Memanfaatkan Daun Ruku-ruku (Ocimum sanctum) Dalam Kegiatan Perikanan

Memanfaatkan Daun Ruku-ruku (Ocimum sanctum) Dalam Kegiatan Perikanan

Oleh: Yuli Andriani

Staf Pengajar Departemen Perikanan

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki diversitas tanaman herbal yang sangat tinggi. Salah satu tumbuhan yang banyak tumbuh dan digunakan oleh masyarakat Indonesia adalah tanaman ruku-ruku (Ocimum sanctum).  Kelompok tumbuhan dari genus Ocimum mempunyai ciri khas bau harum pada daunnya, dan sering digunakan sebagai obat atau bumbu. Jenis yang sering dibudidayakan yaitu kemangi (Ocimum canum) dan ruku-ruku (Ocimum sanctum). Penggunaan daun ruku-ruku ternyata juga dapat digunakan dalam kegiatan akuakultur. Beberapa penelitian menunjukkan kandungan biokimia dalam tanaman ruku-ruku dapat digunakan sebagai anti bakteri, bahan pengawet ikan segar dan olahan, serta sebagai anestesi dalam proses pengangkutan ikan.

Morfologi dan Distribusi Tanaman Ruku-ruku

Tanaman ruku-ruku tumbuh di daerah tropis dan subtropis. Tanaman ini tumbuh tegak dengan tinggi antara 30-75 cm, bercabang banyak dan terdapat bulu halus (Gambar 1).

Memanfaatkan Daun Ruku-ruku (Ocimum sanctum) Dalam Kegiatan Perikanan
Gambar 1. Tanaman Ruku-ruku (Ocimum sanctum)

Tanaman ruku-ruku banyak terdapat di Jawa dan Madura, mudah tumbuh di tempat-tempat kering pada ketinggian 1 – 1.100 meter di atas permukaan air laut, tepi kebun atau ladang, sawah kering, taman, hutan terbuka, dan padang rumput. Tanaman ruku-ruku dikenal dengan nama yang berbeda-beda di beberapa daerah, antara lain di Pulau Sumatera: balakama, kemangi utan, ruku-ruku (Sumatera Barat), Jawa: klampes, lampes (Sunda), kemangen (Jawa), Madura: kemangi, ko-roko, Nusa Tenggara/Bali: uku-uku, Sulawesi: balakama (Manado), Maluku: lufe-lufe (Ternate) (Sudiati 2013). Daun ruku-ruku memiliki aroma seperti cengkeh dan terasa pedas dimulut. Tanaman ini dikenal sebagai Tulsi “ratu tanaman” karena memiliki potensi yang besar untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit.

Daun Ruku-ruku Sebagai Antimikroba

Manfaat sebagai bahan obat ataupun sebagai rempah dari tanaman ruku-ruku lebih banyak berkaitan erat dengan aromanya. Aroma yang berasal dari daun kedua jenis tumbuhan ini mampu mengurangi bau anyir pada ikan basah. Berdasarkan penelitian-penelitian pada genus Ocimum, umumnya tanaman dari genus ini mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tannin, saponin, triterpenoid, dan minyak atsiri (Ginting 2004)

Tanaman ruku-ruku memiliki fungsi aromatic yang berasal  dari kandungan minyak atsiri di dalam daunnya,  yang memiliki aktivitas antifungal melawan Aspergillus niger, Rhizopus stolinifera dan Penicillium digitatum (Geeta et al. 2001). Ekstrak air tanaman ruku-ruku menunjukkan penghambatan terhadap pertumbuhan Klebsiella sp., Eschericia coli, Proteus sp. dan Staphylococcus aureus, bahkan ekstrak alkoholik ruku-ruku dapat menghambat pertumbuhan Vibrio cholera (Geeta et al. 2001). Tanaman ruku-ruku mengandung banyak nutrisi dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Komposisi tanaman ruku-ruku

Komposisi Kadar (mg)
Protein 4200
Lemak 500
Karbohidrat 2300
Kalsium 25000
Fosfor (P) 287
Besi (Fe) 15,1
Belerang (S)
Vitamin A
Vitamin C

Sumber: Pitojo (1996) dan Luthra (2010)

Beberapa golongan kandungan kimia daun ruku-ruku dapat menghambat pertumbuhan bakteri seperti senyawa alkohol, minyak atsiri dan fenol. Senyawa ini bisa sebagai bakteriostatik dan bakteriosida (Ayreess et al. 1988). Bakteriostatik mempunyai karakteristik apabila bahan antibakterinya dihilangkan, maka bakteri dapat tumbuh lagi, sedangkan pada bakterisidal, bakteri yang telah mati tidak dapat berkembang biak lagi meskipun bahan antibakterinya telah dihilangkan (Hikmah 2018). Beberapa penelitian menunjukkan ruku-ruku mampu berperan sebagai anti bakteri terutama pada Eschericia coli, Streptococcus mutans dan Staphylococcus aureus,Selain itu ruku-ruku ersifat antioksidatif  karena mengandung asam askorbat, b-karotene, b-sitosterol, eugenol, asam palmitat, dan tanin (Mishra 2008).

Daun Ruku-ruku Sebagai Anestesi Transportasi Ikan

Transportasi ikan hidup dari hatchery ke kolam pembesaran atau tempat penjualan merupakan salah satu hal yang penting. Ikan dijaga dalam keadaan hidup sampai tujuan dengan cara menurunkan metabolismenya. Salah satu metode yang digunakan dalam transportasi ikan adalah dengan cara memingsankan ikan selama perjalanan. Selama ini pembiusan ikan dalam proses transportasi menggunakan bahan anestesi sintetis seperti Trichaine sufanosulfat (MS-222) dan Quinaldine (2-4 Methychinolin). Beberapa kendala penggunaan bahan anestesi sintesis untuk transportasi ikan adalah : 1) dosis yang tidak tepat dapat menyebabkan ikan mengalami keracunan, 2) Penggunaan bahan kimia dalam terakumulasi dalam tubuh ikan dan berbahaya bagi manusia yang mengkonsumsinya, 3) Harga bahan anestesi sintesis mahal.

Yuli Andriani

Penggunaan anestesi alami merupakan hal yang perlu dipertimbangkan dalam transportasi ikan. Minyak cengkeh, minyak biji paladan, minyak biji karet  dan daun ruku-ruku telah diteliti dan terbukti mampu menjadi bahan anestesi alami. Tanaman-tanaman tersebut mempunyai bahan aktif seperti minyak atsiri, saponin, galavoind dan tannin yang bersifat membius pada system syaraf pusat, sehingga organisme tidak sadar atau mengalami pingsan.. Selain itu ruku-ruku mengandung 64.5% metil eugenol, 4% sineol, 2.3% linalol dan 1% terpinol (Kardinan 2001).Penggunaan bahan alami ini lebih aman karena tidak memiliki residu dan tidak bersifat toksik bagi ikan maupun manusia sebagai konsumen.

Penggunaan daun ruku-ruku sebagai bahan anestesi telah dilakukan pada transportasi ikan nila ( Efendi et al 2018). Hasilnya menunjukkan bahwa 20% larutan ekstrak daun ruku-ruku mampu membuat pingsan ikan selama 1 jam (100%), 3 jam (90%), 5 jam (75%) dan 9 jam (20%).

Daun Ruku-ruku Sebagai Bahan Pengawet Ikan

Ikan merupakan pangan yang mudah busuk. Upaya yang dapat mempertahankan kualitas ikan adalah kombinasi antara pendinginan dan pemberian bahan pengawet. Bahan pengawet adalah senyawa yang mampu menghambat dan menghentikan proses fermentasi, pengasaman, atau bentuk kerusakan lainnya, atau bahan yang dapat memberikan perlindungan bahan pangan dari pembusukan (Margono 2000).

Eugenol pada minyak atsiri daun ruku-ruku dapat berperan sebagai antibakteri patogen (Sastry et al. 2012). Eugenol ini juga yang memberikan aroma khas pada tanaman ruku-ruku (Kardinan 2003). Berdasarkan kandungan flavonoid, tanin, minyak atsiri, dan senyawa aktif lain yang sifatnya antimikroba dan antibakteri, daun ruku-ruku dapat dijadikan alternatif bahan pengawet alami untuk ikan (Riady dkk, 2019).  Hasil penelitian Riady et al (2019) disajikan dalam Tabel 3.

 

Tabel 3. Pengaruh Pemberian Ruku-ruku Terhadap Daya Simpan Ikan Kembung

No. Pengamatan Konsentrasi Larutan Daun Ruku-Ruku (%)
0 10 30 50
1. Masa Simpan (Hari ke-) 7 9 13 13
2. Jumlah Bakteri pada Batas Penerimaan (cfu/g) 1,61 × 107 1,70 × 107 6,90 × 107 5,10 × 107
3. Derajat Keasaman (pH) pada Batas Penerimaan 6,40 6,60 6,95 7,40
4. Susut Bobot pada Batas Penerimaan (%) 6,59 8,25 9,52 7,37
5. Kadar Air pada Batas Penerimaan (%) 67,06 71,65 65,32 68,51

Sumber : Riady et al 2019

Berdasarkan informasi diatas, dapat disimpulkan bahwa daun ruku-ruku memiliki potensi yang besar untuk digunakan dalam kegiatan perikanan, khususnya sebagai bahan pengawet ikan segar, antimikroba dan anestesi dalam proses transportasi ikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.