Telisik Industri dan Pasar Udang Tahun 2025

Di tengah kondisi persaingan produsen udang global yang semakin ketat, upaya yang dapat ditempuh untuk meningkatkan konsumsi udang di tingkat global dengan fokus pada manfaat udang bagi kesehatan dibandingkan dengan produk lain.

Indonesia merupakan salah satu produsen udang terbesar di dunia, dengan pangsa pasar global sebesar 8,7%. Pasar ekspor utama termasuk Uni Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat. Harga udang sangat mempengaruhi permintaan di pasar. Udang vaname, dengan produktivitas tinggi dan toleransi terhadap perubahan lingkungan, menjadi favorit di pasar global.

Udang dikenal kaya akan protein dan gizi, sehingga akan terus diminati oleh konsumen yang ingin menjaga kesehatan.
Meskipun pasar udang dunia saat ini mengalami kelebihan pasokan dan persaingan yang meningkat dari negara-negara produsen seperti Ekuador, peluang meningkatkan pintu ekspor masih terbuka, diantaranya melalui branding produk. Hal ini diungkapkan Paian Tampubolon, Marketing & Technical Country, PT Yein Trading Indonesia. Dalam kondisi pasar udang yang kompetitif, pelaku industri udang perlu mempelajari, dimana produsen udang yang sukses seringkali menggunakan teknologi canggih dan praktik budidaya yang efisien untuk meningkatkan produktivitas.

Paian menyarankan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar ekspor dan memperluas pasar domestik. Sehingga, kondisi demikian dapat membantu menjaga stabilitas harga. Menurutnya, tren pasar udang, baik lokal maupun global, diperkirakan akan terus berkembang, Beberapa faktor utama yang mempengaruhi permintaan, antara lain konsumsi udang di pasar domestik yang terus meningkat.

Paian juga menganjurkan praktik budidaya yang ramah lingkungan dan penerapan biosekuriti untuk mengurangi risiko penyakit udang. Saran lainnya adalah penggunaan pakan yang lebih presisi dan berbasis serangga dapat meningkatkan kesehatan udang, peningkatan efisiensi produksi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap tepung ikan.

Ekspor udang anjlok

Menurut Regan Kristofer Beck, Area Sales Manager East Java, Yihai feed, pada tahun 2024, ekspor udang Indonesia menurun tajam dengan volume mencapai 122.039,91 ton dan nilai sekitar US$755,79 juta. Penurunan ini dipengaruhi oleh tuduhan praktik dumping dari Amerika Serikat, yang merupakan pasar utama ekspor udang dari Indonesia. Sehingga, ekspor ke AS turun 15,8% pada semester pertama dibandingkan tahun sebelumnya.

Meskipun mengalami tantangan, pemerintah optimis terhadap peningkatan industri udang di 2025. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mematok sasaran peningkatan produksi hingga 250% atau tambahan 578 ribu ton. Target ini untuk mendorong pertumbuhan ekspor di pasar global. Hingga September 2024, ekspor perikanan Indonesia mencapai US$4,23 miliar, dengan udang sebagai penyumbang terbesar sebesar 28,1%. Pemerintah berupaya memperluas pasar ke Tiongkok dan Uni Eropa yang permintaannya meningkat. Dengan strategi yang ada, diharapkan industri udang pulih dan tumbuh di 2025 di tengah tantangan global tetap perlu diatasi.

Masih bergantung pada pasar ekspor
Industri udang di Indonesia saat ini menghadapi beberapa tantangan, namun juga memiliki potensi yang besar. Secara lokal, industri udang vaname Indonesia berkontribusi sebesar 40% dari sektor perikanan dan berhasil meningkatkan nilai ekspor hingga USD 3,28 miliar pada Agustus 2021. Hal ini diungkapkan oleh Paian. Menurutnya, tahun 2023, kinerja ekspor udang Indonesia menurun akibat persaingan ketat dengan negara produsen lain seperti Ekuador dan pasokan udang yang berlebih. Selain itu, harga udang terus menurun dan ketergantungan pada pasar ekspor membuat situasi menjadi lebih sulit.

Untuk meningkatkan daya saing Indonesia di pasar internasional, penggunaan teknologi baru dan inovasi dalam budidaya udang akan membantu meningkatkan efisiensi produksi dan kualitas udang. Sehingga, dapat bersaing lebih baik di pasar internasional. Dengan penerapan biosekuriti dan pencatatan data rutin, petambak diharapkan dapat meningkatkan daya saing udang Indonesia di pasar.

Lebih fokus pada pasar domestik

Dengan turunnya ekspor udang ke mancanegara, sejumlah praktisi menyarankan untuk lebih fokus ke pasar domestik. Salah satunya adalah seperti yang diungkapkan Paian. Menurutnya, industri udang diharapkan akan lebih fokus pada pasar domestik dengan meningkatkan konsumsi udang di dalam negeri. Pada tahun 2025, industri udang Indonesia diharapkan akan lebih stabil dan berkembang dibandingkan dengan tahun 2024.

Harapannya, karena adanya upaya meningkatkan branding dan promosi udang Indonesia di pasar global, ekspor udang akan terus meningkat. “Menggelar acara seperti seminar dan pameran hasil produksi Indonesia akan menjadi platform penting untuk menarik investor dan pembeli internasional,” tutur Paian. Promosi produk udang dengan nilai tambah seperti udang kupas, siap masak, dan siap makan akan membantu meningkatkan konsumsi lokal.

Penggunaan teknologi baru dan inovasi dalam budidaya udang akan membantu meningkatkan efisiensi produksi dan kualitas udang, sehingga dapat bersaing lebih baik di pasar internasional. Dengan penerapan biosekuriti dan pencatatan data rutin, petambak diharapkan dapat meningkatkan daya saing udang Indonesia di pasar.

Pasar domestik tetap tumbuh

Senada dengan Paian, Teguh Setyono, Pembina Paguyuban Aquaculturis Kaur- Bengkulu, mengenai pentingnya posisi pasar domestik di tengah stagnannya perkembangan pasar mancanegara. Di samping itu, ia memprediksi, produksi udang global akan semakin meningkat. Sehingga, kondisi ini akan memicu terjadinya kompetisi yang semakin ketat dalam merebut ceruk pasar.

“Pemenangnya adalah produksi udang yang paling efisien,” tutur Teguh. Sementara itu, ia mengungkapkan, permintaan pasar AS, Uni Eropa, Jepang tidak mengalami pertumbuhan yang menggembirakan. Di sisi lain, pasar domestik cenderung mulai meningkat meskipun kuotanya masih terbatas. Ceruk pasar ini dapat menjadi alternatif di tengah pasokan produk yang meningkat.

Tingkatkan teknologi pascapanen udang
Seperti halnya produk pertanian lainnya, udang rentan mengalami kerusakan segera setelah pemanenan. Salah satu alternatif untuk mengatasi pasokan udang berlebih adalah melalui peningkatan teknologi pascapanen. Terkai ini, Paian berpendapat, pelaku industri udang harus mempromosikan udang bernilai tambah (value added) seperti udang kupas (peeled), produk siap masak (ready to cook), dan siap makan (ready to eat). Dengan begitu, hal ini diharapkan dapat meningkatkan konsumsi domestik. Berikutnya, adalah penerapan budidaya berkelanjutan. Menurut Paian, konsumen semakin sadar akan pentingnya produk yang berkelanjutan, sehingga udang yang dibudidayakan secara berkelanjutan akan lebih diminati.

Paian berpendapat, produk udang yang lebih praktis dan mudah saji seperti udang beku dan olahan akan semakin diminati. Konsumen yang lebih sadar akan pentingnya gaya hidup sehat dan konsumsi makanan yang bergizi akan terus meningkatkan permintaan udang.

Prediksi produksi tahun 2025 meningkat

Dengan mencermati kondisi industri udang saat ini dan tantangan yang ada, bagaimanakah proyeksi produksi udang tahun depan? Terkait hal ini, Tirza Irwanda, Head of Unit shrimp hatchery, mengemukakan pendapatnya. Menurutnya, jika dilihat dari antusias para investor mulai membuka lahan-lahan baru di tempat-tempat yang lain, maka seharusnya produksi udang di tahun 2025 akan lebih besar jika dibandingkan dengan tahun 2024. Meskipun keberhasilan tercapai dalam mengatasi masalah budidaya di bawah 30 hari, ia mengungkapkan, hal ini tidak diimbangi dengan harga produk yang bagus. Sehingga, kondisi ini masih di bawah ekspektasi para pelaku usaha bisnis udang.

Senada dengan Tirza, Paian juga berpendapat serupa. Secara keseluruhan, tren pasar udang pada tahun 2025 menunjukkan potensi pertumbuhan yang signifikan baik di pasar lokal maupun global, dengan fokus pada kualitas, harga, dan inovasi produk yang sesuai dengan preferensi konsumen.

Prediksi pasar mancanegara meningkat
Prediksi kenaikan produksi udang juga diungkapkan oleh Dany Yukasano, National Technical Manager PT Grobest Indomakmur. Ia mengungkapkan, negara-negara produsen yang kuat umumnya sangat inovatif dan menerapkan teknologi (SOP) yang beradaptasi terhadap kondisi wilayahnya. Sehingga, bukan yang paling kuat atau yang paling cerdas, tetapi yang paling adaptiflah yang akan menang.
Peningkatan produksi udang di satu sisi, juga diimbangi dengan peningkatan pasar. Dany berpendapat, beberapa negara baru sebagai pembeli seperti China karena perekonomiannya yang cenderung membaik. Dany memprediksi, China bakal menjadi potensi pasar udang baru. Beberapa negara pengimpor udang dengan perbaikan kondisi perekonomiannya juga diprediksi akan meningkat.

Di lain pihak, Iwan Basuki, Praktisi Forum Komunikasi Petambak Indonesia (FKPI), memproyeksikan terjadi pertumbuhan pasar udang global seiring meningkatnya permintaan dari konsumen, terutama di pasar Asia dan Amerika Utara. Meskipun begitu, ia menggarisbawahi terkait fluktuasinya harga produk. Ia berpendapat, harga udang kemungkinan akan tetap volatile, dipengaruhi oleh fluktuasi biaya pakan, ketergantungan pada impor, dan masalah pasokan akibat penyakit atau cuaca ekstrem.

Pasar global makin peduli isu keberlanjutan
Lebih lanjut, Iwan mengungkapkan, banyak negara produsen udang yang bersaing di pasar global seperti Thailand, India, dan Vietnam. Kondisi ini terjadi di tengah ketatnya regulasi pasar ekspor, terutama di negara-negara pengimpor besar seperti AS dan Eropa. Beberapa syarat di antaranya adalah terkait keharusan adanya standar kualitas dan keberlanjutan yang tinggi. Terkait pasar luar negeri, kondisinya sangat dipengaruhi oleh persaingan dengan negara produsen udang utama, antara lain Equador, Vietnam dan India.

Menurut Iwan, peningkatan permintaan global ini berasal terutama dari negara-negara besar pengimpor seperti AS, Jepang, dan Eropa. Ia menyampaikan, perlu ada inovasi dalam teknologi budidaya dan penggunaan teknologi terbaru untuk meningkatkan efisiensi budidaya, seperti sistem akuakultur terkontrol. Di sisi lain, kegiatan budidaya juga harus mempertimbangkan aspek lingkungan dan keberlanjutan.

Saat ini, konsumen semakin peduli keberlanjutan. Sehingga, permintaan pasar akan produk udang yang ramah lingkungan dan berkelanjutan semakin meningkat. Kebutuhan peningkatan standar permintaan untuk udang yang berkelanjutan, organik, atau diproduksi dengan teknik ramah lingkungan akan semakin meningkat, menciptakan peluang pasar baru untuk industri yang dapat memenuhi permintaan ini.

Permintaan pasar peduli lingkungan meningkat
Iwan melanjutkan, terkait tren pasar, baik pasar lokal dan global di tahun 2025, untuk produk udang yang berkelanjutan dan ramah lingkungan diperkirakan semakin meningkat. Konsumen juga semakin mencari produk yang sehat, bebas antibiotik, dan diproduksi dengan cara yang lebih etis. “Permintaan pasar lokal mungkin akan mengalami peningkatan konsumsi seiring dengan meningkatnya kesadaran akan manfaat gizi udang, serta peningkatan akses ke produk udang berkualitas,” papar Iwan.
Di pasar global, permintaan akan terus meningkat, terutama di pasar negara maju. Permintaan juga akan didorong oleh sektor restoran dan makanan siap saji yang semakin populer. “Dengan strategi yang tepat dan inovasi berkelanjutan, industri udang Indonesia diharapkan dapat menghadapi tantangan di tahun 2024 dan mencapai keberhasilan lebih besar di tahun 2025,” ungkap Iwan optimis.

Perlunya dukungan penuh pemerintah

Terkait prospek pasar udang tahun 2025, Andi Tamsil, Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar berharap, kondisi pasar akan membaik, terutama setelah adanya putusan tuduhan anti-dumping dari AS walaupun hasilnya belum memuaskan. Selain itu, pemerintah diharapkan mendukung peningkatan konsumsi lokal, misalnya dengan memasukkan udang dalam menu makan gratis bergizi.
Pemerintah bersama SCI diharap dapat kolaborasi untuk meningkatkan konsumi dalam negeri. “Kita berharap Pemerintah memprioritaskan pangan akuatik termasuk dalam menu Makan Gratis Bergizi, sehingga dapat menyerap produksi masyarakat dan tidak perlu menggunakan devisa negara,” ungkap Andi berharap.

Dalam aspek produksi, masih menurut Andi Tamsil, yang juga menjabat sebagai Pengurus Pusat SCI, petambak akan melihat potensi pasar, baik dalam maupun luar negeri. Apabila menjanjikan maka kinerja budidaya akan meningkat secara otomatis. Petambak akan menyesuaikan padat penebaran, target ukuran/size produksi yang direncanakan sesuai permintaan pasar, pemilihan pakan yang lebih fungsional, pemilihan benur sesuai target produksi (noerhidajat/adit/resti).

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.