Jaga Kualitas Pakan Udang dengan Feed Additive

Jaga Kualitas Pakan Udang dengan Feed Additive

Harga bahan baku pakan akuakultur dunia dalam dua tahun terakhir terus menanjak. Kenaikan harga bahan baku pakan membuat biaya produksi turut membengkak. Sementara, daya beli konsumen produk perikanan budidaya, termasuk udang, belum pulih akibat pandemi. Di sisi lain, konsumen juga semakin menuntut bahan baku pakan berkualitas yang berkelanjutan untuk memproduksi udang.

Melonjaknya harga bahan baku pakan udang menjadi tantangan yang harus dijawab para pelaku industri pakan dan juga para petambak udang. Pengurangan dan substitusi bahan baku impor dilakukan untuk menekan harga pakan dengan tetap mempertahankan kualitas pakan. Salah satu solusi yang saat ini dilakukan dan menjadi bahan perbincangan dalam industri pakan udang adalah penggunaan feed additive dalam pakan.

Menurut Ujang Komarudin, Direktur Pakan dan Obat Ikan DJPB KKP, menjelaskan tentang pengertian feed additive. Ia menjelaskan bahwa feed additive (imbuhan pakan) adalah suatu zat yang secara alami tidak terdapat dalam pakan ikan, yang ditambahkan dengan tujuan pemakaian terutama sebagai pemacu pertumbuhan ikan dan kesehatan ikan (Peraturan Menteri KP no. 55/2018 tentang Pakan Ikan).

Menurut Andi Tamsil, Dosen Fakultas Perikanan/Ilmu Kelautan UMI Makassar, banyak cara yang dilakukan untuk menyiasati kualitas pakan, antara lain menggunakan feed additive sehingga telah beredar beberapa merek di pasaran.  Selain oleh pabrik pakan sendiri, beberapa pembudidaya juga dengan inisiatif sendiri menggunakan feed additive sesuai dengan kebutuhannya.

Guno Gumelar, Pengawas Perikanan dan Pembesaran Udang Intensif BPBAP Takalar mengungkapkan kegunaan secara umum dari feed additive dalam pakan :

  • Untuk udang dapat meningkatkan pertumbuhan, status kesehatan, dan menjaga keseimbangan mikroba dengan cara meningkatkan kecernaan pakan, meningkatkan pemanfaatan nutrisi, menghambat mikroba pathogen di usus, dan meningkatkan koloni bakteri menguntungkan di usus.
  • Untuk pathogen, mengurangi pathogenesis mikroba dalam usus dengan menghambat pertumbuhan bakteri pathogen dan menurunkan virulence gene expression
  • Untuk lingkungan, meningkatkan kualitas air dengan menjaga ammonium/ammonia dan nitrit pada level yang rendah serta menurunkan jumlah mikroba pathogen (vibrio).

Lebih lanjut kita akan menelaah, apakah kegunaan feed additive bisa menyiasati kualitas atau nilai nutrisi yang terdapat pada pakan? Mari kita simak pendapat para ahli mengenai hal ini.

Feed additive tingkatkan kualitas pakan
“Penggunaan feed additive pada formulasi pakan ikan dapat melengkapi nutrisi serta meningkatkan kualitas pakan karena penambahan suatu zat tersebut memilikii fungsi tertentu yang sangat diperlukan  oleh ikan. Misalnya, zat untuk mempercepat pertumbuhan atau zat untuk ketahanan dan kesehatan tubuh ikan,” ungkap Ujang Komarudin.

Hal ini juga diakui oleh Arif Faisal Siburian, Senior Technical Sales Executive, PT Behn Meyer Chemicals Feed. “Additive tentu dapat menyiasati kualitas yang terdapat pada pakan. Ada beberapa penambahan feed additive yang sejatinya ditambahkan pada pakan untuk meningkatkan kualitas pakan,” tutur Arif.

Lebih spesifik, Romi Novriadi, Kepala Pusat Pengkajian Pengembangan Pakan dan Nutrisi IkanPoliteknik Ahli Usaha Perikanan mengemukakan bahwa imbuhan feed additive pada pakan dapat memberikan fungsi pemanfaatan optimal dari bahan baku yang digunakan. Tingkat ketercernaan bahan baku pakan dapat ditingkatkan melalui penggunaan enzim atau emulsifier, komponen nutrisi dapat ditingkatkan melalui penggunaan premix, kesehatan ikan dan udang dapat dioptimalkan dengan penggunaan probiotik dan nukleotida dan tingkat palatability pakan dapat dimaksimalkan melalui penggunaan bahan hasil hidrolisis yang tepat.

“Penggunaan additif bisa dilakukan sebanyak ±5% dalam formulasi pakan dan bahan additif yang berbeda dapat dikombinasikan untuk mencapai target produksi yang ditentukan,” ungkapnya.

Sementara itu, Haryoso, Technical Support Nasional PT. Thai Union Kharisma Lestari mengungkapkan bahwa feed additive sifatnya hanya nutrisi/bahan imbuhan untuk menambah nilai kualitas pakan. Jadi, kegunaan feed additive tidak bisa menyiasati kualitas/nilai nutrisi pakan karena nilai nutrisi pakan lebih ditentukan dari formulasi banyaknya bahan baku dengan berbagai kandungan yang dibutuhkan udang, seperti protein, lemak, serat, dan lain-lain.

Ragam fungsi feed additive dalam pakan
Ajat Sudrajat, Senior Sales Manager PT. Behn Meyer Chemicals mengungkapkan beberapa fungsi feed additive. “Feed additive tidak banyak berpengaruh terhadap nilai nutrisi, akan tetapi berpengaruh terhadap performa pakan, seperti meningkatkan kecernaan, mengikat toksin, meningkatkan palatabilitas, meningkatkan pigmentasi, meningkatkan imunitas, mengemulsi lemak sehingga mudah diserap, meningkatkan fungsi kerja usus dalam menyerap nutrisi, pellet binder, dan banyak lagi fungsi feed additive yang lain,” tuturnya.

Menurut Angga Rizki Ramadhan, Product Development & Management De Heus Indonesia, feed additive dapat digunakan untuk suplemen nutrisi pada pakan. Pada dasarnya feed additive digunakan untuk meningkatkan kesehatan dan mengoptimalkan proses budidaya.

Dany Yukasano, National Technical Services Manager PT. Grobest Indomakmur berpendapat bahwafeed additive sangat berguna untuk menyiasati nilai nutrisi pakan. Tergantung dari fungsi additive tersebut, apakah sebagai immunostimulan, meningkatkan daya cerna udang, merangsang nafsu makan (appetite), penghambat pathogen,  dan lain-lain.

Feed additive juga dapat berfungsi untuk menjaga kualitas performa pakan udang. Hal ini diungkapkan oleh Abung Maruli Simanjuntak, Technical Expert Manager – Aquaculture, PT. DSM Nutritional Products Manufacturing Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa penggunaan feed additive seperti enzim proteasepada pakanmampu meningkatkan performa pakan udang.

“Beberapa hasil penelitian, baik skala laboratorium maupun lapangan menunjukkan bahwa penggunaan protease mampu meningkatkan kemampuan udang untuk memanfaatkan protein yang berasal dari bahan baku nabati yang ada di dalam pakan sehingga meningkatkan performa pertumbuhan udang yang dipelihara,” ujar Abung.

Abung menambahkan, “Selain itu, dengan menambahkan enzim lainnya, seperti phytase dalam pakan, juga mampu meningkatkan ketersediaan fosfor dalam bahan baku pakan yang berasal dari nabati.Jadi, bisa menghemat penggunaan bahan baku pakan sumber fosfor yang berasal dari anorganik fosfor seperti MCP (monocalcium phosphate) dan DCP (dicalcium phosphate).”

Feed additive tingkatkan kecernaan pakan
Rizki Fajar Kurniawan, Technical Support Pansela Jawa De Heus Indonesia mengungkapkan bahwa penggunaan feed additive mampu meningkatkan kecernaan pakan. Sebab, pakan yang melalui proses enzimatik mampu meningkatkan nilai kecernaan. Asam amino kompleks yang ada di pakan akan dipecah menjadi lebih sederhana sehingga kecernaannya akan lebih sempurna. Hal tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan, mengapa tidak disederhanakan di pabrik pakan saja prosesnya? Hal itu masih belum bisa dilakukan karena terhalang kemasan dan masa kadaluarsa yang nanti akan lebih singkat.

“Selain meningkatkan nilai kecernaan pakan, feed additivejuga berfungsi untuk meningkatkan imunostimulanpada tubuh udang karena terdapat vitamin dan mineral yang bersifat esensial (tidak dapat diproduksi didalam tubuh udang itu sendiri),” ujar Rizki.

Senada dengan Rizki, Catur Supriyantoro, Teknisi di PT Dua Putra Perkasa (DPP) berpendapat bahwa feed aditif bisa membantu menaikkan proses daya serap nutrisi yang dimiliki pakan terhadap daya cerna yang dimiliki udang. Sistem pencernaan udang sangat sederhana, dengan ditambahkan feed additive bisa membantu udang dalam penyerapan nutrisi, kesehatan, kekebalan tubuh, dan efisiensi pakan.

Feed additive penuhi kebutuhan khusus udang
Menurut Rudy kusharyanto, Ketua Harian FKPA, Forum Komunikasi Praktisi Akuakultur, penggunaan feed additive lebih ke arah membantu meningkatkan kualitas, baik protein, vitamin, dan mineral, bukan menggantikan kualitas bahan baku yang terdapat di pakan. Oleh karena itu, feed additive bertujuan menjaga dan mempertahankan kesehatan udang, menunjang udang vannamei dapat tumbuh secara optimal, dan meningkatkan produksi. Bahan atau kombinasi bahan yang ditambahkan (bersifat non-nutritif) ke dalam campuran makanan dasar untuk memenuhi kebutuhan khusus (enzim, probiotik, dan lain-lain).

Mochammad Heri Edy, Dosen Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo, menjelaskan bahwapenambahan feed additive dalam pakan bertujuan untuk mendapatkan pertumbuhan yang optimal pada ikan. “Feed additive adalah materi atau kombinasi materi tertentu yang sengaja ditambahkan ke dalam ransum pakan  untuk menaikkan nilai gizi pakan guna memenuhi kebutuhan khusus atau imbuhan yang umum digunakan dalam menyusun pakan udang. Selain hal tersebut, additive biasanya ditambahkan dalam kuantitas yang kecil ke dalam adonan makanan dasar atau pecahan dari padanya untuk memenuhi kebutuhan khusus, misalnya additive materi suplemen, additive materi premix, dan additive lainnya, seperti hormon, arsenikal, sulfaktan, dan transquilizer,” tutur Mochammad.

Mochamad menambahkan, “Pada bahan, contohnya pellet binder untuk memperbaiki water stability dan antioksidan untuk memperpanjang masa penyimpanan, sensory additive yang merupakan atraktan untuk meningkatkan feed intake dan kesukaan  udang terhadap bau pakan, serta pewarna untuk membuat warna pakan stabil. Pada nutritional additive, contohnya vitamin, asam amino, serta tracemineral untuk pertumbuhan yang lebih optimal. Ada pula zootechnical additive, yaitu enzim untuk meningkatkan efisiensi pakan dan phytogtenic untuk meningkatkan sistem imun.”

Budiono, pengusaha tambak udang di Indramayu mengakui bahwa feed additive dapat menaikkan kandungan vitamin, mineral, atau asam amino pada pakan. Jenis bahan feed additive memiliki sifat yang berbeda-beda, tergantung kebutuhannya. Hal ini diungkapkan oleh Bang Jack, Founder/Ketua/Moderator komunitas FIB (Forum Informasi Budidaya). Menurutnya, feed additive bisa menyiasati kualitas pakan/nutrisinya tergantung jenis dan bahannya. Berdasarkan sifat bahannya. Feed additiveterbagi menjadi dua,  yakni:

  • Feed additive sebagai nutrient: asam amino, asam lemak, oligosakarida, mineral
  • Feed additive non nutrient: arang aktif, zeolit, pigmen, fitokimia, mikroba, asam organik.

Feed additive: biaya produksi pakan bertambah
Meskipun bahan baku pakan diganti dengan yang lebih murah, tetapi perlu dicermati biaya tambahan untuk feed additive agar biaya pakan tetap tetap terjangkau. Beberapa pendapat ahli berikut bisa menjadi masukan untuk dipertimbangkan.

Menurut Daniel M. Nugraha, GM Animal Health Service Central of Indonesia PT Central proteina prima, Tbk., feed additive bisa digunakan untuk menyiasati kualitas pakan agar tidak menurun. Namun, tetap berbeda dampaknya jika dibandingkan dengan nutrisi yang sudah dicampurkan pada pakan pabrikan. Selain itu, tetap akan ada cost/biaya tambahan yang dikeluarkan. Secara total, cost pakan plus feed additive akan lebih mahal dibandingkan pakan murni.

Achmad Nur Komari, Sales dan Marketing De Heus Indonesia,menyatakan bahwa feed additive bisa menyiasati hampir 50% kualitas pakan, tinggal aplikasinya oleh petambak agar tidak menambah biaya produksi (noerhidajat/adit/resti).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *