa Indonesia dan Vannamei 101, yang kemudian didukung oleh Skretting Indonesia dan Minapoli. Kunjungan yang mulai dilaksanakan pada tanggal 27 Oktober – 1 November 2022 ini difasilitasi oleh tim Skretting dari Indonesia dan Vietnam untuk mengunjungi tambak udang milik customer mereka di Provinsi Bạc Liêu.

Selain sistem yang diterapkan, asupan nutrisi berkualitas juga menjadi salah satu faktor pendukung tingginya produktivitas petambak udang di Vietnam. Dengan kandungan bahan baku berkualitas yang terdapat di setiap butir pakan, dapat menjadi solusi permasalahan kebutuhan nutirisi udang di setiap fase.

Para peserta mendapatkan kesempatan melihat secara langsung proses produksi pakan milik Skretting Vietnam yang terletak di Thuan Dao Industrial Park sebagai percontohan manufaktur pakan dengan skala global. Pada saat kunjungan Fauzan Bahri, Sales Director Skretting Indonesia mengatakan, “Skretting merupakan perusahaan pemimpin global dalam pembuatan dan pemasok pakan akuakultur. Kami menerapkan teknologi dan ilmu pengetahuan terbaru untuk menghasilkan pakan dengan bahan baku berkualitas untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ikan dan udang yang mencapai nilai gizi dan hasil produksi yang optimal.”

Sistem tambak-tambak udang di Vietnam menggunakan kolam bundar yang dibangun di atas lahan sehingga lebih terjaga dari masuknya penyakit. Selain itu mereka juga berfokus pada luasan lahan yang lebih sempit namun tinggi padat tebarnya, sehingga lingkungannya menjadi lebih terkontrol dan produktivitas menjadi lebih tinggi.

David Kawahigashi selaku Technical Director Vannamei 101 sekaligus pendamping dalam perjalanan ini menyebutkan, “Saya rasa Vietnam dapat dijadikan acuan untuk budidaya udang intensif, karena bahkan dengan keadaan kualitas air yang sangat sulit untuk berbudidaya, rakyat Vietnam tetap mencari cara untuk keluar dari persoalan tersebut. Sehingga diterapkanlah sistem dan desain pemeliharaan 3 fase dalam kolam bundar yang dapat meningkatkan produktivitas mereka hingga 6 kg/m2 sebanyak 5 kali dalam setahun.”

Perjalanan ini menjadi momen berharga bagi para peserta untuk melihat langsung sistem budidaya yang bebas penyakit dengan produktivitas tinggi. Patrick Wijaya Tjoek sebagai salah satu perwakilan petambak muda dari PT Sumber Yala Samudra, menyatakan pentingnya untuk generasi muda melihat lebih luas dan mempelajari teknologi budidaya udang di negara lain.

“Budidaya udang di Vietnam ini sangatlah berbeda dengan di Indonesia. Saya lihat petambak disini sangat ‘ulet’ dan memiliki kreativitas yang tinggi untuk keluar dari permasalahan yang ada. Saya bisa bilang budidaya itu tidak hanya harus menggunakan satu konsep, lebih ke seni daripada sains. Sehingga menarik untuk terus mempelajari hal baru disini.” Tukasnya setelah kunjungan dari tambak.

Selain menjadi media belajar, kunjungan ini dapat dijaikan referensi dalam peningkatan efisiensi produksi udang. “Jadi di Vietnam ini selain sistem water treatment yang bagus, mereka juga menggunakan two step farming. Artinya mereka menggunakan nursery, sebelum kemudian dilanjutkan ke grow out. Dengan sistem ini mereka bisa keluar dari persoalan penyakit, juga produktivitasnya meningkat sangat jauh.” Ujar Hasanuddin Atjo sebagai figur praktikisi udang senior di Indonesia.

Beliau juga melanjutkan bahwa dengan adanya sistem ini, tambak tradisional dapat mencapai hasil panen hingga 50 ton/ha yang jika dibandingkan dengan Indonesia hanya 300-500 kg/ha. Sehingga sudah sewajarnya hal ini dipertimbangkan untuk dijadikan referensi untuk revitalisasi tambak-tambak rakyat di Indonesia.

“Menurut saya informasi dari Vietnam ini harus kita sebarluaskan di Indonesia, agar semua masyarakat tahu bahwa persoalan EHP, EMS, dan AHPND itu sebenarnya ada solusinya. Yaitu dengan inovasi yang telah diterapkan di Vietnam ini.” Tutup Atjo dalam wawancaranya bersama Minapoli.

Untuk melanjutkan informasi kunjungan ke Vietnam ini secara lebih luas, Minapoli bersama PT Tequisa Indonesia dan Skretting Indonesia akan menyelenggarakan webinar BincangMina dengan tema “Teknologi Tambak Rakyat Vietnam: Sistem Budidaya Multifase Supra-intensif” pada Senin, 14 November 2022 melalui zoom meeting. Daftarkan diri Anda segera di bit.ly/bm- vietnam dengan biaya pendaftaran Rp 100.000,-. Manfaatkan kesempatan ini untuk meningkatkan produktivitas udang Anda!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *