Naik-Turun Bisnis Pakan Ikan dan Udang

Naik-Turun Bisnis Pakan Ikan dan Udang

“Indonesia masih merupakan pasar yang menarik bagi produsen pakan dunia,”

Petik Adnan Kharisma Technical Sales Aquaculture PT Alltech Biotechnology Indonesia kepada Majalah Info Akuakultur di Indonesia Aquafeed Conference (IAC) 2022 beberapa waktu lalu di Jakarta.

Adnan menjelaskan, alasan Indonesia jadi daya tarik para produsen pakan adalah dengan banyaknya produsen pakan baru yang membangun fasilitas pabrik baru di Indonesia. “Sebelum pandemi, kami menganggap produksi pakan atau budidaya perikanan di Indonesia akan turun, namun kami masih melihat bisnis kami masih bisa bertahan bahkan sedikit berkembang,” ujar Adnan.

Udang masih menjadi bisnis yang menarik di sektor akuakultur saat ini, bila dibandingkan dengan ikan. Namun, setelah pandemi berangsur berkurang nyatanya budidaya udang masih menghadapi tantangan lain seperti perang Rusia-Ukraina beberapa waktu lalu, kenaikan bahan baku, kenaikan harga pakan, dan penyakit.

Bagusnya, menurut Adnan, dalam hal ini pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sangat serius untuk mengembangkan bisnis akuakultur di Indonesia. Seperti menargetkan pertumbuhan ekspor 250% pada tahun 2024, kemudian pemerintah juga mempertimbangkan untuk membuat regulasi yang mudah untuk menarik lebih banyak investor untuk berinvestasi dalam bisnis akuakutur di Indonesia.

GM Marketing PT Matahari Sakti Guntur Binaraja pun mengatakan bahwa bisnis pakan mengalami masa yang berat dan butuh penyesuaian atau adaptif terhadap perubahan agar bisnis tetap survive.

Namun demikian, menurut Direktur PT Alter Trade Indonesia Harry Yuli Susanto, proyeksi bisnis pakan ikan dan udang berjalan seiring potensi peningkatan budidaya udang. Bahkan saat pandemi, sektor udang tetap konsisten melakukan ekspor ke pasar luar negeri.

Ambisi Indonesia untuk peningkatan produksi udang nasional, turut menaikkan potensi permintaan pakan yang diprediksi terus mengalami kenaikan. “Tantangan kedepan adalah bagaimana meningkatkan kualitas pakan dengan biaya yang dapat dijangkau produsen ikan/udang dengan tetap mengutamakan aspek sustainability aquaculture,” jelas Harry.

Sebelum dan Sesudah Pandemi
Abung Maruli Simanjuntak Technical Expert Manager Aquaculture DSM Nutritional Products Manufacturing Indonesia menuturkan, bisnis pakan saat ini jelas sangat berbeda dibandingkan sebelum pandemi.

Menurut Abung, lockdown di China sangat berdampak pada shipping process dan supply terganggu jadi harga bahan baku komoditi menjadi meningkat. Ekonomi cenderung lesu berdampak terhadap permintaan yang rendah, terutama pada pakan ikan air tawar yang mana mayoritas hasil ikan budidaya masih konsumsi lokal.

“Adanya konflik Rusia dan Ukraina membuat harga bahan baku terutama wheat atau gandum menjadi tidak stabil dan cenderung naik. Karena ukraina merupakan salah satu supplier gandum terbesar di dunia,” kata Abung.

Tidak jauh berbeda dengan Abung, menurut Brand Manager Aqua Elanco Animal Health Indonesia Mufti Insani, yang lebih akrab disapa Sani. Menurutnya, bisnis pakan ikan dan udang sebelum pandemi berjalan cukup baik dengan margin yang bagus dan menguntungkan.

Pada tahun 2020 lalu, Sani mengungkapkan, beberapa perusahaan pakan mulai merasakan dampak dari pandemi ke kenaikan harga bahan baku pakan. Kondisi ini diperparah dengan adanya lockdown sehingga demand ikan konsumsi di pasar melemah, harga ikan konsumsi turun, hingga penggunaan pakan komersil dikurangi oleh pembudidaya.

Di semester dua tahun 2021, Sani mengatakan, perusahaan pakan mulai menemukan gairah untuk bangkit karena dampak dari pandemi sudah mulai berkurang, namun pada tahun 2022 harga bahan baku mulai mengalami kenaikan tinggi karena terdampak perang Rusia-Ukraina. Saat ini semua perusahaan pakan dituntut untuk lebih inovatif sehingga bisa menghasilkan pakan yang berkualitas dan menguntungkan baik produsen pakan maupun pembudidaya.

Ass. GM Marketing Pakan Ikan PT Wonokoyo Jaya Kusuma Adi Dianadi juga menuturkan hal senada, bahwa bisnis pakan ikan sebelum pandemi perkembangan cukup baik dengan tren pertumbuhan penjualan pakan ikan yang naik selama 5 tahun terakhir sampai dengan tahun 2020.

Adi menjelaskan, di tahun ke dua mendekati akhir semester ke dua pasca pandemi ini bisnis pakan ikan mulai terkoreksi karena banyak faktor salah satunya adalah dampak dari kenaikan harga bahan baku sehingga mengakibatkan kenaikan harga jual pakan ikan yang tidak diimbangi dengan kenaikan harga jual ikan.

“Semua pelaku bisnis pakan ikan termasuk feedmill berusaha survive dalam kondisi yang sulit saat ini tentunya dengan melakukan efisiensi dan  tetap mencari peluang yang bisa dikerjakan ditengah persaingan yang semakin ketat,” tuturnya.

Budidaya Intensif Bisa Jadi Solusi
Ichsan Fauzi Dosen Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) menuturkan, saat ini sistem budidaya akuakultur yang intensif merupakan salah satu solusi dalam meningkatkan produksi akuakultur.

Ichsan menambahkan, salah satu ciri dari sistem budidaya intensif adalah penggunaan pakan buatan yang tinggi, sehingga peningkatan sistem akuakultur intensif akan meningkatkan ketergantungan industri ini pada ketersediaan pakan ikan atau udang yang berkualitas. Walaupun peran pakan ikan diprediksikan akan semakin penting di masa yang akan datang, masa pandemi merupakan kondisi yang menguji kesigapan perusahaan pakan ikan dalam menjamin ketersediaan pakan untuk kegiatan akuakultur.

Saat ini, jelas Ichsan, kelangkaan bahan baku pakan terus diperparah dengan perang antara Rusia- Ukraina yang menyebabkan terhambatnya pasokan beberapa bahan baku pakan ikan yang penting. Untuk mengatasi masalah kelangkaan bahan baku ini, perlu ada dilakukan kolaborasi dan diskusi antar stakeholder untuk merumuskan kebijakan yang tepat dalam menjamin ketersediaan bahan baku pakan.

Selain itu, ada banyak teknologi di bidang nutrisi dan pakan yang dapat memitigasi masalah yang disebabkan oleh kelangkaan bahan baku. Namun, diperlukan kolaborasi bersama agar teknologi-teknologi tersebut dapat dikembangkan dan diaplikasikan di lapangan. “Apabila kolaborasi dan diskusi antar pemangku kepentingan ini berjalan dengan baik, permasalahan di sektor kelangkaan bahan baku pakan ini akan dapat diatasi,” harap Ichsan.

Ketua Pemuda Tambak Indonesia (PMI) Rizky Darmawan mengatakan, di samping pandemi Covid-19, di industri udang juga sedang dilanda pandemi penyakit AHPND, bahkan di beberapa daerah di Indonesia mulai terganggu produksi karena penyakit ini.

Tetapi untungnya, kata Rizky, dampak AHPND di Indonesia tidak separah dengan yang dirasakan di negara-negara lain seperti Thailand dan China pada awal munculnya penyakit ini sehingga industri perudangan Indonesia masih bisa survive.

“Terkait budidaya udang, pada akhirnya pandemi ini mengingatkan kita semua perihal pentingnya berpikir adaptife dan bertindak agile. Kita telah menyaksikan bagaimana Ekuador dengan sangat efektif berhasil ride the wave of sustainability, sembari lincah menjemput bola dari pasar yang sedang tumbuh adaptif dari bulan ke bulan, utamanya shuffling antara US dan China,” pungkas Jayu Pramudya Group PMO for SEA & Business Advisor for ID Grobest. (Adit/Resti)

Testimoni IAC 2022
Menurut CEO Minapoli, Rully Setya Purnama, Indonesia Aquafeed Conference 2022 adalah sebuah event yang sangat  strategis bagi perkembangan industri pakan nasional. Dari event ini kita bisa mendapatkan informasi terkait inovasi dan teknologi terkini mulai dari bahan baku, feed additive hingga proses produksi pakan itu sendiri. Industri pakan nasional akan sangat terbantu dengan hadirnya narasumber yang sangat kompeten baik dari dalam negeri maupun mancanegara.

Sales Director Skretting Indonesia, Fauzan Bahri, menurutnya Impact pandemi tidak terlalu nyata dalam bisnis udang, impact terasanya hanya sesaat awal pandemi di maret 2020 yaitu terjadi panic selling. Acara ini sangat bermanfaat bagi feedmillers, mendapat tambahan pengetahuan dalam menghadapi tantangan terkini terkait harga raw materials.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.