Meningkatkan Kualitas Air Tambak Udang

Oleh:

Rudy Kusharyanto

Suri Tani Pemuka

 

Saat ini dengan makin berkembangnya teknologi budidaya khususnya di udang, maka mau tidak mau terutama pembudidaya yang haus akan pengembangan teknologi untuk menunjang keberhasilan budidaya di tambak harus terus mengupdate diri agar budidaya yang di jalankan ke depan makin baik lagi, dengan banyaknya problematika yang berkembang saat ini, terutama isu penyakit serta kualitas perairan pada umumnya yang makin menurun maka mau tidak mau kita di tuntut untuk makin mengoptimalkan potensi sumber daya yang ada terutama di tambak.

Keberhasilan berbudidaya udang dari satu siklus ke siklus berikutnya harus berpijak pada konsep berbudidaya yang berkesinambungan. Sehingga kegiatan berbudidaya  ini bisa dilakukan secara terus menerus, ramah terhadap lingkungan dan daya dukung lahan tambak untuk produksi budidaya tidak banyak berkurang atau bahkan stabil.

Faktor penting dalam budidaya udang adalah bila kita berhasil dalam memanage air budidaya yang layak dan sesuai dengan water parameter quality untuk budidaya udang, baik itu fisika, kimia maupun biologi.

Banyak pembudidaya mengatakan bahwa memelihara udang berarti kita harus bisa mengelola kualitas air baik di persiapan maupun saat budidaya berlangsung, namun hal tersebut juga tidak mudah, karena banyak faktor X yang berpengaruh selama proses budidaya dan ini menjadi tantangan tersendiri bagi teknisi khususnya untuk mengelola kualitas air agar tetap berlangsung optimal selama budidaya.

Parameter kualitas air erat kaitannya dengan sumber air baku yang ada dalam perairan, semakin bagus air yang akan di kelola akan makin baik, dan yang menjadi penting adalah proses pengolahan air dari sumber perairan kita olah dalam sistem budidaya (tandon, treatment, kolam budidaya, maupun release ke perairan kembali dari IPAL), dan ini menjadi siklus keberlanjutan yang di harapkan bisa sustainable dalam pengelolaannya.

Kualitas air dan Fitoplankton dalam budidaya udang

Kondisi suatu perairan, baik fisika kimia maupun biotik sangat mempengaruhi keberadaan, kelimpahan dan keanekaragaman jenis plankton (fitoplankton) dalam suatu badan air. Beberapa jenis fitoplankton hanya dapat hidup dan berkembang biak dengan baik dalam lokasi yang mempunyai kualitas perairan bagus, walaupun beberapa jenis masih dapat hidup dan berkembang dengan baik dalam perairan yang mempunyai kualitas buruk.

Penilaian kualitas perairan dengan menggunakan pendekatan materi biologi, khususnya organisme plankton, akhir-akhir ini mulai mendapat perhatian yang besar. Pendekatan aspek biologi sangat bermanfaat, karena organisme tersebut mampu merefleksikan adanya perubahan yang disebabkan oleh penurunan kualitas suatu perairan.

Dalam  ekosistem  tambak phytoplankton adalah  dasar dari rantai makanan yang berperan sebagai  produsen yang menghasilkan bahan organik dan oksigen yang nantinya akan dimanfaatkan oleh organisme heterotrof yang berperan sebagai konsumen. Phytoplankton berfungsi sebagai makanan alami dan oksigen yang dihasilkan dapat dimanfaatkan oleh organisme heterotrof dalam ekosistem tambak.

Kondisi kualitas perairan yang berpengaruh terhadap keberadaan jenis-jenis fitoplankton salah satunya adalah kekeruhan, karena dalam perairan yang keruh akan mempengaruhi penetrasi sinar matahari. Keadaan seperti ini akan berpengaruh terhadap keberadaan fitoplankton yang membutuhkan sinar matahari untuk kelangsungan proses fotosintesis.

Berkurangnya fitoplankton di suatu perairan akan mempengaruhi organisme lain mulai jenis-jenis hewan pemakan fitoplankton sampai pada tingkat tropik berikutnya. Kualitas perairan yang buruk akan menyebabkan keanekaragaman jenis fitoplankton semakin kecil, karena semakin sedikit jenis yang dapat toleran dan beradaptasi terhadap kondisi perairan tersebut.

Berdasarkan perbedaan daya toleransi dan kemampuan adaptasi jenis-jenis fitoplankton terhadap habitatnya, maka kelimpahan dan keanekaragaman fitoplankton dapat dijadikan untuk menilai kualitas suatu perairan.

Kualitas fisika dan kimia suatu perairan, baik secara alami maupun adanya pengaruh dari aktivitas manusia, akan mempengaruhi kelangsungan hidup plankton terutama kelimpahannya. Hal ini selanjutnya berpengaruh terhadap struktur komoditas plankton di suatu perairan (tambak).

Keberadaan planton di suatu perairan sangat di dukung oleh ketersediaan nutrien dan kondisi perairan yang optimal. Secara spasial, suplai nutrien yang masuk ke perairan menciptakan perbedaan konsentrasi, tinggal bagaimana petambak bisa mengolah perairan/lingkungan tambak menjadi suatu yang menguntungkan bagi perkembangan udang di tambak tersebut.

Hal ini menyebabkan pula variabilitas cahaya, baik secara spasial maupun temporal. Kelimpahan plankton sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik lingkungan, misalnya perubahan suhu dan arus.

Fitoplankton terdapat pada massa air di permukaan untuk menyerap sinar matahari sebanyak-banyakya untuk fotosintesis. Plankton dapat ditemukan di hampir seluruh habitat perairan dengan kelimpahan dan komposisinya yang bervariasi. Variasi kelimpahan dan komposisinya bergantung pada kondisi suatu lingkungan.

Beberapa faktor lingkungan abiotik di tambak udang seperti paramater fisik-kimia (suhu, intensitas cahaya, salinitas, dan pH) merupakan faktor-faktor yang berperan penting dalam menentukan perkembangbiakan plankton di perairan khususnya di tambak udang.

Di samping itu, faktor biotik seperti tersedianya makanan dan banyaknya predator serta perilaku jenis-jenis zooplankton dalam bersaing memperebutkan makanan merupakan faktor lainnya yang dapat mempengaruhi kelimpahan dan komposisi jenis-jenis plankton itu sendiri, selain itu plankton dapat digunakan untuk mengetahui kualitas dan kesuburan suatu perairan terutama di tambak udang.

Kualitas air dan Fluktuasi selama budidaya

Untuk menjaga water quality agar tetap stabil terutama mengurangi fluktuasi pH biasanya di lakukan dengan melakukan pengapuran yang rutin bisa menggunakan kaptan atau HL (hydrate lime), selain applikasi yang rutin misalnya seminggu 2-3 kali (applikasi 10 ppm) tergantung kondisi pH air.

Juga bisa dilakukan penggapuran untuk menstabilkan kondisi air kolam pada saat setelah/sebelum terjadi hujan bisa di lakukan pengapuran agar pH air tidak terlalu berfluktuasi dan menggangu pertumbuhan udang.

Untuk applikasi siphon memang sebaiknya di lakukan rutin untuk menjaga agar tidak terjadi penumpukan bahan organic yang berlebih di kolam budidaya dan tidak terjadi pembusukan di dasar kolam yang bisa mengakibatkan mortalitas dan memicu penyakit lainnya akan masuk ke kolam budidaya.

Untuk peningkatan frequency siphon sebaiknya dilakukan dengan melihat indicator di nilai TAN&PO4 bila nilai TAN&PO4 cenderung masih rendah bisa dilakukan siphon rutin biasa saja (misalnya seminggu sekali), namun bila indicator nilai TAN&PO4 tinggi sebaiknya frequency siphon di tingkatkan, karena bila nilai indicator TAN&PO4 tinggi berarti menunjukkan bahwa terjadi akumulasi penumpukan bahan organik yang berlebih di tambak, dan ini harus di keluarkan dengan melakukan siphon. (Ed: Adit/Resti)

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.