Seribu Satu Ragam dan Manfaat Feed Additive

Perkembangan imbuhan pakan di Indonesia berkembang sangat pesat, baik produksi perusahaan lokal maupun impor. Jenisnya pun bertambah cukup signifikan.

Tantangan ketersedian dan kualitas bahan baku yang semakin berat saat ini mendorong penggunaan bahan imbuhan pakan sebagai alternatif wajib bagi nutritionist agar tetap bisa memproduksi pakan yang berkualitas dengan penggunaan bahan baku yang lebih fleksibel. Tak hanya itu, penggunaan feed additive juga ditujukan agar pakan lebih cocok untuk lingkungan dan sesuai dengan perhitungan cost to benefit yang jelas.

“Metode pemberiannya dicampurkan ke pakan agar lebih optimal, langsung bisa masuk ke dalam tubuh udang, dan lebih terlihat dampaknya pada kesehatan udang,” ujar Bakti Prasetijana, Teknisi PT. NAF.

Ragam Jenis Feed Additive

“Berdasarkan regulasi Uni Eropa  EC 1831/2003 ada 4 kelompok additives, yaitu technological additive, sensory additives, nutritional additive, dan zootechnical additive,” ungkap Putu Eka, Marketing Executive Cheil Jedang. Pengelompokan tersebut didasarkan pada fungsi atau tujuan additive ditambahkan.

Pada technological additive, contohnya pellet binder untuk memperbaiki water stability dan antioksidan untuk memperpanjang masa penyimpanan dengan mengurangi potensi tengik. Contoh sensory additive adalah atraktan untuk meningkatkan feed intake dan kesukaan ikan atau udang terhadap bau pakan, serta pewarna untuk membuat warna pakan stabil.

Pada nutritional additive, contohnya vitamin, asam amino, serta tracemineral untuk pertumbuhan yang lebih optimal. Sementara contoh zootechnical additive yaitu enzim untuk meningkatkan efisiensi pakan dan phytogenic untuk meningkatkan sistem imun.

Menurut Ujang Komarudin, Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Situbondo, ada beberapa bahan tambahan yangg dibedakan berdasarkan fungsinya. Fungsi tersebut adalah: (1) meningkatkan konsumsi pakan; (2) memperbaiki tekstur pakan dan meningkatkan kualitas fisik pakan buatan; (3) meningkatkan kecernaan pakan; (4) meningkatkan sistem imun (medical feed); dan (5) meningkatkan metabolisme penggunaan pakan.

Makanan tambahan yang membantu peningkatan konsumsi pakan, misalnya atraktan, pewarna. Metode pemberiannya dengan pencampuran pada saat pembuatan pakan atau dengan penyemprotan pada hasil pakan akhir. Peningkatan konsumsi dapat berupa rangsangan terhadap bentuk, warna, atau pemberian aroma yang merangsang ikan atau untuk mengkonsumsi pakan lebih banyak.

Makanan tambahan untuk memperbaiki tekstur pakan dan meningkatkan kualitas fisik pakan buatan, misalnya air, coating minyak, dan binder. Metode pemberiannya dengan pencampuran pada saat pembuatan pakan buatan. Pakan dengan kualitas fisik yang baik dapat menjamin zat nutrisi yang dikandungnya dikonsumsi oleh ikan secara utuh dan tidak banyak terbuang ke dalam media pemeliharaan.

Penggunaan  air dan tekanan uap tinggi dalam proses ekstrusi merupakan cara untuk memastikan proses gelatinisasi terjadi secara sempurna, sekaligus meningatkan energi metabolisme, meningkatkan nilai gizi pakan karena pakan menjadi mudah dicerna, serta merusak zat antinutrisi dalam pakan.

Makanan tambahan untuk meningkatkan kecernaan pakan, misalnya enzim, probiotik, dan yeast. Bahan tersebut dapat dicampurkan dengan proses coating pada pakan akhir atau dicampurkan dalam bahan baku pada saat persiapan awal bahan baku pakan.

Penggunaan bahan baku alternatif seperti sumber protein nabati pada pakan ikan karnivora dapat ditingkatkan kecernaannya dengan menambahkan enzim ke dalam pakan atau dengan proses fermentasi, baik pakan atau pun pada bahan baku pakan. Penggunaan bahan nabati juga menurunkan kecernaan beberapa mineral (K, Mg, Ca, Zn, dan Cu) karena adanya asam fitat, sehingga dibutuhkan penambahan enzim fitase untuk mengurangi asam fitat dalam pakan.

Untuk meningkatkan metabolisme diperlukan penambahan vitamin, mineral, kasein, yodium, dan asam amino. Penggunaan zat tersebut dapat mempercepat terjadinya metabolisme dalam tubuh ikan.

Ragam Non-Nutritive Feed Additive

Sementara itu, Suhartono, Sr., Technical Services Specialist PT. Novus International Indonesia, menjelaskan bahwa feed additive dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu: (1) Nutritive Feed Additive, yang meningkatkan nilai kandungan ransum pakan ikan. Contohnya vitamin, mineral, dan asam amino. (2) Non-Nutritive Feed Additive, yang tidak meningkatkan nilai kandungan ransum pakan ikan. Contohnya essential oil, antioksidan, antibiotik, probiotik, prebiotik, anti-jamur, acidifier, enzim, anti-toksin, serta flavoring/pemberi rasa, pewarna pakan, dan immunostimulant. Berikut beberapa Non-Nutritive Feed Additive yang biasa digunakan pada pakan ikan atau udang.

  1. Essential Oil (Phytobiotics)

Essential oil adalah ekstrak dari beberapa tumbuhan (herbal) yang bertujuan untuk meningkatan pertumbuhan dan meningkatkan kesehatan pada ikan. Essential oil mempunyai fungsi sebagai antioksidan, antimikrobial, antikanker, analgesik, antiparasit, pemacu pertumbuhan, meningkatkan palatabilitas, dan menstimulasi sekresi aktifitas enzim di dalam saluran pencernaan. Penambahan essential oil bisa lewat pencampuran dalam pakan.

  • Acidifier

Acidifier adalah asam organik yang digunakan untuk mengurangi pertumbuhan bakteri dan jamur di dalam bahan baku pakan atau pakan jadi. Penambahan asam-asam organik dalam pakan  ikan atau udang dapat menigkatkan produktifitas. Peningkatan performa ikan terjadi melalui penciptaan lingkungan di dalam saluran pencernaan untuk perkembangan mikroflora menguntungkan. Dengan lingkungan yang menguntungkan bagi pertumbuhan bakteri tertentu (melalui penurunan keasaman) dapat mengaktifkan serta merangsang produksi enzim-enzim endegenous dan berakibat meningkatnya absorbsi nutrisi serta konsumsi pakan untuk pertumbuhan, produksi, dan reproduksi. Pemberian acidifier biasanya bisa ditambahkan dalam pakan.

Species Reference Products tested Inclusion rate Reported Result
Atlantic salmon Gislason et al. (1994) Na-lactate 15 kg/mt Better survival
Atlantic salmon Christiansen& Lückstädt (2008) Potassium diformate 14 kg/mt Improved FCR and SGR
Arctic Charr RingØ (1991) Na-lactate 10 kg/ mt Positive growth, no diarhea
Arctic Charr RingØ (1991) Na-Propionate 10 kg/ mt Negative impact on growth
Arctic Charr RingØ (1991) Na-acetate 10 kg/ mt Improved growth and digestibility
Arctic Charr RingØ (1991) Na-formate 10 kg/ mt No effect
Clarias Owen et al. (2006) Sodium butyrate 2 kg/mt Slightly better growth and FCR
Rainbow trout De Wet (2005) Bolifor SA 2400 10-15 kg/mt Improved SGR
Rainbow trout Fauconneau (1988) Succinic and citric acid 116 kg/mt Negative feed intake
Rainbow trout Vielma& Lall (1997) Formic acid 10 ml/kg Improved phosphorus digestibility
Rainbow trout Sugiura et al. (1998) Citric acid 50 kg/mt Increased mineral availability
Rainbow trout Sugiura et al. (1998) Citrate 50 kg/mt Less effect then citric acid
Red sea bream Hossain et al. (2007) Citric acid 10 kg/mt Improved weight gain and FCR
Red sea bream Hossain et al. (2007) Malic and lactic acid 10 kg/mt No effect
Tilapia Ramli et al.(2005) Potassium diformate 2-3-5 kg/mt Increasing benefit in growth, FCR and survival
P.Japonicus Tung et al. (2006) Na-citrate 5 kg/mt Growth boost
Penaeid shrimp Lükstadt (2006) Ca-formate 2.5 kg/mt Increased survival
  • Probiotik

Probiotik adalah bakteri hidup yang diberikan sebagai suplemen makanan yang mempunyai pengaruh menguntungkan pada kesehatan manusia dan binatang, dengan memperbaiki keseimbangan mikroflora intestinal.  Probiotik merupakan mikro-organisme yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi tanpa mengakibatkan terjadinya proses penyerapan komponen probiotik dalam tubuh. Dengan begitu, tidak terdapat residu dan tidak terjadi mutasi pada ternak. Prinsip kerja dari probiotik; bakteri-bakteri probiotik (lactobacillus dan bifidobacterium) bekerja secara anaerob menghasilkan asam laktat yang mengakibatkan turunnya pH saluran pencernaan sehingga menghalangi perkembangan dan pertumbuhan bakteri patogen. Berbeda dengan bakteri patogen (Escherichia coli) yang mendiami daerah dinding pencernaan untuk mengembangkan penyakit, bakteri probiotik mendiami mukosa pencernaan yang juga berakibat perubahan komposisi dari bakteri yang terdapat dalam saluran pencernaan.

  • Prebiotik

Prebiotik adalah nondigestible food ingredient yang mempunyai pengaruh baik terhadap host dengan memicu aktivitas, pertumbuhan yang selektif, atau keduanya terhadap satu jenis atau lebih bakteri penghuni kolon. Prebiotik pada umumnya adalah karbohidrat yang tidak dicerna dan tidak diserap, biasanya dalam bentuk oligosakarida dan serat pangan. Prebiotik oligosakarida tidak dapat dicerna oleh hewan monogastrik (ayam dan babi). Senyawa ini digunakan sebagai substrat untuk merangsang pertumbuhan bakteri yang menguntungkan seperti bifidobacterium dan lactobacilus. Pemberian 0,1 – 0,5% dalam ransum dapat meningkatkan bakteri yang menguntungkan dan menurunkan populasi bakteri yang merugikan.

  • Enzim

Tujuan pengunaan enzim untuk meningkatkan daya cerna bahan bahan baku pakan, membuat nutrisi-nutrisi tertentu secara biologis lebih tersedia. Enzim yang umum digunakan dalam pakan ikan adalah phytase, NSP, protease, dan lipase.

  • Enzim NSP untuk memperbaiki pencernaan bahan baku pakan sumber karbohidrat
  • Enzim Protease – untuk meningkatkan kecernaan bahan baku pakan dari protein yang tidak tercerna.
  • Enzim Phytase – untuk menghilangkan pengaruh anti nutrisi asam phitat.

Mana jenis feed additive yang tepat untuk udang Anda? Sebaiknya konsultasikan pada tim support suplier pakan tambak Anda. Dengan pengamatan yang tepat terhadap kondisi fisik, perilaku, dan lingkungan tambak, pemilihan feed additive tentu akan lebih tepat dan akurat. (Rochim/Resti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.