Tantangan Besar Industri Pakan: Kualitas dan Harga

Bergairahnya sektor budidaya dan pemasaran udang harus dibarengi juga dengan sektor industri penunjang, di antaranya adalah industri pakan. Seiring kenaikan harga bahan baku pakan, sektor budidaya udang pun terkena imbasnya. Bagaimana industri pakan menyikapinya?

Berbicara mengenai pemasaran udang, maka ‘udang’ lah komoditas yang diperdagangkan dan akan dinilai oleh pasar, sesuai dengan keinginan pasar. Pakan adalah pendukung produksi udang, yang akan dipasarkan sesuai keinginan pasar udangnya, dalam hal ini prospeknya akan mengikuti secerah apa pasar dunia menerima udang Indonesia. Hal ini diungkapkan oleh Deny Mulyono, Ketua GPMT (Gabungan Perusahaan Makanan Ternak).

Kondisi harga bahan baku yang naik turun sehubungan dengan ketersediaan dan musim, tentu menjadi tantangan bagi pabrikan untuk terus berinovasi dalam formula pakan agar tetap kompetitif dan mendukung produksi udang di Indonesia, sesuai kebutuhan pembudidaya.

Menurut Julius Roland Sebastian, Head of Marketing and Sales Shrimp Feed, PT Suri Tani Pemuka, produksi pakan udang di tengah kenaikan harga bahan baku pakan memang menjadi tantangan karena tidak seluruh kenaikan harga bahan baku dapat diaplikasikan ke harga jual pakan. Sehingga, pabrikan pakan berupaya melalui berbagai cara untuk menjaga mutu dan kualitas pakan.

Cara yang ditempuh produsen pakan biasanya dengan mengamankan pasokan bahan baku dalam jangka yang lebih panjang atau uji coba berbagai bahan baku alternatif. “Bila memang tidak bisa dihindari lagi, kenaikan harga harus dilakukan dengan berat hati demi menjaga mutu dan kualitas pakan di pasaran,” ungkap Julius.

Harga bahan baku pakan naik

Menurut Andi Sirajuddin, De Heus Indonesia (PT Universal Agri Bisnisindo), naiknya bahan baku berimbas kenaikan harga penjualan pakan kepada pembudidaya. Hal ini tidak berpengaruh signifikan jika kualitas pakan yang dihasilkan lebih baik untuk pertumbuhan udang.

Hal senada juga diungkapkan Budianto, Marketing PT Biosindo Mitrajaya. Menurut Budianto, ketika perusahaan pakan menaikkan harga produk, tantangannya adalah bagaimana tetap menjaga kualitas pakan dengan harga yang tidak naik terlalu banyak. Perusahaan obat udang atau probiotik perusahaan probiotik diharapkan melakukan peningkatan kualitas produksi mengingat tantangan budidaya yang semakin berat.

Kenaikan harga pakan dan saprotam

Kenaikan harga pakan dan saprotam tidak serta merta membuat bisnis budidaya udang kehilangan pamor. Hanya saja, keuntungan budidaya yang diterima petambak berkurang. Hal ini diungkapkan oleh Wayan Agus Edhy, Praktisi Budidaya Udang.

“Yang penting diperhatikan adalah manajemen pakan harus lebih ketat agar diperoleh FCR yang lebih baik. Sehingga, biaya produksi bisa ditekan karena biaya pakan menempati porsi 50 – 60% dari total biaya produksi,” ungkap Wayan.

Di lain pihak, Mohammad Nadjib, Direktur PT IANDV BIO Indonesia dan PT Invendo Akuakultur Konsultan, berpendapat, produksi pakan akan terus meningkat mengikuti kebutuhan pasar. Pasalnya, teknologi pakan terus meningkat, apalagi dengan hadirnya banyak perusahaan asing terutama China. Hal ini tentu akan menjadi faktor pendorong persaingan.

Harga pakan tentu akan selalu mengikuti hukum pasar dengan persaingan yang semakin ketat.  “Persoalan bahan baku tidak perlu khawatir, pengganti fish meal, fish oil, dan lain-lain akan terus semakin banyak variasinya,” kata Nadjib.

Tantangan terbesar pakan: kualitas dan harga

Menurut Romi Novriadi, Kepala Pusat Pengkajian Pengembangan Pakan dan Nutrisi Ikan, Politeknik Ahli Usaha Perikanan, tantangan yang paling besar ada di kualitas dan harga pakan. Kenaikan harga pakan tidak bisa dihindari mengingat beberapa bahan baku alternatif pengganti tepung ikan juga mengalami kenaikan. Ditambah lagi, sulitnya mendapatkan kuota transportasi. Harga tepung ikan cenderung stabil, tetapi penggunaannya dibatasi oleh kesepakatan tentang fish in fish out.

Romi melanjutkan, hal yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan upaya serius untuk mencari bahan baku alternatif yang bersifat lokal, berkelanjutan dan mampu memenuhi kebutuhan industri. Salah satu bahan baku yang bisa digunakan adalah tepung bungkil kelapa sawit.

Bahan baku ini sudah digunakan untuk pakan unggas, namun untuk dapat digunakan sebagai bahan baku pakan ikan/udang terkendala oleh kandungan serat yang cukup tinggi sekitar 19 – 20%. sehingga berdampak negatif terhadap daya cerna bahan baku ini. Hal yang bisa kita lakukan bersama adalah bagaimana menurunkan serat kasar ini sehingga daya cerna bahan baku ini dapat meningkat secara signifikan.

Salah satu metode yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan prosedur fermentasi. Teknologi fermentasi, baik yang dilakukan dengan mikroorganisme tunggal atau kombinasi antara jamur, bakteri dan enzim terbukti mampu untuk mengurangi faktor anti-nutrisi di beberapa bahan baku dan meningkatkan profil nutrisi dari bahan baku yang digunakan.

Pakan harus ramah lingkungan

Terkait dengan upaya menggenjot produksi udang, Dedy Safari, Commercial and Technical Manager, Benchmark Genetics, mengungkapkan, produksi pakan udang juga tidak mengalami masalah berarti sejauh kegiatan budidaya masih tetap berjalan dan penyebaran penyakit udang di tambak bisa diredam. Perusahaan pakan juga harus berpikir untuk memproduksi pakan dengan pendampingan teknis budidaya sehingga menciptakan sistem yang ramah lingkungan.

“Karena kalau tidak, dampaknya bisa menyebabkan turunnya daya dukung perairan dan munculnya berbagai penyakit udang akibat dari salah penanganan limbah pakan,” terang Dedy. Lingkungan tambak yang terjaga akan menigkatkan kelestarian budidaya dan penggunaan pakan itu sendiri.

Sertifikasi pakan udang

Tantangan berikutnya dalam industri pakan adalah terkait dengan proses standardisasi. Menurut Deny, untuk pasar udang, ada standar atau sertifikasi tertentu, salah satu contohnya Global GAP yang baru saja mempublikasikan versi 3.0 standar pakan baru atau Compound Feed Manufacturing Standard (CPM).

“Versi 3.0 mendefinisikan persentase tetap tepung ikan, minyak ikan, dan kedelai yang harus bersumber dari produksi berkelanjutan,” ungkap Deny. Ia melanjutkan, setidaknya 60% dari produk ini harus sesuai dengan standar yang diakui GSSI, bersertifikat Marine Trust, atau berasal dari proyek Fishery Improvement Projects (FIP).

Inovasi layanan teknis

Angga A.P. Nugraha, Aqua R&D Manager (Shrimp & Fish), PT CJ Feed & Care Indonesia, berpendapat, “naiknya harga bahan baku pakan, baik yang bersumber hewani atau nabati maupun additive  memang memberikan pengaruh pada RMC sekaligus juga menjadi tantangan bagi ahli nutrisi untuk menghasilkan product yang berkualitas, sesuai dengan kebutuhan nutrisi dan tentu saja memperhatikan aspek biaya yang dapat diterima di pasar,” ungkap Angga.

Menurut Angga, tantangan yang dihadapi oleh pabrik pakan saat ini tidak hanya semakin banyaknya pesaing tapi juga harus berorientasi pada layanan konsumen. Dengan maraknya penyakit budidaya udang misalnya AHPND/EMS, apabila feed mill/pabrik pakan mampu memberikan inovasi dalam pelayanan teknis kepada petambak, misalnya pengujian laboratorium, informasi pemantauan penyakit, dan penyediaan pakan perawatan khusus, serta layanan teknis yang lain.

“Ke depan, bisnis pakan tidak hanya bergantung pada menghasilkan produk berkualitas, namun bagaimana kita sebagai produsen pakan bisa lebih peduli kepada pelanggan,” ungkapnya. (noerhidajat/adit/resti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *