Terlepas dari sejumlah potensi dan dukungan sumberdaya yang besar yang dimiliki Lampung, ada sejumlah kendala dan tantangan yang masih dihadapi, beberapa di antaranya adalah terkait wabah penyakit dan tingginya harga pakan.
Menurut Rudy Kusharyanto, Ketua Harian FKPA, Forum Komunikasi Praktisi Akuakultur, kendala utama dalam budidaya udang adalah hampir sama dengan daerah lain yaitu kendala penyakit yang menyerang dalam masa budidaya udang, misalnya maraknya penyakit seperti WSSV, IMNV dan baru baru ini AHPND.

Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap produktivitas hasil tambak udang. “Tentu dibutuhkan kerja ekstra keras dari seluruh stakeholder untuk bersama-sama mencari solusi yang terbaik dalam menghadapi kendala budidaya ini,” ungkap Rudy.
Kendala penyakit juga diungkapkan oleh Mohammad Nadjib, Direktur, IANDV Bio Indonesia dan Konsultan Akuakultur Invendo. Selain itu, wilayah yang sudah tua biasanya terkendala pendangkalan inlet dan outlet.
Hal ini juga diamini oleh Supono, Dosen Pascasarjana, Universitas Lampung. Menurunnya kualitas air dan merebaknya beberapa penyakit yang disebabkan oleh virus maupun bakteri seperti white spot, IMNV, WFD, maupun AHPND.
Menurut Supono, ketersediaan pakan tidak menjadi kendala bagi petambak. Akan tetapi, yang dikeluhkan oleh mereka adalah terkait dengan harga pakan yang tinggi.
Hal ini juga diungkapkan oleh Iwan Basuki, Marketing PT Windu Alam Sentosa. Menurutnya, masih banyak terjadi wabah penyakit udang seperti WS, Myo ngapas, kematian dini di beberapa wilayah mulai dari pesisir timur Kalianda Lampung Timur, kawasan bekas CPB, Dipasena hingga Rawajitu, dan beberapa kawasan area di pesisir barat.
“Penyakit udang ini sempat mewabah di waktu siklus yang lalu dan hingga kini masih ada yang masih muncul,” kata Iwan.
Kendala lain masih adanya benturan antara peraturan pemerintah tentang konservasi dan penggunaan lahan pesisir di Lampung sehingga menghambat laju ekspansi budidaya udang di Lampung.
Pakan tidak jadi kendala
Marliana, Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Penguatan Daya Saing, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung. Untuk kegiatan budidaya udang, Lampung tidak mengalami kendala pakan karena cukup tersedia dengan cukup.

Pakan ikan/udang yang beredar di Lampung berasal dari 16 produsen pakan, 5 (lima) diantaranya memiliki pabrik di Lampung. Masalah harga pakan yang selalu meningkat tidak menjadi kendala utama dalam budidaya udang. Pasalnya, hingga saat ini, margin keuntungan budidaya udang vaname masih cukup tinggi, asalkan tidak terkena penyakit.
Justru, menurut Liza Derni, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung, yang merasakan masalah harga pakan adalah pembudidaya ikan air tawar. “Margin keuntungan pembudidaya ikan air tawar kecil,” paparnya.
Sehingga, untuk pembudidaya ikan air tawar, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Lampung melakukan kerjasama dengan Universitas Lampung dalam mengembangkan pakan mandiri. “Diharapkan, program ini dapat membantu pembudidaya dalam mendapatkan pakan berkualitas dengan harga terjangkau,” ungkap Liza.
Harga pakan yang tinggi
Menurut pengakuan Rudy, pakan bukan menjadi kendala bagi keberlangsungan aktivitas budidaya di Lampung. Pasalnya, Lampung menjadi salah satu provinsi yang banyak berdiri pabrik pakan.
“Ini tentu menjadi nilai lebih dibanding provinsi lain (distribusi pakan menjadi lebih mudah). Tinggal bagaimana semua unsur yang terlibat dalam budidaya udang memanfaatkan kelebihan tersebut,” papar Rudy.
Meskipun demikian, tidak dipungkiri, tingginya harga pakan masih menjadi perhatian bersama para pihak terkait. Di lain pihak, Iwan berpendapat, sejauh ini sudah berdiri pabrik pakan di Lampung. Kendala yang ada selama ini, pabrik pakan masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Hal ini menyebabkan distribusi sampai ke petambak menjadi mahal.
“Bila semakin banyak pabrik pakan yang berdiri di Lampung, akses ke petambak untuk mendapatkan merek pakan yang variatif dan terjangkau harganya akan lebih mudah,” papar Iwan.
Terkait dengan tingginya harga pakan, Rina Hesti Utami, Penyuluh Perikanan Kabupaten Pesisir Barat Lampung, memaparkan, solusinya dengan membentuk komunitas atau forum komunikasi praktisi aku akuakultur FKPA untuk diskusi mencari solusi tentang pakan udang dan bekerjasama dengan peusahaan pakan dalam mencari solusinya.
Lingkungan tambak jadi tantangan
Lebih lanjut, Marliana, menuturkan, sebagian besar petambak masih menerapkan teknologi budidaya tradisional sehingga produktivitas rata-ratanya rendah. Selanjutnya, saluran tambak banyak mengalami pendangkalan, pada areal tambak tradisional, saluran inlet dan inlet masih menjadi satu, penurunan kualitas lingkungan, sebagian tambak intensif belum mengelola limbah dengan baik, dan sebagian lokasi tambak belum sesuai RTRW.

Daya dukung lingkungan jadi kendala
Selanjutnya, Didu Priyono, Kasie Produksi & Pengembangan Usaha Bidang Perikanan Budidaya & Penguatan Daya Saing, Dinas Kelautan & Perikanan Provinsi Lampung, berpendapat, kendala yang dihadapi budidaya udang di Lampung di antaranya adalah terkait daya dukung lingkungan.
Dahulu, sarana prasarana seperti akses jalan produksi, listrik dan pakan menjadi kendala serius yang perlu menjadi perhatian dalam hal budidaya udang. Namun, setelah bertahun-tahun terjadi program peningkatan produksi dengan meremehkan prinsip-prinsip cara budidaya ikan yang baik, maka tumbal yang paling mengenaskan adalah mengabaikan daya dukung lingkungan.
Dan yang menjadi kekhawatiran pada waktu itu pun terjadi sekarang, yakni menurunnya daya dukung lingkungan sehingga menghambat pertumbuhan produksi budidaya udang. Beberapa perusahaan tambak berhenti dulu sementara waktu, mengingat daya dukung lingkungan terutama menurunnya kondisi kualitas perairan di Teluk Lampung untuk kegiatan budidaya tambak udang.
Manajemen kualitas air
Didu melanjutkan, pengelolaan manajemen kualitas air yang diabaikan akan memunculkan serangan penyakit yang sangat merugikan dalam usaha budidaya udang. Berbagai metode dan cara bahkan modifikasi dalam aplikasi penggunaan probiotik dalam rangka meningkatkan kualitas air kolam namun tetap belum mampu mengurangi serangan penyakit pada udang.
Hal lainnya adalah ketika suatu wilayah pada tambak udang terkena serangan penyakit, maka sangat memungkinkan akan menular ke wilayah lainnya jika serangan penyakit tersebut tidak segara dilakukan tindakan perbaikan, misal dengan segera memusnahkan udang yang terkena penyakit serta melakukan tindakan desinfeksi terhadap semua perlatan yang digunakan dalam kegiatan budidaya.
Masih menurut Didu, dalam hal ini, perlu segera dilakukan tindakan perbaikan dalam pengelolaan daya dukung lingkungan terutama kondisi perairan untuk bisa meningkatkan kualitas air melalui rehabilitasi pembangunan kawasan tambak dan revilatisasi saluran tambak yang sudah mengalami pendangkalan.
Lampung luncurkan program Kartu Petani Berjaya
Menurut pengakuan Didu, program pemerintah terkait kebijakan subsidi pupuk bagi petani membuat pembudidaya sedikit iri. Menurutnya, pemerintah perlu memikirkan subsidi terhadap harga pakan. “Wajar jika pelaku usaha perikanan merasa sedikit iri, mengingat harga pakan selalu naik namun tidak di iringi dengan kenaikan harga hasil produksi,” ungkapnya.
Meskipun di Lampung, ketersediaan pakan bukan menjadi masalah, tingginya harga menjadi PR bagi berbagai kalangan, terutama para petambak. Menurut Didu, Gubernur Lampung melalui Pemerintah Provinsi Lampung meluncurkan program Kartu Petani Berjaya.
Salah satunya adalah program pakan mandiri dengan bekerja sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Lampung untuk memproduksi pakan ikan yang lebih terjangkau. Pemerintah Provinsi Lampung mencoba menjalin kerja sama dengan produsen pakan untuk memenuhi kebutuhan pakan ikan di Lampung dengan harga yang lebih murah dari daerah lain.
Di samping itu, Pemerintah siap memfasilitasi kebutuhan yang diperlukan oleh produsen pakan selama masih bisa didukung oleh Pemerintah, misalnya kebutuhan akan pasokan bahan baku pakan ikan, seperti tepung kedelai, dan lain-lain (noerhidajat/adit/resti).

