Petik Hikmah dari Kegagalan

Petik Hikmah dari Kegagalan

Pada tahun 1990, budidaya udang windu (Penaeus monodon) mengalami masa keemasannya. Kala itu, bisnis udang mampu mendulang devisa dalam jumlah yang fantastis. Tak ayal, para investor pun berbondong-bondong menggelontorkan dananya untuk mencetak tambak.

Menurut Haryoso, Head of Aquahero, PT Delos Teknologi Maritim Jaya, pada tahun tersebut,  produktivitas  dapat  mencapai  maksimal  karena  dukungan  kualitas  air sumber (laut, sungai) yang masih bagus.

Namun seiring berjalannya waktu hingga penghujung tahun 1990, produktivitas terus menurun akibat serangan penyakit baik yang  disebabkan  karena  infeksi  bakteri  khususnya  vibrio  (necrosis),  virus  (WSSV, IHHN).

Serangan penyakit yang paling menghancurkan budidaya Penaeus monodon saat itu adalah WSSV yang menyebabkan kematian massal dalam waktu sekejap. Selain penyakit karena infeksi bakteri dan virus masih ada lagi patogen lain seperti  golongan  parasit,  fungi  khususnya Fusarium  sp  yang  menyebabkan  insang  hitam pada udang dan juga penyakit non-infeksi.

Penyakit-penyakit tersebut terjadi baik di tambak skala rakyat (tradisional) maupun skala industri (intensif) yang sudah menggunakan SOP dan teknologi budidaya yang memadai akibat menurunnya daya        dukung lingkungan.

Bagi Achmad Wahyudi, Technical Director, PT Grobest Indomakmur, tahun 1990an merupakan tahun euforia bisnis udang windu (Penaeus monodon) masih mendominasi budidaya. Para pelaku bisnis secara sporadis melakukan investasi besar-besaran dengan harapan satu-satunya high return or high profit.

Sementara, pemahaman mengenai kelestarian dan kesinambungan belum sepenuhnya dimengerti. Pengabaian terhadap prasyarat ini menghasilkan situasi yang mengandung risiko tinggi yang berujung pada kegagalan bisnis sebagai akibat dari sub-optimal production secara teknikal.

Kilas balik runtuhnya bisnis udang windu
Pun, Teguh Setyono Farm Manager PT Dua Putra Perkasa, mengungkapkan, bisa jadi kegagalan di tahun 90-an karena tata ruang dan pengelolaan IPAL yang belum layak. Saluran pemasukan dan pengeluaran air bisa bertemu antar tambak jika terjadi wabah penyakit akan saling menularkan dan tidak bisa terputus. Tanpa adanya IPAL akan menyebabkan semua limbah terutama kotoran udang dan sisa pakan akan terbuang ke laut semua.

Menurut Rizki Fajar Kurniawan, Technical Support Jateng Jabar Selatan dan Banten, De Heus Indonesia, kegagalan dari bisnis udang tahun 90an adalah dampak kurang perhatiannya pembudidaya terhadap ekosistem yang ada di sekitar tambak, salah satunya mengenai tata ruang dari pesisir.

Para pengusaha udang menyulap lahan menjadi  petakan  tambak yang  seharusnya  digunakan  untuk  mangrove.  Padahal, mangrove merupakan ekosistem pesisir yang memiliki beragam fungsi. Selain sebagai tempat pemijahan berbagai biota laut, mangrove sendiri merupakan tempat sedimen yang berfungsi sebagai dekomposisi bahan oraganik secara alami.

Pada saat itu, banyak pembudidaya yang masih awam dalam pengelolaan limbah-limbah sebagai hasil samping budidaya. Tapi perlu diketahui volume limbah yang besar ditambah lagi hilangnya ekosistem mangrove yang merupakan tempat dekomposisi bahan organik.

Senada dengan narasumber yang lain, Iwan Basuki marketing PT WAS (Windu Alam Sentosa), mengungkapkan, terpuruknya budidaya windu saat itu karena banyaknya kegagalan petambak yang disebabkan oleh adanya penyakit yang terjadi hampir merata di setiap kawasan tambak udang saat itu. Munculnya penyakit pada udang windu seperti WSSV (white spot syndrome virus) dapat menyebabkan kematian massal dalam waktu yang singkat 6 – 11 hari pasca gejala klinis.

Kematian dapat terjadi ketika DOC kecil sangat merugikan petambak windu karena nilai jual udang windu berada di kisaran size 40 – 30 an. Saat itu Sebagian besar petambak udang masih menerapkan pola budidaya yang belum seragam tanpa adanya SOP budidaya yang di sesuaikan dengan kondisi lingkungan.

Serangan WSSV, salah satu sebab gulung tikarnya bisnis windu
Seperti yang diungkapkan oleh Haryoso, Rudy Kusharyanto Ketua Harian Forum Komunikasi Praktisi Akuakultur (FKPA) Lampung, menengarai, serangan penyakit terutama WSSV serta kurangnya benih yang berkualitas yang menyebabkan penurunan hasil produksi budidaya udang windu.

Menambahkan Rudy, Paian Tampubolon,  Senior  Manager  Ops  System  &  Data  Analyst,  PT  DELOS  Teknologi Maritim Jaya mengenang, gangguan penyakit seperti insang kotor (black gill), vibriosis (disebabkan oleh vibrio) dan yang paling fenomental adalah WSSV (white spot syndrome Virus) yang menyebabkan kematian massal.

Menurut Paian, keberadaan serangan penyakit tersebut dapat disebabkan oleh kualitas benur yang kurang baik, daya dukung lahan yang menurun, lingkungan budidaya yang menurun, terjadinya fluktuasi lingkungan tambak yang ekstrim, sistem tata guna air yang tidak dikelola dengan baik (air sumber dan air buangan).

Dasar kolam tidak standar
Faktor pemicu kegagalan berikutnya adalah terkait dengan dasar kolam/tambak yang tidak standar. Menurut Iwan, banyak petambak yang menggunakan kolam, dengan dasar tanah dan pengolahan air serta buangan yang tidak standar. Banyak petambak yang sering membuang limbah sisa kotoran, siponan, ataupun sirkulasi dari panen langsung ke perairan bebas dan terbuka tanpa melalui sistem pengendapan dalam instalasi IPAL (instalasi pengolahan air limbah).

Dengan tidak adanya  IPAL  maka  air  buangan  dari  tambak  yang bermasalah,  terkena  penyakit, tinggi  bahan  organiknya,  sisa endapan  bahan  kimia,  akan  langsung  tersebar  ke kawasan sekitar sehingga mencemari perairan laut bebas.

Anjloknya daya dukung lingkungan
Selanjutnya,  masih  menurut  Iwan,  masih  banyak  petambak  yang  membuka  jalan baru tanpa mengindahkan kaidah serta tataruang rancangan konstruksi tambak. Hal ini semakin menurunkan daya dukung lingkungan. Akibatnya, timbullah wabah dan menggagalkan budidaya. Berkaca dari kondisi yang demikian, petambak diharapkan sadar akan pentingnya IPAL yang menjadi suatu kesatuan dalam awal usaha pembangunan tambak dan budidayanya.

Enggan investasi untuk IPAL
Di lain pihak, Bahari Yuslian Ramadhan, Sales Executive, Aquaculture, berpandangan, mencari penyebab kegagalan dengan memikirkan sebab dan akibat secara berkala sistem  dan  perlakuan  budidaya.  Misalnya,  ia  mengungkapkan,  penggunan  klorin secara jangka panjang akan menyebabkan mikroorganisme patogen lebih resisten dan berakibat munculnya berbagai penyakit.

Sebagian besar pembudidaya tidak mau  berinvestasi untuk pengelolaan limbah budidaya atau IPAL tambak, karena tidak memberikan dampak ekonomi. Akan tetapi, jika ditarik ke depan, dampaknya akan sangat bermanfaat untuk lingkungan dan tentu untuk keberlangsungan budidaya. (noerhidajat/adit/resti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *