Ragam Langkah Penanggulangan WFD

Dampak kerugian akibat serangan WFD pada udang memang bisa membuat para petambak gigit jari. Ragam upaya penganggulangan pun terus dikaji. Hasilnya? Ada beberapa upaya yang bisa ditempuh untuk mencegah hingga mengobati udang yang tersera WFD

Berpengalaman terserang WFD di masa awal membudidayakan udang, Ge Recta Geson, Komisaris PT Hero Multi Sentosa mengungkapkan, bahwa sebelum terjadi wabah (outbreak) WFD, terdapat beberapa parameter yang bisa dijadikan acuan untuk mengetahui keberadaan vibrio, penyebab WFD.

Secara visual, parameter yang terlihat adalah busa dipermukaan kolam menjadi lebih sedikit, bahkan hilang. Selain itu, permukaan air terlihat kusam, berbeda dengan kolam yang sehat. Permukaan air kolam yang sehat tampak mengkilap seperti kaca yang bersih. Secara sensorik, air kolam berbau busuk. Lumpur yang disifon juga berwarna gelap dan berbau busuk. Selain itu, gejala terlihat dari adanya suspensi yang pekat di badan air.

Kendalikan Sampah atau Limbah Organik

“Kunci pencegahan WFD dengan cara pengendalian sampah organik di kolam. Langkah pertama dengan program pakan yang teliti sehingga tidak terjadi over feeding. Semakin banyak pakan terbuang, semakin banyak pula sampah organik yang dihasilkan. Langkah kedua adalah perlakuan secara mekanik, yaitu mengeluarkan sampah organik di dasar kolam tambak dengan sifon,” terang Ge Recta.

Langkah pencegahan lainnya dengan menggunakan mikroba. Ada dua macam mikroba yang digunakan untuk mengendalikan keberadaan bakteri vibrio. Untuk mengatasi bakteri vibrio di kolom air, mikroba yang digunakan adalah mikroba aerobik. Mikroba ini berfungsi sebagai lawan atau kompetitor vibrio di kolom air. Adapun mikroba yang digunakan untuk dasar perairan kolam tambak yaitu mikroba anaerobik. Bakteri ini akan ‘mencerna’ lumpur sampah organik secara enzimatik. Dengan begitu, sampah organik yang telah dicerna tersebut tidak mengundang vibrio datang. Selain itu, bakteri anaerob ini berfungsi untuk ‘menguasai’ ruang dasar perairan sehingga mencegah kehadiran vibrio.

“Meningkatnya jumlah bahan organik di perairan disukai mikroorganisme patogen. Ditambah suksesi plankton tertentu mengakibatkan kualitas air menjadi tidak stabil. Solusinya lebih didasarkan pada prinsip preventif, sebagai upaya pencegahan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” tutur Arif Faisal, dari Behn Meyer Chemical.

Semakin banyaknya aktivitas budidaya udang di wilayah pesisir Indonesia berdampak pada penurunan carrying capacity atau daya tampung lingkungan. Bahan organik dalam pasokan air laut semakin meningkat, diperparah dengan manajemen pemberian pakan yang berlebihan.

Menurut Arif, ada beberapa langkah preventif yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya serangan WFD. Pertama, siapkan kolam berdasar carrying capacity, mulai dari padat tebar, jumlah kincir, dan input lainnya. Kedua, gunakan benur SPR (specific pathogen resistant) dari balai benih yang sudah memiliki reputasi. Ketiga, jaga kestabilan kualitas air dengan cara rutin menganalisis kualitas air. Keempat, jaga tingkat kecerahan air tetap stabil, yaitu antara 30—40 cm. Kecerahan air yang rendah bisa disebabkan plankton yang pekat. Kelima, kontrol jumlah pakan untuk mencegah overfeeding. Keenam, kontrol bahan organik agar tetap stabil. Lakukan penyiponan secara rutin untuk menjaga dasar kolam agar tetap bersih dari sisa pakan dan aplikasikan probiotik pengurai bahan organik. Ketujuh, kontrol jumlah total bakteri vibrio agar tidak lebih dari 1 x 102 CFU/mL. Kedelapan, lakukan panen parsial atau total jika ambang carrying capacity telah dicapai.

“WFD masih mewabah dan terjadi di DOC 40, pada awal masa-masa pertumbuhan,” ungkap Yudi Hartanto, Teknisi Budidaya Udang Vaname UD. Mutiara, Cilacap. Berdasarkan pengamatannya, ciri serangan WFD diawali dari plankton drop, nafsu makan udang menurun, dan ditemukan adanya kotoran (feses) putih yang mengambang di permukaan air. Jika tidak tertangani, kondisi tersebut diikuti keroposnya karapas udang, usus rusak, dan berdampak kematian.

Upaya pencegahan dilakukan dengan persiapan budidaya yang baik dan benar, memaksimalkan biosekuriti tambak, manajemen pakan yang tepat, serta menjaga kestabilan kualitas parameter air dengan pemberian probiotik, prebiotik, atau simbiotik. Penyifonan dan pemantauan sirkulasi perlu dilakukan secara rutin untuk mencegah penumpukan bahan organik yangg bisa menyebabkan kerusakan air. Selain itu, lakukan pengecekan pH pada pagi dan sore hari serta lakukan pengecekan kualitas air lainnya di laboratorium secara rutin.

Jika sudah terjadi wabah, upaya yang perlu dilakukan adalah menjaga kontaminasi WFD agar tidak menyebar ke tempat lain; segera memperbaiki kualitas air dengan pemberian prebiotik, probiotik, dan simbiotik; serta merombak ulang manajemen pakan. Jika terjadi mortalitas, bangkai udang sebaiknya dibakar atau di kubur agar tidak mengkontaminiasi lingkungan tambak sekitar.

“Pada kolam yang telah terserang, lakukan pengeringan setelah panen. Selanjutnya, cuci kolam dan beri disinfektan, lalu lakukan pengisian air. Pengapuran dilakukan ketika ketinggian air 30 cm, lalu isi penuh hingga optimal 120 cm. Lanjutkan dengan pemberian cupri sulfat (CuSO4). Kemudian sterilisasi dengan kaporit dosis 30 ppm aktif. Setelah residu normal, lakukan pembentukan air (water preparation) sebagaimana biasa,” jelas Yudi.

Penggunaan probiotik juga menjadi pendapat Warisman, Marketing Bio-Trent Tambak. Menurutnya, Bio-Trent plus tambak dan sterilisasi awal CaO dapat menggantikan kaporit dengan dosis CaO = 300-500 ppm, CaO lanjutan di tandon 15-20 ppm.

Pernyataan menarik datang dari Santosa, Manajer Suporting PT Suri Tani Pemuka, Gresik. Menurutnya, solusi WFD sudah ditemukan. Beberapa langkah solutif tersebut, pertama, perhatikan stabilitas plankton. Kedua, basmi karir dari semua jenis siput. Ketiga, eliminasi vibrio. Keempat, pemberian pakan tidak berlebih (over feeding). Kelima, manajemen lumpur. Keenam, air masuk harus lewat tandon yang di-treatment dengan antiseptik. Ketujuh, padat tebar harus disesuaikan dengan daya tampung. Kedelapan, sumber air cukup, dengan penggantian air antara 400—500% dalam satu siklus. Kesembilan, persiapan tebar dengan pH di atas 9 plus aplikasi H2O2 dosis 30 ppm pada ketinggian air 30 cm.

Selain itu, jumlah kincir harus cukup, dengan kapasitas 25.000—27.500 ekor per 1 unit kincir. Aplikasi probiotik dan yeast untuk pencernaan juga bisa diaplikasikan untuk memperkuat daya tahan udang.

Pengobatan Paska-Infeksi WFD Telah Ditemukan

Permasalahan umum pada pembudidaya yang menyebabkan terjadinya serangan WFD adalah biosekuriti yang kurang sempurna. “Pemeriksaan mikrosporidia di hepatopankreas bisa dideteksi lebih awal paska-tebar. Namun, lab analis harus betul-betul berpengalaman,” ujar Agus Suryadi, Technical Support Manager PT Kemin Indonesia-Kemin Aquascience.

Menurut Agus, perlu dipastikan benur Free WFD dengan PCR. Hal ini untuk menghindari kontaminasi vertikal dari broodstock. Pastikan juga sterilisasi saat persiapan dan filtrasi 250 mikron saat air masuk. Untuk menghindari kontaminasi horizontal, gunakan fasilitas kolam secara mandiri, tidak digunakan bersama-sama antara stu kolam dengan kolam lainnya.

Langkah pencegahan dapat dilakukan dengan 2 target, yaitu ke arah manajemen air dan per oral. Manajemen air diupayakan agar TVC tidak tinggi dengan menumbuhkan mikroba kompetitor yang akan menekan TVC  seperti Bacillus (Clostat) dan Enzym (Kemzyme) sebagai biokatalisator di air. Aplikasi MasterMIN untuk menjaga keseimbangan mineral.

Per oral bertujuan untuk menjaga kesehatan usus (intestine) dengan menggunakan Acid-Lac (asam laktat, asam sitrat, asam fumarat, asam propionat, dan additif). Targetnya untuk merawat vili-vili usus yang hancur. Selain memperbaiki vili usus, peningkatan kekebalan tubuh udang harus dirangsang dengan Aleta/Hydroleta/Aquastem, untuk menambah kemampuan fagositosis ketika terjadi infeksi. Aplikasi ke pakan disarankan lebih awal atau sejak pakan crumble ukuran sedang. “Sekali lagi, aplikasi-aplikasi per oral tersebut tetap harus didukung dengan manajemen air dan biosekuriti yang baik.

“Sudah ada obat untuk mencegah atau menanggulangi penyakit WFD,” ungkap Agnes Heratri, Direktur CV Pradipta Paramita. Salah satu contohnya Herbal untuk udang (Zipro Nutri Feed). Obat Herbal yang dicampur ke pakan tersebut merupakan suplemen berbahan baku alami untuk meningkatkan ketahanan tubuh udang. Produk tersebut memiliki komposisi antara lain zat aktif Zingiber officinale dan propolis. Zat aktif Zingiber officinale memiliki manfaat yaitu melancarkan sistem pencernaan, menambah nafsu makan dan mengobati peradangan. Sementara zat aktif propolis, polyphenol, berfungsi sebagai antioksidan yang mampu membunuh bakteri, jamur, dan sebagian virus. Selain itu, propolis juga mampu menekan inflamasi (radang), meningkatkan daya tahan tubuh, serta menyembuhkan luka (lesi).

Sementara Arif merekomendasikan pemberian Hylises untuk campuran pakan, yang dapat membantu penanganan WFD selama masa stres dan pemulihan dari rusaknya organ pencernaan udang.

“Triliunan nukleotida tambahan harus tersedia untuk proliferasi sel memperbaiki laju pertumbuhan udang pasca serangan WFD yang bisa didapatkan dari Hylises,” terangnya.

Selain itu, aplikasi CM3000 (sodium butirat) sebagai campuran pakan bisa membantu memperbaiki intestinal udang yang rusak. Sodium butirat dapat menginduksi apoptosis sel pada intestinal dengan membuang sel yang sudah mati dan tidak diperlukan oleh tubuh. Selain itu, sodium butirat juga dapat berperan sebagai sumber energi (ATP) untuk kolonosit, berkontribusi dalam pemeliharaan fungsi barrier intestinal, juga sebagai kontrol patogen di intestinal.

Setelah menemukan gejala WFD, segera kurangi jumlah pakan yang diberikan karena nafsu makan udang yang telah terserang WFD akan berkurang. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi overfeeding. Disarankan pula untuk membuang feses putih dari tambak yang terinfeksi karena mengandung banyak spora mikrosporidia EHP yang dapat tenggelam di dasar tambak. “Selain itu, ambil keputusan untuk melakukan panen parsial untuk mengurangi jumlah input pakan dan jumlah kepadatan udang guna meminimalisir stres pada udang,” pungkas Arif. (Rochim/Resti/Adit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *