Teropong Perkembangan Bisnis Pakan

Teropong Perkembangan Bisnis Pakan

Bisnis akuakuktur terus merangkak naik, terlihat dari sudah digelarnya kegitan-kegiatan besar tahunan yang sempat vakum selama dua tahun seperti Indo Fisheries yang digelar bersama Indo Livestock 2022, hingga Indonesia Aquafeed Conference (IAC) 2022 beberapa waktu lalu di Jakarta.

Direktur Pakan dan Obat Ikan DJPB KKP Ujang Komaruddin mengatakan, pandemi Covid-19 selama 2 tahun, 2020-2021 pun berdampak besar terhadap bisnis pakan ikan/udang. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) telah jauh mengurangi konsumsi ikan. Kedai/rumah makan/food center yang sehari-harinya menyajikan berbagai menu ikan, kemudian berhenti total akibat pelarangan makan di tempat umum, sehingga berdampak menurun dratisnya kebutuhan ikan.

Sama halnya Ujang. Parsiholan Effendy Naiborhu General Manager Formulator Aquafeed PT. Leong Hup Jayaindo menuturkan, sejak pandemi secara keseluruhan bisnis akuakultur pasti terpengaruh, daya beli terhadap ikan konsumsi pun menurun akibatnya jumlah budidaya berkurang dan pasti berdampak juga ke daya serap pakan ikan.

“Saat ini memang terasa tantangan lebih banyak dan semua stakeholder harus saling bekerjasama, namun hal baiknya adalah ekonomi perikanan akan semakin bergairah kembali,” ujar Sihol, sapaan akrabnya.

Lebih jauh, pandemi berkepanjangan berdampak kepada berkurangnya kegiatan produksi budidaya dan kebutuhan pakan. Kenaikan harga pakan selama pandemi juga lebih disebabkan oleh sulitnya atau mahalnya transportasi logistik pakan karena PPKM dan pembatasan-pembatasan lainnya.

Berbicara bisnis di sektor akuakultur, tidak hanya menyoal komoditasnya saja, melainkan hal yang paling prinsipil yakni pakan. Bagaimana tidak, pakan adalah salah satu cost terbesar dalam suatu usaha budidaya baik ikan maupun udang.

Direktur PT Olmix Indonesia Nutrition Yuana Saputra mengemukakan, bisnis pakan ikan atau udang sebelum dan sesudah pandemi tampak sekali nyata berbeda. Sebelum pandemi, produksi budidaya air tawar meningkat pesat, kemudian sangat terdampak dan mengalami penurunan selama pandemi, sedangkan untuk udang dikarenakan pangsa eksport meningkat justru mengalami peningkatan selama pandemi.

“Gangguan suplai logistik secara global juga mengakibatkan peningkatan biaya produksi pakan yang signifikan selama pandemi, mengingat sebagian besar bahan baku pakan juga masih bergantung pada import, ini menyebabkan industri pakan berusaha keras untuk bisa menurunkan biaya produksi pakannya, dan situasi ini menjadikan cukup berat bagi para pembudidaya dengan kenaikan harga pakan tersebut,” ujar Yuana.

Seperti yang sudah banyak diketahui bahwa harga bahan baku semakin tinggi sehingga menyebabkan biaya produksi pakan ikan dan udang. Pemerintah meminta pabrikan pakan tetap menjaga kestabilan harga agar tidak terlalu memberatkan pembudidaya.

Senior Sales Manager PT. Behn Meyer Chemical Ajat Sudrajat menambahkan, bisnis pakan sebelum pandemi cukup baik dalam artian pertumbuhan tahunan (CAGR) masih terbilang normal sekitar 10-12 %, sejak pandemi dengan adanya PSBB/PPKM otomatis berimbas pada konsumsi dan daya beli, ada penurunan sekitar 10 % (pernah dirilis oleh GPMT).

Menurut Ajat, pada saat ini dimana inflasi cukup tinggi dan daya beli semakin melemah, pertumbuhan pakan ikan dan udang belum sesuai harapan. Di perudangan, kata Ajat, target produksi udang 250 % hingga tahun 2024 pun tidak dapat berkorelasi secara baik. “Harapannya, situasi saat ini segera berakhir, harga pakan pun tidak terus menerus naik tidak diimbangi dengan harga komoditi ikan dan udang, sehingga pembudidaya ikan masih mengalami kerugian karena over feed cost,” imbuhnya.

Kendala Harga Pakan
Direktur Pakan dan Obat Ikan DJPB KKP Ujang Komaruddin mengatakan, bisnis pakan ikan atau udang, khususnya pakan ikan, dalam satu dekade terakhir sudah dihadapkan kepada permasalahan harga.  Harga pakan ikan pabrikan dirasakan sudah kurang kondusif lagi dalam mendukung usaha budidaya ikan (air tawar).

Bukti yang cukup nyata, tambah Ujang, adalah dengan sangat mudah ditemui para pembudidaya (skala kecil) yang memanfaatkan berbagai pakan atau bahan baku alternatif sebagai substitusi dalam pemeliharaan ikan.

“Kita sering lihat limbah hewani, limbah pertanian, dan hasil samping by products digunakan sebagai pakan atau bahan baku dalam proses penyediaan pakan dalam akuakultur. Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa, penggunaan full pakan pabrikan dalam usaha budidaya ikan, sudah dirasakan tidak nyaman oleh pembudidaya, khususnya budidaya ikan-ikan air tawar yang farm gate prices-nya cukup rendah, semisal ikan lele dan patin”, ungkap Ujang.

Dari tingginya harga pakan tersebut, penggunaan pakan mandiri kemudian merebak dengan segala variasinya, kemudian pemerintah pun (dalam hal ini KKP), memandang bahwa pakan mandiri akan menjadi salah satu solusi dalam hal penyediaan pakan yang terjangkau.

Program pun diluncurkan dengan tajuk “Gerpari” yakni gerakan pakan mandiri. Menurut Ujang, diakui atau tidak, keberadaan pakan mandiri ini sedikit banyak telah menyelamatkan “keberlangsungan” usaha budidaya ikan (khususnya ikan air tawar: lele, patin, dan nila).

“Biaya pakan bisa sedikit dihemat dan tentunya, pantas diakui, bahwa keberadaan pakan mandiri ini juga, turut berjasa melanggengkan usaha pakan ikan pabrikan,” tutur Ujang.

Masalah Global
Dampak pandemi Covid-19 perlahan usai awal tahun 2022, dunia dihadapkan pada hambatan lain yakni perang Rusia-Ukraina beberapa waktu lalu. Seperti kita ketahui, kata Ujang, Ukraina merupakan salah satu negara produsen terbesar gandum (wheat) dan Indonesia merupakan negara pengimpor utama tepung gandum dari Ukraina.

Tepung ini merupakan bahan baku mie instan yang sangat populer, sebagian kecil (tapi esensial) tepung ini adalah bahan baku aquafeed (pakan ikan/udang) yang dimana mutlak membutuhkan gluten dari tepung gandum sebagai agen binder (perekat). Seperti diketahui bahwa aquafeed mutlak membutuhkan binder karena harus berinteraksi dengan air.

Ujang mengatakan, perang Rusia-Ukraina yang berlarut-larut, perubahan iklim yang sering terjadi, kekeringan yang cukup panjang, menyebabkan ketidakpastian harga bahan baku pakan; namun juga bahkan ketersediaannya. “Sebagai contoh, ada negara yang sengaja menimbun (tidak mengekspor) kedelai hasil produksi negaranya, mengingat   bahwa mereka harus mengamankan stok di negara tersebut. Hal-hal terebut, telah menyebabkan kenaikan harga bahan baku (impor), sehingga harga pakan pun akan naik menyesuaikan harga bahan bakunya,” tutur Ujang.

Senada dengan Ujang. Menurut Angga Aditya Putra Nugraha Aqua Feed Tech Manager PT Sekar Golden Harvesta Indonesia, bisnis pakan baik udang maupun ikan setelah melewati pandemi ditahun 2020 dan 2021 saat ini berangsur angsur menunjukkan perkembangan yang positif. Namun, tambahnya, tantangan yang sekarang dihadapi lebih besar yaitu kenaikan signifikan harga bahan baku pakan akibat perang Rusia-Ukraina dan melambung tingginya kurs USD.

Angga menambahkan, di sisi lain pabrikan pakan harus berkomitment terhadap product quality, sehingga efek yang terasa ke level user sampai pembudidaya udang atau ikan adalah penyesuaian harga pakan yang sejak awal tahun 2022 sudah terjadi beberapa kali.

“Penyesuaian harga memang awalnya menjadi beban bagi pembudidaya namun seiring naiknya market demand terhadap komoditas perikanan maka penyesuaian harga pakan tersebut secara bertahap tercover dengan naiknya harga jual ikan dan udang,” ujar Angga.

Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Deny Mulyono mengatakan, tahun 2022 industri pakan dipengaruhi situasi global yang tidak menentu. Pabrikan pakan ikan dan udang melakukan penyesuaian harga secara bervariasi, sesuai dengan fomulasi pakan. Kenaikan harga pakan itu berlangsung karena meningkatnya harga komponen bahan baku pakan, baik impor maupun lokal. Kesulitan bahan baku juga memicu persaingan bahan baku dengan negara-negara produsen pakan lain. (Adit/Resti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.