Tiga Tantangan Utama Industri Udang Indonesia

Tiga tantangan utama yang dihadapi industri udang Indonesia saat ini adalah harga udang (market price), akses pasar (market access) dan serangan penyakit.

Menurut Dany Yukasano, National Technical Manager PT Grobest Indomakmur, harga akan mempengaruhi permintaan pasar dan kegiatan budidaya. Dalam kondisi ini, berlaku hukum permintaan dan penawaran (supply and demand). Akses pasar merujuk pada cakupan negara-negara yang menjadi tujuan pasar ekspor udang dari Indonesia. Terkait penyakit, industri udang Indonesia di tahun 2024 belum optimal disebabkan faktor penyakit yang masih menjadi faktor utama kegagalan. Serangan penyakit masih menjadi kendala utama yang dihadapi pembudidaya udang di sektor hulu (kegiatan budidaya).

Jika dirunut ke belakang, tantangan yang dihadapi saat ini cenderung masih sama. Ada sejumlah tantangan yang dihadapi industri udang di tahun depan. Teguh Setyono, Pembina Paguyuban Aquaculturis Kaur- Bengkulu, mengungkapkan, salah satunya hal ini terkait dengan harga udang yang semakin turun.

Sementara itu, beberapa penyakit, seperti acute hepatopancreas necrosis disease (AHPND) yang belum dapat diatas 100%.
Meskipun begitu, ia tidak menampik adanya peluang jika dapat mengatasi masalah penyakit dan budidaya yang efisien dengan meningkatkan produktivitas. Hal ini akan memberikan keuntungan dan peluang keberhasilan. Menurutnya, aspek budidaya sangat penting di tengah persaingan pasar yang semakin ketat. Produktivitas yang meningkat, penggunaan sumberdaya yang efisien akan menekan biaya produksi dan operasional. Sehingga, aspek ini akan berpengaruh pada rendahnya biaya budidaya yang pada akhirnya berpengaruh terhadap harga jual produk. Untuk tahun 2025, produksi harus ditingkatkan supaya dapat merebut pasar.

Kendala penyakit tersebut menyebabkan angka produksi di sejumlah daerah belum sesuai dengan yang ditargetkan. Terkait dengan peningkatan produksi yang belum sesuai dengan yang ditargetkan, beberapa daerah menata pola budidaya agar produktivitas meningkat menjadi 35 hingga 30 ton/ha. Beberapa caranya misalnya dengan revitalisasi kolam budidaya maupun metode budidayanya. Membuat konstruksi kolam yang bisa cepat mengumpulkan kotoran dan dapat dibuang dari pinggir kolam.

Serangan penyakit di bawah 30 hari

Secara umum, Tirza Irwanda, Head of Unit shrimp hatchery PT Suri tani Pemuka, berpendapat, di tahun 2024, tantangan utama budidaya udang adalah mengatasi serangan penyakit di bawah umur 30 hari, antara lain penyakit AHPND, EHP (Enterocytozoon hepatopenaei), dan White Spot Syndrome Virus (WSSV) atau penyakit bercak putih. EHP merupakan sejenis penyakit yang menyerang udang yang disebabkan oleh parasit microsporidia. Tantangan berikutnya, di samping serangan penyakit, lanjut Tirza, masih seputar harga jual yang tidak stabil.

Sedangkan jika dilihat peluangnya, industri udang ini masih menjadi komoditas primadona.
“Saya rasa, di tahun 2025 ini industri udang peluangnya masih tetap menjadi komoditas primadona. Oleh karena itu, kita harus bisa mengatasi tantangannya, bagaimana bisa melewati budidaya dibawah 30 hari pertama,” terangnya. Ia berharap besar agar harga jualnya dapat lebih baik dan stabil sehingga dunia industri udang ini akan menggeliat lagi.

Panen dini masih jadi tantangan

Menurut Paian Tampubolon, Marketing & Technical Country, PT Yein Trading Indonesia, tantangan utama yang sampai saat ini masih berlanjut adalah panen dini (premature). Hal ini akibat serangan penyakit seperti WSSV, AHPND, IMNV, dan WFD. Kejadian ini akan mempengaruhi biaya produksi, FCR, size panen, untung rugi dan produktivitas tambak. Berikutnya, lanjut Paian, harga penjualan yang selalu fluktuasi, sering terjadi kenaikan harga tidak secara menyeluruh untuk semua ukuran.

Paian mengungkapkan, pada pasar domestik, ada kalanya untuk ukuran udang kecil (<30 g), harga mengalami kenaikan. Akan tetapi, untuk size besar (>30 g), harga stagnan dan sebaliknya. Dilema seperti ini membuat pelaku budidaya ragu, apakah akan melakukan panen atau melanjutkan pembesaran udangnya.

Meningkatnya biaya produksi seperti kenaikan tarif listrik, pakan, benur dan obat-obatan juga berdampak terhadap keberlanjutan kegiatan budidaya. Pasalnya, aspek ini secara langsung akan berdampak pada membengkaknya biaya variable dalam produksi udang. Namun, ungkap Paian, peluang bagi pelaku budidaya masih terbuka lebar dengan strategi penerapan teknis budidaya yang tepat untuk masing-masing wilayah sehingga dapat mencegah kegagalan akibat serangan penyakit.

Keterbatasan sumberdaya

Menurut Iwan Basuki, Praktisi Forum Komunikasi Petambak Indonesia (FKPI), yang menjadi tantangan dalam industri udang adalah keterbatasan sumber daya. Ia menyebutkan ketersediaan lahan budidaya yang terbatas dan kerusakan ekosistem pesisir. Kerusakan ekosistem ini berdampak pada daya dukung lingkungan dan menurunnya kualitas air. Selanjutnya, adalah penyakit udang, seperti penyebaran penyakit seperti virus yang dapat merusak produksi. Tantangan dalam pakan adalah terkait ketergantungan pada impor pakan. Pasokan pakan yang mahal dan ketergantungan pada bahan impor, yang rentan terhadap fluktuasi harga.

Iwan juga mengakui perubahan iklim menjadi salah satu tantangan dalam budidaya. Perubahan iklim, antara lain perubahan suhu dan cuaca yang dapat memengaruhi kualitas air dan kesehatan udang. perubahan sejumlah parameter air kolam pada akhirnya dapat mempengaruhi daya tahan udang, dan prevalensi serangan penyakit.

Penerapan RTRW yang konsisten

Penyakit masih menjadi momok bagi petambak, yang diperparah dengan kualitas lingkungan yang semakin menurun, akibat pencemaran industri dan lainnya. Selain berasal dari pasar dan aspek budidaya (penyakit), tantangan berikutnya, Andi Tamsil, Pengurus Pusat SCI, Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UMI Makassar, mengungkapkan, tantangan yang dihadapi industri udang di tahun 2024 terkait regulasi pemerintah. Hal ini terutama mengenai perizinan yang panjang dan rumit, serta konsistensi Rencana Umum Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) yang sering merugikan petambak udang.

Ia berharap, di tahun 2025 ke depan, kondisi ini akan membaik, terutama dengan pemerintahan baru dari pusat hingga Propinsi dan Kabupaten/Kota. Pemerintahan baru diharapkan tidak menimbulkan persoalan baru. Pasalnya, biasanya setiap pemerintahan baru punya visi dan misi yang boleh jadi berbeda atau bertentangan dengan pemerintahan sebelumnya, sehingga berpotensi adanya revisi RTRW.

Harga kurang menggembirakan

Menelisik ke tahun 2024, ada sejumlah kendala yang dihadapi sektor industri udang. Menurut Andi, kendala ini terutama terkait dengan serangan penyakit. Tidak hanya sektor hulu, di sektor hilir pun, industri udang terkendala dengan kondisi harga produk yang tidak memberikan angin segar. Berdasarkan data, tercatat bahwa penurunan harga udang dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain permintaan pasar yang tidak seimbang, adanya pasokan berlebih (oversupply), dan kondisi ekonomi global yang tidak stabil.

Permintaan pasar dari negara-negara utama pengimpor udang sangat mempengaruhi harga udang. Pasokan berlebih berkaitan erat dengan jumlah produksi dari negara produsen utama udang dunia yang melimpah.

“Daya serap gudang beku (cold storage) juga menurun. Sehingga, banyak petambak yang menurunkan padat penebaran, bahkan istirahat,” ungkap Andi.

Seperti dimaklumi, keberadaan gudang beku berperan penting dalam menyerap hasil perikanan yang rentan rusak. Fasilitas ini dapat menjadi penghubung dalam rantai pasok antara produsen dan pasar. Terlebih lagi, jika produk akan dipasarkan ke mancanegara. Keberadaan fasilitas ini dapat memecahkan permasalahan saat ini yang dihadapi pembudidaya. (noerhidajat/resti/adit)

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.