Lompatan Produksi Udang Nasional 250%

Udang vaname

Sebuah perubahan akan selalu muncul dan melahirkan sebuah harapan baru, demikian pula pergantian estafet nahkoda di Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) dari Susi ke Edy Parabowo yang memunculkan harapan baru bagi insan perikanan di Indonesia, tidak terkecuali di sektor budidaya udang.

Harapan baru itu adalah peningkatan 2.5 kali lipat produksi udang dari hasil budidaya di tahun 2024. Angka yang terlihat kecil tetapi kalau kita cermati lebih dalam adalah angka yang sangat besar, sebuah lompatan angka yang sangat tinggi untuk mencapainya.

Data produksi pakan nasional dari Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) 2019 bahwa produksi pakan sebesar 321,000 MT, dengan asumsi FCR 1.3 berarti produksi udang nasional dari budidaya adalah sekitar 250,000 MT, dengan kata lain lompatan produksi 2.5 kali lipat yang ingin dicapai adalah 625,000 MT. Setelah menjadi angka ini baru terlihat “ WOW “ besar juga. Dengan angka ini, Negara Indonesia bisa menjadi produsen udang terbesar di dunia bersaing dengan Ekuador dan India.

Angka 625 ribu ton ini bukan angka yang mustahil bisa kita capai, tetapi yang menjadi hal terpenting adalah langkah-langkah apa yang harus segera dilakukan untuk bisa melompat setinggi itu. Perlu sebuah gerakan masif dari para stakeholder Perudangan Nasional dan tentunya sebuah gerakan yang sifatnya masif perlu didukung dengan partisipasi banyak orang.

Dari dunia bisnis, kita bisa berguru pada dunia property dimana bisnis apartment dan perumahan berkembang pesat. Bukan karena orang-orang yang memiliki uang banyak sehingga mampu membeli apartment maupun perumahan, tetapi fasilitas yang diberikan dari Bank dengan uang muka murah dan angsuran sehingga kelompok masyarakat menengah menjadi mampu untuk membelinya. Ini pun terjadi di bisnis otomotif dimana terjadi lompatan tinggi kepemilikan mobil dan motor.

Beberapa kata kunci yang bisa kita ambil adalah adanya keinginan, pemberian fasilitas dan kesempatan, dan melibatkan banyak orang.

Tiga tahun yang lalu, di Purworejo terjadi gerakan masif dalam budidaya udang vaname tetapi gerakan ini bersifat spontan karena hanya melihat dari sisi bisnis dimana ada contoh budidaya udang vaname di daerah tersebut yang berhasil sehingga beramai-ramai orang terjun ke budidaya ini karena perhitungan untung yang menggiurkan. Tetapi sayangnya hal ini tidak bisa berlanjut lama dikarenakan sistem budidaya yang kurang memperhatikan faktor-faktor keberlanjutan.

Kalau kita bicara potensi lahan tambak di Indonesia sangat besar, tetapi secara aktual pemanfaatan lahan tergolong masih kecil. Data menunjukkan ada potensi lahan 2.96 Juta Ha untuk budidaya udang dimana baru termanfaatkan sebesar 0.6 juta Ha (data KKP). Produksi udang nasional sekitar 250,000 MT (dengan dasar data produksi pakan dari assosiasi pabrik pakan), katakan 200,000 MT dihasilkan oleh petambak intensif dan sisanya dari petambak semi-intensif dan tradisional. Untuk tambak intensif, dengan rata-rata produktifitasnya 24 ton/Ha/tahun artinya lahan produksi aktif yang dikelola oleh tambak intensif adalah 8,500 Ha. Sedangkan produktifitas tambak semi dan tradisional 2-4 ton//Ha/per tahun dengan area produksi 25,000 Ha. Dengan perhitungan ini artinya masih sangat besar lahan yang tersedia untuk budidaya udang.

Beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk melakukan lompatan produksi udang Nasional, dua model umum tambak yang sudah berkembang di Indonesia adalah tambak intensif dan tradisional. Dari kedua model ini kita harus bisa mengoptimalkan untuk dapat melompat tinggi mencapai produksi udang nasional 2 kali lipat.

  1. Pendekatan Tambak Sistem Intensif

Petambak intensif yang ada sekarang sudah sangat mampu secara teknis dengan capaian produktivitas bisa 15-20 ton/Ha/siklus, bahkan ada yang lebih dari angka ini. Tantangan perijinan di level Pemda yang masih menjadi pekerjaan bersama. Peran KKP sangat diperlukan di wilayah ini.

Untuk tambak intensif yang sudah berjalan dengan skala tambak menengah dan besar, menjaga eksistensi produksi untuk kelompok ini sangat penting. Kondusifitas usaha yang perlu didukung agar mereka bisa lebih tenang dalam bertambak dan bisa melakukan perluasan usaha. Lompatan perluasan tambak di kelompok ini tidak bisa tinggi karena terkait dengan investasi dan jumlah petambak intensif tergolong tidak banyak.

Untuk bisa melakukan lompatan produksi di tambak intensif adalah menciptakan kesempatan memunculkan petambak-petambak baru. Banyak teknisi-teknisi senior yang secara teknis mumpuni dan pemain-pemain baru tetapi keterbatasan modal yang menjadi kendala.

Menggandeng perusahan property dengan konsep perumahan ataupun apartement dengan fasilatas perbankan bisa menjadi pilihan yang tepat. Membuat sebuah kawasan tambak “Tambak Residance” ataupun “ Tambak Apartemen” dengan fasilitas yang lengkap seperti tandon, gudang pakan, IPAL dan fasilitas lain yang bisa digunakan bersama dengan pengelolaan secara professional. Dengan adanya fasilitas ini, para pemain baru akan memiliki kesempatan memiliki tambak dengan modal yang tidak terlalu besar.

Anggaran KKP seharus nya bisa digunakan untuk menginisiasi dengan 1 project “Apartemen Tambak” sebagai dana talangan yang akan kembali ataupun bergulir.

  1. Pendekatan tambak Tradisional

Ekuador bisa memproklamirkan diri sebagai salah satu penghasil udang budidaya terbesar di dunia dengan model tambak tradisional (kepadatan rendah). Indonesia memiliki potensi yang besar di wilayah ini dimana terhampar tambak-tambak ”idle” yang tidak terkelola dengan baik. Keberlanjutan hasil tambak model tradisional lebih mudah didapatkan dimana resiko tekanan lingkungan dan penyakit lebih rendah dibandingan tambak intensif.

Satu faktor yang menjadi kendala adalah keterbatasan sumber air laut yang bagus, dimana saat ini tambak-tambak tradisional hanya mengandalakan sumber air laut dari kanal atau parit yang sangat tergantung dari pasang surut air laut dan ditambah dengan inlet dan outlet yang tidak mengedepankan aspek biosecurity. Istilah yang bisa digunakan “Petambak kekurangan air laut di tengah lautan”. Kita harus mencarikan solusi bagaimana mendatangkan air laut yang bagus ke area-area tambak tradisional. Konsep Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) bisa kita adopsi, kita rubah menjadi Perusahaan Daerah Air Laut (PDAL) yang bisa mensuplay air laut ke tambak.

Selain sumber air laut, klusterisasi tambak tradisional harus dilakukan untuk mempermudah pengelolaan dari sisi managemen maupun biosecurity.

Kembali lagi bahwa KKP memiliki kemampuan dana untuk menginisiasi program ini dengan melibatkan stakeholder yang memiliki kepentingan besar di tambak yaitu pabrikan pakan dan supplier saprotam. Dengan dua pendekatan ini yang dilakukan secara professional Insya Allah lompatan produksi udang nasional bisa tercapai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.